Nov 25, 2012

Welcome to the Jungle!

Welcome to the jungle!

Ya. Mungkin judul track pembuka Apetite for Destructions nya Guns N Roses itu lah kata-kata yang paling tepat menggambarkan perasaan saya ketika pertama kali datang ke Jakarta. Well, memang bukan literally pertama kali. Tapi kali ini, pertama kalinya saya akan menetap di ibu kota. Di Jakarta. Hell!
 
Jakarta. What to say?

Let me put me this way. Sedari masih mahasiswa, saya selalu berangan untuk suatu saat bisa bekerja di somewhere di luar Jogja (karena eike kuliah di Jogja). Ada kalanya saya berharap dapat kerja di tempat yang (sedikit agak) jauh, walaupun makin ke sini, saya makin menertawakan “angan masa mahasiswa” saya itu.

Kenapa menertawakan? Sederhana saja. Saya ternyata tak betah jauh-jauh dari Jogja. Atau dari kampung halaman saya yang deket-deket Jogja (walaupun ketika masih di Jogja saya cukup berdosa dengan tak terlalu sering pulang kampung).

Dan Jakarta? Kalau boleh memilih salah satu tempat di dunia (untuk bekerja), tempat terakhir yang akan saya pilih pastilah Jakarta. Lebay? Ember! But that’s what I feel. By far.

Saya terkadang heran, sebegininya Jakarta, tapi nyatanya masih banyak yang, suka tidak suka, datang ke Jakarta. Memenuhi Jakarta. Memadati Jakarta. Jakarta serasa kian sempit. Saking sempitnya hingga bernafas saja kadang serasa susah. Walaupun kenyataannnya kalau sedang  macet di jalan dan banyak asap memang beneran susah bernafas.

Rasanya terlalu naïf juga kalau menyalahkan Jakarta. Yang salah kan bukan Jakarta. Yang salah itu orang-orangnya. Penduduknya. Pemadatnya. Yang membuat Jakarta makin padat, makin sesak, dan makin terasa nggak nyaman.

Tapi jawaban orang-orang (termasuk saya) yang datang ke Jakarta untuk alasan kerja mungkin akan seragam, ya karena (nggak ada) pilihan. Bukan sama sekali tak ada pilihan. Tapi tak ada pilihan (yang dirasa lebih baik) untuk mendapat kerja selain di Jakarta. Maklum, Jakarta kan ibu kota. Kota besar. Metropolitan. Megapolitan. Cililitan. Lapangan kerja jelas tersedia lebih banyak. Dan wajar jika kemudian jutaan orang dari berbagai penjuru dunia Indonesia beramai-ramai datang ke Jakarta. Dengan salah satu alasan paling utama: kerja.

Saya pun demikian. Tak sepenuhnya terpaksa, tapi pilihan “mengharuskan” saya datang (dan menetap) di Jakarta. Setidaknya selama saya bekerja di Jakarta. Karena pekerjaan, tempat saya bekerja, memang berpusat di Jakarta.

Hidup di Jakarta… Keras, mereka bilang. Dan saya pun tak akan menyangkalnya. Karena memang demikian adanya. Menurut saya. Datang dari kampung, dari kota nan berhati nyaman, lalu menjejak ibu kota.  Cultural shock pun melanda.

Yah, tak bermaksud bad comment about Jakarta, tapi Jakarta memang partly just so bad. Macet, polusi, banjir, sampah. And so on. Too many too mention. Lots have to be done, Pak Gubernur!

Btw, kayaknya Jakarta juga belum lama ini merayakan hari jadinya yang kesekian ratus. Semoga Jakarta lebih baik. Dan saya lebih betah.

HAMIN.

No comments: