Welcome to the jungle!
Jakarta. What to say?
Let me put me this way. Sedari masih mahasiswa, saya selalu
berangan untuk suatu saat bisa bekerja di somewhere di luar Jogja (karena eike
kuliah di Jogja). Ada kalanya saya berharap dapat kerja di tempat yang (sedikit
agak) jauh, walaupun makin ke sini, saya makin menertawakan “angan masa
mahasiswa” saya itu.
Kenapa menertawakan? Sederhana saja. Saya ternyata tak betah
jauh-jauh dari Jogja. Atau dari kampung halaman saya yang deket-deket Jogja (walaupun
ketika masih di Jogja saya cukup berdosa dengan tak terlalu sering pulang kampung).
Dan Jakarta? Kalau boleh memilih salah satu tempat di dunia
(untuk bekerja), tempat terakhir yang akan saya pilih pastilah Jakarta. Lebay? Ember!
But that’s what I feel. By far.
Saya terkadang heran, sebegininya Jakarta, tapi nyatanya
masih banyak yang, suka tidak suka, datang ke Jakarta. Memenuhi Jakarta. Memadati
Jakarta. Jakarta serasa kian sempit. Saking sempitnya hingga bernafas saja
kadang serasa susah. Walaupun kenyataannnya kalau sedang macet di jalan dan banyak asap memang beneran
susah bernafas.
Rasanya terlalu naïf juga kalau menyalahkan Jakarta. Yang salah
kan bukan Jakarta. Yang salah itu orang-orangnya. Penduduknya. Pemadatnya. Yang
membuat Jakarta makin padat, makin sesak, dan makin terasa nggak nyaman.
Tapi jawaban orang-orang (termasuk saya) yang datang ke
Jakarta untuk alasan kerja mungkin akan seragam, ya karena (nggak ada) pilihan.
Bukan sama sekali tak ada pilihan. Tapi tak ada pilihan (yang dirasa lebih baik) untuk mendapat kerja
selain di Jakarta. Maklum, Jakarta kan ibu kota. Kota besar. Metropolitan. Megapolitan.
Cililitan. Lapangan kerja jelas tersedia lebih banyak. Dan wajar jika kemudian
jutaan orang dari berbagai penjuru dunia Indonesia beramai-ramai datang ke
Jakarta. Dengan salah satu alasan paling utama: kerja.
Saya pun demikian. Tak sepenuhnya terpaksa, tapi pilihan “mengharuskan”
saya datang (dan menetap) di Jakarta. Setidaknya selama saya bekerja di
Jakarta. Karena pekerjaan, tempat saya bekerja, memang berpusat di Jakarta.
Hidup di Jakarta… Keras, mereka bilang. Dan saya pun tak
akan menyangkalnya. Karena memang demikian adanya. Menurut saya. Datang dari kampung,
dari kota nan berhati nyaman, lalu menjejak ibu kota. Cultural shock pun melanda.
Yah, tak bermaksud bad comment about Jakarta, tapi Jakarta memang
partly just so bad. Macet, polusi, banjir, sampah. And so on. Too many too
mention. Lots have to be done, Pak Gubernur!
Btw, kayaknya Jakarta juga belum lama ini merayakan hari jadinya
yang kesekian ratus. Semoga Jakarta lebih baik. Dan saya lebih betah.
HAMIN.
No comments:
Post a Comment