The Great Dictator: Parodi Nazi, Cerita Humor Seorang Diktator
This is the story of the period between two world wars. An interim during which insanity cut loose, liberty took a nose dive, and humanity was kicked around somewhat.
Begitulah opening yang singkat namun cukup ‘tajam’ menggambarkan seperti apa film hebat yang satu ini, The Great Dictator.
Film yang rilis pada 15 Oktober 1940 ini ditulis, diproduseri dan
disutradarai oleh Charles Chaplin, yang sekaligus juga menjadi aktor
utamanya. Sebagai satu-satunya film-maker Hollywood yang sukses
membuat film bisu bahkan hingga di era film ‘bicara’[1], The Great
Dictator merupakan film ‘bicara’ pertama Charles Chaplin, yang sekaligus
merupakan filmnya yang paling sukses secara komersil, walaupun secara
kritis, film ini tak kalah suksesnya dengan menuai banyak pujian dan
penghargaan, termasuk 5 nominasi Oscar.[2]
Meskipun
berlabel film komedi, film ini tak begitu saja hanya menyajikan kelucuan
sang maestro, Charles Chaplin, namun juga bagaimana dengan hebatnya
memuat satir tentang situasi kala itu, masa (diantara) perang dunia. The
Great Dictator adalah film pertama di masa itu yang berani dengan tajam
menyindir Adolf Hitler dan Nazi-nya dengan mengibaratkannya seperti
manusia-manusia mesin, dengan pikiran dan hati mesin, "machine men, with machine minds and machine hearts".
Pertama
kali menonton film ini, saya seperti melihat sisi lain dari seorang
Charles Chaplin. Ya, di film inilah pertama kalinya saya mendengar suara
Charles Chaplin bicara, karena seperti yang disebutkan diawal, ini
adalah film ‘bicara’ pertamannya. Dibeberapa menit pertama film, kita
seolah tidak bisa menolak untuk tertawa melihat kelucuan (dan
kekonyolan) khas seorang Charles Chaplin. Di beberapa menit pertama itu
pula, saya menduga bahwa film ini adalah seperti beberapa film (pendek)
Charles Chaplin yang pernah saya tonton sebelumnya semisal The Rink
(1916) ataupun The Cure (1917), akan selalu memancing tawa. Namun
semakin lama, film ini semakin ‘serius’ bercerita, walaupun tetap dangan
gaya ringan dan humoris. Untuk ukuran film bertema ‘berat’, bisa
dibilang menonton film ini sangat menyenangkan dan tidak membosankan,
karena walaupun menceritakan background yang serius, namun dikemas dengan adegan-adegan yang sangat sederhana dengan bumbuan humor, namun tetap sarat makna.
Berbicara
tentang kehebatan film ini secara cerita dan penceritaannya, tentu tak
bisa lepas dari sang sutradara sekaligus aktor utama, Charles Chaplin.
Jika sebelumnya lebih sering melihatnya berakting lucu (kadang konyol)
dengan kostum khasnya yang biasa disebut Little Tramp itu, di
film ini disajikan bagaimana Charles Chaplin memerankan dua karakter
yang secara eksplisit sangat berbeda. Dan seperti tanpa cela, dua
karakter beda dunia itupun bisa dibawakan dengan sangat apik oleh
Charles Chaplin. Saya bahkan tak bisa menahan tawa (sekaligus takjub)
ketika adegan Charles Chaplin yang memerankan karakter Adolf Hitler,
sedang berpidato. Terlepas dari kebenaran secara tata bahasa yang saya
sendiri juga kurang tahu, gaya dan aksen Jerman-nya sungguh meyakinkan,
mengingat Charles Chaplin adalah orang Inggris yang tentu sangat kental
dengan aksen British English-nya. Terlebih jika kita membandingkan
antara dua adegan pidatonya di film itu, ketika di awal film dia
berpidato sebagai Adolf Hitler dan di akhir film ketika ia berpidato
sebagai warga biasa yang ‘disangka’ Adolf Hitler. Dengan pembawaan yang
meyakinkan, dua karakter berbeda itu berhasil dimainkan dengan baik oleh
Charles Chaplin.
Hal menarik lain dari film ini adalah
tentang ‘kemiripan’ antara Charles Chaplin dengan salah satu karakter
yang dimainkannya (atau lebih tepatnya, diparodikannya), Adolf Hitler.
Faktor ‘kemiripan’ itu pula yang dianggap sebagai salah satu alasan kuat
Charles Chaplin membuat The Great Dictator. Secara
penampilan, Chaplin dan Hitler memiliki kemiripan, terutama kumis
keduanya yang sangat khas. Keduanya juga lahir di hari yang berdekatan,
dimana Charles Chaplin yang lahir 16 Januari 1889, hanya terpaut empat
hari dengan hari kelahiran Adolf Hitler, yakni 20 Januari 1889. Keduanya
juga sama-sama tumbuh besar di keluarga miskin dengan ayah pemabuk dan
ibu yang sakit-sakitan. Keduanya pun juga sama-sama penggemar berat
komposer kenamaan Jerman, Richard Wagner.[3]
Film yang
memulai proses produksi pada September 1939 (hanya seminggu setelah
pecahnya perang Dunia II) dan selesai enam bulan kemudian itupun sempat
menimbulkan tensi tinggi hampir di seluruh dunia, dan diprediksi tidak
akan pernah dirilis, mengingat hubungan baik antara Amerika Serikat
dengan Jerman kala itu. Namun karena independen secara artistik dan
terlebih secara finansial, juga untuk menghindari kebangkrutan karena
Chaplin telah menginvestasikan 1,5 juta dollar untuk proyek film ini,
Charles Chaplin terus melanjutkan produksinya. The Great Dictator
akhirnya rilis di New York pada September 1940, ke publik Amerika
secara lebih luas pada Oktober, dan di Inggris pada Desember tahun yang
sama. Film itupun juga rilis di Prancis pada April 1945. Charles Chaplin
sendiri pernah menyatakan bahwa ia menerima banyak ‘peringatan’ selama
proses produksi. Namun dengan keteguhannya, proses produksi terus
dilanjutkan. Terlebih ketika presiden Amerika Serikat kala itu, Franklin
D. Roosevelt, mengirim penasehatnya untuk secara pribadi menemui
Charles Chaplin dan menyampaikan dukungan untuk melanjutkan produksi
film itu.
Oleh sebagian orang, termasuk saya sendiri, film
tentang Nazi (Nazism) biasanya akan dianggap sebagai film ‘berat’
karena cerita yang diangkat. Namun menonton film ini seolah meruntuhkan
pandangan itu. Setidaknya begitu menurut saya. Menonton film ini,
membuat saya jauh lebih mengerti (walaupun sedikit) tentang Nazi maupun
Hitler. Setidaknya saya merasa lebih bisa menikmati dan mengerti cerita
dan maknanya dibandingkan ketika saya menonton film lain tentang Nazi
semisal Valkyrie yang bahkan memasang bintang sekelas Tom Cruise, maupun Inglourius Basterds-nya Quentin Tarantino.
Menonton
film ini seolah menyadarkan saya bahwa menceritakan sesuatu yang ‘berat
dan atau serius tidak melulu harus dengan adegan-adegan bertensi
tinggi. Charles Chaplin membuktikannya, bahwa bahkan sebuah cerita kelam
dari kediktatoran, bisa disampaikan dengan sederhana dan lugas, bahkan
dengan humor, namun tetap sarat pesan dan makna.
Salute!
_____________________
[1]
Film ‘bicara’ adalah film dengan suara yang telah disinkronisasikan
dengan gambar (dialog), tidak seperti film bisu yang sama sekali tidak
ada suara dialog.
[2] Lebih jelas lihat http://en.wikipedia.org/wiki/The_Great_Dictator diakses 22 Oktober 2011 11:27
[3] Ibid.