Mar 3, 2013

Kisah Revolusi Yang Merevolusi

BATTLESHIP POTEMKIN (1925) : Kisah Revolusi Yang Merevolusi

Sekilas membaca atau mendengar judulnya, orang mungkin akan skeptis bila dikatakan bahwa film ini adalah film propaganda komunis yang sangat -kalau tak mau dibilang paling- berpengaruh di dunia perfilman selama lebih dari 75 tahun. Film arahan sutradara muda Rusia, Sergei Eisenstein, ini bahkan dianggap sebagai sebuah revolusi di dunia perfilman. Ya, cerita tentang revolusi di Rusia yang sekaligus menjadikan film ini sebuah 'revolusi' di dunia perfilman. Film yang bercerita tentang Revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1905 ini, memang menunjukkan kecerdasan sang sutradara.

Battleship Potemkin memang bukan sebuah film yang akan membuat penontonnya duduk nyaman menikmati alur ceritanya. Meski begitu, harus diakui bahwa menonton film ini, kita sebagai penonton seolah ‘dipaksa’ untuk mengapresiasi sang sutradara. Teknik montage yang digunakan dalam film ini bisa dikatakan cukup mengesankan. Hal itu didukung pula dengan editing yang mumpuni. Sehingga Eisenstein seolah membuat film ini pada saat editing, bukan saat filming-nya itu sendiri. Sebagai contoh, kapal yang digunakan dalam film yang sebenarnya tertambat di dermaga, namun dengan angle kamera dan pemilihan shot yang tepat, membuat kapal terlihat seolah berada di tengah lautan luas.

Dari segi musik, Battleship Potemkin menggunakan score yang sekali lagi mungkin akan terdengar ‘lucu’ dan cenderung membosankan jika dibandingkan dengan teknik scoring film masa kini. Hal tersebut tentu bisa dimaklumi mengingat Battleship Potemkin dirilis pada era silent film atau film bisu, tepatnya tahun 1925. Hanya dua tahun sebelum film dengan dialog bersuara pertama, The Jazz Singer dirilis. Namun demikian, jika kita mendengarkan musik ‘pengiring’-nya dengan seksama dan menggabungkannya dengan konteks adegan atau gambar di film, maka score yang digarap oleh komposer Rusia, Dmitri Shostakovich, itu akan terasa nyambung denga gambar (adegan) di dalam film, sehingga sedikit banyak ikut membangun 'suasana' dalam film.

Film Battleship Potemkin sendiri, dalam penceritaannya terbagi dalam 5 bagian;

Bagian pertama, THE MEN AND THE MAGGOTS, yang dibuka dengan adegan di mana sejumlah awak kapal Potemkin yang sedang tidur, dipukuli oleh salah seorang perwira. Di geladak kapal, para awak berdebat dengan perwira kapal karena para awak diberi daging busuk untuk makanan mereka. Para awak kapalpun kemudian menolak untuk makan sup yang terbuat dari daging busuk itu.

Di sini, sang sutradara jelas ingin menujukkan ‘perbedaan’ antara perwira dengan awak kapal, dengan memakai sebuah ironi, yakni para awak kapal yang telah menjalankan tugasnya, namun mereka diberi daging busuk sebagai makanan.

Bagian kedua, DRAMA IN THE HARBOR, di mana cerita berlanjut dengan dipanggilnya seluruh awak kapal dan kemudian dikumpulkan di geladak. Mereka yang tidak menyukai sup dipisahkan dari kumpulan, ditutupi dengan kain, untuk kemudian ditembak mati. Ketika pasukan penembak diperintah untuk menembak, pasukan penembak menolak. Para awak kapalpun kemudian memberontak dengan melawan para perwira, membunuh dan atau melempar para perwira itu ke laut, dan kemudian mengambil alih kapal. Awak kapal yang menjadi pemimpin pemberontakan itu, Vakulinchuk, tewas dan jasadnya dibawa ke dermaga di kota Odessa.

Bagian ketiga, A DEAD MAN CALLS FOR JUSTICE, yang menceritakan orang-orang di Odessa memberikan penghormatan kepada Vakulinchuk, dimana salah seorang meneriakkan bahwa dia mati demi semangkuk sup.

Pada bagian ini, mulai banyak extra yang terlibat. Para pemeran dalam Battleship Potemkin sendiri sebagian besar memang bukan aktor profesional, dimana mereka hanya di casting berdasar penampilan fisiknya, dan bukan berdasar kemapuan aktingnya. Selain itu, karakterisasi alam film juga dibuat sangat sederhana sehingga memudahkan dalam memancing simpati dari penonton, karena tidak terlalu banyak karakter yang ada.

Bagian keempat, THE ODESSA STARCASE. Bagian ini disebut-sebut sebagi bagian paling terkenal dari Battleship Potemkin. Pada bagian ini, digambarkan ketika orang-orang di Odessa berkumpul dan menyambut para awak kapal, pasukan bersenjata tiba-tiba muncul dan menembaki kerumunan orang yang tak bersenjata.

Di sini, sekali lagi, kecerdasan sang sutradara terlihat. Alih-alih menampilkan adegan pembunuhan massal itu secara ‘epik’, sang sutradara memilih menampilkannnya dengan gambar-gambar close up, yang membuat adegan demi adegan terasa lebih tragis, menyentuh, dan menyedihkan.

Bagian kelima, THE MEETING WITH THE SQUADRON. Pada bagian ini, kapal Potemkin menuju ke lautan, dengan masih diliputi perasaan khawatir dan penuh tanda tanya, apakah kapal lain akan menyerangnya. Atau, yang terjadi kemudian, justru bergabung dengan mereka dalam pemberontakan.

Film pun kemudian ditutup dengan musik yang mendukung ending-nya, sehingga memberikan closing yang cukup mengesankan.

Film berdurasi tak kurang dari 72 menit ini mungkin memang bukan film yang membuat kita takjub dengan efek visual dan sejenisnya, terlebih bagi penonton yang kurang nyaman dengan gambar hitam putih. Meskipun terkesan lamban, atau kontras yang kadang berlebihan, gambar dalam Battleship Potemkin bisa dikatakan sudah cukup mengesankan.

Kelebihan lain dari film ini adalah cukup banyaknya informsi visual, semisal dialog, nama tempat, dan sebagainya, yang ada yang bisa didapat oleh penonton, sehingga penonton dapat dengan sendirinya menyusun atau merangkai tiap gambar menjadi cerita. Film inipun seolah juga ingin membuktikan bahwa seperti juga halnya sebagian besar komunikasi manusia yang dilakukan secara non verbal, hal serupa juga berlaku dalam film ini, bahwa gambar bisa berbicara lebih banyak dari ‘hanya’ sekedar suara.