Bisa dibilang, saya termasuk orang yang suka dengan quote.
Walaupun tidak sampai taraf maniak. Suka dalam arti bahwa saya sering membaca,
menyimpan, meng-copas, mengutip, dan atau meminjam quote-quote yang menurut
saya bagus. Dan saya suka. Saya bahkan punya kebiasaan untuk mengumpulkan dan
menyimpannya. Untuk kemudian saya
gunakan ketika ada “momentum” yang pas. Terdengar sedikit aneh mungkin. Tapi
memang begitulah. Saya.
Seperti yang pernah saya jelaskan juga di tulisan saya
sebelumnya, rasa suka tentu saja juga (biasanya) ada alasannya. Yang kalau
dalam konteks berbicara tentang quote ini, rasa suka saya berlatar belakang
kesamaan paham. Kesamaan paham dengan apa yang dimuat atau terkandung dalam
berbagai quote yang saya suka. Atau paling enggak, saya suka dengan
kata-katanya. Itu saja.
Entah sudah berapa banyak quote yang pernah saya baca, saya
suka, dan kemudian saya kutip. Bukan bermaksud untuk membiasakan plagiarisme,
tapi menurut saya quote adalah salah satu ‘karya’ yang tak semua orang bisa
membuatnya. Jika diibaratkan tulisan, quote adalah karya tulis yang punya
nilai. Nilai inipun bisa dijabarkan lebih banyak lagi. Bisa nilai dalam arti
muatannya, nasehatnya, pesannya, maupun nilai dalam arti seninya, keindahannya,
dan sebagainya.
Sumbernya pun bisa datang dari mana saja. Buku, lirik lagu,
dialog film, akun Twitter, nasehat orang-orang “bijak”, penuturan para tokoh
idola, atau bahkan cuman dari obrolan dengan orang. Intinya, semua kata-kata
yang menurut saya bagus, dan saya suka, dan biasanya ada something interesting dan atau something valuable nya, saya
cenderung suka mengutipnya, untuk, setidaknya, bisa lebih mengingatnya.
Lebih dari itu, dari berbagai quote, tak jarang saya
mendapat “pencerahan” dalam berbagai bentuknya. Baik dalam taraf biasa saja,
maupun hingga yang menurut saya cukup signifikan memberikan pencerahan dalam
kehidupan. Halahh. Dari quote, bisa banyak ditemui kata-kata yang kadang sedang
“gue banget”. Kata-kata yang saya anggap bisa mewakili perasaan, pandangan, kepercayaan,
atau yang telah saya sebutkan, kesepahaman. Baik dalam konteks momentum, maupun
dalam konteks kesepahaman permanen yang tidak dapat diganggu gugat.
Dari banyak quote, tak jarang juga saya bisa mendapatkan
inspirasi. Inspirasi dalam berbagai hal. Inspirasi dalam memandang dan atau
meng-handle suatu keadaan. Inspirasi dalam menentukan sikap. Atau sekedar
inspirasi dalam membuat tulisan. Karena nyatanya, sering terjadi dimana saya
mendapat ide tulisan setelah membaca atau mendapati quote-quote bagus yang
kemudian menarik untuk saya tulis. Termasuk tulisan ini. Maka tak heran jika di banyak tulisan, saya sering sekali
menggunakan kutipan-kutipan. Tak hanya quote-quote bagus yang saya suka, tapi
bisa juga judul lagu, judul buku, penggalan lirik lagu, potongan dialog film,
bahkan kata-kata yang saya petik dari tulisan orang. Intinya, “quote” bisa saya
kutip hampir dari mana saja. Dari siapa saja. Sepanjang menurut saya bagus,
menarik, dan saya suka, hampir pasti saya akan mengutipnya.
Lalu kemudian jangan heran jika saya terkadang, atau bahkan
sering terkesan pinter membuat kata-kata bagus, kata-kata bijak, puitis, romantis,
dan atau semacamnya. Jangan buru-buru berprasangka baik, karena kemungkinan
besar, itu bukan tulisan saya pribadi. Bukan karya saya sendiri. Bisa jadi, dan
itu sering terjadi, adalah hasil kutipan saya atas “karya” orang yang secara
kualitas, minimal tulisan dan atau kata-katanya, jauh lebih bagus dari saya.
Saya memang bukan orang kreatif yang bisa membuat kata-kata
inspiratif. Saya juga bukan manusia bijaksana yang bisa membuat nasehat bijak.
Sayapun juga sama sekali bukan jenis manusia puitis nan romantis yang bisa
membuat kata-kata yang kalau para wanita membaca dan atau mendengarnya, mereka
merasa kata-kata itu tentang dan atau hanya untuk mereka. Hahaa.
Bukan. Saya bukan tipe orang demikian. Saya hanya orang yang
“kreatif” dalam memilih dan memilah quote mana yang paling tepat, yang saya
suka, untuk dikutip. Yang biasanya saya sesuaikan dengan mood, perasaan, atau
keadaan. Saya hanya orang “bijak” jadi-jadian yang hanya berniat menyebar
kebijakan dari orang-orang bijak beneran dengan mengutip nasehat bijak mereka.
Dan saya hanya manusia “puitis romantis” yang hanya bisa berkata-kata manis
dari buah madu lebah lain. Maksudnya dari kata-kata manis dan puitis karya orang
lain.
Mungkin beberapa akan menganggap saya orang yang labil,
galau, alay, lebay, jablay, somay dan atau yang lainnya. Yang bisa dengan mudah “terpengaruh” oleh
quote. Tak apalah. Toh, saya memang demikian. Kurang lebihnya. Ada kalanya ketika saya sendiri tak
tau tentang sesuatu, saya mendapat “pencerahan” nya dari quote. Eventually,
saya tak malu mengakui, bahwa saya tetaplah suka mengutip. Quote, pada
khususnya, dan apapun yang bisa dikutip, pada umumnya.
As long as it’s
quotable, usable, and valuable, why not?
Feel free!