Jan 5, 2013

Sabtu

“Sesungguhnya setiap manusia memang diberi kebebasan untuk memilih. Memilih di persimpangan-persimpangan kecil atau besar dalam sebuah Big Master Plan yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua semenjak kita lahir.” – 5 cm

Entah saya orang keberapa yang mengutip quote dari 5 cm. Bedanya, mungkin, saya ngambil dari bukunya, bukan dari filmnya. Personally, I think the book is more interesting than its film. Sekali lagi, itu cuma pendapat saya. Dan silakan saja kalau ada yang pendapatnya beda.

Well, saya bukan hendak membahas buku dan atau filmnya. Cuma sekedar menjadi prolog tentang apa yang ingin saya tulis. Walapun sebenarnya saya belum benar-benar tau tentang apa yang akan saya tulis di baris-baris selanjutnya setelah baris ini. Bahasa penulisnya, saya nulis sembari mikir apa yang mau ditulis. Walaupun ditulis sambil mikir, saya yakin tulisan ini nanti tetaplah sampah. So keep your expectation on the ground!

…. Mikir…. Mikir…… ?? … Terus mikir..… Masih mikir…… Sok mikir…… Ketiduran.

setengah jam kemudian.

Setiap orang pasti punya masa lalu. Retoris memang. Tapi bukankah memang demikian? Semua orang, tanpa kecuali, pasti punya masa lalu. Tak perlu menunjuk waktu dahulu, lima detik yang lalu saja adalah (sudah bisa dikata) masa lalu. Dan masa lalu adalah sesuatu yang tak bisa diulang lagi. Kecuali di dalam film. Tak heran jika kemudian ada yang bilang, sesuatu yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu. Biarpun cuma lima detik yang lalu, lima detik itu sudah berlalu. Tak akan pernah terulang lagi. Nggak akan pernah bisa diulang lagi. Dan kehidupan nyata kita detik inipun tak akan pernah terulang ke lima detik yang lalu. Kita tak akan pernah bisa kembali ke masa lalu, biarpun cuma lima detik yang lalu. Masa lalu adalah sesuatu yang paling jauh dari kita. Karena masa lalu tak akan pernah bisa dijangkau lagi. Tak akan pernah kita ulangi lagi. Iya memang tulisan saya muter-muter. Yo ben!
 
The past can hurt, but the way I see it, you can either run from it, or learn from it. –The Lion King

Seperti dua sisi mata uang, masa lalu juga punya dua sisi berseberangan. Dua sisi berlawanan, saling bertolak belakang. Ada suka, ada duka. Ada gelapnya, ada terangnya. Ada indahnya, ada suramnya. Ada positifnya, ada negatifnya. Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan. Ada yang bikin nangis, ada yang bikin tertawa. Ada yang ingin selalu dikenang, ada yang ingin segera dilupakan. Dan sebagainya dan sebagianya. Seperti kata orang bijak yang entah makannya apa, masa lalu bukan untuk dihindari, masa lalu tak harus selalu dilupakan. You don't have to forget. You just have to move on. Masa lalu bisa jadi pelajaran, untuk masa sekarang, dan yang akan datang. Karena dari masa lalu, kita bisa belajar untuk tidak menjadi keledai. Yang bisa jatuh dua kali ke lubang yang sama. Ehh bener kan ya keledai?

Things don't always go the way we planned, but you'll see every day that we'll never turn away. –The Lion King II

Dan karena saya juga manusia (biasa), sayapun juga punya masa lalu, yang sebagian indah, sebagian yang lain, entahlah. Just simply like anyone else, I guess. Dan karena saya (merasa) bukan keledai, sayapun mencoba belajar dari masa lalu. Masa lalu yang (bagi saya) menawarkan banyak pelajaran, walaupun saya bukan termasuk orang yang pinter mengambil pelajaran. Well, setidaknya saya mencoba. Dan tetap mencoba. Terus mencoba. Sebisanya. Semampunya. Sembari tetap berpikir positif. Husnudzon. Bahwa apapun yang terjadi, ternasuk yang terjadi di masa lalu, adalah bagian dari perjalanan kehidupan. Perjalanan kehidupan yang sudah digariskan oleh Yang Memiliki Kehidupan, sekaligus buah dari pilihan-pilihan kita, yang menjalani kehidupan. It doesn't matter where we come from, what matters is where we going.

 Selamat tinggal masa lalu. Selamat datang lembar baru.

Salam.

No comments: