Dengan nada retoris, seorang teman perempuan pernah bertanya
kepada saya: kalau kita tidak dijodohkan dengan seseorang, kenapa ya kita
dipertemukan dengan seseorang? Atau dengan kalimat lain (menurut penafsiran
saya), kenapa ya kita dipertemukan dengan seseorang kalau akhirnya nggak
berjodoh?
Saya butuh waktu sejenak untuk menjawabnya. Karena jujur
saja, pertanyaan itu adalah (salah satu) pertanyaan paling susah dijawab yang
pernah saya dapatkan. Pertanyaan yang sekilas terlihat sepele dan gampang, tapi
buat saya terdengar rada menohok dan butuh sedikit perenungan untuk bisa menjawabnya. Mungkin
nggak susah buat orang lain, tapi buat saya, yang notabene bodoh (terlebih soal
asmara dan lika-likunya), saya harus ekstra mikir untuk setidaknya ngasih
jawaban asal-asalan.
Dengan nada diplomatis, saya pun akhirnya menjawabnya (dan
beneran dengan asal-asalan): mungkin sama seperti kenapa kita hidup kalau pada
akhirnya kita mati. Mungkin sama kenapa kita ada padahal akhirnya juga akan
binasa.
Bener kan ngasal?! Hahaa. Untung dia nggak nanya lebih jauh lagi. Jadi saya tidak
harus ngeles lebih panjang lagi. Hihii.
Well, memang pertanyaan susah nan bikin gelisah. Terlebih buat
orang-orang yang sedang patah hati (waktu itu teman saya baru lah saja putus
cinta). Dan karena saya tidak pernah, atau belum pernah, merasakan putus cinta,
rada susah juga buat saya menempatkan diri pada posisi orang yang sedang dalam
keadaan demikian. Tapi sukur lah, meski belum pernah merasakan putus cinta,
saya pernah merasakan juga patah hati, yang lebih karena cinta bersemi sebelah
hati. (Jujur banget ya? Ben lah!)
Dan karena putus cinta juga (salah satunya) berdampak timbulnya
patah hati, saya jadi sedikit bisa mengerti, bagaimana perasaan teman saya yang
sedang broken hearted itu. Tetap, tak sepenuhnya mengerti, hanya mencoba
sedikit memahami. Based on common experience: broken hearted.
Kalau mau jujur, saya kira, saya yakin, banyak orang punya
pertanyaan seragam dengan teman saya itu. Hanya saja, mungkin, dengan kata-kata
dan atau angle yang berbeda. Intinya mempertanyakan hal sama. Iya apa iya? Saya sendiri kemudian jadi bertanya pada diri sendiri: iya
ya? Hahaa. Walaupun sejenak kemudian, sebagian diri saya yang bijaksana lalu
berkata: ya mungkin memang begitu jalannya. #sokbijak :)
Kenapa kita hidup kalau pada akhirnya kita mati. Kenapa kita
ada padahal akhirnya juga akan binasa. Buat saya jawabannya sederhana: karena tuhan ngasih kita
kesempatan.
Kesempatan dalam segala hal dalam hidup. Termasuk dalam soal cinta pada umumnya, dan dalam hal
pasangan (jodoh), secara lebih khusus. Kita semua diberi kesempatan untuk "mencari" hingga akhirnya "menemukan" pasangan (jodoh) kita. Benar, jodoh adalah di tangan tuhan, tapi jodoh juga nggak datang
tiba-tiba lalu ngetok pintu rumah kita. Jodoh memang ditentukan Yang Maha
Kuasa, tapi nggak berarti kita nggak ada usaha. Begitu mungkin lebih gampangnya.
Tapi tetap, ketika dalam usaha itu kita nggak berhasil, dan memang nggak selalu
berhasil, nggak berarti dunia kiamat. Seperti yang mungkin dirasakan oleh sebagian
orang yang (baru saja) putus cinta.
Banyak hal, banyak faktor, yang sangat memungkinkan usaha
kita “mencari” jodoh sering tidak happy ending. Dari a sampai z,
terlalu banyak untuk disebutkan. Intinya, nggak selamanya usaha kita berujung
manis seperti yang kita rencanakan, seperti yang kita harapkan. Bagi mereka
yang sedang dimabuk asmara, mungkin cinta seolah merubah hidupnya, merubah
segalanya. Mereka yakin bahwa cintanya yang sekarang, pasangannya yang sekarang, adalah yang pasti menjadi jodohnya. Yang pasti (akan) membuatnya (selalu) bahagia. Mungkin ada benarnya. Walaupun pasti ada juga kemungkinan salahnya. Bukankah
cinta itu buta. Karena cinta memang nggak punya mata.
Buat saya, kalaupun suatu saat nanti diberi kesempatan untuk
berusaha, dan pada akhirnya tidak, atau belum berhasil, ya, berbaik sangka pada takdir
mungkin adalah jawaban penghabisan yang paling masuk akal. Karena walaupun seperti
kata Agnes Monica cinta kadang tak ada logika, tapi cinta juga nggak jarang
harus berhadapan dengan realita. Sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya. Kita nggak
bisa hidup hanya dengan cinta. Nggak semua orang mau hidup hanya bermodal cinta. Itu menurut saya.
Jadi ya, bagaimanapun cerita cintanya (yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang), jalani saja. Nikmati saja. Sebisanya. Selagi bisa. Dan bagaimanapun ending-nya nanti, terima saja. Ikhlas saja. Pasrah saja. Berbaik sangka saja pada jalan-Nya. #sangat sokbijaksana :)
Dan akhirnya, make love, not war!
Dan akhirnya, make love, not war!
Salam cinta buta.
► Naif – Buta
Hati