Jan 8, 2013

Cinta Itu Ambigu

Dengan nada retoris, seorang teman perempuan pernah bertanya kepada saya: kalau kita tidak dijodohkan dengan seseorang, kenapa ya kita dipertemukan dengan seseorang? Atau dengan kalimat lain (menurut penafsiran saya), kenapa ya kita dipertemukan dengan seseorang kalau akhirnya nggak berjodoh?

Saya butuh waktu sejenak untuk menjawabnya. Karena jujur saja, pertanyaan itu adalah (salah satu) pertanyaan paling susah dijawab yang pernah saya dapatkan. Pertanyaan yang sekilas terlihat sepele dan gampang, tapi buat saya terdengar rada menohok dan butuh sedikit perenungan untuk bisa menjawabnya. Mungkin nggak susah buat orang lain, tapi buat saya, yang notabene bodoh (terlebih soal asmara dan lika-likunya), saya harus ekstra mikir untuk setidaknya ngasih jawaban asal-asalan.

Dengan nada diplomatis, saya pun akhirnya menjawabnya (dan beneran dengan asal-asalan): mungkin sama seperti kenapa kita hidup kalau pada akhirnya kita mati. Mungkin sama kenapa kita ada padahal akhirnya juga akan binasa.

Bener kan ngasal?! Hahaa. Untung dia nggak nanya lebih jauh lagi. Jadi saya tidak harus ngeles lebih panjang lagi. Hihii.

Well, memang pertanyaan susah nan bikin gelisah. Terlebih buat orang-orang yang sedang patah hati (waktu itu teman saya baru lah saja putus cinta). Dan karena saya tidak pernah, atau belum pernah, merasakan putus cinta, rada susah juga buat saya menempatkan diri pada posisi orang yang sedang dalam keadaan demikian. Tapi sukur lah, meski belum pernah merasakan putus cinta, saya pernah merasakan juga patah hati, yang lebih karena cinta bersemi sebelah hati. (Jujur banget ya? Ben lah!)

Dan karena putus cinta juga (salah satunya) berdampak timbulnya patah hati, saya jadi sedikit bisa mengerti, bagaimana perasaan teman saya yang sedang broken hearted itu. Tetap, tak sepenuhnya mengerti, hanya mencoba sedikit memahami. Based on common experience: broken hearted.

Kalau mau jujur, saya kira, saya yakin, banyak orang punya pertanyaan seragam dengan teman saya itu. Hanya saja, mungkin, dengan kata-kata dan atau angle yang berbeda. Intinya mempertanyakan hal sama. Iya apa iya? Saya sendiri kemudian jadi bertanya pada diri sendiri: iya ya? Hahaa. Walaupun sejenak kemudian, sebagian diri saya yang bijaksana lalu berkata: ya mungkin memang begitu jalannya. #sokbijak :)

Kenapa kita hidup kalau pada akhirnya kita mati. Kenapa kita ada padahal akhirnya juga akan binasa. Buat saya jawabannya sederhana: karena tuhan ngasih kita kesempatan.
 
Kesempatan dalam segala hal dalam hidup. Termasuk dalam soal cinta pada umumnya, dan dalam hal pasangan (jodoh), secara lebih khusus. Kita semua diberi kesempatan untuk "mencari" hingga akhirnya "menemukan" pasangan (jodoh) kita. Benar, jodoh adalah di tangan tuhan, tapi jodoh juga nggak datang tiba-tiba lalu ngetok pintu rumah kita. Jodoh memang ditentukan Yang Maha Kuasa, tapi nggak berarti kita nggak ada usaha. Begitu mungkin lebih gampangnya. Tapi tetap, ketika dalam usaha itu kita nggak berhasil, dan memang nggak selalu berhasil, nggak berarti dunia kiamat. Seperti yang mungkin dirasakan oleh sebagian orang yang (baru saja) putus cinta.

Banyak hal, banyak faktor, yang sangat memungkinkan usaha kita “mencari” jodoh sering tidak happy ending. Dari a sampai z, terlalu banyak untuk disebutkan. Intinya, nggak selamanya usaha kita berujung manis seperti yang kita rencanakan, seperti yang kita harapkan. Bagi mereka yang sedang dimabuk asmara, mungkin cinta seolah merubah hidupnya, merubah segalanya. Mereka yakin bahwa cintanya yang sekarang, pasangannya yang sekarang, adalah yang pasti menjadi jodohnya. Yang pasti (akan) membuatnya (selalu) bahagia. Mungkin ada benarnya. Walaupun pasti ada juga kemungkinan salahnya. Bukankah cinta itu buta. Karena cinta memang nggak punya mata.

Buat saya, kalaupun suatu saat nanti diberi kesempatan untuk berusaha, dan pada akhirnya tidak, atau belum berhasil, ya, berbaik sangka pada takdir mungkin adalah jawaban penghabisan yang paling masuk akal. Karena walaupun seperti kata Agnes Monica cinta kadang tak ada logika, tapi cinta juga nggak jarang harus berhadapan dengan realita. Sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya. Kita nggak bisa hidup hanya dengan cinta. Nggak semua orang mau hidup hanya bermodal cinta. Itu menurut saya.

Jadi ya, bagaimanapun cerita cintanya (yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang), jalani saja. Nikmati saja. Sebisanya. Selagi bisa. Dan bagaimanapun ending-nya nanti, terima saja. Ikhlas saja. Pasrah saja. Berbaik sangka saja pada jalan-Nya. #sangat sokbijaksana :)

Dan akhirnya, make love, not war!

Salam cinta buta.

 ► Naif – Buta Hati

Jan 5, 2013

Sabtu

“Sesungguhnya setiap manusia memang diberi kebebasan untuk memilih. Memilih di persimpangan-persimpangan kecil atau besar dalam sebuah Big Master Plan yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua semenjak kita lahir.” – 5 cm

Entah saya orang keberapa yang mengutip quote dari 5 cm. Bedanya, mungkin, saya ngambil dari bukunya, bukan dari filmnya. Personally, I think the book is more interesting than its film. Sekali lagi, itu cuma pendapat saya. Dan silakan saja kalau ada yang pendapatnya beda.

Well, saya bukan hendak membahas buku dan atau filmnya. Cuma sekedar menjadi prolog tentang apa yang ingin saya tulis. Walapun sebenarnya saya belum benar-benar tau tentang apa yang akan saya tulis di baris-baris selanjutnya setelah baris ini. Bahasa penulisnya, saya nulis sembari mikir apa yang mau ditulis. Walaupun ditulis sambil mikir, saya yakin tulisan ini nanti tetaplah sampah. So keep your expectation on the ground!

…. Mikir…. Mikir…… ?? … Terus mikir..… Masih mikir…… Sok mikir…… Ketiduran.

setengah jam kemudian.

Setiap orang pasti punya masa lalu. Retoris memang. Tapi bukankah memang demikian? Semua orang, tanpa kecuali, pasti punya masa lalu. Tak perlu menunjuk waktu dahulu, lima detik yang lalu saja adalah (sudah bisa dikata) masa lalu. Dan masa lalu adalah sesuatu yang tak bisa diulang lagi. Kecuali di dalam film. Tak heran jika kemudian ada yang bilang, sesuatu yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu. Biarpun cuma lima detik yang lalu, lima detik itu sudah berlalu. Tak akan pernah terulang lagi. Nggak akan pernah bisa diulang lagi. Dan kehidupan nyata kita detik inipun tak akan pernah terulang ke lima detik yang lalu. Kita tak akan pernah bisa kembali ke masa lalu, biarpun cuma lima detik yang lalu. Masa lalu adalah sesuatu yang paling jauh dari kita. Karena masa lalu tak akan pernah bisa dijangkau lagi. Tak akan pernah kita ulangi lagi. Iya memang tulisan saya muter-muter. Yo ben!
 
The past can hurt, but the way I see it, you can either run from it, or learn from it. –The Lion King

Seperti dua sisi mata uang, masa lalu juga punya dua sisi berseberangan. Dua sisi berlawanan, saling bertolak belakang. Ada suka, ada duka. Ada gelapnya, ada terangnya. Ada indahnya, ada suramnya. Ada positifnya, ada negatifnya. Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan. Ada yang bikin nangis, ada yang bikin tertawa. Ada yang ingin selalu dikenang, ada yang ingin segera dilupakan. Dan sebagainya dan sebagianya. Seperti kata orang bijak yang entah makannya apa, masa lalu bukan untuk dihindari, masa lalu tak harus selalu dilupakan. You don't have to forget. You just have to move on. Masa lalu bisa jadi pelajaran, untuk masa sekarang, dan yang akan datang. Karena dari masa lalu, kita bisa belajar untuk tidak menjadi keledai. Yang bisa jatuh dua kali ke lubang yang sama. Ehh bener kan ya keledai?

Things don't always go the way we planned, but you'll see every day that we'll never turn away. –The Lion King II

Dan karena saya juga manusia (biasa), sayapun juga punya masa lalu, yang sebagian indah, sebagian yang lain, entahlah. Just simply like anyone else, I guess. Dan karena saya (merasa) bukan keledai, sayapun mencoba belajar dari masa lalu. Masa lalu yang (bagi saya) menawarkan banyak pelajaran, walaupun saya bukan termasuk orang yang pinter mengambil pelajaran. Well, setidaknya saya mencoba. Dan tetap mencoba. Terus mencoba. Sebisanya. Semampunya. Sembari tetap berpikir positif. Husnudzon. Bahwa apapun yang terjadi, ternasuk yang terjadi di masa lalu, adalah bagian dari perjalanan kehidupan. Perjalanan kehidupan yang sudah digariskan oleh Yang Memiliki Kehidupan, sekaligus buah dari pilihan-pilihan kita, yang menjalani kehidupan. It doesn't matter where we come from, what matters is where we going.

 Selamat tinggal masa lalu. Selamat datang lembar baru.

Salam.

Jan 1, 2013

Selamat Tahun Baru

Selamat tahun baru, semuanya. Nggak usah muluk-muluk, semoga tahun baru bisa lebih baik saja lah ya.

Cheers!