Jun 10, 2013

Here Comes The Sun

Apakah Anda pernah nonton film Before Sunrise? Dan atau sekuelnya Before Sunset? Kalo pernah, sungguh akan sangat membantu dalam memahami tulisan saya kali ini. Kalopun belum, saya juga tak akan memaksa Anda untuk menontonnya. Walopun jika Anda tanya, dengan bangga saya akan melabelinya high recommended.

Selain (500) Days of Summer, kedua film tadi, terutama yang Before Sunrise, adalah romantic film favorit saya. Selain bagus secara cerita dan penceritaannya, film-film tersebut menurut saya juga lebih berani ‘berbeda’. Ya, BERBEDA. Berbeda dengan film-film romantis kebanyakan. Contohnya? Gampang.

Before Sunrise dan Before Sunset misalnya, saya singkat BS saja biar lebih sederhana, mungkin akan terlihat aneh dan cenderung membosankan bagi sebagian besar umat manusia. Karena nyaris sepanjang durasi film hanya berisi dua orang, laki-laki dan perempuan, yang ngobrol dan ngobrol dan ngobrol. Intinya, film itu adalah film ngobrol, (hanya) bercerita tentang dua orang yang ngobrol. Se-simple itu.

Tak seperti lazimnya romantic filmnya Hollywood, BS juga sedikit sekali menyajikan adegan mesra, kalo tak mau dibilang nyaris tak ada. Kecuali adegan ciuman diakhir film yang itupun kemudian perlahan disamarkan. Hahaa.. sungguh, bukan film yang literally romantic.

Dan sekali lagi tak seperti seharusnya film romantis, yang mempertegas betapa berbedanya film ini adalah kenyataan bahwa BS sama sekali tak happy ending. Walopun juga nggak sedih sedih amat. Namun yang jelas, ending film yang pertama (mungkin) memang sengaja dibikin nggantung. Semacam trick jika kelak suatu saat ingin di buat sekuelnya. Dan pada kenyataannya, memang ada film keduanya. Sembilan tahun kemudian.

Dan ini yang jadi unique point nya film ini. Sekuelnya dibuat real-time. Jika jarak antara film pertama dan film kedua adalah sembilan tahun, maka demikian juga di cerita fimnya, yang menceritakan kisah dua orang yang sama, pria dan wanita yang sama, namun dalam situasi dan tempat yang berbeda, sembilan tahun kemudian. Walopun isinya tetep ngobrol juga! Hahaa.. Heran. Sembilan tahun nggak ketemuan, tapi masih doyan ngobrol juga! ;D

Sudah cukup panjang ya?! Padahal baru kata pengantar. Hehee..

Dari film-film yang saya jadikan sample di atas, bagi saya pribadi memberikan beberapa pelajaran. (Saya memang lebih gampang nangkep pelajaran dari film daripada dari dosen). Namun karena tak ingin terkesan sok, saya akan menuliskannya satu saja.

Ngobrol. Ya. Soal ngobrol.

Walaupun nggak cerewet cerewet amat, bahkan cenderung anteng dan kalem, bisa dibilang saya termasuk orang yang suka ngobrol. Hampir dengan siapa saja. Nyaris tentang apa saja. Saking doyannya, saya jadi sering (terkesan) over. Over talking. Over reacting. Dan over over lainnya. Yang tak jarang justru memunculkan kesalahpahaman dipihak lawan bicara. Jangan heran jika melihat saya ujug-ujug menyela obrolan orang. Semacem SKSD. Hahaa.. Jangan kaget juga ketika mendengar saya yang suka ngomong sotoy. Dan sebagainya dan sebagianya.

Mungkin sudah bawaan entah dari mana saya terlahir ke dunia sebagai orang yang, occasionaly, suka banyak bicara. Yang ujung-ujungnya memicu kebiasaaan doyan ngobrol. Saya memang bukan tipe orang yang talk less do more. Saya lebih merasa kalo bisa talk more do more, why not?!

Kembali kedalam konteks film tadi, ngobrol-nya itulah justru yang menurut saya menjadi bagian romantic-nya. Tentu saja berdasar asumsi saya bahwa romantic tak melulu harus dengan adegan mesra, apalagi vulgar. Romantisme dalam film dibangun dengan obrolan-obrolan antara dua orang laki-laki dan perempuan. Tentang apa saja, dan cenderung sekenanya. Dua orang yang sebelumnya asing, perlahan tapi pasti menjadi saling suka, ‘hanya’ karena ngobrol. Strangers become lovers. Hanya dengan ngobrol. Hebat ya?! ;)

Tentu saja tak hanya sekedar ngobrol. Anda, saya, kita, dan atau siapapun tak mungkin bisa doyan ngobrol dengan seseorang yang nggak bisa connect. Yang nggak nyambung. Intinya, kita butuh orang yang, bahkan dalam hal obrolan,  bisa sejalan.

Saya pribadi, selalu memberi apresiasi lebih kepada orang-orang yang bisa nyambung dengan saya ketika ngobrol. Tak banyak memang orang-orang itu. Tapi memang nggak gampang menemukan orang-orang demikian. Sahabat sekalipun nggak selalu betah berlama lama ngobrol dengan saya. Di lain sisi, saya bisa ngobrol seharian di kantin dengan adik angkatan satu jurusan yang notabene tak begitu saya kenal, baik secara personal maupun dalam pergaulan. Ironis. Tapi kenyataan memang demikian.

Saya percaya, ngobrol dapat memperpanjang umur. Karena ngobrol adalah salah satu cara berkomunikasi. Salah satu media bersilaturahmi. Maka sekali lagi jangan heran jika kelak, suatu saat, saya menyapa Anda. Dan ketika Anda bertanya kenapa, saya hanya akan bilang “Just making conversation.” ;)

Cheers!

May 9, 2013

Drama Sebuah Sepeda

Dramatis. Miris. Tragis. Ironis. Dan entah –is – is apalagi yang cocok untuk menggambarkan film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Luigi Bartolini ini. Jika anda termasuk orang yang gampang trenyuh, gampang tersentuh, dan apalagi gampang mewek, rasanya wajar bila Anda meneteskan air mata ketika menonton film hitam putih berdurasi 93 menit ini. Bicyle Thieves (dalam bahasa Italia: Ladri di biciclette) atau juga dikenal dengan judul The Bicycle Thief adalah sebuah film neorealist Italia (Italian neorealist)[1] arahan sutradara Vittorio De Sica. Film yang rilis tahun 1948 tersebut konon dianggap sebagai film neorealist paling populer. Vatican's Best Films List bahkan menempatkannya sebagai film terbaik karena muatan nilai humanismenya.[2]

Bicycle Thieves bercerita tentang Antonio Ricci, seorang pria miskin pengangguran di kota Roma yang depresi karena carut marut kondisi ekonomi di Italia pasca Perang Dunia II. Dengan seorang istri dan dua anak yang menjadi tangungannya, ia seolah ‘dipaksa’ untuk mendapatkan pekerjaan di tengah keadaan sosial ekonomi yang serba sulit. Hingga akhirnya dia mendapatkan pekerjaan sebagai tukang tempel poster, dengan satu syarat, harus memiliki sepeda. Demi mendapatkan pekerjaan itu, istrinyapun merelakan menjual kain seprei tempat tidur mereka demi mendapatkan uang untuk membeli sepeda.

Drama berlanjut ketika di hari pertama bekerja, sepeda itu dicuri orang. Kejar kejaran di jalanan Roma, tak dipedulikan oleh polisi, menelusuri pasar sepeda, bahkan hingga nyaris bentrok dengan massa, menjadi lika-liku perjuangan Antonio Ricci dalam usaha menemukan sepedanya. Hingga rasa putus asa menghampirinya, iapun justru memutuskan untuk mencuri sepeda. Malang baginya, si empunya memergokinya dan mengejarnya yang kemudian diikuti banyak orang lain yang ikut mengejarnya dijalanan. Tertangkap dan nyaris dihakimi massa menjadi klimaks yang sungguh miris. Jika tak mau menyebutnya tragis. Antonio Ricci yang sebenarnya adalah korban pencurian, berbalik menjadi si pencuri.

Di samping cerita yang neorealis, yang mengangkat realitas sosial di kota Roma, dan secara lebih luas kehidupan sosial ekonomi Italia pasca Perang Dunia II, pemilihan pemeran yang bukan dari kalangan profesional dan tanpa bekal pelatihan akting nampaknya bisa menjadi salah satu nilai lebih film ini. Peran sebagai Antonio Ricci rasanya memang ‘cuma’ bisa dihayati oleh orang-orang yang memang terbiasa ‘susah’ seperti Lamberto Maggiorani, yang dalam kehidupan nyata adalah seorang buruh pabrik[3]. Akting yang terkesan ‘natural’ cukup jelas terlihat pada tokoh Antonia Ricci. Kredit tersendiri juga layak diberikan kepada Enzo Staiola yang memerankan Bruno Ricci, anak Antonio Ricci yang setia menemani dalam perjuangan bapaknya menemukan sepedanya yang dicuri. Ia bahkan bisa dikatakan menjadi ‘juru selamat’ bagi bapaknya yang di akhir film nyaris dihakimi massa karena ketauan dan tertangkap mencuri sepeda.

Walaupun dengan gambar hitam putih dan terkesan sederhana, film ini seperti tak kekurangan daya dalam menyajikan rangkain shot minimalis namun dengan efek maksimal bagi penonton. Penataan fotografi, termasuk sinematografi juga terasa sangat signifikan  dalam film ini, mengingat sebagian besar (hampir keseluruhan) adegan dalam film di ambil di ruang terbuka (outdoor). Editing yang pas juga berperan besar dalam menambah dramatisnya film ini. Secara keseluruhan, dengan berbagai ke-sederhana-annya, film ini layak diberi apresiasi tinggi. Tak heran jika kemudian film ini menuai banyak pujian dan penghargaan. Mulai dari Academy Honorary Award[4] di ajang Academy Award ke 22 tahun 1950[5], hingga masuk daftar film terbaik di berbagai versi termasuk tempat keempat pada daftar The 100 Best Films Of World Cinema tahun 2010 versi majalah Empire.

Buona Vista!

 ___________________________________________
[1] Italian Neorealist adalah karakterisasi film-film yang bercerita seputar realitas kehidupan, pengambilan gambar dilakukan dilakukan di lokasi terbuka, tidak jarang di lokasi sebenarnya, dan biasanya menggunakan aktor/aktris non-profesional. Film-film neorealist Italian kebanyakan bercerita tentang kondisi ekonomi dan psikologis di Italia pasca Perang Dunia II, yang merefleksikan perubahan mental orang-orang Italia dan kehidupan mereka sehari hari, kemiskinan dan depresi.

[2] Terasip di http://en.wikipedia.org/wiki/Bicycle_Thieves diakses 24 November 2011 11:10 WIB

[3] Ibid.

[4] Academy Honorary Award adalah penghargaan khusus yang diberikan kepada film yang tidak termasuk dalam kategori-kategori di Academy Award. Academy Honorary Award pertama kali muncul di Academy Award ke 21 tahun 1949 dan diberikan kepada film Prancis berjudul Monsieur Vincent.

[5] Terarsip di http://en.wikipedia.org/wiki/Academy_Honorary_Award diakses 24 November 2011 12:10 WIB

Apr 1, 2013

Parodi Nazi

The Great Dictator: Parodi Nazi, Cerita Humor Seorang Diktator

This is the story of the period between two world wars. An interim during which insanity cut loose, liberty took a nose dive, and humanity was kicked around somewhat.

Begitulah opening yang singkat namun cukup ‘tajam’ menggambarkan seperti apa film hebat yang satu ini, The Great Dictator. Film yang rilis pada 15 Oktober 1940 ini ditulis, diproduseri dan disutradarai oleh Charles Chaplin, yang sekaligus juga menjadi aktor utamanya. Sebagai satu-satunya film-maker Hollywood yang sukses membuat film bisu bahkan hingga di era film ‘bicara’[1], The Great Dictator merupakan film ‘bicara’ pertama Charles Chaplin, yang sekaligus merupakan filmnya yang paling sukses secara komersil, walaupun secara kritis, film ini tak kalah suksesnya dengan menuai banyak pujian dan penghargaan, termasuk 5 nominasi Oscar.[2]

Meskipun berlabel film komedi, film ini tak begitu saja hanya menyajikan kelucuan sang maestro, Charles Chaplin, namun juga bagaimana dengan hebatnya memuat satir tentang situasi kala itu, masa (diantara) perang dunia. The Great Dictator adalah film pertama di masa itu yang berani dengan tajam menyindir Adolf Hitler dan Nazi-nya dengan mengibaratkannya seperti manusia-manusia mesin, dengan pikiran dan hati mesin, "machine men, with machine minds and machine hearts".

Pertama kali menonton film ini, saya seperti melihat sisi lain dari seorang Charles Chaplin. Ya, di film inilah pertama kalinya saya mendengar suara Charles Chaplin bicara, karena seperti yang disebutkan diawal, ini adalah film ‘bicara’ pertamannya. Dibeberapa menit pertama film, kita seolah tidak bisa menolak untuk tertawa melihat kelucuan (dan kekonyolan) khas seorang Charles Chaplin. Di beberapa menit pertama itu pula, saya menduga bahwa film ini adalah seperti beberapa film (pendek) Charles Chaplin yang pernah saya tonton sebelumnya semisal The Rink (1916) ataupun The Cure (1917), akan selalu memancing tawa. Namun semakin lama, film ini semakin ‘serius’ bercerita, walaupun tetap dangan gaya ringan dan humoris. Untuk ukuran film bertema ‘berat’, bisa dibilang menonton film ini sangat menyenangkan dan tidak membosankan, karena walaupun menceritakan background yang serius, namun dikemas dengan adegan-adegan yang sangat sederhana dengan bumbuan humor, namun tetap sarat makna.

Berbicara tentang kehebatan film ini secara cerita dan penceritaannya, tentu tak bisa lepas dari sang sutradara sekaligus aktor utama, Charles Chaplin. Jika sebelumnya lebih sering melihatnya berakting lucu (kadang konyol) dengan kostum khasnya yang biasa disebut Little Tramp itu, di film ini disajikan bagaimana Charles Chaplin memerankan dua karakter yang secara eksplisit sangat berbeda. Dan seperti tanpa cela, dua karakter beda dunia itupun bisa dibawakan dengan sangat apik oleh Charles Chaplin. Saya bahkan tak bisa menahan tawa (sekaligus takjub) ketika adegan Charles Chaplin yang memerankan karakter Adolf Hitler, sedang berpidato. Terlepas dari kebenaran secara tata bahasa yang saya sendiri juga kurang tahu, gaya dan aksen Jerman-nya sungguh meyakinkan, mengingat Charles Chaplin adalah orang Inggris yang tentu sangat kental dengan aksen British English-nya. Terlebih jika kita membandingkan antara dua adegan pidatonya di film itu, ketika di awal film dia berpidato sebagai Adolf Hitler dan di akhir film ketika ia berpidato sebagai warga biasa yang ‘disangka’ Adolf Hitler. Dengan pembawaan yang meyakinkan, dua karakter berbeda itu berhasil dimainkan dengan baik oleh Charles Chaplin.

Hal menarik lain dari film ini adalah tentang ‘kemiripan’ antara Charles Chaplin dengan salah satu karakter yang dimainkannya (atau lebih tepatnya, diparodikannya), Adolf Hitler. Faktor ‘kemiripan’ itu pula yang dianggap sebagai salah satu alasan kuat Charles Chaplin membuat The Great Dictator. Secara penampilan, Chaplin dan Hitler memiliki kemiripan, terutama kumis keduanya yang sangat khas. Keduanya juga lahir di hari yang berdekatan, dimana Charles Chaplin yang lahir 16 Januari 1889, hanya terpaut empat hari dengan hari kelahiran Adolf Hitler, yakni 20 Januari 1889. Keduanya juga sama-sama tumbuh besar di keluarga miskin dengan ayah pemabuk dan ibu yang sakit-sakitan. Keduanya pun juga sama-sama penggemar berat komposer kenamaan Jerman, Richard Wagner.[3]

Film yang memulai proses produksi pada September 1939 (hanya seminggu setelah pecahnya perang Dunia II) dan selesai enam bulan kemudian itupun sempat menimbulkan tensi tinggi hampir di seluruh dunia, dan diprediksi tidak akan pernah dirilis, mengingat hubungan baik antara Amerika Serikat dengan Jerman kala itu. Namun karena independen secara artistik dan terlebih secara finansial, juga untuk menghindari kebangkrutan karena Chaplin telah menginvestasikan 1,5 juta dollar untuk proyek film ini, Charles Chaplin terus melanjutkan produksinya. The Great Dictator akhirnya rilis di New York pada September 1940, ke publik Amerika secara lebih luas pada Oktober, dan di Inggris pada Desember tahun yang sama. Film itupun juga rilis di Prancis pada April 1945. Charles Chaplin sendiri pernah menyatakan bahwa ia menerima banyak ‘peringatan’ selama proses produksi. Namun dengan keteguhannya, proses produksi terus dilanjutkan. Terlebih ketika presiden Amerika Serikat kala itu, Franklin D. Roosevelt, mengirim penasehatnya untuk secara pribadi menemui Charles Chaplin dan menyampaikan dukungan untuk melanjutkan produksi film itu.

Oleh sebagian orang, termasuk saya sendiri, film tentang Nazi (Nazism) biasanya akan dianggap sebagai film ‘berat’ karena cerita yang diangkat. Namun menonton film ini seolah meruntuhkan pandangan itu. Setidaknya begitu menurut saya. Menonton film ini, membuat saya jauh lebih mengerti (walaupun sedikit) tentang Nazi maupun Hitler. Setidaknya saya  merasa lebih bisa menikmati dan mengerti cerita dan maknanya dibandingkan ketika saya menonton film lain tentang Nazi semisal Valkyrie yang bahkan memasang bintang sekelas Tom Cruise, maupun Inglourius Basterds-nya Quentin Tarantino.

Menonton film ini seolah menyadarkan saya bahwa menceritakan sesuatu yang ‘berat dan atau serius tidak melulu harus dengan adegan-adegan bertensi tinggi. Charles Chaplin membuktikannya, bahwa bahkan sebuah cerita kelam dari kediktatoran, bisa disampaikan dengan sederhana dan lugas, bahkan dengan humor, namun tetap sarat pesan dan makna.

Salute!

_____________________
[1] Film ‘bicara’ adalah film dengan suara yang telah disinkronisasikan dengan gambar (dialog), tidak seperti film bisu yang sama sekali tidak ada suara dialog.

[2] Lebih jelas lihat http://en.wikipedia.org/wiki/The_Great_Dictator diakses 22 Oktober 2011 11:27

[3] Ibid.

Mar 3, 2013

Kisah Revolusi Yang Merevolusi

BATTLESHIP POTEMKIN (1925) : Kisah Revolusi Yang Merevolusi

Sekilas membaca atau mendengar judulnya, orang mungkin akan skeptis bila dikatakan bahwa film ini adalah film propaganda komunis yang sangat -kalau tak mau dibilang paling- berpengaruh di dunia perfilman selama lebih dari 75 tahun. Film arahan sutradara muda Rusia, Sergei Eisenstein, ini bahkan dianggap sebagai sebuah revolusi di dunia perfilman. Ya, cerita tentang revolusi di Rusia yang sekaligus menjadikan film ini sebuah 'revolusi' di dunia perfilman. Film yang bercerita tentang Revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1905 ini, memang menunjukkan kecerdasan sang sutradara.

Battleship Potemkin memang bukan sebuah film yang akan membuat penontonnya duduk nyaman menikmati alur ceritanya. Meski begitu, harus diakui bahwa menonton film ini, kita sebagai penonton seolah ‘dipaksa’ untuk mengapresiasi sang sutradara. Teknik montage yang digunakan dalam film ini bisa dikatakan cukup mengesankan. Hal itu didukung pula dengan editing yang mumpuni. Sehingga Eisenstein seolah membuat film ini pada saat editing, bukan saat filming-nya itu sendiri. Sebagai contoh, kapal yang digunakan dalam film yang sebenarnya tertambat di dermaga, namun dengan angle kamera dan pemilihan shot yang tepat, membuat kapal terlihat seolah berada di tengah lautan luas.

Dari segi musik, Battleship Potemkin menggunakan score yang sekali lagi mungkin akan terdengar ‘lucu’ dan cenderung membosankan jika dibandingkan dengan teknik scoring film masa kini. Hal tersebut tentu bisa dimaklumi mengingat Battleship Potemkin dirilis pada era silent film atau film bisu, tepatnya tahun 1925. Hanya dua tahun sebelum film dengan dialog bersuara pertama, The Jazz Singer dirilis. Namun demikian, jika kita mendengarkan musik ‘pengiring’-nya dengan seksama dan menggabungkannya dengan konteks adegan atau gambar di film, maka score yang digarap oleh komposer Rusia, Dmitri Shostakovich, itu akan terasa nyambung denga gambar (adegan) di dalam film, sehingga sedikit banyak ikut membangun 'suasana' dalam film.

Film Battleship Potemkin sendiri, dalam penceritaannya terbagi dalam 5 bagian;

Bagian pertama, THE MEN AND THE MAGGOTS, yang dibuka dengan adegan di mana sejumlah awak kapal Potemkin yang sedang tidur, dipukuli oleh salah seorang perwira. Di geladak kapal, para awak berdebat dengan perwira kapal karena para awak diberi daging busuk untuk makanan mereka. Para awak kapalpun kemudian menolak untuk makan sup yang terbuat dari daging busuk itu.

Di sini, sang sutradara jelas ingin menujukkan ‘perbedaan’ antara perwira dengan awak kapal, dengan memakai sebuah ironi, yakni para awak kapal yang telah menjalankan tugasnya, namun mereka diberi daging busuk sebagai makanan.

Bagian kedua, DRAMA IN THE HARBOR, di mana cerita berlanjut dengan dipanggilnya seluruh awak kapal dan kemudian dikumpulkan di geladak. Mereka yang tidak menyukai sup dipisahkan dari kumpulan, ditutupi dengan kain, untuk kemudian ditembak mati. Ketika pasukan penembak diperintah untuk menembak, pasukan penembak menolak. Para awak kapalpun kemudian memberontak dengan melawan para perwira, membunuh dan atau melempar para perwira itu ke laut, dan kemudian mengambil alih kapal. Awak kapal yang menjadi pemimpin pemberontakan itu, Vakulinchuk, tewas dan jasadnya dibawa ke dermaga di kota Odessa.

Bagian ketiga, A DEAD MAN CALLS FOR JUSTICE, yang menceritakan orang-orang di Odessa memberikan penghormatan kepada Vakulinchuk, dimana salah seorang meneriakkan bahwa dia mati demi semangkuk sup.

Pada bagian ini, mulai banyak extra yang terlibat. Para pemeran dalam Battleship Potemkin sendiri sebagian besar memang bukan aktor profesional, dimana mereka hanya di casting berdasar penampilan fisiknya, dan bukan berdasar kemapuan aktingnya. Selain itu, karakterisasi alam film juga dibuat sangat sederhana sehingga memudahkan dalam memancing simpati dari penonton, karena tidak terlalu banyak karakter yang ada.

Bagian keempat, THE ODESSA STARCASE. Bagian ini disebut-sebut sebagi bagian paling terkenal dari Battleship Potemkin. Pada bagian ini, digambarkan ketika orang-orang di Odessa berkumpul dan menyambut para awak kapal, pasukan bersenjata tiba-tiba muncul dan menembaki kerumunan orang yang tak bersenjata.

Di sini, sekali lagi, kecerdasan sang sutradara terlihat. Alih-alih menampilkan adegan pembunuhan massal itu secara ‘epik’, sang sutradara memilih menampilkannnya dengan gambar-gambar close up, yang membuat adegan demi adegan terasa lebih tragis, menyentuh, dan menyedihkan.

Bagian kelima, THE MEETING WITH THE SQUADRON. Pada bagian ini, kapal Potemkin menuju ke lautan, dengan masih diliputi perasaan khawatir dan penuh tanda tanya, apakah kapal lain akan menyerangnya. Atau, yang terjadi kemudian, justru bergabung dengan mereka dalam pemberontakan.

Film pun kemudian ditutup dengan musik yang mendukung ending-nya, sehingga memberikan closing yang cukup mengesankan.

Film berdurasi tak kurang dari 72 menit ini mungkin memang bukan film yang membuat kita takjub dengan efek visual dan sejenisnya, terlebih bagi penonton yang kurang nyaman dengan gambar hitam putih. Meskipun terkesan lamban, atau kontras yang kadang berlebihan, gambar dalam Battleship Potemkin bisa dikatakan sudah cukup mengesankan.

Kelebihan lain dari film ini adalah cukup banyaknya informsi visual, semisal dialog, nama tempat, dan sebagainya, yang ada yang bisa didapat oleh penonton, sehingga penonton dapat dengan sendirinya menyusun atau merangkai tiap gambar menjadi cerita. Film inipun seolah juga ingin membuktikan bahwa seperti juga halnya sebagian besar komunikasi manusia yang dilakukan secara non verbal, hal serupa juga berlaku dalam film ini, bahwa gambar bisa berbicara lebih banyak dari ‘hanya’ sekedar suara.

Feb 17, 2013

Man of Quotes

Bisa dibilang, saya termasuk orang yang suka dengan quote. Walaupun tidak sampai taraf maniak. Suka dalam arti bahwa saya sering membaca, menyimpan, meng-copas, mengutip, dan atau meminjam quote-quote yang menurut saya bagus. Dan saya suka. Saya bahkan punya kebiasaan untuk mengumpulkan dan menyimpannya.  Untuk kemudian saya gunakan ketika ada “momentum” yang pas. Terdengar sedikit aneh mungkin. Tapi memang begitulah. Saya.

Seperti yang pernah saya jelaskan juga di tulisan saya sebelumnya, rasa suka tentu saja juga (biasanya) ada alasannya. Yang kalau dalam konteks berbicara tentang quote ini, rasa suka saya berlatar belakang kesamaan paham. Kesamaan paham dengan apa yang dimuat atau terkandung dalam berbagai quote yang saya suka. Atau paling enggak, saya suka dengan kata-katanya. Itu saja.


Entah sudah berapa banyak quote yang pernah saya baca, saya suka, dan kemudian saya kutip. Bukan bermaksud untuk membiasakan plagiarisme, tapi menurut saya quote adalah salah satu ‘karya’ yang tak semua orang bisa membuatnya. Jika diibaratkan tulisan, quote adalah karya tulis yang punya nilai. Nilai inipun bisa dijabarkan lebih banyak lagi. Bisa nilai dalam arti muatannya, nasehatnya, pesannya, maupun nilai dalam arti seninya, keindahannya, dan sebagainya.


Sumbernya pun bisa datang dari mana saja. Buku, lirik lagu, dialog film, akun Twitter, nasehat orang-orang “bijak”, penuturan para tokoh idola, atau bahkan cuman dari obrolan dengan orang. Intinya, semua kata-kata yang menurut saya bagus, dan saya suka, dan biasanya ada something interesting dan atau something valuable nya, saya cenderung suka mengutipnya, untuk, setidaknya, bisa lebih mengingatnya.


Lebih dari itu, dari berbagai quote, tak jarang saya mendapat “pencerahan” dalam berbagai bentuknya. Baik dalam taraf biasa saja, maupun hingga yang menurut saya cukup signifikan memberikan pencerahan dalam kehidupan. Halahh. Dari quote, bisa banyak ditemui kata-kata yang kadang sedang “gue banget”. Kata-kata yang saya anggap bisa mewakili perasaan, pandangan, kepercayaan, atau yang telah saya sebutkan, kesepahaman. Baik dalam konteks momentum, maupun dalam konteks kesepahaman permanen yang tidak dapat diganggu gugat.


Dari banyak quote, tak jarang juga saya bisa mendapatkan inspirasi. Inspirasi dalam berbagai hal. Inspirasi dalam memandang dan atau meng-handle suatu keadaan. Inspirasi dalam menentukan sikap. Atau sekedar inspirasi dalam membuat tulisan. Karena nyatanya, sering terjadi dimana saya mendapat ide tulisan setelah membaca atau mendapati quote-quote bagus yang kemudian menarik untuk saya tulis. Termasuk tulisan ini. Maka tak heran jika di banyak tulisan, saya sering sekali menggunakan kutipan-kutipan. Tak hanya quote-quote bagus yang saya suka, tapi bisa juga judul lagu, judul buku, penggalan lirik lagu, potongan dialog film, bahkan kata-kata yang saya petik dari tulisan orang. Intinya, “quote” bisa saya kutip hampir dari mana saja. Dari siapa saja. Sepanjang menurut saya bagus, menarik, dan saya suka, hampir pasti saya akan mengutipnya.
 

Lalu kemudian jangan heran jika saya terkadang, atau bahkan sering terkesan pinter membuat kata-kata bagus, kata-kata bijak, puitis, romantis, dan atau semacamnya. Jangan buru-buru berprasangka baik, karena kemungkinan besar, itu bukan tulisan saya pribadi. Bukan karya saya sendiri. Bisa jadi, dan itu sering terjadi, adalah hasil kutipan saya atas “karya” orang yang secara kualitas, minimal tulisan dan atau kata-katanya, jauh lebih bagus dari saya.


Saya memang bukan orang kreatif yang bisa membuat kata-kata inspiratif. Saya juga bukan manusia bijaksana yang bisa membuat nasehat bijak. Sayapun juga sama sekali bukan jenis manusia puitis nan romantis yang bisa membuat kata-kata yang kalau para wanita membaca dan atau mendengarnya, mereka merasa kata-kata itu tentang dan atau hanya untuk mereka. Hahaa.


Bukan. Saya bukan tipe orang demikian. Saya hanya orang yang “kreatif” dalam memilih dan memilah quote mana yang paling tepat, yang saya suka, untuk dikutip. Yang biasanya saya sesuaikan dengan mood, perasaan, atau keadaan. Saya hanya orang “bijak” jadi-jadian yang hanya berniat menyebar kebijakan dari orang-orang bijak beneran dengan mengutip nasehat bijak mereka. Dan saya hanya manusia “puitis romantis” yang hanya bisa berkata-kata manis dari buah madu lebah lain. Maksudnya dari kata-kata manis dan puitis karya orang lain.


Mungkin beberapa akan menganggap saya orang yang labil, galau, alay, lebay, jablay, somay dan atau yang lainnya. Yang bisa dengan mudah “terpengaruh” oleh quote. Tak apalah. Toh, saya memang demikian. Kurang lebihnya. Ada kalanya ketika saya sendiri tak tau tentang sesuatu, saya mendapat “pencerahan” nya dari quote. Eventually, saya tak malu mengakui, bahwa saya tetaplah suka mengutip. Quote, pada khususnya, dan apapun yang bisa dikutip, pada umumnya. 

As long as it’s quotable, usable, and valuable, why not?


Feel free!

Jan 8, 2013

Cinta Itu Ambigu

Dengan nada retoris, seorang teman perempuan pernah bertanya kepada saya: kalau kita tidak dijodohkan dengan seseorang, kenapa ya kita dipertemukan dengan seseorang? Atau dengan kalimat lain (menurut penafsiran saya), kenapa ya kita dipertemukan dengan seseorang kalau akhirnya nggak berjodoh?

Saya butuh waktu sejenak untuk menjawabnya. Karena jujur saja, pertanyaan itu adalah (salah satu) pertanyaan paling susah dijawab yang pernah saya dapatkan. Pertanyaan yang sekilas terlihat sepele dan gampang, tapi buat saya terdengar rada menohok dan butuh sedikit perenungan untuk bisa menjawabnya. Mungkin nggak susah buat orang lain, tapi buat saya, yang notabene bodoh (terlebih soal asmara dan lika-likunya), saya harus ekstra mikir untuk setidaknya ngasih jawaban asal-asalan.

Dengan nada diplomatis, saya pun akhirnya menjawabnya (dan beneran dengan asal-asalan): mungkin sama seperti kenapa kita hidup kalau pada akhirnya kita mati. Mungkin sama kenapa kita ada padahal akhirnya juga akan binasa.

Bener kan ngasal?! Hahaa. Untung dia nggak nanya lebih jauh lagi. Jadi saya tidak harus ngeles lebih panjang lagi. Hihii.

Well, memang pertanyaan susah nan bikin gelisah. Terlebih buat orang-orang yang sedang patah hati (waktu itu teman saya baru lah saja putus cinta). Dan karena saya tidak pernah, atau belum pernah, merasakan putus cinta, rada susah juga buat saya menempatkan diri pada posisi orang yang sedang dalam keadaan demikian. Tapi sukur lah, meski belum pernah merasakan putus cinta, saya pernah merasakan juga patah hati, yang lebih karena cinta bersemi sebelah hati. (Jujur banget ya? Ben lah!)

Dan karena putus cinta juga (salah satunya) berdampak timbulnya patah hati, saya jadi sedikit bisa mengerti, bagaimana perasaan teman saya yang sedang broken hearted itu. Tetap, tak sepenuhnya mengerti, hanya mencoba sedikit memahami. Based on common experience: broken hearted.

Kalau mau jujur, saya kira, saya yakin, banyak orang punya pertanyaan seragam dengan teman saya itu. Hanya saja, mungkin, dengan kata-kata dan atau angle yang berbeda. Intinya mempertanyakan hal sama. Iya apa iya? Saya sendiri kemudian jadi bertanya pada diri sendiri: iya ya? Hahaa. Walaupun sejenak kemudian, sebagian diri saya yang bijaksana lalu berkata: ya mungkin memang begitu jalannya. #sokbijak :)

Kenapa kita hidup kalau pada akhirnya kita mati. Kenapa kita ada padahal akhirnya juga akan binasa. Buat saya jawabannya sederhana: karena tuhan ngasih kita kesempatan.
 
Kesempatan dalam segala hal dalam hidup. Termasuk dalam soal cinta pada umumnya, dan dalam hal pasangan (jodoh), secara lebih khusus. Kita semua diberi kesempatan untuk "mencari" hingga akhirnya "menemukan" pasangan (jodoh) kita. Benar, jodoh adalah di tangan tuhan, tapi jodoh juga nggak datang tiba-tiba lalu ngetok pintu rumah kita. Jodoh memang ditentukan Yang Maha Kuasa, tapi nggak berarti kita nggak ada usaha. Begitu mungkin lebih gampangnya. Tapi tetap, ketika dalam usaha itu kita nggak berhasil, dan memang nggak selalu berhasil, nggak berarti dunia kiamat. Seperti yang mungkin dirasakan oleh sebagian orang yang (baru saja) putus cinta.

Banyak hal, banyak faktor, yang sangat memungkinkan usaha kita “mencari” jodoh sering tidak happy ending. Dari a sampai z, terlalu banyak untuk disebutkan. Intinya, nggak selamanya usaha kita berujung manis seperti yang kita rencanakan, seperti yang kita harapkan. Bagi mereka yang sedang dimabuk asmara, mungkin cinta seolah merubah hidupnya, merubah segalanya. Mereka yakin bahwa cintanya yang sekarang, pasangannya yang sekarang, adalah yang pasti menjadi jodohnya. Yang pasti (akan) membuatnya (selalu) bahagia. Mungkin ada benarnya. Walaupun pasti ada juga kemungkinan salahnya. Bukankah cinta itu buta. Karena cinta memang nggak punya mata.

Buat saya, kalaupun suatu saat nanti diberi kesempatan untuk berusaha, dan pada akhirnya tidak, atau belum berhasil, ya, berbaik sangka pada takdir mungkin adalah jawaban penghabisan yang paling masuk akal. Karena walaupun seperti kata Agnes Monica cinta kadang tak ada logika, tapi cinta juga nggak jarang harus berhadapan dengan realita. Sekarang bukan jamannya Siti Nurbaya. Kita nggak bisa hidup hanya dengan cinta. Nggak semua orang mau hidup hanya bermodal cinta. Itu menurut saya.

Jadi ya, bagaimanapun cerita cintanya (yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang), jalani saja. Nikmati saja. Sebisanya. Selagi bisa. Dan bagaimanapun ending-nya nanti, terima saja. Ikhlas saja. Pasrah saja. Berbaik sangka saja pada jalan-Nya. #sangat sokbijaksana :)

Dan akhirnya, make love, not war!

Salam cinta buta.

 ► Naif – Buta Hati

Jan 5, 2013

Sabtu

“Sesungguhnya setiap manusia memang diberi kebebasan untuk memilih. Memilih di persimpangan-persimpangan kecil atau besar dalam sebuah Big Master Plan yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua semenjak kita lahir.” – 5 cm

Entah saya orang keberapa yang mengutip quote dari 5 cm. Bedanya, mungkin, saya ngambil dari bukunya, bukan dari filmnya. Personally, I think the book is more interesting than its film. Sekali lagi, itu cuma pendapat saya. Dan silakan saja kalau ada yang pendapatnya beda.

Well, saya bukan hendak membahas buku dan atau filmnya. Cuma sekedar menjadi prolog tentang apa yang ingin saya tulis. Walapun sebenarnya saya belum benar-benar tau tentang apa yang akan saya tulis di baris-baris selanjutnya setelah baris ini. Bahasa penulisnya, saya nulis sembari mikir apa yang mau ditulis. Walaupun ditulis sambil mikir, saya yakin tulisan ini nanti tetaplah sampah. So keep your expectation on the ground!

…. Mikir…. Mikir…… ?? … Terus mikir..… Masih mikir…… Sok mikir…… Ketiduran.

setengah jam kemudian.

Setiap orang pasti punya masa lalu. Retoris memang. Tapi bukankah memang demikian? Semua orang, tanpa kecuali, pasti punya masa lalu. Tak perlu menunjuk waktu dahulu, lima detik yang lalu saja adalah (sudah bisa dikata) masa lalu. Dan masa lalu adalah sesuatu yang tak bisa diulang lagi. Kecuali di dalam film. Tak heran jika kemudian ada yang bilang, sesuatu yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu. Biarpun cuma lima detik yang lalu, lima detik itu sudah berlalu. Tak akan pernah terulang lagi. Nggak akan pernah bisa diulang lagi. Dan kehidupan nyata kita detik inipun tak akan pernah terulang ke lima detik yang lalu. Kita tak akan pernah bisa kembali ke masa lalu, biarpun cuma lima detik yang lalu. Masa lalu adalah sesuatu yang paling jauh dari kita. Karena masa lalu tak akan pernah bisa dijangkau lagi. Tak akan pernah kita ulangi lagi. Iya memang tulisan saya muter-muter. Yo ben!
 
The past can hurt, but the way I see it, you can either run from it, or learn from it. –The Lion King

Seperti dua sisi mata uang, masa lalu juga punya dua sisi berseberangan. Dua sisi berlawanan, saling bertolak belakang. Ada suka, ada duka. Ada gelapnya, ada terangnya. Ada indahnya, ada suramnya. Ada positifnya, ada negatifnya. Ada yang menyenangkan, ada yang menyedihkan. Ada yang bikin nangis, ada yang bikin tertawa. Ada yang ingin selalu dikenang, ada yang ingin segera dilupakan. Dan sebagainya dan sebagianya. Seperti kata orang bijak yang entah makannya apa, masa lalu bukan untuk dihindari, masa lalu tak harus selalu dilupakan. You don't have to forget. You just have to move on. Masa lalu bisa jadi pelajaran, untuk masa sekarang, dan yang akan datang. Karena dari masa lalu, kita bisa belajar untuk tidak menjadi keledai. Yang bisa jatuh dua kali ke lubang yang sama. Ehh bener kan ya keledai?

Things don't always go the way we planned, but you'll see every day that we'll never turn away. –The Lion King II

Dan karena saya juga manusia (biasa), sayapun juga punya masa lalu, yang sebagian indah, sebagian yang lain, entahlah. Just simply like anyone else, I guess. Dan karena saya (merasa) bukan keledai, sayapun mencoba belajar dari masa lalu. Masa lalu yang (bagi saya) menawarkan banyak pelajaran, walaupun saya bukan termasuk orang yang pinter mengambil pelajaran. Well, setidaknya saya mencoba. Dan tetap mencoba. Terus mencoba. Sebisanya. Semampunya. Sembari tetap berpikir positif. Husnudzon. Bahwa apapun yang terjadi, ternasuk yang terjadi di masa lalu, adalah bagian dari perjalanan kehidupan. Perjalanan kehidupan yang sudah digariskan oleh Yang Memiliki Kehidupan, sekaligus buah dari pilihan-pilihan kita, yang menjalani kehidupan. It doesn't matter where we come from, what matters is where we going.

 Selamat tinggal masa lalu. Selamat datang lembar baru.

Salam.