“The
ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and
conviniences, but where he stands at times of challenge and controversy.”
Sekali lagi dalam hidup, saya (kembali) mengalami
fase krusial emosional sentimental: nganggur. Jadi pengangguran. Nggak punya
kerjaan. Suatu fase yang sebenernya bukan kali pertama saya rasakan. Tapi bisa
dibilang yang paling menjemukan. Paling membosankan. Paling melelahkan.
Nganggur yang lebih nganggur. Bukan nganggur biasa.
Masa emosional layaknya PMS pada kaum hawa itupun
saya jalani, dalam masa-masa yang menurut kalender, hampir tepat dua bulan. Dua
bulan! For God’s sake. Dua bulan yang memalukan, kalo mau jujur. Bukan saja
malu pada sekitar, above of all, saya malu pada diri sendiri. Hahh. I was so
fucked up!
Hidup serasa (selalu) disudutkan kenyataan. Serasa
tak mampu untuk melawan. *nyontek lirik lagu*
Di masa-masa macam begitu, meski banyak nggak
enaknya, bukan berarti nggak ada manfaatnya. At least, saya bisa bilang: ada
hikmahnya. Banyak yang bilang, dan saya sendiri meyakini, bahwa hidup memang
nggak akan selalu mudah. Ada kalanya kita di atas, ada kalanya harus di bawah.
Life’s as simple as that, I think.
Kalo kita nggak pernah ngerasain susah, mungkin
kita nggak akan pernah menghayati gimana nikmatnya bahagia. Kalo kita nggak
pernah dapet kesulitan, mungkin kita nggak akan pernah tau rasanya lega bisa
menghadapi dan keluar dari kesulitan itu. Dan sebaginya dan sebagainya. Intinya, whatever happens, it happens for a
reason.
“Without
failure, no one understands the value of success.”
Dua bulan masa “vakum” akhirnya berakhir. Saya
mendapat pekerjaan lagi. Alhamdulillah. Honestly, mendapat kerjaan kali ini
rasanya jauh lebih menyenangkan. Jauh lebih melegakan. Jauh lebih
“membanggakan”. Salah satunya, menurut saya, karena saya tau, saya mengingat,
bagaimana perjuangan saya selama dua bulan memperjuangkan sesuatu bernama
“pekerjaan”. Bagaimana saya pernah gagal (total) di pekerjaan saya sebelumnya.
Saya belajar. Saya mengingat. Saya bersyukur.
Bersyukur bukan hanya karena saya diberi
kesempatan untuk mendapat pekerjaan (lagi), lebih dari itu, saya dapat
pekerjaan di bidang yang memang saya harapkan, saya inginkan, saya
cita-citakan. Kerjaan apa yang lebih menyenangkan daripada kerjaan di bidang
yang memang kita suka?!
“Success
requires ritual with consistency, goals with passion, and dedication with
determination.”
Pekerjaan baru “memaksa” saya hijrah ke ibu kota,
Jakarta. Kota yang sebenarnya saya hindari untuk dijadikan tujuan, apalagi
dijadikan tujuan mencari pekerjaan. Tapi apa daya, orang “idealis” pun
terkadang juga harus “realistis”. Dan sayapun realistis, bahwa itu adalah
resiko, konskuensi (sekaligus tantangan) yang dibawa pekerjaan yang sudah saya
terima dengan senang hati.
Memulai dengan senang hati, (sejauh ini) menjalani
dengan senang hati, dan semoga bisa tetap bersenang hati. Sampai nanti, sampai
mati. :p
Insyaallah.
Amin.
No comments:
Post a Comment