Dec 3, 2012

The Blows of Job #2

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and conviniences, but where he stands at times of challenge and controversy.”

Sekali lagi dalam hidup, saya (kembali) mengalami fase krusial emosional sentimental: nganggur. Jadi pengangguran. Nggak punya kerjaan. Suatu fase yang sebenernya bukan kali pertama saya rasakan. Tapi bisa dibilang yang paling menjemukan. Paling membosankan. Paling melelahkan. Nganggur yang lebih nganggur. Bukan nganggur biasa.

Masa emosional layaknya PMS pada kaum hawa itupun saya jalani, dalam masa-masa yang menurut kalender, hampir tepat dua bulan. Dua bulan! For God’s sake. Dua bulan yang memalukan, kalo mau jujur. Bukan saja malu pada sekitar, above of all, saya malu pada diri sendiri. Hahh. I was so fucked up!

Hidup serasa (selalu) disudutkan kenyataan. Serasa tak mampu untuk melawan. *nyontek lirik lagu*

Di masa-masa macam begitu, meski banyak nggak enaknya, bukan berarti nggak ada manfaatnya. At least, saya bisa bilang: ada hikmahnya. Banyak yang bilang, dan saya sendiri meyakini, bahwa hidup memang nggak akan selalu mudah. Ada kalanya kita di atas, ada kalanya harus di bawah. Life’s as simple as that, I think.

Kalo kita nggak pernah ngerasain susah, mungkin kita nggak akan pernah menghayati gimana nikmatnya bahagia. Kalo kita nggak pernah dapet kesulitan, mungkin kita nggak akan pernah tau rasanya lega bisa menghadapi dan keluar dari kesulitan itu. Dan sebaginya dan sebagainya. Intinya, whatever happens, it happens for a reason.

“Without failure, no one understands the value of success.”

Dua bulan masa “vakum” akhirnya berakhir. Saya mendapat pekerjaan lagi. Alhamdulillah. Honestly, mendapat kerjaan kali ini rasanya jauh lebih menyenangkan. Jauh lebih melegakan. Jauh lebih “membanggakan”. Salah satunya, menurut saya, karena saya tau, saya mengingat, bagaimana perjuangan saya selama dua bulan memperjuangkan sesuatu bernama “pekerjaan”. Bagaimana saya pernah gagal (total) di pekerjaan saya sebelumnya. Saya belajar. Saya mengingat. Saya bersyukur.

Bersyukur bukan hanya karena saya diberi kesempatan untuk mendapat pekerjaan (lagi), lebih dari itu, saya dapat pekerjaan di bidang yang memang saya harapkan, saya inginkan, saya cita-citakan. Kerjaan apa yang lebih menyenangkan daripada kerjaan di bidang yang memang kita suka?!

“Success requires ritual with consistency, goals with passion, and dedication with determination.”

Pekerjaan baru “memaksa” saya hijrah ke ibu kota, Jakarta. Kota yang sebenarnya saya hindari untuk dijadikan tujuan, apalagi dijadikan tujuan mencari pekerjaan. Tapi apa daya, orang “idealis” pun terkadang juga harus “realistis”. Dan sayapun realistis, bahwa itu adalah resiko, konskuensi (sekaligus tantangan) yang dibawa pekerjaan yang sudah saya terima dengan senang hati.

Memulai dengan senang hati, (sejauh ini) menjalani dengan senang hati, dan semoga bisa tetap bersenang hati. Sampai nanti, sampai mati. :p

Insyaallah.

Amin.

No comments: