Dec 2, 2012

The Blows of Job #1

“Over every high mountain there is a path, ‘though it may not be visible from the valley.”
 
Kalau ada kata-kata “bijak” yang kurang lebih bisa mewakili, mungkin kalimat di atas bisa menjadi salah satu yang saya anggap paling tepat. Kenapa? Mewakili apa?

Begini saja, saya bercerita.

Semenjak terlahir sebagai seorang anak manusia dari seorang ibu yang luar biasa dan seorang bapak yang biasa-biasa saja, saya bukanlah termasuk orang yang pinter, baik pinter secara akademis, maupun non akademis. Bukan. Saya bukan orang pinter. Walaupun kedua orang tua saya telah menyekolahkan saya sampai jenjang tertinggi yang saya kehendaki.

Tentu saja saya nggak perlu repot-repot menunjukkan rapot dan atau ijazah saya hanya untuk meyakinkan anda. Jika sekilas melihat (muka) saya saja, mungkin anda akan dengan sendirinya percaya. Aura orang bodoh rasanya sudah melekat erat pada saya. Percayalah, that’s true! Anda juga nggak perlu tanya kenapa, karena jelas saya juga nggak tau jawabnya. Kan sudah bilang, saya nggak pinter!

Kuliah, bisa jadi contoh paling gampang dan gamblang. Kalo dihitung-hitung dengan hitungan matematika yang sama sekali nggak perlu rumus njlimet, akan didapat hasil bahwa 7 tahun adalah kisaran waktu yang saya “habiskan” untuk menyelesaikan kuliah. Memang, waktu yang relatif abnormal untuk anak kuliahan tingkat strata satu. Tapi tak apalah. Saya bukan hendak membahas betapa nelangsanya masa kuliah saya yang, dengan sebegitu lamanya, harusnya saya sudah S3. Sorry, mom.

Singkat cerita, selesai kuliah, resmi diwisuda dan mendapat gelar (yang sampai kapanpun tak kan pernah saya suka), datanglah kebingungan yang lazim menghampiri para sarjana muda: kerja.

Ya. Mau kerja apa? Kerja di mana?

Pertanyaan yang menghantui selama saya berstatus pencari kerja. Atau job seeker dalam bahasa gahol-nya. Untungnya, saya tak terlalu lama menyandang status prestisius itu, karena puji tuhan, saya mendapat pekerjaan, sekitar satu bulan kemudian. Waktu yang (katanya) relatif cepet untuk ukuran fresh graduate. Walopun buat saya, yang merasakannya, satu bulan itu serasa seperti sebulan. Hehee. Lebay nya, itu adalah sebulan penuh perjuangan yang menjadi sebulan terpanjang selama hidup saya. Sebagai seorang pencari kerja. Karena sebulan itu, saya habiskan dengan rutinitas layaknya pencari kerja pada umumnya. Ke sana kemari mencari lowongan. Tes di sana tes di sini. Interview di sana interview di sini. Dan nyaris selalu begitu setiap hari. Satu bulan yang luar biasa melelahkannya. Bagi saya. Capek lahir batin, saya rasakan.

Dan sekali lagi Alhamdulillah, dalam waktu yang (relatif) cepet, rutinitas itupun berakhir. Kenapa bisa cepet? Tentu saja jawabannya mudah. Saya nggak jaim. Saya mencoba nggak "idealis". Saya cenderung memilih "oportunis". Saya nggak tengsin. Tidak seperti sebagian pencari kerja yang begitu seksama memilih jalan karirnya, saya adalah pencari kerja yang ala kadarnya. Dapet kerja ya syukur, enggak pun juga tak mengapa. Toh kalopun tak kunjung mendapat pekerjaan, saya memang berencana mau menganggur dulu untuk setidaknya satu semester. Sekedar melepas kejenuhan dari dunia perkuliahan yang demi tuhan, sungguh menyengsarakan! :p

 “To achieve something that you have never achieved, you have to be someone you have never been.”

Kembali dipersingkat, nasib mempertemukan saya dengan sebuah pekerjaan yang sama sekali di luar dugaan semua orang. Well, di luar dugaan saya, setidaknya. Bukan hanya nggak disangka nggak dinyana, pekerjaan yang aneh itupun juga serasa digampangkan untuk saya dapatkan. Seolah semua dipermudah. Begitu pikir saya. Waktu itu. Tak mau berburuk sangka pada takdir, dan tanpa bermaksud untuk tidak mensyukuri keadaan, pekerjaan itupun saya ambil. Itung-itung buat pengalaman. Terlebih pengalaman pertama, pasti luar biasa. Harap saya, dalam hati penuh tanda tanya. Sebenernya.

Setelah melalui masa sekilas “perkenalan” dengan perusahaan dan pekerjaan, nasib kembali berbicara lantang diluar perkiraan. Saya dibuang, well, ditempatkan, di salah satu kantor cabang di sebuah kota yang kondang panasnya, Surabaya. Excited di satu sisi, nyengir di sisi yang lain. Ibarat dua sisi mata uang seratus ribuan, mendapat pekerjaan itu rasanya (cukup) menyenangkan. Buat newbie seperti saya, jangankan mendapat kerja kantoran, ibarat jadi office boy pun, mungkin saya akan tetap sama excited-nya. Maklum, pekerjaan pertama. Mungkin sensasinya seperti orang malam pertama. Mungkin loh ya! :p

 “To live a creative life, we must lose our fear of being wrong.”

Tanpa berburuk sangka dengan kerjaan baru, kerjaan pertama, yang benar-benar diluar prediksi dan ekspektasi, hari-hari sebagai seorang yang punya kerjaan pun saya jalani. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Hari-hari sebagai seorang ber-"profesi" saya jalani dengan segenap hati. Tak peduli aral merintang, semuanya saya terjang. Ya, yang ini lebay.

Sebagai seseorang yang baru di suatu bidang, terlebih bidang yang sungguh jauh dari background pendidikan, wajar jika saya merasa sedikit kikuk dalam menjalani pekerjaan yang, jangankan saya yang dari luar, orang yang semenjak kuliahan mempelajarinya saja mungkin juga akan sama mumet nya.

Dengan segala kekurangan dan tiada kelebihan, pekerjaan itupun tetap saya jalani. Dengan suka. Walau terkadang juga ada dukanya. Seperti lagu dangdut jadinya. Hingga tiba suatu masa dimana mungkin hampir semua orang pernah mengalaminya: jenuh. Kejenuhan dini, lebih tepatnya.

Kalo di pelajaran ekonomi ada hukum Gossen (yang kalo nggak salah) menyebutkan “manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya hingga titik kepuasan maksimal”, maka saya merasa sudah sampai pada titik itu. Walaupun saya lebih suka, dan memang begitu kenyataannya, menyebutnya titik jenuh. Jenuh dengan pekerjaan. Jenuh dengan rutinitas. Jenuh dengan sekitar. Walaupun nggak jenuh sama gajiannya. Hahaa.

Setelah pemikiran, perenungan dan pertapaan dengan seksama dan dalam tempo yang seadanya, saya pun memutuskan resign. Keluar. Meninggalkan pekerjaan. Pekerjaan pertama saya. Mungkin rasanya seperti meninggalkan pacar pertama. Mungkin loh ya.
 
Dan begitulah. Pekerjaan pertama yang baru seumur bibit jagung itupun harus diakhiri dengan tidak dramatis, apalagi romantis. Mungkin sedikit miris. Yowis.

To be continued...

No comments: