“Over every high mountain there is a path,
‘though it may not be visible from the valley.”
Kalau ada kata-kata “bijak” yang kurang lebih bisa
mewakili, mungkin kalimat di atas bisa menjadi salah satu yang saya anggap
paling tepat. Kenapa? Mewakili apa?
Begini saja, saya bercerita.
Semenjak terlahir sebagai seorang anak manusia
dari seorang ibu yang luar biasa dan seorang bapak yang biasa-biasa saja, saya bukanlah
termasuk orang yang pinter, baik pinter secara akademis, maupun non akademis. Bukan.
Saya bukan orang pinter. Walaupun kedua orang tua saya telah menyekolahkan saya
sampai jenjang tertinggi yang saya kehendaki.
Tentu saja saya nggak perlu repot-repot
menunjukkan rapot dan atau ijazah saya hanya untuk meyakinkan anda. Jika
sekilas melihat (muka) saya saja, mungkin anda akan dengan sendirinya percaya.
Aura orang bodoh rasanya sudah melekat erat pada saya. Percayalah, that’s true! Anda juga nggak perlu tanya
kenapa, karena jelas saya juga nggak tau jawabnya. Kan sudah bilang, saya nggak
pinter!
Kuliah, bisa jadi contoh paling gampang dan gamblang.
Kalo dihitung-hitung dengan hitungan matematika yang sama sekali nggak perlu
rumus njlimet, akan didapat hasil bahwa 7 tahun adalah kisaran waktu yang saya
“habiskan” untuk menyelesaikan kuliah. Memang, waktu yang relatif abnormal
untuk anak kuliahan tingkat strata satu. Tapi tak apalah. Saya bukan hendak
membahas betapa nelangsanya masa kuliah saya yang, dengan sebegitu lamanya,
harusnya saya sudah S3. Sorry, mom.
Singkat cerita, selesai kuliah, resmi diwisuda dan
mendapat gelar (yang sampai kapanpun tak kan pernah saya suka), datanglah
kebingungan yang lazim menghampiri para sarjana muda: kerja.
Ya. Mau kerja apa? Kerja di mana?
Pertanyaan yang menghantui selama saya berstatus
pencari kerja. Atau job seeker dalam
bahasa gahol-nya. Untungnya, saya tak terlalu lama menyandang status prestisius itu, karena puji tuhan, saya
mendapat pekerjaan, sekitar satu bulan kemudian. Waktu yang (katanya) relatif
cepet untuk ukuran fresh graduate.
Walopun buat saya, yang merasakannya, satu bulan itu serasa seperti sebulan.
Hehee. Lebay nya, itu adalah sebulan penuh perjuangan yang menjadi sebulan terpanjang
selama hidup saya. Sebagai seorang pencari kerja. Karena sebulan itu, saya
habiskan dengan rutinitas layaknya pencari kerja pada umumnya. Ke sana kemari
mencari lowongan. Tes di sana tes di sini. Interview di sana interview di sini.
Dan nyaris selalu begitu setiap hari. Satu bulan yang luar biasa melelahkannya.
Bagi saya. Capek lahir batin, saya rasakan.
Dan sekali lagi Alhamdulillah, dalam waktu yang
(relatif) cepet, rutinitas itupun berakhir. Kenapa bisa cepet? Tentu saja
jawabannya mudah. Saya nggak jaim. Saya mencoba nggak "idealis". Saya cenderung memilih "oportunis". Saya nggak tengsin. Tidak seperti sebagian
pencari kerja yang begitu seksama memilih jalan karirnya, saya adalah pencari
kerja yang ala kadarnya. Dapet kerja ya syukur, enggak pun juga tak mengapa.
Toh kalopun tak kunjung mendapat pekerjaan, saya memang berencana mau
menganggur dulu untuk setidaknya satu semester. Sekedar melepas kejenuhan dari
dunia perkuliahan yang demi tuhan, sungguh menyengsarakan! :p
“To
achieve something that you have never achieved, you have to be someone you have
never been.”
Kembali dipersingkat, nasib mempertemukan saya dengan
sebuah pekerjaan yang sama sekali di luar dugaan semua orang. Well, di luar
dugaan saya, setidaknya. Bukan hanya nggak disangka nggak dinyana, pekerjaan
yang aneh itupun juga serasa digampangkan untuk saya dapatkan. Seolah semua
dipermudah. Begitu pikir saya. Waktu itu. Tak mau berburuk sangka pada takdir,
dan tanpa bermaksud untuk tidak mensyukuri keadaan, pekerjaan itupun saya
ambil. Itung-itung buat pengalaman. Terlebih pengalaman pertama, pasti luar
biasa. Harap saya, dalam hati penuh tanda tanya. Sebenernya.
Setelah melalui masa sekilas “perkenalan” dengan
perusahaan dan pekerjaan, nasib kembali berbicara lantang diluar perkiraan.
Saya dibuang, well, ditempatkan, di
salah satu kantor cabang di sebuah kota yang kondang panasnya, Surabaya. Excited di satu sisi, nyengir di sisi yang lain. Ibarat dua
sisi mata uang seratus ribuan, mendapat pekerjaan itu rasanya (cukup)
menyenangkan. Buat newbie seperti saya, jangankan mendapat kerja kantoran,
ibarat jadi office boy pun, mungkin saya akan tetap sama excited-nya. Maklum,
pekerjaan pertama. Mungkin sensasinya seperti orang malam pertama. Mungkin loh ya! :p
“To live a creative life, we must lose our
fear of being wrong.”
Tanpa berburuk sangka dengan kerjaan baru, kerjaan
pertama, yang benar-benar diluar prediksi dan ekspektasi, hari-hari sebagai
seorang yang punya kerjaan pun saya jalani. Hari berganti minggu. Minggu
berganti bulan. Hari-hari sebagai seorang ber-"profesi" saya jalani dengan segenap hati. Tak peduli aral merintang, semuanya saya
terjang. Ya, yang ini lebay.
Sebagai seseorang yang baru di suatu bidang,
terlebih bidang yang sungguh jauh dari background
pendidikan, wajar jika saya merasa sedikit kikuk
dalam menjalani pekerjaan yang, jangankan saya yang dari luar, orang yang
semenjak kuliahan mempelajarinya saja mungkin juga akan sama mumet nya.
Dengan segala kekurangan dan tiada kelebihan,
pekerjaan itupun tetap saya jalani. Dengan suka. Walau terkadang juga ada dukanya. Seperti
lagu dangdut jadinya. Hingga tiba suatu masa dimana mungkin hampir semua orang
pernah mengalaminya: jenuh. Kejenuhan dini, lebih tepatnya.
Kalo di pelajaran ekonomi ada hukum Gossen (yang kalo nggak salah) menyebutkan
“manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya hingga titik kepuasan
maksimal”, maka saya merasa sudah sampai pada titik itu. Walaupun saya lebih
suka, dan memang begitu kenyataannya, menyebutnya titik jenuh. Jenuh dengan
pekerjaan. Jenuh dengan rutinitas. Jenuh dengan sekitar. Walaupun nggak jenuh
sama gajiannya. Hahaa.
Setelah pemikiran, perenungan dan pertapaan dengan seksama dan dalam tempo yang seadanya, saya pun memutuskan resign. Keluar. Meninggalkan pekerjaan. Pekerjaan pertama saya. Mungkin rasanya seperti meninggalkan pacar pertama. Mungkin loh ya.
Setelah pemikiran, perenungan dan pertapaan dengan seksama dan dalam tempo yang seadanya, saya pun memutuskan resign. Keluar. Meninggalkan pekerjaan. Pekerjaan pertama saya. Mungkin rasanya seperti meninggalkan pacar pertama. Mungkin loh ya.
Dan begitulah. Pekerjaan pertama yang baru seumur
bibit jagung itupun harus diakhiri dengan tidak dramatis, apalagi romantis.
Mungkin sedikit miris. Yowis.
To be continued...
No comments:
Post a Comment