Sebagai seorang anak manusia yang terlahir di desa, tak
mengherankan bahwa saya adalah orang yang kampungan. Tumbuh dan besar di desa,
wajar jika saya orangnya ndeso. Kampungan dalam banyak hal. Ndeso dalam banyak
hal yang lain. Mulai dari penampilan, pembawaan, cara berdandan, cara berjalan,
hingga cara berbicara, mudah sekali mengenali betapa ndeso nya saya.
Tentu saja tanpa harus menyebutkan juga nama saya yang luar biasa pasarannya di dunia orang Jawa. Singkatnya, saya kampungan luar dalam.
Selain dalam hal penampilan, cara berbicara bisa menjadi contoh paling menonjol. Banyak orang yang bilang bahwa bicara saya sangat Jawa. Medok, orang menyebutnya. Tak hanya ketika menggunakan bahasa nasional tercinta Bahasa Indonesia yang sering membuat yang mendengarnya tertawa geli, bahkan ketika berbicara dalam Bahasa Inggris pun, sebagian bilang (atau mengejek) cara bicara saya dengan menyebutnya English medok. Whatever. Saya tersenyum simpul saja mendengarnya. Anggap saja pujian! :p
Selain dalam hal penampilan, cara berbicara bisa menjadi contoh paling menonjol. Banyak orang yang bilang bahwa bicara saya sangat Jawa. Medok, orang menyebutnya. Tak hanya ketika menggunakan bahasa nasional tercinta Bahasa Indonesia yang sering membuat yang mendengarnya tertawa geli, bahkan ketika berbicara dalam Bahasa Inggris pun, sebagian bilang (atau mengejek) cara bicara saya dengan menyebutnya English medok. Whatever. Saya tersenyum simpul saja mendengarnya. Anggap saja pujian! :p
Lebih dari itu, ketika berada di daerah lain, katakanlah di
luar kota, orang-orang biasanya juga akan dengan mudah menebak bahwa saya orang
Jawa. Yang terkadang membuat saya heran. Sebegitu kampungan nya kah saya. Atau
di jidat saya ada tulisan tak kasat mata yang terbaca “Jawa” sehingga
orang-orang bisa dengan mudah mengenali saya yang Jawa?! Entahlah.
Look at things from the bright side.
Saya tidak merasa menjadi Jawa adalah something embarrassing. Walaupun terkadang saya merasa orang Jawa sering dianalogikan, atau bahkan dikonotasikan, dengan kampungan. Saya justru merasa bahwa Jawa adalah ciri khas. Jawa adalah identitas. Identitas saya sebagai bagian dari suatu suku bangsa. Yang mana saya patut (dan memang sudah seharusnya) berbangga karenanya.
Look at things from the bright side.
Saya tidak merasa menjadi Jawa adalah something embarrassing. Walaupun terkadang saya merasa orang Jawa sering dianalogikan, atau bahkan dikonotasikan, dengan kampungan. Saya justru merasa bahwa Jawa adalah ciri khas. Jawa adalah identitas. Identitas saya sebagai bagian dari suatu suku bangsa. Yang mana saya patut (dan memang sudah seharusnya) berbangga karenanya.
Ok. Tulisan ini tidak bermaksud rasis. Hanya mencoba melihat
lucunya saja. Jadi ya, santai saja, nggih.
Suwun.
No comments:
Post a Comment