Suatu waktu di sebuah interview kerja, seorang pewawancara
pernah bertanya kepada saya, “Suka warna hitam ya?”. Mungkin karena melihat
saya waktu itu yang datang dengan memakai kemeja hitam, celana jeans hitam,
sepatu hitam, rambut hitam, dan kenyataan bahwa saya memang berkulit hitam.
(ehh, gelap, mungkin lebih tepatnya).
“Iya.”, jawab saya singkat.
“Kenapa suka hitam?”, tanyanya lagi kemudian.
Sejenak saya terdiam. Mikir. Bingung mau menjawab apa. Dan
atau bagaimana menjawabnya. Saya memang sering (justru) merasa bingung menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang bagi sebagian besar orang mungkin terdengar
“gampang”.
Karena tak mau terlalu lama terlihat bodoh, dengan sotoy nya
sayapun menjawab dengan singkat, padat dan mantap, “Karena buat saya hitam itu
netral.”
“Maksudnya?”, tanyanya lagi menyelidik.
“Well, ambil contoh misalnya dalam hal berpakaian. Hitam,
menurut saya adalah warna yang paling netral. Saya misalnya, hampir selalu memakai
celana jeans berwarna hitam. Di samping juga karena nggak punya jeans warna
lain, juga karena saya memang suka warna hitam. Ketika memakai
jeans hitam, rasanya warna apa saja atasannya buat saya tetep bisa “masuk”.
Bisa cocok. Tak lain karena ke-netralan-an jeans hitam saya. Walaupun pada
kenyataannya, sebagain besar, atau bahkan hampir hampir semua baju saya pun juga berwarna hitam.”
Jawaban yang cukup panjang dan seolah-olah keluar dari ahli
filosofi warna itupun sejenak membuat saya lega. Nggak nyangka bisa ngomong sepanjang itu.
Hihiii. Si pewawancara mengangguk. Entah mengerti, atau (kemungkinan besar)
bingung dengan jawaban saya. Hahaa. Entahlah. Saya sendiri merasa, terkadang,
menjawab suatu pertanyaan dengan spontan bisa membuat kita sedikit terlihat
“kreatif” (baca: ngeles). And I’m so damn good at it! :p
---
---
Lain cerita satu tema, suatu hari, di masa dahulu kala yang
sepertinya sudah cukup lama, adalah hari mencuci baju sedunia. Dan kebetulan
hari itu saya memiliki banyak rendaman. *Bedakan rendaman dengan cucian ya!*
Cucian adalah rendaman yang akan hampir pasti dicuci, sedangkan rendaman adalah
sejumlah pakaian kotor yang dimasukkan kedalam ember berisi air untuk kemudian
entah diapakan. Hahaa.
Melihat rendaman yang sepertinya nggak manusiawi, ibu saya,
yang notabene orang yang hobi mencuci mungkin merasa gatel juga. Merasa
janggal melihat rendaman sebegitu banyaknya tanpa ada tindak lanjut dari si
empunya, yaitu: saya. Maka jelas lah yang terjadi kemudian. My mother, the
greatest washer-woman in the world, mencuci habis semua rendaman itu. Yang
setelah selesai mencuci dan menjemurnya, beliau berkata semi bertanya retoris
dalam bahasa Jawa yang saya Indonesia-kan, “Kamu nggak punya baju lain selain
hitam, to?”, tanyanya yang ternyata dengan nada sedikit “menyindir”.
Dan ternyata benar saja, setelah saya lihat, amati, dan
telaah dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, seabrek
jemuran yang membentang di sepanjaang pelataran halaman itu semuanya berwarna
hitam. Dari kaos oblong yang entah berapa, kemeja yang cuma satu dua, celana
jeans yang sebagian mulai memudar warnanya, hingga kancut yang dari dulu selalu
M ukurannya, semuanya serba hitam. And those all were mine! Hahaa.
Lucu juga saya melihatnya. Mungkin karena sebelumnya saya
belum pernah nyuci baju saya sendiri sebanyak itu, hingga telat menyadari jika
kalau saja semua baju saya kotor bebarengan, dan dicuci kemudian di jemur
bersamaan, hasilnya akan menjadi pemandangan serba hitam. Simply unique, I
think. Sayang nggak sempat saya abadikan. Hehee.
Demikian saja cerita saya tentang hikayat jemuran. Hahhaa.
Sumpah aku yo ra dong iki tulisan opo.
P.S: might be sounds odd, but next to black, my fav color is
white.