Jogja, November 23rd
Ini bukan kata-kata selamat tinggal. Bukan pula tulisan
perpisahan. Walaupun memang sengaja saya tulis ketika (sekali lagi) hendak
“berpisah” dengan Jogja, kota yang sudah serasa seperti rumah kedua, dimana sebagian
masa hidup sebagai seorang manusia dengan hitam putihnya susah senangnya panas
dinginnya tawa tangisnya, saya habiskan, saya lalui, saya lewati. Ahh, Jogja
akan selamanya di hati. Jogja akan selamanya istimewa! :p
Ngomong-ngomong soal bepergian, atau perpisahan, saya adalah
termasuk kedalam golongan orang yang nggak suka, atau kurang suka (mungkin karena nggak terbiasa)
berpamitan seperti layaknya kebanyakan orang yang hendak bepergian. Entah pergi
jauh, ataupun cuma sekedar bepergian mblayang yang sebentar lalu pulang. Jangankan berpamitan, saya bahkan merasa
enggan untuk sekedar saying goodbye, entah sama orang tua, sama keluarga, sama tetangga,
ataupun siapa saja. Dan kalau saja ada yang tanya kenapa, saya juga rada
bingung menjawabnya karena memang nggak tau gimana menjawabnya. Jawaban paling
logis yang mungkin bisa saya berikan ya seperti yang saya bilang: nggak
terbiasa. Atau memang sengaja nggak membiasakan diri. Dan memang karena saya
nya yang kurang ajar! Hehee.
Sedari kecil, saya memang sudah terbiasa bepergian, dolan,
kluyuran, mblayang, dan semacamnya, tanpa “terbebani” oleh “kewajiban” untuk
berpamitan kepada orang tua, atau orang rumah pada umumnya. Mungkin karena
sedari kecil jauh dari orang tua, mungkin juga bisa dibilang “trauma”, atau
sekedar phobia. Sedari kecil, saya memang sudah jauh dari orang tua, yang
notabene merantau jauh keluar kota, bahkan keluar pulau, atas nama bekerja
mencari penghidupan, yang jauh hari kemudian baru saya sadari, bahwa itu semua demi
anak-anaknya juga, termasuk saya.
Setiap kali kedua orang tua hendak berangkat merantau, saat
itulah, lagi dan lagi dan lagi, saya harus menjalani adegan pamitan, drama
perpisahan, yang karena saya masih kecil, dan mungkin juga orang tua saya yang merasa
berat meninggalkan anaknya yang masih kecil, tak jarang kemudian diwarnai
adegan tangisan. Begitu, dan tak jarang begitu. Hingga semakin lama, semakin
terbiasa dalam otak saya, dalam pemikiran saya, dalam benak saya, bahwa
perpisahan, berpamitan, sama dengan menangis, sama dengan sedih, atau setidaknya, mengharukan. Begitu
pemahaman saya sedari kecil, dan kayaknya juga sampai sekarang. Walaupun dalam
sudut pandang pemahaman yang (mungkin sedikit) berbeda.
Mungkin terdengar rada “aneh” dan terkesan nggak sopan. I
think so. I feel so. Honestly. Terlebih bahwa ketika hendak bepergian (apalagi
pergi “jauh” untuk waktu yang cukup lama atau bahkan dalam jangka waktu yang
belum pasti), sudah selayaknya seseorang, apalagi yang notabene seorang anak,
berpamitan setidaknya sama orang tua. Selain terlihat sopan, berpamitan kepada
orang tua, khususnya, mungkin juga bisa dianggap sebagai minta do’a, minta
restu agar supaya diberi keselamatan dalam perjalanan sampai tujuan. Diberi
keselamatan kesehatan ketika di perantauan. Dan sebaginya dan sebagainya. Well,
semua memang atas kehendak Allah, tapi bukankan ridhallahi fii ridhal walidaini
wa sukhtullahi fii sukhtil walidaini? Ridho Allah bergantung pada ridho orang
tua. Dan murka Allah pun bergantung pada murka keduanya. Dan saya percaya.
Thus, belajar dari pengalaman (halahh), sudah saatnya belajar merubah
"paradigma". Sudah saatnya sedikit lebih “dewasa”. Saya mungkin belum sepenuhnya
berpamitan kepada orang tua, tapi setidaknya sudah pamit sama ibu. Minta do’a. Minta
restu. Dan semoga Allah ridho. Amin.
Dan akhirnya, tetap bukan selamat tinggal, hanya ucapan sampai
jumpa Jogja. Kuyakin ‘ku kan kembali lagi. Ke sini. Secepatnya. Dalam suasana
yang jauh lebih berbahagia.
Semoga.
No comments:
Post a Comment