Nov 25, 2012

This isn't a Goodbye

Jogja, November 23rd

Ini bukan kata-kata selamat tinggal. Bukan pula tulisan perpisahan. Walaupun memang sengaja saya tulis ketika (sekali lagi) hendak “berpisah” dengan Jogja, kota yang sudah serasa seperti rumah kedua, dimana sebagian masa hidup sebagai seorang manusia dengan hitam putihnya susah senangnya panas dinginnya tawa tangisnya, saya habiskan, saya lalui, saya lewati. Ahh, Jogja akan selamanya di hati. Jogja akan selamanya istimewa! :p

Ngomong-ngomong soal bepergian, atau perpisahan, saya adalah termasuk kedalam golongan orang yang nggak suka, atau  kurang suka (mungkin karena nggak terbiasa) berpamitan seperti layaknya kebanyakan orang yang hendak bepergian. Entah pergi jauh, ataupun cuma sekedar bepergian mblayang yang sebentar lalu pulang. Jangankan berpamitan, saya bahkan merasa enggan untuk sekedar saying goodbye, entah sama orang tua, sama keluarga, sama tetangga, ataupun siapa saja. Dan kalau saja ada yang tanya kenapa, saya juga rada bingung menjawabnya karena memang nggak tau gimana menjawabnya. Jawaban paling logis yang mungkin bisa saya berikan ya seperti yang saya bilang: nggak terbiasa. Atau memang sengaja nggak membiasakan diri. Dan memang karena saya nya yang kurang ajar! Hehee.

Sedari kecil, saya memang sudah terbiasa bepergian, dolan, kluyuran, mblayang, dan semacamnya, tanpa “terbebani” oleh “kewajiban” untuk berpamitan kepada orang tua, atau orang rumah pada umumnya. Mungkin karena sedari kecil jauh dari orang tua, mungkin juga bisa dibilang “trauma”, atau sekedar phobia. Sedari kecil, saya memang sudah jauh dari orang tua, yang notabene merantau jauh keluar kota, bahkan keluar pulau, atas nama bekerja mencari penghidupan, yang jauh hari kemudian baru saya sadari, bahwa itu semua demi anak-anaknya juga, termasuk saya.

Setiap kali kedua orang tua hendak berangkat merantau, saat itulah, lagi dan lagi dan lagi, saya harus menjalani adegan pamitan, drama perpisahan, yang karena saya masih kecil, dan mungkin juga orang tua saya yang merasa berat meninggalkan anaknya yang masih kecil, tak jarang kemudian diwarnai adegan tangisan. Begitu, dan tak jarang begitu. Hingga semakin lama, semakin terbiasa dalam otak saya, dalam pemikiran saya, dalam benak saya, bahwa perpisahan, berpamitan, sama dengan menangis, sama dengan sedih, atau setidaknya, mengharukan. Begitu pemahaman saya sedari kecil, dan kayaknya juga sampai sekarang. Walaupun dalam sudut pandang pemahaman yang (mungkin sedikit) berbeda.

Mungkin terdengar rada “aneh” dan terkesan nggak sopan. I think so. I feel so. Honestly. Terlebih bahwa ketika hendak bepergian (apalagi pergi “jauh” untuk waktu yang cukup lama atau bahkan dalam jangka waktu yang belum pasti), sudah selayaknya seseorang, apalagi yang notabene seorang anak, berpamitan setidaknya sama orang tua. Selain terlihat sopan, berpamitan kepada orang tua, khususnya, mungkin juga bisa dianggap sebagai minta do’a, minta restu agar supaya diberi keselamatan dalam perjalanan sampai tujuan. Diberi keselamatan kesehatan ketika di perantauan. Dan sebaginya dan sebagainya. Well, semua memang atas kehendak Allah, tapi bukankan ridhallahi fii ridhal walidaini wa sukhtullahi fii sukhtil walidaini? Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua. Dan murka Allah pun bergantung pada murka keduanya. Dan saya percaya.

Thus, belajar dari pengalaman (halahh), sudah saatnya belajar merubah "paradigma". Sudah saatnya sedikit lebih “dewasa”. Saya mungkin belum sepenuhnya berpamitan kepada orang tua, tapi setidaknya sudah pamit sama ibu. Minta do’a. Minta restu. Dan semoga Allah ridho. Amin.

Dan akhirnya, tetap bukan selamat tinggal, hanya ucapan sampai jumpa Jogja. Kuyakin ‘ku kan kembali lagi. Ke sini. Secepatnya. Dalam suasana yang jauh lebih berbahagia.

Semoga.

Welcome to the Jungle!

Welcome to the jungle!

Ya. Mungkin judul track pembuka Apetite for Destructions nya Guns N Roses itu lah kata-kata yang paling tepat menggambarkan perasaan saya ketika pertama kali datang ke Jakarta. Well, memang bukan literally pertama kali. Tapi kali ini, pertama kalinya saya akan menetap di ibu kota. Di Jakarta. Hell!
 
Jakarta. What to say?

Let me put me this way. Sedari masih mahasiswa, saya selalu berangan untuk suatu saat bisa bekerja di somewhere di luar Jogja (karena eike kuliah di Jogja). Ada kalanya saya berharap dapat kerja di tempat yang (sedikit agak) jauh, walaupun makin ke sini, saya makin menertawakan “angan masa mahasiswa” saya itu.

Kenapa menertawakan? Sederhana saja. Saya ternyata tak betah jauh-jauh dari Jogja. Atau dari kampung halaman saya yang deket-deket Jogja (walaupun ketika masih di Jogja saya cukup berdosa dengan tak terlalu sering pulang kampung).

Dan Jakarta? Kalau boleh memilih salah satu tempat di dunia (untuk bekerja), tempat terakhir yang akan saya pilih pastilah Jakarta. Lebay? Ember! But that’s what I feel. By far.

Saya terkadang heran, sebegininya Jakarta, tapi nyatanya masih banyak yang, suka tidak suka, datang ke Jakarta. Memenuhi Jakarta. Memadati Jakarta. Jakarta serasa kian sempit. Saking sempitnya hingga bernafas saja kadang serasa susah. Walaupun kenyataannnya kalau sedang  macet di jalan dan banyak asap memang beneran susah bernafas.

Rasanya terlalu naïf juga kalau menyalahkan Jakarta. Yang salah kan bukan Jakarta. Yang salah itu orang-orangnya. Penduduknya. Pemadatnya. Yang membuat Jakarta makin padat, makin sesak, dan makin terasa nggak nyaman.

Tapi jawaban orang-orang (termasuk saya) yang datang ke Jakarta untuk alasan kerja mungkin akan seragam, ya karena (nggak ada) pilihan. Bukan sama sekali tak ada pilihan. Tapi tak ada pilihan (yang dirasa lebih baik) untuk mendapat kerja selain di Jakarta. Maklum, Jakarta kan ibu kota. Kota besar. Metropolitan. Megapolitan. Cililitan. Lapangan kerja jelas tersedia lebih banyak. Dan wajar jika kemudian jutaan orang dari berbagai penjuru dunia Indonesia beramai-ramai datang ke Jakarta. Dengan salah satu alasan paling utama: kerja.

Saya pun demikian. Tak sepenuhnya terpaksa, tapi pilihan “mengharuskan” saya datang (dan menetap) di Jakarta. Setidaknya selama saya bekerja di Jakarta. Karena pekerjaan, tempat saya bekerja, memang berpusat di Jakarta.

Hidup di Jakarta… Keras, mereka bilang. Dan saya pun tak akan menyangkalnya. Karena memang demikian adanya. Menurut saya. Datang dari kampung, dari kota nan berhati nyaman, lalu menjejak ibu kota.  Cultural shock pun melanda.

Yah, tak bermaksud bad comment about Jakarta, tapi Jakarta memang partly just so bad. Macet, polusi, banjir, sampah. And so on. Too many too mention. Lots have to be done, Pak Gubernur!

Btw, kayaknya Jakarta juga belum lama ini merayakan hari jadinya yang kesekian ratus. Semoga Jakarta lebih baik. Dan saya lebih betah.

HAMIN.