Oct 8, 2012

Nothing to Lose

Sebagian orang mungkin akan (dan beberapa memang) menganggap saya orang yang nggak serius. Setengah hati. Nggak semangat. Psimis. Pasrah. Dan sebagainya. Karena dalam berbagai kesempatan, tak jarang saya melontarkan semboyan “nothing to lose”. Semboyan hidup yang entah sejak kapan saya pegang. Sebagai bagian dari cara bersikap, wajar kalau sebagian orang kemudian menilai saya (hanya) dari sikap saya yang sering nothing to lose. Cenderung cuek, dan tak jarang sekenanya. Apa adanya. Nggak neko-neko. Nggak terlalu ngoyo. Sebagian bilang, nggak ada passion. Whatever. Say what you wanna say.

Buat saya, ok, ini pandangan subjektif saya, nothing to lose tak selalu berarti cuek, setengah hati, ataupun nggak passionate. Nothing to lose hanyalah cara saya untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa apapun yang saya lakukan, apapun yang saya kerjakan bukanlah sesuatu yang harus dijadikan beban sehingga hanya akan mebuat saya merasa seolah seisi dunia berada di pundak saya. Toh pada kenyataannya, saya justru sering merasa apa yang saya lakukan jauh lebih menyenangkan dan enjoyable ketika saya merasa nothing to lose ketika mengerjakannya. Merasa bahwa apapun yang saya lakukan, saya hanya ingin melakukan sebisa saya, dan yang tak kalah penting, saya menikmatinya. Hasilnya? Itu urusan belakangan.

Tapi indahnya dunia, tentu saja nggak semua orang berpandangan demikian. Maklum, nggak semua orang se nothing to lose saya. Sebagian orang akan melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat, dedikasi, passionate, dan sebagainya. Dan itupun tak salah. Justru sebagian (besar) orang pasti akan cenderung lebih setuju dengan yang itu. Once again, it’s just matter of personality. And personal point of view.

Tentu saja, ada baiknya bahwa menilai nothing to lose harus dilihat dalam landscape yang lebih luas. Jujur saja, saya bukan contoh yang tepat. Walaupun saya termasuk menganut paham nothing to lose yang kuat, result nya mungkin hanya akan membuat orang makin antipatik dengan slogan nothing to lose. Semenjak kuliah, saya sudah menjalani kuliah dengan nothing to lose. Hasilnya? Kuliah berkepanjangan. Ketika mengerjakan skripsi, saya merasa nothing to lose. Akibatnya? Skripsi terbengkalai. Saya merasa nothing to lose terhadap pekerjaan?! Sekarang saya pengangguran. Saya merasa nothing to lose dalam hidup? Hidup saya "berantakan". Hahaa. Dan mungkin masih banyak lagi.

Intinya, merasa nothing to lose adalah sikap. Sikap yang mungkin oleh sebagian orang dianggap sebagai psimis, namun bagi saya, nothing to lose adalah sikap optimis. Optimis bahwa apapun, dan bagaimanapun yang saya jalani, saya menjalaninya dengan hati tanpa beban berlebihan. Dengan pikiran tanpa tekanan berkepanjangan. Tanpa pengharapan yang ibarat pungguk merindukan bulan.

Because sometimes we get what we want when we want it at the least.

Feel free!

No comments: