Sebagian orang mungkin akan (dan beberapa memang) menganggap
saya orang yang nggak serius. Setengah hati. Nggak semangat. Psimis. Pasrah.
Dan sebagainya. Karena dalam berbagai kesempatan, tak jarang saya melontarkan
semboyan “nothing to lose”. Semboyan hidup yang entah sejak kapan saya pegang.
Sebagai bagian dari cara bersikap, wajar kalau sebagian orang kemudian menilai
saya (hanya) dari sikap saya yang sering nothing to lose. Cenderung cuek, dan
tak jarang sekenanya. Apa adanya. Nggak neko-neko. Nggak terlalu ngoyo.
Sebagian bilang, nggak ada passion. Whatever. Say what you wanna say.
Buat saya, ok, ini pandangan subjektif saya, nothing to lose
tak selalu berarti cuek, setengah hati, ataupun nggak passionate. Nothing to
lose hanyalah cara saya untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa apapun yang
saya lakukan, apapun yang saya kerjakan bukanlah sesuatu yang harus dijadikan
beban sehingga hanya akan mebuat saya merasa seolah seisi dunia berada di
pundak saya. Toh pada kenyataannya, saya justru sering merasa apa yang saya
lakukan jauh lebih menyenangkan dan enjoyable ketika saya merasa nothing to
lose ketika mengerjakannya. Merasa bahwa apapun yang saya lakukan, saya hanya ingin
melakukan sebisa saya, dan yang tak kalah penting, saya menikmatinya. Hasilnya?
Itu urusan belakangan.
Tapi indahnya dunia, tentu saja nggak semua orang
berpandangan demikian. Maklum, nggak semua orang se nothing to lose saya.
Sebagian orang akan melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat, dedikasi,
passionate, dan sebagainya. Dan itupun tak salah. Justru sebagian (besar) orang
pasti akan cenderung lebih setuju dengan yang itu. Once again, it’s just matter
of personality. And personal point of view.
Tentu saja, ada baiknya bahwa menilai nothing to lose harus
dilihat dalam landscape yang lebih luas. Jujur saja, saya bukan contoh yang
tepat. Walaupun saya termasuk menganut paham nothing to lose yang kuat, result
nya mungkin hanya akan membuat orang makin antipatik dengan slogan nothing to
lose. Semenjak kuliah, saya sudah menjalani kuliah dengan nothing to lose.
Hasilnya? Kuliah berkepanjangan. Ketika mengerjakan skripsi, saya merasa
nothing to lose. Akibatnya? Skripsi terbengkalai. Saya merasa nothing to lose
terhadap pekerjaan?! Sekarang saya pengangguran. Saya merasa nothing to lose dalam hidup? Hidup saya "berantakan". Hahaa. Dan mungkin masih banyak lagi.
Intinya, merasa nothing to lose adalah sikap. Sikap yang
mungkin oleh sebagian orang dianggap sebagai psimis, namun bagi saya, nothing
to lose adalah sikap optimis. Optimis bahwa apapun, dan bagaimanapun yang saya
jalani, saya menjalaninya dengan hati tanpa beban berlebihan. Dengan pikiran tanpa
tekanan berkepanjangan. Tanpa pengharapan yang ibarat pungguk merindukan bulan.
Because sometimes we get what we want when we want it at the
least.
Feel free!
No comments:
Post a Comment