Rasanya akan lebih mudah jika “mereka bilang saya monyet”.
Tapi kenyataannya sungguh lebih menyakitkan. Mereka bilang saya “om”. Om!
You’ve got to be kidding me.
Ok. Saya memang sudah dewasa. Mungkin sudah beranjak matang
untuk ukuran pengangguran. Maksudnya untuk ukuran umur manusia. Tapi “om”?
Rasanya tak ada “pelecehan terselubung” yang lebih melecehkan dibandingkan dengan dipanggil dengan panggilan
“om”. Sungguh menyakitkan lahir dan batin. Lukanya menyayat dunia akhirat. It
immensely hurts, you know.
Saya sendiri kadang heran, apa gerangan yang membuat saya
dipanggil “om”. Apakah saya sudah sebegitu tuanya? Ahh, enggak. Apakah muka
saya sudah sebegitu antiknya? Ahh, tidak. Apakah muka saya ada potongan muka om-om hidung belang dan atau om-om mucikari? Sangat jelas, tidak. Atau pandangan mereka saja yang "buta
usia"? Ahh, iya. Pasti mereka saja yang tak tau. Mereka tak bisa melihat dengan
jelas, mereka tak bisa membedakan, mana yang beneran “om’ dan mana yang calon
om-om.
Mungkin sudah tak terhitung banyaknya orang yang memanggil
saya “om”. Tak terhitung lagi berapa kali saya dipanggil “om”. Siapa juga yang
mau ngitung. Kurang kerjaan banget! Terlebih siapa yang pertama kali memanggil
saya “om”? Andai saya tau siapa orang pertama yang tersesat itu. Tapi
untungnya, saya tak pernah tau. Dan memang sebenernya tak terlalu ingin tau.
Buat apa juga.
Lha terus ini pake ditulis segala buat apa? Ya mbuh. Wong
mendadak saya pengen nulis saja.
Woooalaaahhh om... Om!
No comments:
Post a Comment