Do you know what's
worth fighting for?
When it's not worth dying for?
Does it take your breath away and you feel yourself suffocating?
When it's not worth dying for?
Does it take your breath away and you feel yourself suffocating?
Mungkin ada benarnya kata ungkapan, kalau kita lagi
sedih dan atau mellow, kita jadi lebih meresapi lirik lagu yang kita
dengarkan. Walaupun saya nggak sebegitu sedihnya, tidak segitu
mellow-nya, dan tidak juga terlalu meresapi liriknya, tapi tetap, lagu itu bisa
jadi salah satu soundtrack saya hari ini. Dan mungkin beberapa hari mendatang.
Yang semoga saja tidak berkepanjangan.
Does the pain weigh
out the pride?
And you look for a place to hide?
Did someone break your heart inside?
And you look for a place to hide?
Did someone break your heart inside?
You're in ruins.
Ya. Saya memang sedang kacau. Sedang tidak dalam kondisi
ideal untuk bisa “menampilkan” diri sebagai seorang manusia yang dalam bahasa
duniawi disebut “sukses”.
Manjadi pencari kerja bukanlah “profesi” gampang. Menurut
saya. Kata orang, hidup adalah tentang pilihan. Jika hidup adalah tentang
pilihan, maka mencari kerja adalah sebagian dari kehidupan. Karena (bahkan)
dalam mencari kerja, kita dihadapkan pada pilihan. Pilihan yang kadang tak
mudah. Pilihan yang bisa menentukan kehidupan kita kedepannya. Lebay ya? Yoben!
Sebagai seorang pencari kerja, saya sudah sangat mahfum
dengan “perasaan di antara pilihan”. Perasaan yang saya rasa nggak semua orang
mampu menghadapinya, meng-handle-nya, dan kemudian keluar darinya dengan pilihan
yang tepat. Dan pengalaman menunjukkan, saya bukan orang yang demikian. Benar,
saya sudah pernah, dan bahkan sering mengalamai “perasaan di antara pilihan”. Tapi sejauh ini, I chose the wrong choice, walaupun pada awalnya, saya
beranggapan bahwa itu adalah pilihan terbaik yang bisa saya ambil. Tapi saya
yakin masih banyak lagi para pencari kerja di luar sana yang merasakan seperti apa yang saya rasakan.
(Golek bolo ki critane?! Hahaa)
Menjadi pencari kerja adalah saat-saat potensial untuk
membuat orang jadi galau. Galau karena pilihan. Dan tak jarang, kegalauan itu
membuat seseorang, termasuk saya, untuk melakukan kesalahan. Salah memilih
pilihan. Tapi bukankah memang begitu manusia. Tempatnya salah dan lupa. Dan
saya pernah salah. Saya banyak lupa. Lupa bersyukur, lupa berdo’a, lupa shalat,
dan lupa yang lain-lainnya. Saya juga pernah dan sering salah. Salah ngomong.
Salah jawaban pas ujian. Ataupun salah mengambil pilihan. Yang dampak
terbarunya, membuat saya kembali (harus) jadi pengangguran.
Terbiasa “bergaul” dengan para penganggur, dan basic
pengalaman sebagai pengangguran, membuat saya sedikit banyak cukup mengerti situasi,
kondisi, dan sebagian perasaan kaum pengangguran. Pengangguran adalah posisi
yang “mengharuskan” untuk berjuang. Berjuang dan bertahan.
Berjuang untuk mencari pekerjaan dengan mengatasnamakan harapan,
harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Perjuangan yang
menghadapkan pada pilihan-pilihan. Pilihan yang sebagian orang bilang akan
menentukan masa depan.
Ianya juga menuntut untuk tetap bertahan. Bertahan untuk tetap berjuang. Karena sungguh,
mempertahankan harapan, yang menjadi latar belakang perjuangan, benar-benar tak
gampang. Terlebih ketika melihat kenyataan bahwa setiap perjuangan tak selalu
happy ending seperti yang diharapkan.
Buat kalian yang suka meremehkan penganggur, tolong minimal
sedikit ber-empati. Nggak semua orang seberuntung Anda yang mungkin anaknya
orang kaya. Nggak semua seberuntung Anda yang (dengan mudah ataupun susah
payah) mendapat pekerjaan. Nggak semua orang seberuntung Anda untuk tidak
diberi label “pengangguran”.
Sekian.
*Kemudian terdengar “Sad”
nya Maroon 5
No comments:
Post a Comment