Ahh, sekali lagi status pengangguran membuat saya lebih
(sok) sentimental belakangan ini. Jadi serba… Entahlah. Saya tak tau kata apa
yang tepat untuk menggambarkannya. Gampangnya, predikat jobless membuat saya
jadi sering merasa worthless. Tapi di sisi yang lain, juga memberikan banyak “pengalaman”
yang sepertinya cuma bisa dibayangkan dan dirasakan oleh sesama pengangguran. Dan
beberapa diantaranya sudah, sedang, dan mungkin akan, saya tulis.
Selama menjadi manusia, sejauh yang bisa saya ingat, sudah
dua kali saya merasakan, dan melalui, masa-masa sebagai jobless. Walaupun tak
semuanya karena soal tak punya pekerjaan. Pertama, adalah ketika menganggur selama menunggu ujian masuk ke universitas, karena saya drop out
dari universitas sebelumnya. Dan yang kedua adalah masa menganggur selama menunggu mendapat pekerjaan, setelah resmi dinyatakan lulus ujian skripsi. Dan
kali ini, kali ketiga saya mengalamai masa menganggur. Masa recess yang, kalo
saja jadi pengangguran bisa dibanggakan, pasti saya bisa jadi anak paling
membanggakan bagi orang tua karena terlalu doyan jadi pengangguran.
Tapi kenyataannya, menjadi pengangguran selalu (atau lebih
seringnya) dipandang secara konotatif. Secara negatif. Pengangguran adalah
kelompok tak berharga. Pengangguran adalah sampah. Ahh, kejamnya dunia.
Sebagai
seorang pengangguran, sayapun juga tak bisa banyak mengelak. Selain karena saya
pribadi yang memang tak produktif sebagai seorang jobless, mungkin ada benarnya
bahwa pengangguran memang bukan golongan yang akan mendapat tempat di mata
orang. Nggak usah bertanya kenapa. Saya juga tak tau. Tapi saya yakin,
selamanya akan selalu begitu.
Pengangguran adalah kaum terpinggirkan. Terpinggirkan
kenyataan “hanya” karena tak punya pekerjaan. Siapa yang mau berlama-lama
menyandang status pengangguran? Orang tua mana yang nggak risau ketika ada
anaknya yang betah jadi pengangguran? Bapak mana yang mau anak perempuannya
“diambil” seorang pengangguran? Hehee. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Intinya,
buat orang-orang “mapan”, pengangguran adalah pilihan kesekian. Itupun kalau
masih ada kesempatan untuk dipilih.
Sayapun juga tak akan mambantah, jika sedikit banyak,
sesekali, saya juga merasa begitu. Bagaimanapun saya adalah bagian dari
society, bagian dari masyarakat, yang mau sepertin apapun, tak bisa begitu saja
kita acuhkan “omongan” nya. Walaupun saya juga kadang nggak terlalu peduli
omongan orang. Karena kalau boleh jujur, sebenarnya sayapun juga nggak mau
berlama-lama jadi pengangguran. Orang waras mana yang mau kelamaan jadi
pengangguran. Ya toh?!
Job was suck. But jobless is even more.
Begitu kurang lebihnya perasaan saya belakangan ini. Padahal
jika dibandingkan dengan dua era pengangguran saya sebelumnya, masa
pengangguran saya kali ini relatif belumlah lama. Tapi mungkin karena semakin
dewasa dan bijkasana (hahaa) saya jadi merasa sudah waktunya tau diri. Tak bisa
selamanya begini. Karena saya juga pengen, seperti orang-orang, punya pekerjaan. Punya
karir yang mapan. Punya penghasilan yang berkecukupan. Dan akhirnya ngelamar
anak orang. Hahaa.
Sederhana. Tapi sejauh ini memang masih terlihat jauh adanya. Tapi tak
apalah. Apapun, saya sudah (banyak) berusaha, dan (tak kalah banyaknya) berdo’a.
Saya berusaha apa yang saya bisa.
Just do the best and let God does the rest.
Dear, fellow job-seekers... Have some faith!
No comments:
Post a Comment