Ok. Posting terakhir di blog ini menunjukkan tanggal 25 July
2012. Yang berarti sudah lebih dari dua bulan saya absen membuang sampah di
blog ini. Tagline “minimal nyampah sekali dalam sebulan”, karena satu dan lain alasan,
dengan berat hati ternyata saya langgar. Tapi bukankan peraturan memang dibuat
untuk dilanggar?! Hayahh.
Untuk sekedar menggugurkan kewajiban, well, tak ada salahnya
menyampah di akhir bulan. Better later than never, bukan?!
Ok. Sebelumnya mungkin saya patut berterima kasih pada Mbak
Diantra dari Hollywood Nobody. Kenapa? Sederhana saja. Saya suka blognya.
Setelah greeting buat @hollynobody yang sedang 7th
anniversary, jemari lentik saya tak kuasa untuk menggali lebih dalam. Dari
link ke link. Dari page ke page. Hingga sampailah di halaman blog nya Mbak
Diantra. Satu persatu, dengan sabar saya baca tulisannya. Saya memang orang
yang relatif gampang interested sama sesuatu yang dari awalnya terasa
mind-catching.
Hampir setiap judul di halaman muka saya baca semuanya. Walaupun
nggak semuanya saya ngerti. Maklum, sebagian ditulis dalam bahasa Inggris. Hehee.
Menunjukkan perasaan
suka itu menurut saya sangat natural, dan sering membuat saya tidak peduli
apakah dia menyukai saya juga atau tidak.
Begitu sepenggal kalimat yang saya baca dari salah satu
tulisannya, yang bercerita tentang kisah dibalik lagu barunya berjudul If Loving You is
Heartbreaking dari band project nya Mbak Diantra, Munchausen Trilemma.
Lebih lengkap bisa dibaca di http://diantra.weebly.com/3/post/2012/01/if-loving-you-is-heartbreaking-from-my-point-of-view.html
Pertama kali membaca, sejujurnya, saya suka sekali
kata-katanya. Tentu saja tak hanya sekedar suka. Rasa suka tak jarang juga
berlatar belakang bahwa kita sepaham. Sependapat. Atau setidaknya merasa bahwa
apa yang kita suka, apa yang saya suka, dalam hal ini adalah kata-kata dalam kalimat
itu, sesuai dengan apa yang saya percaya.
Dihantui penasaran, sayapun mendengarkan lagunya. Tak perlu
saya bilang bagaimana lagunya, mungkin anda bisa menilainya sendiri.
Sebenernya saya bukan hendak membahas dan atau menilai
tentang lagu dan atau band barunya. Karena seperti yang saya bilang, anda
sekalian juga berhak menilai sendiri. Saya lebih tertarik untuk (sedikit sekali) membahas tentang
kata-kata dalam kalimat yang saya cuplik di atas. Kata-kata yang menurut saya
terdengar simply bold. Sederhana tapi juga tegas. Kece tapi nggak memble.
Okelah, semua orang sepertinya hampir pasti pernah suka sama
seseorang. I mean, dalam konteks suka kepada lawan jenis. Ketertarikan pada
seseorang yang menurut kita memang “menarik”. Whatever you define it. Dan rasa suka terasa lebih indah jika orang yang kita suka
(ternyata) juga menyukai kita. Dengan kata lain, perasaan suka kita tidak
bertepuk sebelah rumah. Indah.
The problem is, tentu saja realita tak selalu begitu. Ada kalanya,
perasaan suka kita cuman seperti jalan searah. Orang yang kita suka ternyata
nggak suka sama kita. Dan sebagainya. Dan semacamnya. Dan masing-masing dari
kita tentu akan berbeda dalam meresponnya. Setiap orang kan emosionalnya
beda-beda.
Salah satu diantaranya, yang mana termasuk saya, adalah
dengan “tidak peduli”. Ya. Tidak peduli. Dalam arti bahwa (saya) tidak terlalu
peduli apakah orang yang saya suka, ternyata juga suka pada saya atau tidak. Saya
bahkan sering tak peduali apakah dia tau kalau saya suka padanya, atau tidak.
But, perlu dicatat bahwa ini ngomongin tentang rasa “suka”. Yang mana harus dibedakan dari “sayang”
dan apalagi “cinta”. Karena bagi saya, masing-masing berada dalam kasta yang
berbeda, yang kalo dijelaskan tentu akan menuntut konteks yang berbeda pula. Mungkin
lain kali saya akan membahasnya. But not today.
Kembali ke masalah “Suka”.
Suka, bagi saya adalah perasaan yang secara gampang dapat
diartikan sebagai ketertarikan akan sesuatu, atau dalam konteks ini, seseorang. Saya juga
tak akan masalah jika orang lain punya “definisi” berbeda. The point is, jika
kita tertarik akan seseorang, terlepas dari apapun yang membuat kita tertarik, maka
biasanya kita akan menyukainya. Bagi sebagian orang, akan lebih menyenangkan bila perasaan
sukanya ternyata berbalas. Kalopun tidak, some people still think it’s ok. I am
included, for sure.
Let’s just say, ketika ada suatu kala dimana saya suka sama
seseorang, tak dapat dipungkiri bahwa seperti kebanyakan anak manusia, biasanya
sayapun akan berusaha untuk menunjukkannya, dengan bagaimanapun caranya. Namanya juga suka. Pasti pengennya
yang kita suka juga “merasa”. Walopun pada kenyataannya tak melulu selalu
begitu.
Intinya, seperti kata Mba Diantra, menunjukkan rasa suka itu
hal yang natural. Wajar. Manusiawi. Dan kalopun rasa suka tak berbalas, buat
saya it’s not a big deal. At all.
As I always tell to myself when I like someone, “liking you is my right, whether
you like me back or not, it’s yours.”
Feel free!
No comments:
Post a Comment