Sep 30, 2012

Minggu Pagi

Hari ini hari Minggu. Minggu pagi tepatnya, saat saya menulis tulisan ini. Sejenak mencoba mengingat, rasanya sudah cukup lama saya tak merasakan (apalagi menikmati) suasana Minggu pagi. Karena seperti kebanyakan orang yang suka males-malesan di hari senggang, setelah Shubuh biasanya saya langsung balik tidur. Yeah, that’s so me.

Minggu pagi. Bangga nggak sih bisa bangun pagi di hari Minggu?! Bagi sebagian orang mungkin enggak. Buat saya, it’s something special. Paling enggak, it’s something unusual untuk ukuran orang yang suka tidur. Jangankan hari Minggu, hari “kerja” pun kadang masih tak cukup menjadi alasan untuk membangunkan diri di pagi hari. Namanya juga manusia. Seperti halnya mati dan rejeki, ngantuk kan di luar kuasa kita. Hahaa.

Menengok beberapa bulan ke belakang, rasanya memang sedikit susah rasanya untuk bisa bangun pagi. Apalagi di hari Minggu. Selain karena alasan kecapekan, alasan kebiasaan mungkin bisa lebih meyakinkan. Hingga akhirnya semua alasan itu satu persatu mulai hilang. Tak ada lagi yang bikin saya kecapekan seperti beberapa bulan belakangan. Nggak ada lagi yang namanya bangun siang, karena semenjak beberapa hari dan atau beberapa minggu belakangan ini, saya kembali bisa bangun pagi. Walaupun juga nggak setiap hari. Namanya juga belajar. Belajar untuk mulai membiasakan bangun pagi kembali. Insyaallah.

Dan karena (buat saya) bukanlah sesuatu yang mudah, wajar kalo saya jadi terkesan sedikit lebay ngomongin ”hanya” soal bangun pagi. Everyone can do it. Yeah, everyone.

Lucky me, I’m not everyone. Terkadang, beberapa hal yang buat sebagian (besar) orang dipandang sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang gampang, buat saya justru sering terasa berbeda. Beda dalam segala bentuknya. Beda rasanya, beda cara memandangnya, beda cara menanggapinya, beda cara menyiasatinya dan beda beda yang lainnya. Ya bangun pagi itu tadi, salah satunya. Hal se-simple bangun pagi pun bisa jadi something occurs buat orang seperti saya.

Singkat kata, karena merasa sudah cukup “berhasil” bangun pagi dalam beberapa hari belakangan ini, maka dengan percaya diri saya pun mulai memasang target baru: lari pagi. Ya. Lari pagi. Aktivitas yang sebenarnya cukup sering saya lakukan dulu. Dulu sekali ketika saya masih (merasa) muda. Entah itu sudah berapa lama.

Seperti halnya juga dengan bangun pagi, lari pagi, atau jogging lah kalaupun tidak beneran lari, merupakan aktivitas sederhana yang sebenernya juga sederhana dan gampang saja dilakukan semua orang. Dan sekali lagi, untungnya saya bukan semua orang. Sekali lagi saya merasa teralienisasi oleh kenyataan bahwa saya susah bangun pagi dan apalagi untuk lari pagi.

Sebagian orang mungkin tak akan pernah repot berpikir kenapa harus pusing mikirin hal sesepele itu. Tapi buat saya, somehow, justru hal-hal sepele seperti itu yang tak jarang justru sering kepikiran. Bukankan kehidupan memang dipenuhi dengan hal-hal sepele?! Itu menurut saya.

So, saya pun tak akan berkilah. Bangun pagi bukan sesuatu yang mudah. Lari pagi, apalagi. Ketika bangun pagi sudah kembali mulai terbiasa, lari pagi masih dalam rencana. Rencana mulia yang semoga saja tak kan selamanya berada dalam tahap wacana. Sebagai manusia biasa, saya cuma bisa berusaha dan berdo’a sepenuh hati, semoga suatu hari nanti, saya bisa lari pagi.

Merdeka!

Sep 29, 2012

September Ends

Ok. Posting terakhir di blog ini menunjukkan tanggal 25 July 2012. Yang berarti sudah lebih dari dua bulan saya absen membuang sampah di blog ini. Tagline “minimal nyampah sekali dalam sebulan”, karena satu dan lain alasan, dengan berat hati ternyata saya langgar. Tapi bukankan peraturan memang dibuat untuk dilanggar?! Hayahh.

Untuk sekedar menggugurkan kewajiban, well, tak ada salahnya menyampah di akhir bulan. Better later than never, bukan?!

Ok. Sebelumnya mungkin saya patut berterima kasih pada Mbak Diantra dari Hollywood Nobody. Kenapa? Sederhana saja. Saya suka blognya.

Setelah greeting buat @hollynobody yang sedang 7th anniversary, jemari lentik saya tak kuasa untuk menggali lebih dalam. Dari link ke link. Dari page ke page. Hingga sampailah di halaman blog nya Mbak Diantra. Satu persatu, dengan sabar saya baca tulisannya. Saya memang orang yang relatif gampang interested sama sesuatu yang dari awalnya terasa mind-catching.

Hampir setiap judul di halaman muka saya baca semuanya. Walaupun nggak semuanya saya ngerti. Maklum, sebagian ditulis dalam bahasa Inggris. Hehee.

Menunjukkan perasaan suka itu menurut saya sangat natural, dan sering membuat saya tidak peduli apakah dia menyukai saya juga atau tidak.

Begitu sepenggal kalimat yang saya baca dari salah satu tulisannya, yang bercerita tentang kisah dibalik lagu barunya berjudul If Loving You is Heartbreaking dari band project nya Mbak Diantra, Munchausen Trilemma.


Pertama kali membaca, sejujurnya, saya suka sekali kata-katanya. Tentu saja tak hanya sekedar suka. Rasa suka tak jarang juga berlatar belakang bahwa kita sepaham. Sependapat. Atau setidaknya merasa bahwa apa yang kita suka, apa yang saya suka, dalam hal ini adalah kata-kata dalam kalimat itu, sesuai dengan apa yang saya percaya.

Dihantui penasaran, sayapun mendengarkan lagunya. Tak perlu saya bilang bagaimana lagunya, mungkin anda bisa menilainya sendiri.


Sebenernya saya bukan hendak membahas dan atau menilai tentang lagu dan atau band barunya. Karena seperti yang saya bilang, anda sekalian juga berhak menilai sendiri. Saya lebih tertarik untuk (sedikit sekali) membahas tentang kata-kata dalam kalimat yang saya cuplik di atas. Kata-kata yang menurut saya terdengar simply bold. Sederhana tapi juga tegas. Kece tapi nggak memble.

Okelah, semua orang sepertinya hampir pasti pernah suka sama seseorang. I mean, dalam konteks suka kepada lawan jenis. Ketertarikan pada seseorang yang menurut kita memang “menarik”. Whatever you define it. Dan rasa suka terasa lebih indah jika orang yang kita suka (ternyata) juga menyukai kita. Dengan kata lain, perasaan suka kita tidak bertepuk sebelah rumah. Indah.

The problem is, tentu saja realita tak selalu begitu. Ada kalanya, perasaan suka kita cuman seperti jalan searah. Orang yang kita suka ternyata nggak suka sama kita. Dan sebagainya. Dan semacamnya. Dan masing-masing dari kita tentu akan berbeda dalam meresponnya. Setiap orang kan emosionalnya beda-beda.

Salah satu diantaranya, yang mana termasuk saya, adalah dengan “tidak peduli”. Ya. Tidak peduli. Dalam arti bahwa (saya) tidak terlalu peduli apakah orang yang saya suka, ternyata juga suka pada saya atau tidak. Saya bahkan sering tak peduali apakah dia tau kalau saya suka padanya, atau tidak.

But, perlu dicatat bahwa ini ngomongin tentang rasa “suka”. Yang mana harus dibedakan dari “sayang” dan apalagi “cinta”. Karena bagi saya, masing-masing berada dalam kasta yang berbeda, yang kalo dijelaskan tentu akan menuntut konteks yang berbeda pula. Mungkin lain kali saya akan membahasnya. But not today.

Kembali ke masalah “Suka”.

Suka, bagi saya adalah perasaan yang secara gampang dapat diartikan sebagai ketertarikan akan sesuatu, atau dalam konteks ini, seseorang. Saya juga tak akan masalah jika orang lain punya “definisi” berbeda. The point is, jika kita tertarik akan seseorang, terlepas dari apapun yang membuat kita tertarik, maka biasanya kita akan menyukainya. Bagi sebagian orang, akan lebih menyenangkan bila perasaan sukanya ternyata berbalas. Kalopun tidak, some people still think it’s ok. I am included, for sure.

Let’s just say, ketika ada suatu kala dimana saya suka sama seseorang, tak dapat dipungkiri bahwa seperti kebanyakan anak manusia, biasanya sayapun akan berusaha untuk menunjukkannya, dengan bagaimanapun caranya. Namanya juga suka. Pasti pengennya yang kita suka juga “merasa”. Walopun pada kenyataannya tak melulu selalu begitu.

Intinya, seperti kata Mba Diantra, menunjukkan rasa suka itu hal yang natural. Wajar. Manusiawi. Dan kalopun rasa suka tak berbalas, buat saya it’s not a big deal. At all.

As I always tell to myself when I like someone, “liking you is my right, whether you like me back or not, it’s yours.”

Feel free!