July 25th.
Cerdas
Cerdas
Itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika selesai
menonton The Dark Knight Rises semalam. Sebuah mahakarya dari seorang sutradara
yang menurut saya, juga cerdas, Christoper Nolan. Sulit rasanya untuk tak
terpesona dengan bagaimana dahsyatnya film yang satu ini. Kejeniusan sang
sutradara sebenarnya sudah terlihat sejak film pertamanya, Batman Begins
(2005). Bagaimana dia berhasil mengembalikan reputasi Batman yang sempat hancur
karena Batman & Robin nya Joel
Schumacher, sungguh taking-back yang brilian. Dengan visinya, Batman yang semula
terlihat alay oleh George Clooney, ditampilkan dengan nuansa yang lebih berat. Lebih
gelap. Pemilihan Christian Bale sebagai Batman menurut saya adalah salah satu keputusan paling tepat. Bale dengan meyakinkan berhasil memerankan dua karakter "gelap" pada diri Bruce Wayne, dan alter ego lebih gelap dari seorang Batman.
Satu hal menarik bagi saya tentang Batman versi Christoper
Nolan, adalah bagaimana sang sutradara banyak memasukkan aspek psikologis ke
dalam film, baik dalam segi cerita maupun penceritannya. Khas dengan
film-film Nolan yang lain (Inception
bisa jadi contoh teranyarnya) yang memang hampir selalu “memaksa” penontonnya
untuk terlibat dalam memahami alur ceritanya. Sehingga kemudian, menonton film
Batman, kita jadi merasa sedang menonton sebuah film pshycological. Pshycological action,
walaupun tidak dalam skala yang relatif berat. Bagaimana explore tentang Batman
di masa-masa “begins”, ahh rasanya luar biasa. Bagaimana The Dark Knight jauh
lebih “dark”, tak ada yang menyangkalnya. Dan hingga akhirnya di seri
penutupnya, The Dark Knight Rises, rasanya telah habis kata untuk memujinya. Mungkin
begitu lebaynya. Hahaa.
Nge-twist abis!
Salah satu alasan kenapa saya bilang film ini cerdas, adalah
kenyataan bahwa plot ending dari penutup trilogy
ini benar-benar tak terduga. Benar-benar diluar dugaan yang mungkin dibayangkan
penonton. Atau di luar dugaan saya, secara lebih personal. Bagi yang sudah
menonton dua film sebelumnya, pasti bisa merasakan bagaimana sisi “cerdas” dari
film ketiga ini. Presisi dari setiap cerita terasa begitu rapi. Begitu nyambung, sehingga tidak terkesan
dipaksakan, namun tetap memberikan kejutan. Siapa yang menyangka bahwa Miranda
Tate (Marion Cotillard) yang dari awal terlihat begitu supportif terhadap
Batman, dan bahkan sempat “tidur” dengan Bruce wayne, ternyata adalah salah
satu dalang besar dibalik kekacauan Gotham City. Siapa yang bisa menduga bahwa
perempuan cantik yang semula saya pikir akan menjadi love interest nya si Batman menggantikan Rachel itu, ternyata
adalah putri dari Ra’s al Ghul, musuh utama Batman di film pertamanya, Batman
Begins.
Joke
Selain kemunculan Catwoman (Anne Hathaway) yang lumayan sexy kitty, salah satu sisi berbeda yang
menurut saya begitu terasa dalam film Ketiga ini, adalah diselipkannya beberapa
joke ringan yang menurut saya cukup
ampuh memancing tawa. Tidak terkesan slaptic,
tapi menarik. Ingat ketika Batman berkata “So this how it feels.” ketika Catwoman
mendadak hilang dari pandangannya. Salah satu adegan paling lucu, menurut saya. Sebuah
sindiran ringan bagi Batman yang suka mendadak ngilang ketika berbicara dengan
orang. Tak hanya Batman, hampir semua pemeran utama rasanya berusaha
menampilkan becandaan yang jarang (atau nyaris tak pernah) ditemui di dua film
sebelumnya. Yang tidak atau belum menonton dua film sebelumnya, mungkin wajar
jika tidak menangkap beberapa joke
dalam film yang memang sekali lagi, bahkan dalam membuat jokes, cerdas dalam membuatnya terlihat nyambung. Terkesan
kontekstual.
The Villain
Walaupun tak segila dan atau se-extrim The Joker yang diperankan dengan sangat luar biasa oleh Heath Ledger di The Dark Knight, Bane (Tom Hardy) yang
kali ini menjadi lawan utama juga layak dipuji. Bane, yang sebenernya tak
terlalu istimewa, baik secara penampilan maupun aksi jahatnya, mampu membuat
Batman nyaris desperate. Satu-satunya
musuh yang berhasil menginjak-injak Batman ini tentu tak dapat disepelekan. Dengan
“filosofi” yang hampir sama namun pendekatan yang sedikit berbeda dengan The
Joker, Bane yang berusaha mengacaukan
dan menghancurkan Batman dan Gotham City dalam skala yang lebih masif, dengan
kejamnya berhasil mempermainkan perasaan semua orang, tak terkecuali si Batman.
Bane membuat Batman kembali harus melalui masa-masa galau dalam eksistensinya
sebagai pelindung Gotham City. Tak seperti ketika berhadapan dengan The Joker, Batman dipaksa lebih banyak beradu fisik dengan Bane, yang pada prakteknya, Batman banyak beradu jotos dengan Bane yang terkesan gagah karena tubuhnya yang besar. Pemilihan Tom Hardy (yang salah satu akting bagusnya dapat dilihat dalam Warrior) sebagai Bane juga layak diapresiasi. Setidaknya Bane berhasil menampilkan bentuk perlawanan yang berbeda dalam mengahadapi Batman. Bentuk perlawanan paling basic: adu fisik. Face to face. Jotos jotosan. Satu lawan satu dengan Batman. Appreciate it.
Explosive
Tak jauh berbeda dengan The Dark Knight, The Dark Knight Rises juga layak disebut film
eksplosive. Jika di The Dark Knight, The Joker meledakkan sebuah rumah sakit,
maka di The Dark Knight Rises, Bane meledakkan sebuah lapangan football. Acungan
jempol layak diberikan kepada special effect nya, saya rasa. Di samping kemegahan-kemegahan
efek yang lain, yang ditampilkan sepanjang film. Tidak hanya literally explosive, The Dark Knight Rises juga explosive dalam alur cerita yang cukup banyak memberikan kejutan. Alur cerita yang mungkin tak kita duga sebelumnya.
Ending of New Start (??)
Generally, walaupun tak se-radikal The Dark Knight, The Dark
Knight Rises tetaplah sebuah film luar biasa. Sebuah film penutup yang, bahkan ada yang berpendapat, nggak ada duanya. It’s just simply the best way how
the Batman ends. Saya sendiri tak bisa membayangkan ending lain yang mungkin bisa lebih bagus. A perfect ending. Walaupun di ending film seolah masih menyisakan peluang untuk
kembali melanjutkan kisah Batman. Mungkin dengan didampingi Robin. Namun hampir
pasti dengan sutradara yang berbeda. Dan jajaran pemain yang mungkin juga akan
berbeda. Who knows.
Apapun, trilogy Batman versi Christoper Nolan layak
menjadi salah satu trilogy favorit. Karena rasanya tak mudah bagi sebuah
trilogy untuk tetap menjaga tensi.
All thumbs up!