Jul 23, 2012

Soerabaja #3

Tulisan pertama di bulan puasa. Saya niatkan untuk mencari pahala. Terlepas dari se-sampah apapun tulisan ini nanti jadinya. Semoga bukan sesuatu yang malah mengurangi, apalagi membatalkan puasa saya hari ini yang menjadi puasa pertama saya Ramadhan ini tanpa makan sahur.

Ini masih tentang Surabaya. Cerita tentang pengalaman saya di Surabaya, yang sekali lagi karena bulan puasa, nggak ada salahnya saya tuliskan sedikit yang ada sangkut pautnya dengan bulan puasa dan serba serbi dan atau lika-likunya. Hihh.

Ramadhan, atau bulan puasa kali ini, adalah Ramadhan pertama saya di Surabaya. Terasa sedikit berbeda. Well, tidak sedikit sebenernya. Terasa sangat berbeda dengan Ramadhan Ramadhan saya sebelumnya yang selalu saya lalui di kampung halaman saya, dan sebagian lagi di Jogja. Kota yang sudah saya anggap sebagai kampung halaman kedua.

Ramadhan di Surabaya kali ini, well, saya rada bingung juga untuk melukiskan bagaimana perbedaannya. Yang jelas, di sini tak semeriah di Jogja, contoh paling gampangnya. Dalam hal saya menikmati Ramadhan, maksud saya. Jadi ini murni pandangan subjektif. Meriah dalam arti bahwa “aura” Ramadhan kali ini tak se-semangat seperti di Jogja. Mungkin karena tempat baru, suasana baru, orang-orang baru, membuat Ramadhan kali ini juga terasa “baru”.

Beberapa ke-baru-an inilah yang mungkin (beberapa diantaranya) saya anggap menarik. Menarik dalam arti positif dan negatifnya.

Kos.

Kos saya di sini, “kebetulan” adalah kosan baru. Baru di buka. Dan memang juga baru selesai dibangun. Ketika pertama kali tiba, saya “kebetulan” mendapat kamar di lantai 2 yang sama sekali belum berpenghuni, sementara semua kamar di lantai 1 sudah penuh terisi. Moreover, kosan ini sebenernya ditujukan (khusus) untuk kalangan rumah tangga. Namun mungkin karena wajah memelas saya ketika meminta, si yang punya trenyuh dan tersentuh, hingga akhirnya mengijinkan saya untuk menjadi salah satu penghuni. Jadilah kini saya jadi satu-satunya penghuni yang non-rumah tangga. Yang belum ber-rumah tangga.

Ini cerita kosan perasaan nggak ada hubungannya sama puasa ya?! :p

Well, di kosan yang bisa dibilang cukup gede, yang secara kasat mata juga cukup banyak penghuninya, bisa dikatakan relatif kurang terasa "hawa" puasanya. Kurang terasa "aura" Ramadhannya. Nyaris minim semangat menyambut, mengisi dan memanfaatkan bulan Ramadhan. Sungguh sangat disayangkan. Jauh berbeda dengan kosan saya di Jogja. Lebih jauh berbeda lagi dengan di kampung saya, dimana bulan Ramadhan benar-benar dimanfaatkan untuk berlomba. Berlomba mencari pahala. Berlomba untuk membuat mesjid-mesjid dan mushola terlihat kekecilan. Pokoknya berlomba dalam kebaikan. Setidaknya dengan alasan “mumpung Ramadhan”.

Sedangkan di sini? Tiap ke mesjid, sendiri. Berbuka, sendiri. Makan sahur, apalagi. Bukan berarti saya minta ditemani, hanya saja rasanya kok saya nggak merasa ada suasana kebersamaan. Nggak ada teman jalan ke mesjid. Nggak ada teman berbuka. Puncaknya, sementara saya makan sahur, seisi penghuni kosan yang lain masih pulas tertidur. Ahh, I’m so alone.

Mesjid.

Ngomongin soal mesjid, sebenernya nggak terlalu istimewa. Maksudnya nggak terlalu jauh berbeda. Kalopun ada, mungkin hanya soal arsitekturnya. Soal bentuknya. Beberapa mesjid yang saya temui, cenderung dibangun memanjang ke samping, sehingga ketika shalat hanya ada dua atau tiga shaf, namun memanjang. Selain itu, banyak mesjid yang memiliki dua lantai, untuk mengatasi keterbatasan “lahan”, perkiraan saya. Mungkin karena di pemukiman padat, sehingga bangunan mesjid pun juga harus “berjuang” untuk bagaimana caranya bisa mendapat tempat di antara bangunan-bangunan yang lain.

Shalat.

Tanpa bermaksud mentertawakan tata cara shalat di sini, tapi saya memang nyaris tertawa ketika pertama kali mengikuti shalat berjama’ah di mesjid sekitar kosan. Selain shalat Shubuh yang sedikit berbeda di raka’at kedua, shalat Jum’at dan shalat tarawih adalah yang paling “berbeda”. Unik. Atau lucu. Atau mungkin juga keduanya.

Di shalat Jum’at misalnya, ketika adzan hendak dikumandangkan, seperti layaknya mesjid di jaman nenek moyang, seseorang menabuh bedug dengan sangat kerasnya. Berulang-ulang dengan ritme seperti yang sering kita denger di tipi-tipi setiap hendak adzan Maghrib. Yang membuat nggak nyaman, bedug yang ditabuh dengan sekuat tenaga, dan berbunyi sekeras tenaga pula itu, ada di dalam mesjid. Ya, di dalam mesjid. Maka tak heran ketika pertama kali bedug ditabuh, saya sempat kaget. Bedug di dalam masjid yang awalnya saya pikir cuman sebatas hiasan, ternyata ditabuh beneran. Dan sungguh, bagi yang belum terbiasa, atau belum tahu seperti saya, sungguh sangat mengagetkan. Saya jadi bertanya tanya, bagaimana jika orang yang belum tau, atau belum terbiasa itu adalah orang tua? Atau yang lemah jantungnya? Wallahua'lam.

Lebih lanjut, ketika muadzin hendak mengumandangkan adzan, beliau berdiri sambil membawa sebuah tongkat besar, menyerupai tombak, kemudian bershalawat. Baru kemudian setelah khatib berdiri untuk berkhotbah, tongkat nan besar tersebut diserahkan kepada si khotib. Semacam serah terima jabatan. Atau serah terima tongkat, dalam contoh saya.

Sedangkan shalat tarawih. Ini juga rada komedi.

Seperti biasanya dari dulu kala, saya memang tak suka imam shalat tarawih yang membaca surat terlalu panjang, dan atau terlalu berlama-lama. Tipe imam shalat di Mekkah, kita biasa menyebutnya. Dan memang begitulah yang terjadi. Ketika baru shalat Isya’, rasanya sudah sedikit shock karena si imam ternyata termasuk kategori seperti yang saya sebutkan di atas. Namun setelah itu, benar-benar Allahuakbar. Tanpa diduga tanpa dinyana, ketika mengimami shalat tarawih, sang imam seperti kesetanan. Hahaa.. Kalo diibaratkan kereta, pak imam pasti masinisnya kereta tercepat di dunia yang apa itu namanya. Kilat khusus, kalo bahasa kantor posnya. Intinya, super cepat. Saya nyaris tak bisa mendengar dengan jelas pak imam membaca Al Fatihah. Karena selain cepat, juga memang nggak jelas. Saya ambil lucunya saja! :p


To be continued...

No comments: