Hari ini hari Jum’at. Kayaknya nggak usah dikasih tau
semuanya juga sudah tau. Tapi nggak papa. Itung-itung memperpanjang tulisan.
Hari ini nggak seperti Jum’at biasanya, saya lupa potong
kuku. Yang ini kayaknya juga lebih nggak penting. Tapi juga nggak papa. Lha toh
sudah dua paragraf.
Dengan alasan “kesibukan”, akhirnya sampailah pada saat yang
berbahagia ini saya sempat(kan) menulis. Lagi. Nyampah. Lagi. Mumpung Jum’at. Siapa
tau berpahala. Kalopun enggak juga nggak papa.
Well, bermaksud menyambung dari tulisan di episode sebelumnya,
kembali dengan penuh semangat dan sedikit ngantuk, saya niatkan untuk
menuliskan pengalaman saya di Surabaya, yang secara personal, ini beneran
pendapat personal, saya anggep menarik. Mungkin orang lain menganggapnya tidak.
Dan nggak papa juga.
Jika di tulisan sebelumnya berisi cerita di hari kedatangan,
hari pertama saya menginjak Surabaya, biar terbaca kronologis dan tidak
terkesan seperti film pshycology thriller, tak ada salahnya jika saya urutkan
plot cerita berdasar urutan kejadian. Dari hari ke hari. Yuk mari.
Hari kedua di Surabaya.
Sebagai seorang veteran insomnia, sungguh saya bersyukur
bahwa malam itu seperti tanpa aral melintang, dengan mudahnya saya tertidur. Mungkin
karena memang saking capeknya. Dan saking kerenya. Maksudnya, saking
ngantuknya. Fall earlier, rise earlier. Tidur cepet, bangun rada ngulet. Maksudnya
cepet juga. Begitu kurang lebihnya.
Dengan alasan tuntutan atasan, pagi-pagi sekali saya sudah
(ter)bangun. Something new. Bangun pagi. Prestasi. Artinya, nggak sia-sia yang
ngeset alarmnya. Berbekal mandi secukupnya dan berdandan ala kadarnya,
berangkatlah saya ke tempat dimana saya akan banyak menghabiskan waktu selama
di Surabaya. Berangkat penuh semangat. Tapi dengan perut kosong. Dan jalan
kaki. What a beautiful morning lah pokoknya.
Bla bla bla… bla bla
bla…
Mengetahui ada hambanya yang butuh hiburan, tuhan pun
berbaik hati memberi sedikit “bantuan”. Thanks God.
Dengan maksud memperlihatkan (sebagian) kota Surabaya,
seorang bapak yang menjadi salah satu mentor saya di Surabaya berbaik hati
mengantarkan kami (saya dan teman saya) untuk berkeliling dengan mobilnya.
Surabaya ternyata lebih kelihatan rame di siang hari. Sedikit berbeda dengan
malam hari yang nggak banyak terlihat karena au’ ahh gelap. Jalanan kota tampak
semuanya padat. Kalo boleh menilai, lalu lintas di Surabaya relatif lebih
tertib dibandingkan di Jogja. Itu menurut saya loh ya. Setidaknya nyaris tak
pernah saya melihat kendaraan (motor) yang memasang spion sebelah, yang sangat
biasa dijumpai di jalanan Jogja. Karena saya salah satunya! :p
Selain melihat lebih jelas suasananya, siang itu saya juga
lebih jelas merasakan panasnya Surabaya. Ya, panas. Mungkin begitulah
kondangnya Surabaya. Jangankan siang hari, malam haripun terasa tak jauh
berbeda. Agak susah rasanya kedinginan di Surabaya kecuali anda bertelanjang
bulat lalu berjalan keliling kota kemudian nyebur ke kali. Cuaca nan panas dan
hawa mobil yang sampai kapanpun takkkan pernah saya suka seolah menghiasi
perjalanan saya mengelilingi sebagian kecil Surabaya. Melihat jalanan ramai. Macet.
Pembangunan. Keruwetan. Khas suasana kota besar di Indonesia.
Ketika dalam perjalanan itulah, sekonyong-konyong si bapak
berucap, “Sudah pernah ke Doli?”. Pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk
dijawab. Gampang karena pasti jawabannya “belum”, dan susah karena tak dapat
dipungkiri bahwa naluri penasaran saya bergejolak dengan cukup hebatnya.
“Belum, pak.”, jawab kami serentak. “Nanti kita lewat sana.”, kata bapaknya.
Eeeaaaa. Hahaaa. Begitulah mungkin ilustrasinya. Kapan lagi bisa ke
Doli. Pikir saya dalam kepala. Menambah betapa penasarannya saya akan salah
satu “ikon” nya Surabaya itu.
Beberapa saat kemudian, lewatlah kami di sebuah jalan yang
dari kejauhan terlihat sangat sangat biasa. Bahkan cenderung lengang menurut
saya. Yang dalam seketika direvisi oleh statement si bapak, “Ini yang namanya Doli.”
Dengan sedikit bingung, dan banyak tanda tanya di kepala,
sayapun mendebat, “Kok nggak ada tulisan Doli nya pak?” Hahaa.
Pertanyaan bodoh macam begitulah yang akhirnya sedikit demi
sedikit membantu saya “memahami” Doli. Layaknya guide tour dadakan, si bapak pun
dengan semangat memberi penjelasan kepada dua “turis” yang dibawanya.
Doli, atau Gang Doli, yang katanya adalah lokalisasi
terbesar di Asia Tenggara itu, ternyata adalah nama kondang dari sebuah gang, atau
jalan yang sebenernya bernama Jalan Jarak. Jika pada siang hari, wajar jika
terlihat biasa, cenderung sepi. Karena sebagian besar “aktivitas” tentu saja
dilakukan di malam hari. Wisata birahi, si bapak menyebutnya. Atau distrik parkiran,
saya menyebutnya. Karena sepanjang jalan, tak ada yang jumlahnya lebih banyak
dari lahan parkiran. Ya, parkiran. Hampir setiap rumah atau gedung atau gang, atau
apapun yang disitu, menyediakan parkiran. Rasanya hampir tak ada yang tak
memasang papan bertuliskan PARKIR. Sepanjang jalan, entah berapa puluh, atau
bahkan mungkin ratusan lahan parkiran yang disediakan. Sekalipun tak ada gedung
usahanya, biasanya parkirnya tetap ada. Heran. Aneh.
Barulah kemudian, dengan penjelasan dari tour guide dadakan
alias si bapak, saya mengerti. Parkiran tentu saja cuman sebuah kedok. Kamuflase.
Dimana ada parkiran, disitulah biasanya ada tempat dimana para lelaki hidung
belang “memarkir” hidungnya. Hahaa.. Tapi mungkin bisa juga sekaligus mengakomodir
kebutuhan pengunjung yang memang saking banyaknya, memerlukan parkiran yang
segitu banyaknya. Entahlah. Saya hanya bisa terheran-heran sepanjang jalan
menyusuri Gang Doli.
Bla bla bla.. bla bla bla.. sebenernya masih panjang dan
lebar penjelasan dari si bapak tentang Gang Doli, tapi tentu saja saya nggak
akan nulis semuanya. Di samping nggak inget semuanya, juga karena saya hanya
menangkap yang penting-penting saja. :p
Something interesting. Ketika anda datang ke Surabaya
mungkin anda juga (akan) merasakannya. Orang Surabaya, atau yang setidaknya
sudah cukup lama di Surabaya, rasanya sangat “bangga” mempromosikan lokalisasi,
pada umumnya, dan Gang Doli, pada khususnya. Bukan Kebun Binatang
Wonokromo, apalagi Tugu Pahlawan. Gang Doli tak jarang ada di tempat terdepan untuk ditawarkan sebagai referensi tempat kunjungan. Gang
Doli seolah sudah menjadi salah satu jualan yang terus “dipromosikan” warga
Surabaya. Dengan serius, ataupun dengan nada becanda. Saya sih ambil lucunya
saja. Tiga hari pertama di Surabaya, tiga kali melintasi lokalisasi yang
berbeda.
“Kalo Doli yang paling gede, ini lokalisasi yang paling tua di
Surabaya.”, kata tour guide dadakan saya yang lain menjelaskan satu lokalisasi lagi yang saya "kunjungi" di hari berikutnya. Sekali lagi dengan
nada “bangga”. Hahaa.
Surabaya ohh Surabaya. Rasanya sudah lekat dengan
lokalisasi. Rasanya tak bisa jauh dari Doli. Ngomongin Surabaya berarti
ngomongin Doli. Mungkin begitu kurang lebihnya.
Demikian dulu saja. Sampai jumpa di lokalisasi selanjutnya. Ehh, cerita selanjutnya maksud saya.
Salam Doli.
To be continued…
No comments:
Post a Comment