Dec 30, 2012

Hitam

Suatu waktu di sebuah interview kerja, seorang pewawancara pernah bertanya kepada saya, “Suka warna hitam ya?”. Mungkin karena melihat saya waktu itu yang datang dengan memakai kemeja hitam, celana jeans hitam, sepatu hitam, rambut hitam, dan kenyataan bahwa saya memang berkulit hitam. (ehh, gelap, mungkin lebih tepatnya).
 
“Iya.”, jawab saya singkat.

“Kenapa suka hitam?”, tanyanya lagi kemudian.

Sejenak saya terdiam. Mikir. Bingung mau menjawab apa. Dan atau bagaimana menjawabnya. Saya memang sering (justru) merasa bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bagi sebagian besar orang mungkin terdengar “gampang”.

Karena tak mau terlalu lama terlihat bodoh, dengan sotoy nya sayapun menjawab dengan singkat, padat dan mantap, “Karena buat saya hitam itu netral.”

“Maksudnya?”, tanyanya lagi menyelidik.

Well, ambil contoh misalnya dalam hal berpakaian. Hitam, menurut saya adalah warna yang paling netral. Saya misalnya, hampir selalu memakai celana jeans berwarna hitam. Di samping juga karena nggak punya jeans warna lain, juga karena saya memang suka warna hitam. Ketika memakai jeans hitam, rasanya warna apa saja atasannya buat saya tetep bisa “masuk”. Bisa cocok. Tak lain karena ke-netralan-an jeans hitam saya. Walaupun pada kenyataannya, sebagain besar, atau bahkan hampir hampir semua baju saya pun juga berwarna hitam.”

Jawaban yang cukup panjang dan seolah-olah keluar dari ahli filosofi warna itupun sejenak membuat saya lega.  Nggak nyangka bisa ngomong sepanjang itu. Hihiii. Si pewawancara mengangguk. Entah mengerti, atau (kemungkinan besar) bingung dengan jawaban saya. Hahaa. Entahlah. Saya sendiri merasa, terkadang, menjawab suatu pertanyaan dengan spontan bisa membuat kita sedikit terlihat “kreatif” (baca: ngeles). And I’m so damn good at it! :p

---

Lain cerita satu tema, suatu hari, di masa dahulu kala yang sepertinya sudah cukup lama, adalah hari mencuci baju sedunia. Dan kebetulan hari itu saya memiliki banyak rendaman. *Bedakan rendaman dengan cucian ya!* Cucian adalah rendaman yang akan hampir pasti dicuci, sedangkan rendaman adalah sejumlah pakaian kotor yang dimasukkan kedalam ember berisi air untuk kemudian entah diapakan. Hahaa.

Melihat rendaman yang sepertinya nggak manusiawi, ibu saya, yang notabene orang yang hobi mencuci mungkin merasa gatel juga. Merasa janggal melihat rendaman sebegitu banyaknya tanpa ada tindak lanjut dari si empunya, yaitu: saya. Maka jelas lah yang terjadi kemudian. My mother, the greatest washer-woman in the world, mencuci habis semua rendaman itu. Yang setelah selesai mencuci dan menjemurnya, beliau berkata semi bertanya retoris dalam bahasa Jawa yang saya Indonesia-kan, “Kamu nggak punya baju lain selain hitam, to?”, tanyanya yang ternyata dengan nada sedikit “menyindir”.

Dan ternyata benar saja, setelah saya lihat, amati, dan telaah dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, seabrek jemuran yang membentang di sepanjaang pelataran halaman itu semuanya berwarna hitam. Dari kaos oblong yang entah berapa, kemeja yang cuma satu dua, celana jeans yang sebagian mulai memudar warnanya, hingga kancut yang dari dulu selalu M ukurannya, semuanya serba hitam. And those all were mine! Hahaa.

Lucu juga saya melihatnya. Mungkin karena sebelumnya saya belum pernah nyuci baju saya sendiri sebanyak itu, hingga telat menyadari jika kalau saja semua baju saya kotor bebarengan, dan dicuci kemudian di jemur bersamaan, hasilnya akan menjadi pemandangan serba hitam. Simply unique, I think. Sayang nggak sempat saya abadikan. Hehee.

Demikian saja cerita saya tentang hikayat jemuran. Hahhaa. Sumpah aku yo ra dong iki tulisan opo.

P.S: might be sounds odd, but next to black, my fav color is white.

Dec 12, 2012

Maklum, Saya Orang Jawa

Sebagai seorang anak manusia yang terlahir di desa, tak mengherankan bahwa saya adalah orang yang kampungan. Tumbuh dan besar di desa, wajar jika saya orangnya ndeso. Kampungan dalam banyak hal. Ndeso dalam banyak hal yang lain. Mulai dari penampilan, pembawaan, cara berdandan, cara berjalan, hingga cara berbicara, mudah sekali mengenali betapa ndeso nya saya. Tentu saja tanpa harus menyebutkan juga nama saya yang luar biasa pasarannya di dunia orang Jawa. Singkatnya, saya kampungan luar dalam.

Selain dalam hal penampilan, cara berbicara bisa menjadi contoh paling menonjol. Banyak orang yang bilang bahwa bicara saya sangat Jawa. Medok, orang menyebutnya. Tak hanya ketika menggunakan bahasa nasional tercinta Bahasa Indonesia yang sering membuat yang mendengarnya tertawa geli, bahkan ketika berbicara dalam Bahasa Inggris pun, sebagian bilang (atau mengejek) cara bicara saya dengan menyebutnya English medok. Whatever. Saya tersenyum simpul saja mendengarnya. Anggap saja pujian! :p

Lebih dari itu, ketika berada di daerah lain, katakanlah di luar kota, orang-orang biasanya juga akan dengan mudah menebak bahwa saya orang Jawa. Yang terkadang membuat saya heran. Sebegitu kampungan nya kah saya. Atau di jidat saya ada tulisan tak kasat mata yang terbaca “Jawa” sehingga orang-orang bisa dengan mudah mengenali saya yang Jawa?! Entahlah. 

Look at things from the bright side. 

Saya tidak merasa menjadi Jawa adalah something embarrassing. Walaupun terkadang saya merasa orang Jawa sering dianalogikan, atau bahkan dikonotasikan, dengan kampungan. Saya justru merasa bahwa Jawa adalah ciri khas. Jawa adalah identitas. Identitas saya sebagai bagian dari suatu suku bangsa. Yang mana saya patut (dan memang sudah seharusnya) berbangga karenanya.

Ok. Tulisan ini tidak bermaksud rasis. Hanya mencoba melihat lucunya saja. Jadi ya, santai saja, nggih.

Suwun.

Dec 5, 2012

Just About

"You know what music is? God's little reminder that there's something else besides us in this universe."

Pernahkah Anda membayangkan hidup tanpa musik? Atau bagaimana jadinya kehidupan ini andai saja tak ada yang namanya “musik”? Saya sendiri, jujur saja, pernah. Walaupun, tetap tak bisa membayangkannya. Tak terbayang jika hidup dan kehidupan saya ini tak “dihiasi” dengan musik. Terdengar sedikit berlebihan, mungkin, tapi memang begitulah, anggapan saya. Hidup pasti akan sangat sepi tanpa musik. Hidup pasti akan sangat “hampa” tanpa musik di sekitar kita. Dan kalau boleh sedikit lebih lebay lagi, musik adalah salah satu “karya” tuhan yang saya sungguh bersyukur, ianya ada. Dan saya termasuk dalam golongan makhluk yang bisa menikmatinya.

"Without music, life would be a mistake."

Hidup tanpa musik, tanpa mendengarkan musik, ahh… definitely unimaginable, bagi saya. Jangankan untuk tak pernah mendengarkan musik sama sekali, untuk tidak mendengarkan musik dalam sehari saja, rasanya saya tak sanggup. Karena setiap hari, saya selalu berusaha untuk menikmati musik, as much as possible. Dari bangun tidur hingga tertidur kembali, musik mengiringi. Dimana ada kesempatan, musik selalu berdendang. Saking addict nya sama musik, saya bahkan sering membawa handphone ke kamar mandi, karena ketika mandi pun, saya ingin mandi sambil menikmati musik. Weird? So what!

"Music gets you through days when you think no one understands what you're going through."

Tak jarang, musik menjadi hiburan yang, sedikit banyak, disadari atau tidak, sangat membantu dalam melewati berbagai situasi dan kondisi. Musik menjadi sugesti yang mengiringi dalam menghadapi hidup yang kejam ini. Hahaaa. Minimal, musik dapat menjadi mood booster yang luar biasa manjurnya

Musik juga sering menjadi representasi perasaan. Mewakili perasaan yang kadang tak bisa kita ekspresikan dengan aksi. Tapi bisa dilewati, dilalui, dengan mendengarkan (dan atau ikut menyanyikan) musik (lagu). Karena rasanya, tak ada yang lebih hebat dari musik dalam hal “memahami” perasaan orang, yang mendengarkan.

"People are like music; some speak the truth, others are just noise."

Musik adalah seni. Seni adalah keindahan. Sehingga musik, adalah perwujudan dari keindahan. Yang memang bisa dikatakan indah. Walaupun tak semua orang memandang bahwa musik adalah sesuatu yang indah. Sebagian orang, yang tak suka dengan musik (saya masih tak percaya ada orang yang tak suka mendengarkan musik, tapi nyatanya ada) akan menganggap musik sebagai sesuatu yang berisik. Yang hanya menimbulkan kebisingan, tanpa keindahan, dan pada akhirnya, menganggap musik tak bisa dinikmati. Ahh, betapa tersesatnya mereka. Hehee.

So, since I’m a big fan of music, and I think music is part of my life, just enjoy it.

Nikmati saja. Selagi bisa.

Cheers!

Dec 3, 2012

The Blows of Job #2

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and conviniences, but where he stands at times of challenge and controversy.”

Sekali lagi dalam hidup, saya (kembali) mengalami fase krusial emosional sentimental: nganggur. Jadi pengangguran. Nggak punya kerjaan. Suatu fase yang sebenernya bukan kali pertama saya rasakan. Tapi bisa dibilang yang paling menjemukan. Paling membosankan. Paling melelahkan. Nganggur yang lebih nganggur. Bukan nganggur biasa.

Masa emosional layaknya PMS pada kaum hawa itupun saya jalani, dalam masa-masa yang menurut kalender, hampir tepat dua bulan. Dua bulan! For God’s sake. Dua bulan yang memalukan, kalo mau jujur. Bukan saja malu pada sekitar, above of all, saya malu pada diri sendiri. Hahh. I was so fucked up!

Hidup serasa (selalu) disudutkan kenyataan. Serasa tak mampu untuk melawan. *nyontek lirik lagu*

Di masa-masa macam begitu, meski banyak nggak enaknya, bukan berarti nggak ada manfaatnya. At least, saya bisa bilang: ada hikmahnya. Banyak yang bilang, dan saya sendiri meyakini, bahwa hidup memang nggak akan selalu mudah. Ada kalanya kita di atas, ada kalanya harus di bawah. Life’s as simple as that, I think.

Kalo kita nggak pernah ngerasain susah, mungkin kita nggak akan pernah menghayati gimana nikmatnya bahagia. Kalo kita nggak pernah dapet kesulitan, mungkin kita nggak akan pernah tau rasanya lega bisa menghadapi dan keluar dari kesulitan itu. Dan sebaginya dan sebagainya. Intinya, whatever happens, it happens for a reason.

“Without failure, no one understands the value of success.”

Dua bulan masa “vakum” akhirnya berakhir. Saya mendapat pekerjaan lagi. Alhamdulillah. Honestly, mendapat kerjaan kali ini rasanya jauh lebih menyenangkan. Jauh lebih melegakan. Jauh lebih “membanggakan”. Salah satunya, menurut saya, karena saya tau, saya mengingat, bagaimana perjuangan saya selama dua bulan memperjuangkan sesuatu bernama “pekerjaan”. Bagaimana saya pernah gagal (total) di pekerjaan saya sebelumnya. Saya belajar. Saya mengingat. Saya bersyukur.

Bersyukur bukan hanya karena saya diberi kesempatan untuk mendapat pekerjaan (lagi), lebih dari itu, saya dapat pekerjaan di bidang yang memang saya harapkan, saya inginkan, saya cita-citakan. Kerjaan apa yang lebih menyenangkan daripada kerjaan di bidang yang memang kita suka?!

“Success requires ritual with consistency, goals with passion, and dedication with determination.”

Pekerjaan baru “memaksa” saya hijrah ke ibu kota, Jakarta. Kota yang sebenarnya saya hindari untuk dijadikan tujuan, apalagi dijadikan tujuan mencari pekerjaan. Tapi apa daya, orang “idealis” pun terkadang juga harus “realistis”. Dan sayapun realistis, bahwa itu adalah resiko, konskuensi (sekaligus tantangan) yang dibawa pekerjaan yang sudah saya terima dengan senang hati.

Memulai dengan senang hati, (sejauh ini) menjalani dengan senang hati, dan semoga bisa tetap bersenang hati. Sampai nanti, sampai mati. :p

Insyaallah.

Amin.

Dec 2, 2012

The Blows of Job #1

“Over every high mountain there is a path, ‘though it may not be visible from the valley.”
 
Kalau ada kata-kata “bijak” yang kurang lebih bisa mewakili, mungkin kalimat di atas bisa menjadi salah satu yang saya anggap paling tepat. Kenapa? Mewakili apa?

Begini saja, saya bercerita.

Semenjak terlahir sebagai seorang anak manusia dari seorang ibu yang luar biasa dan seorang bapak yang biasa-biasa saja, saya bukanlah termasuk orang yang pinter, baik pinter secara akademis, maupun non akademis. Bukan. Saya bukan orang pinter. Walaupun kedua orang tua saya telah menyekolahkan saya sampai jenjang tertinggi yang saya kehendaki.

Tentu saja saya nggak perlu repot-repot menunjukkan rapot dan atau ijazah saya hanya untuk meyakinkan anda. Jika sekilas melihat (muka) saya saja, mungkin anda akan dengan sendirinya percaya. Aura orang bodoh rasanya sudah melekat erat pada saya. Percayalah, that’s true! Anda juga nggak perlu tanya kenapa, karena jelas saya juga nggak tau jawabnya. Kan sudah bilang, saya nggak pinter!

Kuliah, bisa jadi contoh paling gampang dan gamblang. Kalo dihitung-hitung dengan hitungan matematika yang sama sekali nggak perlu rumus njlimet, akan didapat hasil bahwa 7 tahun adalah kisaran waktu yang saya “habiskan” untuk menyelesaikan kuliah. Memang, waktu yang relatif abnormal untuk anak kuliahan tingkat strata satu. Tapi tak apalah. Saya bukan hendak membahas betapa nelangsanya masa kuliah saya yang, dengan sebegitu lamanya, harusnya saya sudah S3. Sorry, mom.

Singkat cerita, selesai kuliah, resmi diwisuda dan mendapat gelar (yang sampai kapanpun tak kan pernah saya suka), datanglah kebingungan yang lazim menghampiri para sarjana muda: kerja.

Ya. Mau kerja apa? Kerja di mana?

Pertanyaan yang menghantui selama saya berstatus pencari kerja. Atau job seeker dalam bahasa gahol-nya. Untungnya, saya tak terlalu lama menyandang status prestisius itu, karena puji tuhan, saya mendapat pekerjaan, sekitar satu bulan kemudian. Waktu yang (katanya) relatif cepet untuk ukuran fresh graduate. Walopun buat saya, yang merasakannya, satu bulan itu serasa seperti sebulan. Hehee. Lebay nya, itu adalah sebulan penuh perjuangan yang menjadi sebulan terpanjang selama hidup saya. Sebagai seorang pencari kerja. Karena sebulan itu, saya habiskan dengan rutinitas layaknya pencari kerja pada umumnya. Ke sana kemari mencari lowongan. Tes di sana tes di sini. Interview di sana interview di sini. Dan nyaris selalu begitu setiap hari. Satu bulan yang luar biasa melelahkannya. Bagi saya. Capek lahir batin, saya rasakan.

Dan sekali lagi Alhamdulillah, dalam waktu yang (relatif) cepet, rutinitas itupun berakhir. Kenapa bisa cepet? Tentu saja jawabannya mudah. Saya nggak jaim. Saya mencoba nggak "idealis". Saya cenderung memilih "oportunis". Saya nggak tengsin. Tidak seperti sebagian pencari kerja yang begitu seksama memilih jalan karirnya, saya adalah pencari kerja yang ala kadarnya. Dapet kerja ya syukur, enggak pun juga tak mengapa. Toh kalopun tak kunjung mendapat pekerjaan, saya memang berencana mau menganggur dulu untuk setidaknya satu semester. Sekedar melepas kejenuhan dari dunia perkuliahan yang demi tuhan, sungguh menyengsarakan! :p

 “To achieve something that you have never achieved, you have to be someone you have never been.”

Kembali dipersingkat, nasib mempertemukan saya dengan sebuah pekerjaan yang sama sekali di luar dugaan semua orang. Well, di luar dugaan saya, setidaknya. Bukan hanya nggak disangka nggak dinyana, pekerjaan yang aneh itupun juga serasa digampangkan untuk saya dapatkan. Seolah semua dipermudah. Begitu pikir saya. Waktu itu. Tak mau berburuk sangka pada takdir, dan tanpa bermaksud untuk tidak mensyukuri keadaan, pekerjaan itupun saya ambil. Itung-itung buat pengalaman. Terlebih pengalaman pertama, pasti luar biasa. Harap saya, dalam hati penuh tanda tanya. Sebenernya.

Setelah melalui masa sekilas “perkenalan” dengan perusahaan dan pekerjaan, nasib kembali berbicara lantang diluar perkiraan. Saya dibuang, well, ditempatkan, di salah satu kantor cabang di sebuah kota yang kondang panasnya, Surabaya. Excited di satu sisi, nyengir di sisi yang lain. Ibarat dua sisi mata uang seratus ribuan, mendapat pekerjaan itu rasanya (cukup) menyenangkan. Buat newbie seperti saya, jangankan mendapat kerja kantoran, ibarat jadi office boy pun, mungkin saya akan tetap sama excited-nya. Maklum, pekerjaan pertama. Mungkin sensasinya seperti orang malam pertama. Mungkin loh ya! :p

 “To live a creative life, we must lose our fear of being wrong.”

Tanpa berburuk sangka dengan kerjaan baru, kerjaan pertama, yang benar-benar diluar prediksi dan ekspektasi, hari-hari sebagai seorang yang punya kerjaan pun saya jalani. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Hari-hari sebagai seorang ber-"profesi" saya jalani dengan segenap hati. Tak peduli aral merintang, semuanya saya terjang. Ya, yang ini lebay.

Sebagai seseorang yang baru di suatu bidang, terlebih bidang yang sungguh jauh dari background pendidikan, wajar jika saya merasa sedikit kikuk dalam menjalani pekerjaan yang, jangankan saya yang dari luar, orang yang semenjak kuliahan mempelajarinya saja mungkin juga akan sama mumet nya.

Dengan segala kekurangan dan tiada kelebihan, pekerjaan itupun tetap saya jalani. Dengan suka. Walau terkadang juga ada dukanya. Seperti lagu dangdut jadinya. Hingga tiba suatu masa dimana mungkin hampir semua orang pernah mengalaminya: jenuh. Kejenuhan dini, lebih tepatnya.

Kalo di pelajaran ekonomi ada hukum Gossen (yang kalo nggak salah) menyebutkan “manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya hingga titik kepuasan maksimal”, maka saya merasa sudah sampai pada titik itu. Walaupun saya lebih suka, dan memang begitu kenyataannya, menyebutnya titik jenuh. Jenuh dengan pekerjaan. Jenuh dengan rutinitas. Jenuh dengan sekitar. Walaupun nggak jenuh sama gajiannya. Hahaa.

Setelah pemikiran, perenungan dan pertapaan dengan seksama dan dalam tempo yang seadanya, saya pun memutuskan resign. Keluar. Meninggalkan pekerjaan. Pekerjaan pertama saya. Mungkin rasanya seperti meninggalkan pacar pertama. Mungkin loh ya.
 
Dan begitulah. Pekerjaan pertama yang baru seumur bibit jagung itupun harus diakhiri dengan tidak dramatis, apalagi romantis. Mungkin sedikit miris. Yowis.

To be continued...