Dec 6, 2011

Rubbish #4

Apakah Anda pernah nonton film Before Sunrise? Dan atau sekuelnya Before Sunset? Kalo pernah, sungguh akan sangat membantu dalam memahami tulisan saya kali ini. Kalopun belum, saya juga tak akan memaksa Anda untuk menontonnya. Walopun jika Anda tanya, dengan bangga saya akan melabelinya high recommended.

Selain (500) Days of Summer, kedua film tadi, terutama yang Before Sunrise, adalah romantic film favorit saya. Selain bagus secara cerita dan penceritaannya, film-film tersebut menurut saya juga lebih berani ‘berbeda’. Ya, BERBEDA. Berbeda dengan film-film romantis kebanyakan. Contohnya? Gampang.

Before Sunrise dan Before Sunset misalnya, saya singkat BS saja biar lebih sederhana, mungkin akan terlihat aneh dan cenderung membosankan bagi sebagian besar umat manusia. Karena nyaris sepanjang durasi film hanya berisi dua orang, laki-laki dan perempuan, yang ngobrol dan ngobrol dan ngobrol. Intinya, film itu adalah film ngobrol, (hanya) bercerita tentang dua orang yang ngobrol. Se-simple itu.

Tak seperti lazimnya romantic filmnya Hollywood, BS juga sedikit sekali menyajikan adegan mesra, kalo tak mau dibilang nyaris tak ada. Kecuali adegan ciuman diakhir film yang itupun kemudian perlahan disamarkan. Hahaa.. sungguh, bukan film yang literally romantic.

Dan sekali lagi tak seperti seharusnya film romantis, yang mempertegas betapa berbedanya film ini adalah kenyataan bahwa BS sama sekali tak happy ending. Walopun juga nggak sedih sedih amat. Namun yang jelas, ending film yang pertama (mungkin) memang sengaja dibikin nggantung. Semacam trick jika kelak suatu saat ingin di buat sekuelnya. Dan pada kenyataannya, memang ada film keduanya. Sembilan tahun kemudian.

Dan ini yang jadi unique point nya film ini. Sekuelnya dibuat real-time. Jika jarak antara film pertama dan film kedua adalah sembilan tahun, maka demikian juga di cerita fimnya, yang menceritakan kisah dua orang yang sama, pria dan wanita yang sama, namun dalam situasi dan tempat yang berbeda, sembilan tahun kemudian. Walopun isinya tetep ngobrol juga! Hahaa.. Heran. Sembilan tahun nggak ketemuan, tapi masih doyan ngobrol juga! ;D

Sudah cukup panjang ya?! Padahal baru kata pengantar. Hehee..

Dari film-film yang saya jadikan sample di atas, bagi saya pribadi memberikan beberapa pelajaran. (Saya memang lebih gampang nangkep pelajaran dari film daripada dari dosen). Namun karena tak ingin terkesan sok, saya akan menuliskannya satu saja.

Ngobrol. Ya. Soal ngobrol.

Walaupun nggak cerewet cerewet amat, bahkan cenderung anteng dan kalem, bisa dibilang saya termasuk orang yang suka ngobrol. Hampir dengan siapa saja. Nyaris tentang apa saja. Saking doyannya, saya jadi sering (terkesan) over. Over talking. Over reacting. Dan over over lainnya. Yang tak jarang justru memunculkan kesalahpahaman dipihak lawan bicara. Jangan heran jika melihat saya ujug-ujug menyela obrolan orang. Semacem SKSD. Hahaa.. Jangan kaget juga ketika mendengar saya yang suka ngomong sotoy. Dan sebagainya dan sebagianya.

Mungkin sudah bawaan entah dari mana saya terlahir ke dunia sebagai orang yang, occasionaly, suka banyak bicara. Yang ujung-ujungnya memicu kebiasaaan doyan ngobrol. Saya memang bukan tipe orang yang talk less do more. Saya lebih merasa kalo bisa talk more do more, why not?!

Kembali kedalam konteks film tadi, ngobrol-nya itulah justru yang menurut saya menjadi bagian romantic-nya. Tentu saja berdasar asumsi saya bahwa romantic tak melulu harus dengan adegan mesra, apalagi vulgar. Romantisme dalam film dibangun dengan obrolan-obrolan antara dua orang laki-laki dan perempuan. Tentang apa saja, dan cenderung sekenanya. Dua orang yang sebelumnya asing, perlahan tapi pasti menjadi saling suka, ‘hanya’ karena ngobrol. Strangers become lovers. Hanya dengan ngobrol. Hebat ya?! ;)

Tentu saja tak hanya sekedar ngobrol. Anda, saya, kita, dan atau siapapun tak mungkin bisa doyan ngobrol dengan seseorang yang nggak bisa connect. Yang nggak nyambung. Intinya, kita butuh orang yang, bahkan dalam hal obrolan, bisa sejalan.

Saya pribadi, selalu memberi apresiasi lebih kepada orang-orang yang bisa nyambung dengan saya ketika ngobrol. Tak banyak memang orang-orang itu. Tapi memang nggak gampang menemukan orang-orang demikian. Sahabat sekalipun nggak selalu betah berlama lama ngobrol dengan saya. Di lain sisi, saya bisa ngobrol seharian di kantin dengan adik angkatan satu jurusan yang notabene tak begitu saya kenal, baik secara personal maupun dalam pergaulan. Ironis. Tapi kenyataan memang demikian.

Saya percaya, ngobrol dapat memperpanjang umur. Karena ngobrol adalah salah satu cara berkomunikasi. Salah satu media bersilaturahmi. Maka sekali lagi jangan heran jika kelak, suatu saat, saya menyapa Anda. Dan ketika Anda bertanya kenapa, saya hanya akan bilang “Just making conversation.” ;)

Cheers!