Oct 7, 2011

Undecoded

Pernahkah Anda terlibat salah paham karena pesan Anda disalahartikan?

Kalo Anda pernah, saya SERING. Dan dari semua jenis pesan yang dikenal umat manusia, SMS adalah yang paling sering jadi biang ke-salah paham-an. Setidaknya, bagi saya.

Sebagai salah satu anak manusia yang hidup di jaman telphon genggam, SMS-an adalah salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan dengan telphon genggam. Bahkan mugkin yang paling sering. Mengingat saya tak terlalu suka berbincang via hape, maka SMS menjadi alternatif paling masuk akal untuk berkomunikasi, yang dalam hal ini, dengan berkirim pesan.

Walaupun bukan seorang maniak SMS, tak jarang saya iseng mengirim pesan kepada orang. Entah kepada teman. Kepada temannya teman. Mungkin juga selingkuhannya teman. Bahkan kepada orang yang tak saya kenal. Atau siapapun yang nomornya ada di hape saya. I know it sounds weird!

Tak jarang pula, isi SMS pun hanya sekedar say hi. Atau say jokes. Ato kadang SMS yang bener bener meaningless. Buat saya, nggak terlalu penting isi pesannya, selama hasrat ingin mengirim pesan terlampiaskan.

Entah karena kebodohan, atau saya yang berlebihan, sungguh tak jarang pesan saya disalahartikan. Tentu saja, disalahartikan menurut saya.

Ada yang tak suka karena saya suka SMS ‘tiba-tiba.

Ada yang tak senang karena saya SMS ‘keseringan’.

Atau ada juga yang jadi males karena SMS saya yang meaningless.

Dan sebagianya. Dan lain lainnya.

Itu baru soal ‘teknis’ ber-SMS-an. Jika lebih dalam melihat ke dalam isi pesan yang saya kirimkan, akan semakin banyak macam ke-salah paham-an yang pernah, sedang, dan (saya yakin masih) akan terjadi di kemudian hari.

SMS, sebagai salah satu bentuk pesan tertulis memang relatif lebih multi-tafsir dibanding pesan yang disampaikan secara lisan. Disamping memang karena nggak diucapkan, nggak diverbalkan, pesan tertulis juga terkesan ‘datar’ jika dibandingkan dengan pesan lisan yang bisa lebih di-artikulasi-kan. Walaupun mungkin tak semua beranggapan demikian.

Sebagai seseorang yang cukup intens ‘belajar’ tentang ilmu komunikasi, saya akui, saya adalah komunikator yang buruk, terlebih ketika berkomunikasi via pesan tertulis, khususnya SMS. I guess, I’m the worst communicator on planet earth!

Entahlah. Saya jadi sering merasa bodoh karenanya. Bodoh dan sebal, tepatnya.

Bodoh, karena saya merasa menjadi orang yang sungguh sangat nggak ‘komunikatif’. Dan sebal, karena saya masih saja mengulanginya, dan seolah tak pernah belajar memperbaikinya. Walaupun tak jarang juga saya sebal kepada orang yang menyalah-artikan pesan saya kirimkan.

Ada yang kemudian bilang, “Kalo nggal mau disalahtafsirkan, ya jangan kirim SMS yang multitafsir dong!”

What a damn!

Ini memang masalah penafsiran. Dan masalah penafsiran adalah beda beda tiap orang. Sangat subjektit. Tergantung ‘daya tafsir’ masing-masing orang yang sudah pasti tak seragam.

Walaupun saya mengakui bodoh dalam berkirim pesan, setidaknya saya bisa cukup yakin dengan pesan macam apa yang akan saya kirimkan kepada seseorang. Semacam sudah ‘disesuaikan’. Karena kalo mau sok analitis, sebenarnya kebanyakan pesan yang saya kirimkan hanya ada 3 ‘macam’; Say hi. Say jokes. Dan meaningless.

Maksudnya ingin say hi, tapi sering disangkanya ganjen. Atau mungkin dibilang kurang kerjaan.

Maksudnya ingin becanda, tapi sering dianggap menghina. Karena becandaan saya, belum tentu dianggap bencanda oleh mereka.

Dan ketika SMS saya benar benar meaningless, biasanya kemudian nggak dibales. Mungki sudah kadung males.

Apes!

Hahh! Kadang saya merasa muak dengan semua itu. Muak untuk selalu disalah-artikan. Bosan untuk ke-salahpaham-an tak beralasan. Mungkin itu semau memang kebodohan yang menjadi kelemahan saya. Atau mungkin juga, karena mereka yang terlalu ber-’buruk sangka’.

What-so-ever.

I don’t give a damn!

No comments: