Oct 3, 2011

Timeline-ku Bukan Timeline-mu

Sedikit memplesetkan Jalanku Bukan Jalanmu-nya Andra & The Backbone, rasanya masih cukup nyambung untuk meminjamnya sebagai judul tulisan. Di samping juga karena (saya kira) keduanya memiliki maksud yang sama, hanya konteksnya saja yang berbeda. Maksud untuk menyatakan bahwa, setiap orang memiliki hidupnya sendiri sendiri. Dan dalam menjalani hidupnya, setiap orangpun punya jalannya sendiri sendiri. Begitu kurang lebihnya. Kalo saya tak salah duga.

Lalu apa hubungannya dengan timeline? Tentu jelas. Kita ngomongin Twitter. Karena hampir pasti dan pasti, setiap kali membaca atau mendengar kata timeline, makhluk pertama yang akan terlintas di kepala kita adalah Twitter. Dan itu wajar. Karena keduanya (Twitter-timeline) seolah sudah ditakdirkan soulmate-an tak terpisahkan.

Kembali ‘terinspirasi’ oleh sebuah tulisan diblog yang hari ini sempat saya kunjungi. Tulisan semacam pantun. Atau mungkin bisa juga disebut puisi. Tapi jujur saja, nggak puitis. Tapi saya juga yakin, penulisnya tak bermaksud untuk membuatnya terdengar puitis. Karena bukannya kata kata indah layaknya puisi roman, ‘puisi’ di blog itu lebih terbaca sebagai sebuah kebosanan, atau dalam bahasa yang lebih ekstrim, ke-muak-an penulisnya yang bicara tentang timeline. Timeline yang mungkin banyak dibacanya, yang membuatnya bosan, jengah dan mungkin muak. Muak dengan barisan timeline yang dia ‘cela’ dengan pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”. ;)

Tanpa bermaksud menyanggah, karena jujur saja, saya juga sering merasakan apa yang dirasakan oleh si penulis blog itu, rasanya saya jadi kepikiran, bagaimana misalnya ‘puisi’ nya itu dibaca oleh orang yang secara sadar atau tidak, mengakui atau tidak, adalah orang yang merasa ‘tong kosong’. Hehee..

------>

Seperti juga halnya dalam hidup di dunia nyata, hidup di dunia mayapun (dalam hal ini ber-Twitter), setiap orang (user) juga memiliki caranya sendiri sendiri. Mungkin itulah salah satu biang kenapa jejaring sosial seperti Twitter bisa sangat mewabah dikalangan bangsa manusia. Twitter bisa jadi tempat yang relatif sangat bebas tekanan, bebas kepentingan, selain kepentingan si user itu sendiri. Atau dengan kata lain, di Twitter orang bisa sesukanya. Orang bebas ‘ngomong’, bebas ‘teriak’, bebas curhat, bebas berbagi dan atau mencari informasi, bebas galau ;), dan bebas-bebas yang lainnya. Maka jangan heran, jika melihat timeline orang, rasanya kita bisa sedikit (sok) menilai, orang macam apa yang menulisnya.


You Are What You Tweet

Meminjam ‘konsep’ psikologi You Are What You Think, rasanya tak terlalu salah bila saya sedikit ‘memaksa’ untuk memakainya dalam konteks tulisan ini. Walaupun tentu saja, juga tak sepenuhnya benar, kata kata tersebut rasanya cukup relevan untuk menggambarkan bagaimana Twitter bisa begitu sangat fenomenalnya. Twitter yang telah menjadi ‘dunia lain’ bagi sejumlah (besar) orang, nyatanya telah banyak memberi banyak efek kepada para usernya. Baik yang secara ikhlas menyadari dan mengakuinya, maupun yang keukeuh bilang biasa saja. Apapun itu, sedikit banyak, besar kecil, disadari atau tidak, makhluk bernama Twitter telah ‘menjangkit’ ke sejumlah kalangan umat manusia.

Seperti tak cukup hanya di dunia maya, Twitter, seperti juga kebanyakan jejaring sosial, nyatanya juga berpengaruh pada kehidupan dunia nyata para ‘aktivis’ nya. Anda yang mungkin juga user Twitter, apalagi yang sudah berlabel addict, pasti tak akan menyangkal, bahwa dalam keseharian anda Twitter memberi pengaruh yang mungkin sudah dapat dikatakan dalam taraf signifikan. Macamnya bisa beragam. Dan tak mungkin semuanya saya sebutkan. Karena pasti kebanyakan. Intinya, Twitter telah menjadi semacam media baru untuk ‘melampiaskan’ segala macam perasaan yang mungkin tak sempat, tak bisa, atau karena satu dan lain alasan, tak mungkin anda ekspresikan di kehidupan nyata. Curhatan. Pujian. Kritikan. Makian. Umpatan. Atau mungkin kegalauan. Dan entah apalagi terserah Anda.

Twitter, yang ditampilkan di timeline nya, seolah telah menjadi tempat paling nyaman, dan yang pasti paling memungkinkan bagi seseorang mencari ‘pelampiasan’. Bahkan tak jarang, seseorang justru lebih ‘terbuka’, lebih speakable ketika ‘ngomong’ nya di Twitter.

Yang terjadi kemudian, banyak user Twitter yang secara tak sadar kebablasan dalam pelampiasan. Kebablasan pun dapat ditafsirkan beragam. Namun dengan bahasa sederhana, kebablasan dapat diartikan berlebihan. Berlebihan dalam mengekspresikan perasaan lewat media Twitter. Yang pada gilirannya, mungkin justru membuat muak (atau malah ilfil) orang yang membacanya.

Mungkin ianya akan berkilah, "Ya terserah gue. Timeline, timeline gue!"

Hahaa. Ampun juga deh kalo nemu orang seperti itu. Tapi saya yakin, ada yang akan menjawab begitu. Benar, itu adalah timeline nya. Itu adalah 'dunia' nya. Tapi seperti juga semua dunia, kita tak mungkin sendirian meninggalinya. Jika kita saja tak bisa hidup seorang diri di dunia ini, apalah lagi di Twitter, yang jelas jelas berlabel jejaring SOSIAL. Yang artinya, dan memang begitu adanya, adalah untuk bersosialisasi. Untuk 'bermasyarakat' di dunia maya. Dan sebagai warga masyarakat dunia maya yang baik, sudah seharusnya kita tak melulu egois narsis dengan tidak mempedulikan anggota masyarakat yang lain, yang dalam kasus Twitter, bisa jadi adalah para follower kita.

Sebebas apapun Twitter, seperti juga semua hal dalam hidup, nggak ada yang namanya kebebasan absolute. Kebebasan paling bebaspun pada dasarnya punya batasan. Hanya terkadang, kita tak menyadari kalo batasan itu ada. Dan seperti yang telah diterima semua manusia, adalah bukan sesuatu yang baik segala sesuatu yang melampaui batas.

Terakhir, bijaklah ber-Twitter! ;)

No comments: