Oct 5, 2011

Ibumu, Ibuku Juga

Ini sebuah cerita tentang Taman (ke)Kanak-kanak(an).

Jujur saja, saya cukup excited nulis tentang taman kanak-kanak, atau biar lebih singkat, saya sebut TK saja. Bukan kenapa kenapa, hanya saja, dari semua jenjang pendidikan yang pernah saya rasakan, TK adalah jenjang di mana saya MERASA paling pinter. Tapi bukan berarti setelah TK saya nggak pinter. Mungkin tetep pinter, hanya saja tak sepinter ketika TK. *keukeuh* ;)

Masa-masa di TK, bisa dibilang, adalah masa-masa dimana anak-anak manusia yang masih 'baru' menemukan ‘dunia’ baru. Kehidupan baru. Di TK, kita hidup di kehidupan yang baru. Menemui teman-teman baru. Bahkan bermain dengan (per)mainan baru. Semuanya terasa serba baru. Karena masa-masa TK memang demikian adanya.

Ke-baru-an ini, bisa jadi serigala berbulu domba. Ehh, bukan dink.. Apa ya peribahasanya?? Mmm.. Oiya. Ke-baru-an ini, bisa jadi pisau bermata dua. Untuk anak-anak yang pemalu, tentu saja akan semakin merasa malu, menemui lingkungan dan atau orang-orang baru. Sedangkan untuk anak-anak yang tak tau malu dan atau malu-maluin, segala yang serba baru justru adalah ‘mainan’ baru. Semacam tantangan baru, untuk anak-anak yang memang sedang dalam masa-masa gampang terpesona oleh berbagai hal yang belum pernah dilihat atau ditemui sebelumnya.

Dari dua golongan manusia di TK tersebut, mungkin Anda sudah bisa menduga saya termasuk yang mana. Yap. Benar sekali. Saya nggak termasuk dua-duanya. Karena kayaknya saya terlalu berisik untuk dibilang pemalu. Tapi juga terlalu ‘lugu’ untuk dibilang tak tau malu! ;D

Karena sedari kecil saya tinggal di kampung, teman-teman sekelas tentu saja adalah anak-anak tetangga sekampung. Walopun ada juga beberapa yang dari kampung tetangga. Dan karena kebanyakan adalah teman-teman sekampung, yang dekat atau tidak, cukup saya kenal, saya dan teman-teman jadi sedikit lebih ‘mendominasi’. Mungkin semacam nge-gank, kalo istilah anak sekolahan jaman sekarang.

Layaknya kaum borjuis di tengah masyarakat kapitalis, saya dan teman teman satu ‘gank’ jadi terlihat lebih ‘menonjol’. Jadi yang paling rame ketika di kelas. Jadi yang paling mengganggu ketika ‘belajar’. Jadi yang sering ‘menang’ ketika rebutan mainan. Atau jadi yang paling sering dijewer karena paling sering bikin temannya nangis.

Bandel. Tapi lucu. Begitulah kami (terutama SAYA), waktu TK. Walaupun sekarang juga tetep sama. Terutama bagian LUCUnya! Hahaa.

---------

Rasanya nggak afdhol kalo ngomongin taman kanak-kanak tapi nggak ngomongin ibu guru. (Ehh, di TK ada pak guru nggak, sih?)

Ibu guru saya semasa TK, Bu Padmi namanya. Sebut saja begitu. Karena namanya memang itu. Sejak dahulu kala masih anak TK sampai sekarang (masih) mahasiswa, Bu Padmi adalah guru favorit saya. Kenapa? Nggak tau juga. Tapi rasanya cuma ibu guru di TK yang bisa mengerti saya. Dengan segala ‘pengertian’-nya.

Tanpa bermaksud sok narsis atau pengen eksis, seperti juga halnya beliau yang adalah guru favorit saya, sayapun bisa dibilang adalah (salah satu) murid favoritnya. Kalau tak mau dibilang murid KESAYANGAN. Hehee. Saya juga tak tau, beliaunya ‘sayang’ kepada saya karena sayanya yang ‘lucu’, atau sayang karena kasihan karena sayanya yang terlalu ‘lugu’. Entahlah.

Seperti seorang pria sedang jatuh cinta yang suka mencari perhatian dari wanita pujaannya, waktu itupun saya seperti anak TK tidak sedang jatuh cinta yang suka mencari-cari perhatian dari ibu gurunya. Ketika ibu guru memanggil untuk melakukan sesuatu, dan anak-anak lain malu-malu, saya yang duluan maju. Ketika menggambar, saya yang pertama kelar. Ketika mewarnai, saya yang paling ‘berani’. Memberi matahari warna hitam legam. Atau ketika menyanyi, adalah suara saya yang merdu yang paling merusak lagu. Hahaa.. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Dan entah karena saking charming-nya saya, atau ibu guru yang cuma pura-pura terpesona, rasanya saya selalu berhasil mencuri perhatian ibu guru, yang karena dulu saya masih TK, saya belum bisa bilang cantik atau tidaknya. Yang jelas, ibu guru selalu terlihat ‘cantik’ di mata saya dengan segala ‘pengertian’ nya selama saya jadi anak didiknya di TK. Hingga suatu waktu, dengan nada becanda ibu guru pernah berkata, “Suk yen gede dadi mantune ibu guru yo, Dar.” Atau kalo dalam bahasa endonesanya, “Nanti kalo sudah besar, jadi menantu ibu guru ya, Dar.” –> Dar = Darmadi. Nama saya! ;)

Layaknya anak manusia yang baru melepas status balita, tentu saja saya nggak ngerti apa maksudnya. Kalo saja beliaunya nanya sekarang, saya pasti mengiyakan! Hahaa.. (Bu Padmi punya anak perempuan seumuran saya yang hingga sekarang tak pernah saya lihat atau temui orangnya.)

Suatu waktu, beberapa tahun yang lalu, di sebuah acara teman saya, tanpa disengaja tanpa diduga, saya bertemu lagi dengan Bu Padmi. Hebatnya, beliau lah yang duluan mengenali dan kemudian menyapa saya. Mungkin karena dari dulu anak TK sampai sekarang (nyaris) tua bangka, muka saya masih sama ‘lucu’ nya. Hehee.. Nggak boleh protes! ;)

Makin kagumlah saya dengan ibu guru yang satu itu. Rasanya sudah hampir dua dasawarsa tak berjumpa, nyatanya beliau masih dengan mudahnya mengenali saya, anak didiknya semasa TK. Tak salah rasanya bila saya katakan, semasa di TK, ibu guru adalah ‘ibu kedua’ setelah ibu kandung saya. Beliaulah yang menjalankan peran ke-ibu-an dengan segala suka dukanya selama saya asik bermain menikmati indahnya masa-masa menjadi anak TK.

Ahh.. Sekarang saya hanya bisa bilang..

Terima kasih, Bu Padmi. Terima kasih, ibu guru saya semasa TK. Terima kasih untuk perlakuan, pengertian, kesabaran, kasih sayang, dan segala hal tak tersebutkan yang pernah Engkau berikan kepada saya semasa jadi anak didikmu di TK.

Terakhir, untuk ibu guru ibu guru TK di mana saja, saya do’akan Anda semua masuk surga.


P.S. : Buat anak perempuan Bu Padmi yang (sayangnya) saya juga tak tau namanya, terima kasih untukmu juga. Walaupun saya tak beneran jadi menantu ibumu, atau dengan kata lain nggak beneran jadi suamimu, tapi saya sangat bersyukur pernah diberi kesempatan memanggil ‘ibu guru’ kepada ibumu. Terima kasih untuk semuanya. Dan kalau boleh saya berkata sejujurnya, ibumu (kuanggap seperti) ibuku juga. Nuwun.

No comments: