Oct 4, 2011

#ddp

Menyapa Mahasiswa Tua

Menjadi mahasiswa tingkat akhir, atau juga biasanya dibilang ‘mahasiswa tua’, rasanya memang serba dilema. Setidaknya begitu menurut saya. Di satu sisi, saya merasa ‘tertekan’ secara batin karena sudah jarang menjumpai teman-teman seangkatan ketika mengikuti kuliah, yang karena berkah Tuhan, banyak yang harus saya ulang. Namun di sisi yang lain, saya juga merasa lebih ‘bebas’, karena entah mengapa saya justru merasa lebih nyaman berkeliaran di kampus ketika tak ada teman-teman seangkatan. Rasanya lebih menjadi diri sendiri, tanpa harus terbawa ‘arus’ pergaulan.

Sejak pertama manjajakan kaki di universitas, saya memang bukan tipikal mahasiswa yang senang bergaul. Bahkan secara umum, saya termasuk orang yang relatif ‘pemalu’ dalam pergaulan. Walaupun ‘pemalu’ dalam anggapan saya belum tentu seperti pemalu dalam anggapan orang lain. Yang jelas, saya kadang merasa sulit berbaur dengan orang-orang yang memang saya anggap, saya tak terlalu ingin menjadi bagian dari mereka.

Setelah menjadi kaum minoritas sebagai mahasiswa tua yang semakin langka, saya justru bisa lebih menikmati masa-masa menjadi mahasiswa. Karena seperti yang saya bilang, saya merasa lebih ‘bebas’. Berbagai ‘tekanan’ yang sebelumnya saya rasakan, rasanya sedikit demi sedikit ikut berkurang. Kurang lebih begitulah yang saya rasakan.

Menjadi mahasiswa tua, disadari atau tidak, juga ikut mempengaruhi bagaimana saya bersikap setiap harinya kepada orang-orang atau lingkungan sekitar. Seperti sebagian yang lain, saya juga sudah bosan ditanya, “Kapan lulusnya?”. Saking bosannya hingga males juga menjawabnya. Bahkan rasanya tak tau harus menjawab apa ketika dengan maksud sok ramah orang bertanya, “Kuliah semester berapa?”. Ahh, rasanya pengen.. Entahlah. Haruskah saya tulis di dahi, saya semester berapa?! Atau kira-kira kapan lulusnya?! Tobat!

Ketika ‘kebetulan’ bertemu dengan teman-teman seangkatanpun, rasanya kami punya ‘sapaan’ istimewa. Sapaan khusus mahasiswa tua. Bukan “Hai”, ataupun “Apa kabar”. Mahasiswa tua seperti saya lebih sering menyapa dengan berkata,”Kapan wisuda?”. Atau setidaknya, “Sudah bab berapa?”. Pertanyaan yang sekilas sederhana, tapi sungguh 'berat' menjawabnya. Setidaknya, untuk saya.

No comments: