Mungkin akan terdengar aneh juga buat orang lain, menyebut nama sendiri kok nggak suka. Tapi percayalah, saya akan setuju bila Anda berpedapat begitu. Saya memang terkadang (merasa) aneh terhadap berbagai hal, tak terkecuali pada diri saya sendiri. Entah cuma perasaan saya saja, atau saya memang aneh adanya.
Kalo mau jujur, mungkin banyak hal yang membuat saya nggak suka menyebut nama saya sendiri. Tapi karena alasan ambiguitas dan memang nggak jelas persisnya harus seperti apa menjelaskannya, saya hanya akan menyebutkan beberapa yang saya rasa bisa saya pertanggung-jawabkan kebenaran faktualnya! ;)
Banyak yang bilang, atau memang nyatanya demikian, nama adalah do’a. Do’a untuk si anak yang diberikan oleh orang tua. Atau siapapun yang ngasih nama. Dan sayapun tak akan menyangkalnya. Karena memang, katanya, nama saya juga adalah sebuah do’a. Do’a dalam bahasa Sansakerta yang saya nggak terlalu ngerti artinya jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Atau memang nggak ada artinya. Entahlah. Tapi ya sudah, toh saya nggak terlalu memikirkan arti nama saya sendiri. Buat apa pusing memikirkan arti nama yang saya sendiri tak suka. Begitu mungkin apatisnya.
Selain saya anggap meaningless, nama saya juga bukan nama yang bagus untuk diucapkan. Bukan nama yang akan terdengar menarik bila diverbalkan. Walaupun saya nggak akan bilang jelek juga. Selain karena memang terdengar sangat Jawa, sangat kampung, sangat ndeso, atau apalah, nama saya secara hukum universal orang Jawa adalah nama yang sangat umum atau sudah lazim digunakan orang lain. Nama pasaran, kalo orang bilang. Atau dengan kata lain, nama saya adalah nama yang sangat nggak unik, nggak eksklusif, bahkan cenderung nggak kreatif. Yah, menjelek-jelekkan diri sendiri adalah salah satu hobi saya.
Lebih dari itu semua, dan mungkin ini alasan yang paling masuk akal, tapi juga sekaligus yang paling absurd, saya selalu merasa nggak nyaman setiap kali menyebut nama sendiri. Saya bahkan merasa nggak nyaman ketika nama saya disebut, oleh siapapun. Yang lebih ekstrim, saya bahkan merasa nggak nyaman ketika dipanggil dengan nama yang sebenarnya. Aneh ya?! Saya bilang juga apa! ;D
Tapi Tuhan memang Maha Segalanya. Dia tau saya tak suka dan atau tak nyaman dipanggil dengan nama pemberian ‘orang tua’ saya. Maka Dia beri saya nama yang lain. Ya, saya punya nama lain. Nama alias. Atau dalam istilah yang lebih gampang, nama panggilan. Walaupun saya nggak akan menyebutnya nama samaran. Kesannya saya hendak menyembunyikan kenyataan. Dalam hal ini, menyembunyikan nama saya yang sebenarnya. Walaupun terkadang, sengaja tak sengaja, saya sering berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu mem-publish nama saya yang, ahh.. Nama yang nggak banget lah pokoknya!
Sekali lagi saya tak tau, atau mungkin juga lupa, bagaimana persisnya kronologi legenda asal usul nama panggilan saya. Yang saya ingat adalah bahwa saya mulai dipanggil dengan nama panggilan iu semenjak masih di bangku SMP. Persisnya kapan, terlebih siapa yang pertama memanggil saya dengan nama panggilan itu, sungguh, hanya Tuhan yang tau.
Dan jujur saja, saya lebih suka nama panggilan itu. Lebih dari itu, saya merasa lebih nyaman dipanggil demikian. Karena buat saya, apalah arti bagusnya nama tapi kitanya nggak suka. Apa gunanya nama yang menawan kalo justru membuat kita nggak nyaman. Dan sungguh, saya bersyukur Tuhan memberi saya nama panggilan itu. Lewat perantara teman teman SMP saya.
Karena lebih seringnya dipanggil dengan nama panggilan, adalah yang kemudian menjadi alasan lain, saya semakin nggak ‘terbiasa’ dengan nama saya yang sebenarnya. Membuat saya merasa makin asing dengan nama saya yang sebenarnya. Itulah mengapa tiap kali berkenalan dengan orang, saya lebih senang mengenalkan diri dengan nama panggilan. Tanpa bermaksud mengelak dari kenyataan.
Bahkan kalo mau menelisik, kebanyakan kawan saya justru nggak tau nama saya yang sebenarnya. Kecuali, tentu saja, kawan kawan yang memang sudah lama ce-esan, dan atau sudah sering atau lama mengenal dan bergaul dengan saya. Tapi tak apa. Bagaimanapun, soal nama bukanlah perkara yang luar biasa buat saya. Bukan suatu permasalahan yang harus terlalu njlimet dipikirkan. Hidup (saya) sudah cukup ruwet tanpa memikirkan perkara nama.
Sampaikan Maafku Pada Ibumu
Lain cerita satu tema, ini adalah sebuah cerita tentang betapa ‘males’ nya saya menyebut nama saya sendiri. Dan percayalah, ini nyata terjadi. A number of years a go.
Ketika masa awal merasakan menjadi anak SMA, saya merasa seperti terdampar di dunia baru. Dunia yang belum pernah saya temui sebelumnya. Tak hanya ‘baru’ secara fisik, tapi juga baru secara emosional. Maklumlah, dari masa SMP yang masih cupu, culun, dan canggung, kemudian menjadi remaja SMA yang bersekolah dengan bercelana panjang saban harinya. Mungkin semacam culture shock dalam skala remaja.
Bertemu dengan orang orang yang benar benar baru, adalah salah satu ‘dunia baru’ yang saya maksud. Di SMA itulah saya bertemu dengan jenis-jenis manusia yang sebelumnya saya tak pernah mengira bahwa mereka ada, yang kemudian menjadi kawan-kawan saya, hingga sekarang. Dan mungkin hingga nanti maut memisahkan. Halahh!
Singkat kata, seperti kebanyakan anak kampung yang mendadak bertemu dengan banyak orang baru, adalah seorang gadis, lumayan manis, yang dalam sekejap menarik perhatian. Walaupun sebenernya, pada saat itu banyak sekali yang menarik perhatian saya. Hahaa.. Tapi dengan alasan biar nggak dianggep sodaranya buaya, saya akan cerita (salah) satu saja.
Seorang gadis yang, beuuhh.. Pokoknya sayang kalo nggak kenalan sama dia. Tapi seperti layaknya penyakit kronis yang saya tak tau obatnya, saya selalu saja speechless tiap kali hendak menyapanya. Tau sendiri lah ya, deg degan, grogi, atau karena memang dulu dasarnya saya anaknya pemalu. Sekarang juga masih, sih! Hahahaaa..
Sekali lagi Tuhan baik pada saya. Si do’i ternyata sudah berteman dekat dengan salah satu teman saya semasa SMP. Saya dan dia jadi punya mutual friend, kalo bahasa Facebook-nya. Sayapun tak menunggu lama untuk mengajak teman saya itu. Ngajak ngapain? Tentu saja ngajak dia untuk menemani saya ke rumah si cewek. Hehee..
Singkat kata, pada suatu hari, sepulang sekolah, dengan seragam sekolah yang masih nempel lengkap di badan, dengan pede nya saya dan teman saya meluncur menuju rumah si cewek. Sesampainya di TKP, teman saya ternyata lebih kadal. Dianya nggak mau ikutan. Dengan kata lain, saya sendirian, dan dianya nungu di luar pager. Ahh.. biar nggak disangka cemen, saya langkahkan kaki ke rumah yang dalam hati saya bilang, “Mungkinkah ini rumah yang akan sering saya kunjungi?!” Hihihihi.. *ngarep*
Setelah beberapa kali berteriak “Permisi”, akhirnya keluarlah seorang ibu dari pintu yang sedari tadi tak terkunci.
“Siang, Bu.”, sapa saya mengawali drama.
“Siang. Nyari siapa ya?”, tanya ibu menyambung drama.
“Si A nya ada, Bu?, tanya saya. (Dengan alasan etis, namanya saya samarkan saja yak! Hee..)
“Ohh, ada. Sebentar saya panggilkan. Ini siapa, ya?”
JLEEBBB.
Begitulah kurang lebih perasaan saya ketika sang ibu bertanya nama saya. Drama seperti mencapai klimaksnya. Sungguh demi Tuhan, saya bingung harus menjawab apa. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya, saya sangat tak suka menyebut nama.
“Ahh, bodoh sekali. Plis deh, ini kan demi si cewek. Masa bilang nama saja nggak bisa.”, begitu kira kira pikir saya dalam kepala.
Namun nafsu ternyata tak lebih kuat dari ‘idealisme’. Sayapun keukeuh nggak bisa (atau nggak mau) melafalkan nama saya kepada sang ibu yang sedari tadi nunggu jawaban, siapa nama saya.
Karena merasa tak enak kepada si ibu yang sedari tadi menunggu, sesaat kemudian terjadilah tindakan yang selamanya saya ‘sesalkan’.
“Ini bu, nama saya”, jawab saya, sembari menunjuk nametag yang nempel di seragam sekolah saya. Duarrr! Sang ibupun sejenak terdiam. Mungkin takjub, kok ada anak yang begitu tak tau dirinya seperti saya. Hahahaaa..
Seperti komunikasi yang irreversible, saya sungguh berharap tak pernah melakukannya. Namun apa daya beras kadung jadi nasi. Mau mengulang waktu juga tak mungkin lagi. Sayapun hanya bisa pasrah menunggu ‘vonis’ sang ibu, bahwa hampir pasti saya tak akan ‘direstui’ dengan anaknya. Hahaaa..
Pasrah. Menyerah. Malu. Dan entah apalagi yang harusnya saya rasakan saat itu, saya tak tau. Saya hanya bisa menyesali dalam hati.
Karena tak mau memperpanjang drama yang kayaknya nggak akan berakhir bahagia, akhirnya saya memutuskan untuk mengakhirinya. Ketika sang ibu masuk untuk memanggil anak perempuannya, dalam sekali kedipan mata, sayapun kabur. Pergi tanpa jejak. Dan tentu saja, tanpa pamit. Hal paling masuk akal yang bisa saya pikirkan saat itu. Dan yang kemudian jadi penyesalan kedua saya hari itu. Seperti belum cukup malu dengan kebodohan pertama, saya lengkapi dengan ke-tidak sopanan- kedua. What a foolish!
Esok harinya, dengan muka pemalu, dan bermodal perbuatan memalukan hari sebelumnya, saya beranikan diri menemui si A. Ketika hendak menghampirinya, dari kejauhan dia sudah tersenyum melihat saya, tanpa saya tau apa sebab dan atau maksudnya. Dan ketika saya sudah di hadapannya, pecahlah tawanya, yang kalo saja di kesempatan dan suasana yang berbeda, pasti akan membuat saya terpesona.
“Kamu kemarin kerumahku ya? Katanya kamu ketemu ibuku, terus pas ibuku nanya namamu, kamunya malah nunjukin nametag?!”, tanyanya, seolah saya nggak tau apa yang saya lakukan kemarin.
Sejenak sayapun terdiam. Bingung. Dan tentu, masih malu. Itu adalah benar benar pertama kalinya dia berbicara kepada saya. Yang namanya pertama, harusnya sapaan dan atau basa basi berkenalan yang kami bicarakan. Tapi nyatanya tidak demikian. ‘Salam perkenalan’ saya dengannya memang sedikit berbeda dari kebanyakan manusia. Dengan nada layaknya terdakwa memohon pangampunan dosa, sayapun hanya berucap singkat, “Sampaikan maafku pada ibumu.”
2 comments:
aneh ya lo.. masak nyebut nama aja ga mau? :))) -@elnaa_
namanya nggak easy listening sih! ;D
Post a Comment