Oct 30, 2011

Sensus Pajak Nasional

Baru-baru ini Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sedang menggalakkan program Sensus Pajak Nasional (SPN) yang dimulai sejak 29 September 2011 lalu. Sensus Pajak Nasional (SPN) adalah kegiatan pengumpulan data perpajakan oleh DJP dengan cara mendatangi subjek pajak baik perseorangan maupun organisasi/badan usaha di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan informasi, sensus ini akan dilaksanakan hingga tahun 2013 nanti.[1] Tentang bagaimana pelaksanaan sensus, Ditjen Pajak bisa belajar banyak dari program sensus penduduk nasional. Keberhasilan program sensus penduduk nasional tidak lepas dari kampanye yang dilakukan secara luas dan terencana. Kampanye arti pentingnya pajak bagi kehidupan berbangsa akan mendorong kesadaran masyarakat yang berakibat kepada kepatuhan suka rela. Dengan kata lain, untuk mengatasi respons kurang baik dari para responden, selain teknik komunikasi yang baik dari petugas SPN, juga diperlukan dukungan semua pihak terkait untuk mensukseskan kampanye nasional SPN ini.[2]

Salah satu strategi kampanye SPN yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah melalui surat kabar, yang diantaranya adalah KOMPAS.[3] Ada beberapa hal yang bisa dicermati dari ‘iklan’ kampanye ini. Setidaknya menurut pengamatan singkat saya. Pertama, tampilan yag sangat tidak menarik perhatian, bahkan terkesan tidak mencoba ‘mencuri’ perhatian pembaca dengan tampilannya yang, masyallah, hitam putih. Saya bahkan merasa beruntung masih bisa menemukan iklan kampanye tersebut setelah beberapa kali membolak-balik halaman koran tersebut. Sangat disayangkan untuk mengkampanyekan program sebesar sensus pajak. Terlebih dengan embel-embel nasional. Apalagi jika mengingat program ini diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, yang secara stigma kebanyakan orang, dianggap sebagai salah satu institusi yang banyak uang. Walaupun saya sendiri juga tak tahu kebenaran faktualnya. Kedua, dalam tampilannya, iklan kampanye tersebut terkesan terlalu minimalis. Minimalis sih bagus, tapi terlalu minimalis, tunggu dulu. Minimalis itu bagus selama dengan minimalisnya itu sudah merepresentasikan ‘misi’ kampanye. Namun di sini, minimalis dalam artian yang benar-benar minim, yang salah satunya adalah minim informasi, semisal kapan sensus itu dilaksanakan. Pembaca masih memerlukan usaha ganda untuk mencari tahu apa, bagaimana atau kapan kampanye itu dilaksanakan. Biaya iklan mungkin jadi pertimbangan minimalis-nya kampanye SPN ini. Namun ketika kita melihat bahwa pajak adalah salah satu persoalan besar dan krusial di negeri ini, ada baiknya jika mengkampanyekan program-program yang terkait dengan pajak dijalankan dengan lebih niat. Agar tidak semakin membingungkan masyarakat yang hanya ingin menjadi warga bijak yang taat pajak.

Demikian dan terima kasih.



[1] Diunduh dari http://hadi-7.blogspot.com/2011/10/sensus-pajak-nasional-2011.html diakses 30 Oktober 2011 7:40 WIB

[3] KOMPAS. Edisi 25 Oktober 2011 hal. 18.

Oct 22, 2011

The Great Dictator: Parodi Nazi, Cerita Humor Seorang Diktator

This is the story of the period between two world wars. An interim during which insanity cut loose, liberty took a nose dive, and humanity was kicked around somewhat.

Begitulah opening yang singkat namun cukup ‘tajam’ menggambarkan seperti apa film hebat yang satu ini, The Great Dictator. Film yang rilis pada 15 Oktober 1940 ini ditulis, diproduseri dan disutradarai oleh Charles Chaplin, yang sekaligus juga menjadi aktor utamanya. Sebagai satu-satunya film-maker Hollywood yang sukses membuat film bisu bahkan hingga di era film ‘bicara’[1], The Great Dictator merupakan film ‘bicara’ pertama Charles Chaplin, yang sekaligus merupakan filmnya yang paling sukses secara komersil, walaupun secara kritis, film ini tak kalah suksesnya dengan menuai banyak pujian dan penghargaan, termasuk 5 nominasi Oscar.[2]

Meskipun berlabel film komedi, film ini tak begitu saja hanya menyajikan kelucuan sang maestro, Charles Chaplin, namun juga bagaimana dengan hebatnya memuat satir tentang situasi kala itu, masa (diantara) perang dunia. The Great Dictator adalah film pertama di masa itu yang berani dengan tajam menyindir Adolf Hitler dan Nazi-nya dengan mengibaratkannya seperti manusia-manusia mesin, dengan pikiran dan hati mesin, "machine men, with machine minds and machine hearts".

Pertama kali menonton film ini, saya seperti melihat sisi lain dari seorang Charles Chaplin. Ya, di film inilah pertama kalinya saya mendengar suara Charles Chaplin bicara, karena seperti yang disebutkan diawal, ini adalah film ‘bicara’ pertamannya. Dibeberapa menit pertama film, kita seolah tidak bisa menolak untuk tertawa melihat kelucuan (dan kekonyolan) khas seorang Charles Chaplin. Di beberapa menit pertama itu pula, saya menduga bahwa film ini adalah seperti beberapa film (pendek) Charles Chaplin yang pernah saya tonton sebelumnya semisal The Rink (1916) ataupun The Cure (1917), akan selalu memancing tawa. Namun semakin lama, film ini semakin ‘serius’ bercerita, walaupun tetap dangan gaya ringan dan humoris. Untuk ukuran film bertema ‘berat’, bisa dibilang menonton film ini sangat menyenangkan dan tidak membosankan, karena walaupun menceritakan background yang serius, namun dikemas dengan adegan-adegan yang sangat sederhana dengan bumbuan humor, namun tetap sarat makna.

Berbicara tentang kehebatan film ini secara cerita dan penceritaannya, tentu tak bisa lepas dari sang sutradara sekaligus aktor utama, Charles Chaplin. Jika sebelumnya lebih sering melihatnya berakting lucu (kadang konyol) dengan kostum khasnya yang biasa disebut Little Tramp itu, di film ini disajikan bagaimana Charles Chaplin memerankan dua karakter yang secara eksplisit sangat berbeda. Dan seperti tanpa cela, dua karakter beda dunia itupun bisa dibawakan dengan sangat apik oleh Charles Chaplin. Saya bahkan tak bisa menahan tawa (sekaligus takjub) ketika adegan Charles Chaplin yang memerankan karakter Adolf Hitler, sedang berpidato. Terlepas dari kebenaran secara tata bahasa yang saya sendiri juga kurang tahu, gaya dan aksen Jerman-nya sungguh meyakinkan, mengingat Charles Chaplin adalah orang Inggris yang tentu sangat kental dengan aksen British English-nya. Terlebih jika kita membandingkan antara dua adegan pidatonya di film itu, ketika di awal film dia berpidato sebagai Adolf Hitler dan di akhir film ketika ia berpidato sebagai warga biasa yang ‘disangka’ Adolf Hitler. Dengan pembawaan yang meyakinkan, dua karakter berbeda itu berhasil dimainkan dengan baik oleh Charles Chaplin.

Hal menarik lain dari film ini adalah tentang ‘kemiripan’ antara Charles Chaplin dengan salah satu karakter yang dimainkannya (atau lebih tepatnya, diparodikannya), Adolf Hitler. Faktor ‘kemiripan’ itu pula yang dianggap sebagai salah satu alasan kuat Charles Chaplin membuat The Great Dictator. Secara penampilan, Chaplin dan Hitler memiliki kemiripan, terutama kumis keduanya yang sangat khas. Keduanya juga lahir di hari yang berdekatan, dimana Charles Chaplin yang lahir 16 Januari 1889, hanya terpaut empat hari dengan hari kelahiran Adolf Hitler, yakni 20 Januari 1889. Keduanya juga sama-sama tumbuh besar di keluarga miskin dengan ayah pemabuk dan ibu yang sakit-sakitan. Keduanya pun juga sama-sama penggemar berat komposer kenamaan Jerman, Richard Wagner.[3]

Film yang memulai proses produksi pada September 1939 (hanya seminggu setelah pecahnya perang Dunia II) dan selesai enam bulan kemudian itupun sempat menimbulkan tensi tinggi hampir di seluruh dunia, dan diprediksi tidak akan pernah dirilis, mengingat hubungan baik antara Amerika Serikat dengan Jerman kala itu. Namun karena independen secara artistik dan terlebih secara finansial, juga untuk menghindari kebangkrutan karena Chaplin telah menginvestasikan 1,5 juta dollar untuk proyek film ini, Charles Chaplin terus melanjutkan produksinya. The Great Dictator akhirnya rilis di New York pada September 1940, ke publik Amerika secara lebih luas pada Oktober, dan di Inggris pada Desember tahun yang sama. Film itupun juga rilis di Prancis pada April 1945. Charles Chaplin sendiri pernah menyatakan bahwa ia menerima banyak ‘peringatan’ selama proses produksi. Namun dengan keteguhannya, proses produksi terus dilanjutkan. Terlebih ketika presiden Amerika Serikat kala itu, Franklin D. Roosevelt, mengirim penasehatnya untuk secara pribadi menemui Charles Chaplin dan menyampaikan dukungan untuk melanjutkan produksi film itu.

Oleh sebagian orang, termasuk saya sendiri, film tentang Nazi (Nazism) biasanya akan dianggap sebagai film ‘berat’ karena cerita yang diangkat. Namun menonton film ini seolah meruntuhkan pandangan itu. Setidaknya begitu menurut saya. Menonton film ini, membuat saya jauh lebih mengerti (walaupun sedikit) tentang Nazi maupun Hitler. Setidaknya saya merasa lebih bisa menikmati dan mengerti cerita dan maknanya dibandingkan ketika saya menonton film lain tentang Nazi semisal Valkyrie yang bahkan memasang bintang sekelas Tom Cruise, maupun Inglourius Basterds-nya Quentin Tarantino.

Menonton film ini seolah menyadarkan saya bahwa menceritakan sesuatu yang ‘berat dan atau serius tidak melulu harus dengan adegan-adegan bertensi tinggi. Charles Chaplin membuktikannya, bahwa bahkan sebuah cerita kelam dari kediktatoran, bisa disampaikan dengan sederhana dan lugas, bahkan dengan humor, namun tetap sarat pesan dan makna.

Salute!



[1] Film ‘bicara’ adalah film dengan suara yang telah disinkronisasikan dengan gambar (dialog), tidak seperti film bisu yang sama sekali tidak ada suara dialog.

[2] Lebih jelas lihat http://en.wikipedia.org/wiki/The_Great_Dictator diakses 22 Oktober 2011 11:27

[3] Ibid.

Oct 7, 2011

Undecoded

Pernahkah Anda terlibat salah paham karena pesan Anda disalahartikan?

Kalo Anda pernah, saya SERING. Dan dari semua jenis pesan yang dikenal umat manusia, SMS adalah yang paling sering jadi biang ke-salah paham-an. Setidaknya, bagi saya.

Sebagai salah satu anak manusia yang hidup di jaman telphon genggam, SMS-an adalah salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan dengan telphon genggam. Bahkan mugkin yang paling sering. Mengingat saya tak terlalu suka berbincang via hape, maka SMS menjadi alternatif paling masuk akal untuk berkomunikasi, yang dalam hal ini, dengan berkirim pesan.

Walaupun bukan seorang maniak SMS, tak jarang saya iseng mengirim pesan kepada orang. Entah kepada teman. Kepada temannya teman. Mungkin juga selingkuhannya teman. Bahkan kepada orang yang tak saya kenal. Atau siapapun yang nomornya ada di hape saya. I know it sounds weird!

Tak jarang pula, isi SMS pun hanya sekedar say hi. Atau say jokes. Ato kadang SMS yang bener bener meaningless. Buat saya, nggak terlalu penting isi pesannya, selama hasrat ingin mengirim pesan terlampiaskan.

Entah karena kebodohan, atau saya yang berlebihan, sungguh tak jarang pesan saya disalahartikan. Tentu saja, disalahartikan menurut saya.

Ada yang tak suka karena saya suka SMS ‘tiba-tiba.

Ada yang tak senang karena saya SMS ‘keseringan’.

Atau ada juga yang jadi males karena SMS saya yang meaningless.

Dan sebagianya. Dan lain lainnya.

Itu baru soal ‘teknis’ ber-SMS-an. Jika lebih dalam melihat ke dalam isi pesan yang saya kirimkan, akan semakin banyak macam ke-salah paham-an yang pernah, sedang, dan (saya yakin masih) akan terjadi di kemudian hari.

SMS, sebagai salah satu bentuk pesan tertulis memang relatif lebih multi-tafsir dibanding pesan yang disampaikan secara lisan. Disamping memang karena nggak diucapkan, nggak diverbalkan, pesan tertulis juga terkesan ‘datar’ jika dibandingkan dengan pesan lisan yang bisa lebih di-artikulasi-kan. Walaupun mungkin tak semua beranggapan demikian.

Sebagai seseorang yang cukup intens ‘belajar’ tentang ilmu komunikasi, saya akui, saya adalah komunikator yang buruk, terlebih ketika berkomunikasi via pesan tertulis, khususnya SMS. I guess, I’m the worst communicator on planet earth!

Entahlah. Saya jadi sering merasa bodoh karenanya. Bodoh dan sebal, tepatnya.

Bodoh, karena saya merasa menjadi orang yang sungguh sangat nggak ‘komunikatif’. Dan sebal, karena saya masih saja mengulanginya, dan seolah tak pernah belajar memperbaikinya. Walaupun tak jarang juga saya sebal kepada orang yang menyalah-artikan pesan saya kirimkan.

Ada yang kemudian bilang, “Kalo nggal mau disalahtafsirkan, ya jangan kirim SMS yang multitafsir dong!”

What a damn!

Ini memang masalah penafsiran. Dan masalah penafsiran adalah beda beda tiap orang. Sangat subjektit. Tergantung ‘daya tafsir’ masing-masing orang yang sudah pasti tak seragam.

Walaupun saya mengakui bodoh dalam berkirim pesan, setidaknya saya bisa cukup yakin dengan pesan macam apa yang akan saya kirimkan kepada seseorang. Semacam sudah ‘disesuaikan’. Karena kalo mau sok analitis, sebenarnya kebanyakan pesan yang saya kirimkan hanya ada 3 ‘macam’; Say hi. Say jokes. Dan meaningless.

Maksudnya ingin say hi, tapi sering disangkanya ganjen. Atau mungkin dibilang kurang kerjaan.

Maksudnya ingin becanda, tapi sering dianggap menghina. Karena becandaan saya, belum tentu dianggap bencanda oleh mereka.

Dan ketika SMS saya benar benar meaningless, biasanya kemudian nggak dibales. Mungki sudah kadung males.

Apes!

Hahh! Kadang saya merasa muak dengan semua itu. Muak untuk selalu disalah-artikan. Bosan untuk ke-salahpaham-an tak beralasan. Mungkin itu semau memang kebodohan yang menjadi kelemahan saya. Atau mungkin juga, karena mereka yang terlalu ber-’buruk sangka’.

What-so-ever.

I don’t give a damn!

Oct 6, 2011

#telurdadar

Habis waktu di kamar

Hanya bisa diam terkapar

Tak tau berita dan kabar

Apa yang terjadi di sekitar


Pandangan nampak samar

Segalanya terlihat hambar

Akal pikiran menggelapar

Imajinasi sedang tak liar


Sabar,

Ketika perut bergumam lapar

Temanya malah #telurdadar

Bubar!

Introduction

By Elvis Costello

I first heard of the Beatles when I was nine years old. I spent most of my holidays on Merseyside then, and a local girl gave me a bad publicity shot of them with their names scrawled on the back.

This was 1962 or '63, before they came to America. The photo was badly lit, and they didn't quite have their look down; Ringo had his hair slightly swept back, as if he wasn't quite sold on the Beatles haircut yet.

I didn't care about that; they were the band for me. The funny thing is that parents and all their friends from Liverpool were also curious and proud about this local group. Prior to that, the people in show business from the north of England had all been comedians. The Beatles even recorded for Parlophone, which was a comedy label, as if they believed they might be a passing novelty act.

I was exactly the right age to be hit by them full-on. My experience — seizing on every picture, saving money for singles and EPs, catching them on a local news show — was repeated over and over again around the world. It wasn't the first time anything like this had happened, but the Beatles achieved a level of fame and recognition known previously only to Charlie Chaplin, Brigitte Bardot and Elvis Presley, along with a little of the airless exclusivity of astronauts, former presidents and other heavyweight champions.

Every record was a shock. Compared to rabid R&B evangelists like the Rolling Stones, the Beatles arrived sounding like nothing else. They had already absorbed Buddy Holly, the Everly Brothers and Chuck Berry, but they were also writing their own songs. They made writing your own material expected, rather than exceptional.

And John Lennon and Paul McCartney were exceptional songwriters; McCartney was, and is, a truly virtuoso musician; George Harrison wasn't the kind of guitar player who tore off wild, unpredictable solos, but you can sing the melodies of nearly all of his breaks. Most important, they always fit right into the arrangement. Ringo Starr played the drums with an incredibly unique feel that nobody can really copy, although many fine drummers have tried and failed. Most of all, John and Paul were fantastic singers.

Lennon, McCartney and Harrison had stunningly high standards as writers. Imagine releasing a song like "Ask Me Why" or "Things We Said Today" as a B side. They made such fantastic records as "Paperback Writer" b/w "Rain" or "Penny Lane" b/w "Strawberry Fields Forever" and only put them out as singles. These records were events, and not just advance notice of an album. Then they started to really grow up: simple love lyrics to adult stories like "Norwegian Wood," which spoke of the sour side of love, and on to bigger ideas than you would expect to find in catchy pop lyrics.

They were the first group to mess with the aural perspective of their recordings and have it be more than just a gimmick. Engineers like Geoff Emerick invented techniques that we now take for granted, in response to the group's imagination. Before the Beatles, you had guys in lab coats doing recording experiments, but you didn't have rockers deliberately putting things out of balance, like a quiet vocal in front of a loud track on "Strawberry Fields Forever." You can't exaggerate the license that this gave to everyone from Motown to Jimi Hendrix.

My absolute favorite albums are Rubber Soul and Revolver. On both records you can hear references to other music — R&B, Dylan, psychedelia — but it's not done in a way that is obvious or dates the records. When you picked up Revolver, you knew it was something different. Heck, they are wearing sunglasses indoors in the picture on the back of the cover and not even looking at the camera . . . and the music was so strange and yet so vivid. If I had to pick a favorite song from those albums, it would be "And Your Bird Can Sing" . . . no, "Girl" . . . no, "For No One" . . . and so on, and so on. . . .

Their breakup album, Let It Be, contains songs both gorgeous and jagged. I suppose ambition and human frailty creeps into every group, but they delivered some incredible performances. I remember going to Leicester Square and seeing the film of Let It Be in 1970. I left with a melancholy feeling.

Someone recently gave me an assembly of newsreel footage, which illustrates how swiftly the band was drained of the bright and joyful wit presented as a public face.

In one early sequence, McCartney tells reporters that they will soon appear on The Ed Sullivan Show and then points into the camera: "There he is, hi, Ed, and Mrs. Ed" — "and Mr. Ed," chimes Ringo. It might have been practiced, but it plays entirely off-the-cuff.

Just a year later, they are seen at a press conference in Los Angeles for their final tour. Suits and ties are a thing of the past. Staring down a series of dismal attempts at provocation from the press corps, they look exhausted and disenchanted.

When probed by one blowhard to respond to a Time magazine critique that "Day Tripper" was about a prostitute and "Norwegian Wood" about a lesbian, McCartney responds, "We were just trying to write songs about prostitutes and lesbians." In the laughter that follows, he mutters, "Cut." They were giving the impression that the game was up, but in truth, they were just getting started.

The word "Beatlesque" has been in the dictionary for quite a while now. You hear them in Harry Nilsson's melodies; in Prince's Around the World in a Day; in the hits of ELO and Crowded House and in Ron Sexsmith's ballads. You can hear that Kurt Cobain listened to the Beatles and mixed their ideas with punk and metal. They can be heard in all sorts of one-off wonders from the Knickerbockers' "Lies" and the Flamin' Groovies' "Shake Some Action." The scope and license of the White Album has permitted everyone from OutKast to Radiohead to Green Day to Joanna Newsom to roll their picture out on a broader, bolder canvas.

Now, I'll admit that I've stolen my share of Beatles licks, but around the turn of the Nineties, I got to co-write 12 songs with Paul McCartney and even dared to propose that he too reference some of the Beatles' harmonic signatures — as, astonishingly, he had made up another musical vocabulary for Wings and during his solo career.

In 1999, a little time after Linda McCartney's passing, Paul performed at the Concert for Linda, organized by Chrissie Hynde. During the rehearsal, I was singing harmony on a Ricky Nelson song with him, and Paul called out the next tune: "All My Loving."

I said, "Do you want me to take the harmony line the second time round?" And he said, "Yeah, give it a try." I'd only had 35 years to learn the part. There was inevitably a poignant feeling to this song, written long before he had even met Linda:

Close your eyes and I'll kiss you
Tomorrow I'll miss you
Remember I'll always be true.

At the show, it was very different. The second Paul sang the opening lines, the crowd's reaction was so intense that it all but drowned the song out. It was very thrilling, but also disconcerting.

Perhaps I understood in that moment one of the reasons why the Beatles had to stop performing. The songs weren't theirs anymore. They belonged to everybody.

This is an updated version of an essay that appeared in RS 946.

Source: http://www.rollingstone.com/music/lists/100-greatest-beatles-songs-20110919