yak, dengan sedikit diplesetkan, judulnya memang meminjam salah satu judul lagunya Green Day. selain karena belakangan ini sering saya dengar, judul lagunya cukup kontekstual dengan aktivitas menulis saya kali ini. karena selain nyontek Puisi Terakhir Soe Hok Gie, di bulan September ini nyaris saya belum menulis apapun. baik nyampah di blog atau bikin note nggak jelas di Facebook. nulis di kelas saat kuliah tentu tak masuk hitungan. karena memang jarang saya lakukan. jadi tulisan ini, bisa dikatakan 'membangunkan' saya dari mati suri nggak menulis dalam beberapa waktu belakangan. walopun sebenarnya juga saya nggak sering-sering amat nulis. atleast, this writing wakes me up before September ends. demi menjaga 'motto', setidaknya sekali nyampah dalam sebulan. nyampah dalam bentuk tulisan.
pertama, mungkin saya harus haturkan ucapan terima kasih yang cukup besar kepada (asisten/dosen) mata kuliah Daspen (Dasar-dasar Penulisan), yang dengan alasan mencari kesibukan semester ini saya ulang, karena telah memberi tugas. sebagaimana namanya yang adalah Dasar-dasar penulisan, tugasnya tak lain dan tak bukan, ya nulis. nulis apa saja. bebas. dalam arti bebas bentuk, durasi, maupun isi tulisannya. walopun sudah diberikan 'tema' yang menjadi dasar tulisan bebas tersebut.
'tema' nya pun sederhana. menulis tentang sesuatu, apapun itu, yang dianggap menarik saat keluar dari ruangan kelas, setelah selesai kuliah hari itu (kemarin). jadi begini, mata kulaih Daspen diadakan di sebuah ruang kelas di lantai tiga. ketika keluar dan menuruni tiga lantai tersebut, kita (mahasiswa) ditugaskan untuk menulis tentang sesuatu, apapun itu, bisa benda, orang, kejadian, atau apapun, yang dianggap menarik. boleh apa saja. namanya juga bebas. begitulah. kurang lebihnya.
well, here it comes..
once upon a time, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, tempat saya selama beberapa tahun terakhir menuntut 'ilmu', membangun sebuah gedung baru, yang kalo saya tak salah hitung, berlantai empat. terdiri dari empat lantai. sebuah gedung yang bisa dibilang paling tinggi yang pernah berdiri di fakultas itu, bahkan mungkin yang paling tinggi yang ada di kluster Humaniora. saat itu. well, jujur saja, saya tak terlalu paham alasan mendasar pembangunan gedung setinggi itu. modernisasi. peremajaan. atau cuma gaya-gayaan. entahlah. saya tak tau. dan memang tak mau tau.
dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, jadilah gedung itu. well, mungkin setengah jadi, karena belum semua ruangan berfungsi. atau memang sengaja dibiarkan tak berfungsi. entahlah. lagi-lagi saya tak mau tau.
karena 'kecintaan' terhadap ilmu pengetahuan, sayapun akhirnya ikut menggunakan gedung yang mungkin harusnya, atau setidaknya begitu kenyataannya, diperuntukkan untuk kegiatan kuliah mahasiswa baru dan S2 itu. tapi tak apalah, toh saya juga bayar. jadi saya punya hak yang sama dengan mahasiswa lainnya, termasuk maba! ;) *sok*
kelas berinisial B.A dilantai tiga adalah yang paling sering saya kunjungi. karena semester ini, nyaris memang hanya di dua ruangan itu saya mencari 'ilmu'. sehingga setiap kali tiba di kampus, dari parkiran di basement, tiada tujuan lain selain langsung naik ke lantai tiga. kadang saya iri sama yang bawa mobil. mereka ke kampus naik mobil, saya ke kelas naik tangga. hahaa. memang nggak nyambung. tapi tak apa, itung-itung olah raga. tiap kali ke kampus, kemudian menuju ruangan kelas, setidaknya saya menaiki dua lantai. tiga jika dari parkiran di basement. belum lagi jika pulang. menuruni tiga lantai. belum lagi jika dalam satu hari ada dua kuliah. begitulah. gedung baru itu memang menyehatkan. wuekk!
saya kira cukup segitu saja. pembukanya. hahahaaa.
here's the real story.
singkat kata, setelah kuliah cukup ndagel dan perkenalan dosen Daspen yang lumayan keren (ini bukan menjilat), kuliahpun diakhiri dengan bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya. ehh, bukan dink. diakhiri dengan pemberian tugas seperti yang saya sebut di atas.
keluar dari kelas, sayapun kembali terpikir tentang hal-hal menarik yang mungkin akan saya lihat, atau temui, sembari menuruni empat lantai yang terbentang di depan mata. kalo dipikir-pikir, atau setidaknya dari yang saya lihat pada hari itu (kemarin), tak ada satupun benda, makhluk, ataupun peristiwa yang menurut saya menarik. Anda memang akan memandang sekitar Anda berbeda ketika anda menjadi mahasiswa tingkat tua. well, seperti saya.
tapi tak menarik menurut saya, mungkin tidak demikian dengan orang lain. mungkin yang lain sudah menemukan banyak hal menarik. entahlah. tapi saya belum juga menemukannya. karena sekali lagi menurut saya, kelihatannya memang tak ada.
karena merasa tak kan pernah menemukan hal menarik, saya sedikit memodifikasi 'tema' tugas yang diberikan. saya memang tak menemukan hal apapun yag menarik, tapi saya menjumpai dan atau mendapati beberapa hal yang 'menggelitik'. terserah bagaimana 'menggelitik' dalam persepsi Anda. menggelitik dalam kepala saya adalah, pokoknya yang bikin geli. hihihii.
saya bilang beberapa, karena memang ada lebih dari satu, kalo tak mau dibilang banyak, hal menggelitik nan bikin geli di gedung itu. seperti meja semacam 'front office' yang mungkin harusnya jadi tempat bertanya jika ada yang butuh informasi. tapi nyatanya tak pernah dihuni petugas informasi dari fakultas, kecuali oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang nunggu kuliah dimulai dan atau sekedar nongkrong. maka tak jarang banyak yang mengeluh setelah berjuang menaiki tiga atau empat lantai dan ternyata salah ruangan, atau ruangan yang dicari ternyata bukan di gedung itu. hahahaa. *latihan sabar*
seperti juga halnya gedung cukup tinggi dengan beberapa lantai, gedung itupun dilengkapi (atau saya lebih senang menyebutnya, dihiasi) dengan lift. sekali lagi saya tak tau apa gunanya benda itu. karena pada kenyataannya, selama beberapa minggu terakhir menghuni gedung baru itu, belum pernah sekalipun saya melihat ada orang yang masuk ataupun keluar dari lift. saya tak tau kalo ada kuntilanak atau pocong yang pernah memakainya, tapi sejauh yang saya tau, lift itu masih tak berfungsi. sejauh ini. atau mungkin lebih tepatnya, tak berguna. karena memang belum pernah digunakan. maka tak heran, saya lebih cenderung menganggapnya sebagai hiasan. seperti yang saya bilang, mungkin cuma buat gaya-gayaan. biar dibilang fakultas keren. hanya karena ada gedungnya yang pake lift. cuih!
yang ketiga, dan mungkin ini yang terakhir, karena kalo semuanya saya sebutkan bisa jadi tulisan tiada akhir, adalah ketika dari lantai tiga itu, saya menolehkan pandangan ke arah selatan. bukan melihat pepohonan, tapi sedikit lebih jauh ke sebuah gedung yang juga masih baru. saya juga tak tau, baru selesai dibangun, atau masih dalam taraf pembangunan. yang jelas, gedung itu tak bisa tidak untuk tak dilihat oleh siapapun yang sengaja tak sengaja mengarahkan pandangan ke arahnya. terlebih, dari lantai tiga, semakin nyata penampakan gedung yang menurut saya, terkesan 'aneh' itu.
gedung baru yang terletak dikawasan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) itu sepertinya berlomba dengan gedung yang sedang saya injak. ya, berlomba. berlomba menjadi mana yang lebih tinggi. saya tak tau hanya sebatas gedungnya, atao 'ego' kedua fakultas yang juga ikut berlomba saling bergaya. sekali lagi, dalam hal ini, gedung (baru) nya.
sebenarnya bukan pertama kalinya saya melihat gedung itu. karena terkadang jika sedang kurang kerjaan, saya malah mengamatinya. walopun tidak dengan seksama. namun cukup untuk melihatnya dengan cukup jelas. walopun yang saya lihat cuma bagian atas hingga atapnya yang berdesain nyeleneh. atau seperti saya bilang, aneh.
gedung baru yang konon katanya akan dilengkapi fasilitas warung kopi Starbukcs itu memang sekilas terkesan wah. itu saja belum rampung total. entah seperti apa nantinya jika gedung itu sudah sepenuhnya jadi dan 'dihias'. mungkin akan dobel wah. mungkin. bahkan jika saya naik ke lantai dua kosan saya, gedung itu adalah salah satu yang paling terlihat menjulang. mengalahkan gedung-gedung lain di kawasan Universitas Gadjah Mada. atau mungkin diseluruh kawasan kota Jogjakarta dan daerah sub-urbannya.
rasanya, kalo dipikir-pikir, wajar fakultas sekelas FEB membangun gedung se-wah itu. selain memang sesuai namanya yang Fakultas Ekonomika dan BISNIS, yang mana mungkin saja gedung itu diperuntukkan bagi kegiatan yang ada hubungannya, yang berbau, dan atau bahkan berorientasi bisnis. sekali lagi saya tak tau. dan mungkin juga memang tak terlalu perlu tau. yang saya tau, gedung tinggi itu cukup memancing untuk dijadikan sebuah 'pemikiran'. pemikiran ringan yang mungkin saja juga akan memunculkan pertanyaan ringan yang membuat kita akan terus bertanya, "Buat apa?".
pertama, mungkin saya harus haturkan ucapan terima kasih yang cukup besar kepada (asisten/dosen) mata kuliah Daspen (Dasar-dasar Penulisan), yang dengan alasan mencari kesibukan semester ini saya ulang, karena telah memberi tugas. sebagaimana namanya yang adalah Dasar-dasar penulisan, tugasnya tak lain dan tak bukan, ya nulis. nulis apa saja. bebas. dalam arti bebas bentuk, durasi, maupun isi tulisannya. walopun sudah diberikan 'tema' yang menjadi dasar tulisan bebas tersebut.
'tema' nya pun sederhana. menulis tentang sesuatu, apapun itu, yang dianggap menarik saat keluar dari ruangan kelas, setelah selesai kuliah hari itu (kemarin). jadi begini, mata kulaih Daspen diadakan di sebuah ruang kelas di lantai tiga. ketika keluar dan menuruni tiga lantai tersebut, kita (mahasiswa) ditugaskan untuk menulis tentang sesuatu, apapun itu, bisa benda, orang, kejadian, atau apapun, yang dianggap menarik. boleh apa saja. namanya juga bebas. begitulah. kurang lebihnya.
well, here it comes..
once upon a time, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, tempat saya selama beberapa tahun terakhir menuntut 'ilmu', membangun sebuah gedung baru, yang kalo saya tak salah hitung, berlantai empat. terdiri dari empat lantai. sebuah gedung yang bisa dibilang paling tinggi yang pernah berdiri di fakultas itu, bahkan mungkin yang paling tinggi yang ada di kluster Humaniora. saat itu. well, jujur saja, saya tak terlalu paham alasan mendasar pembangunan gedung setinggi itu. modernisasi. peremajaan. atau cuma gaya-gayaan. entahlah. saya tak tau. dan memang tak mau tau.
dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, jadilah gedung itu. well, mungkin setengah jadi, karena belum semua ruangan berfungsi. atau memang sengaja dibiarkan tak berfungsi. entahlah. lagi-lagi saya tak mau tau.
karena 'kecintaan' terhadap ilmu pengetahuan, sayapun akhirnya ikut menggunakan gedung yang mungkin harusnya, atau setidaknya begitu kenyataannya, diperuntukkan untuk kegiatan kuliah mahasiswa baru dan S2 itu. tapi tak apalah, toh saya juga bayar. jadi saya punya hak yang sama dengan mahasiswa lainnya, termasuk maba! ;) *sok*
kelas berinisial B.A dilantai tiga adalah yang paling sering saya kunjungi. karena semester ini, nyaris memang hanya di dua ruangan itu saya mencari 'ilmu'. sehingga setiap kali tiba di kampus, dari parkiran di basement, tiada tujuan lain selain langsung naik ke lantai tiga. kadang saya iri sama yang bawa mobil. mereka ke kampus naik mobil, saya ke kelas naik tangga. hahaa. memang nggak nyambung. tapi tak apa, itung-itung olah raga. tiap kali ke kampus, kemudian menuju ruangan kelas, setidaknya saya menaiki dua lantai. tiga jika dari parkiran di basement. belum lagi jika pulang. menuruni tiga lantai. belum lagi jika dalam satu hari ada dua kuliah. begitulah. gedung baru itu memang menyehatkan. wuekk!
saya kira cukup segitu saja. pembukanya. hahahaaa.
here's the real story.
singkat kata, setelah kuliah cukup ndagel dan perkenalan dosen Daspen yang lumayan keren (ini bukan menjilat), kuliahpun diakhiri dengan bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya. ehh, bukan dink. diakhiri dengan pemberian tugas seperti yang saya sebut di atas.
keluar dari kelas, sayapun kembali terpikir tentang hal-hal menarik yang mungkin akan saya lihat, atau temui, sembari menuruni empat lantai yang terbentang di depan mata. kalo dipikir-pikir, atau setidaknya dari yang saya lihat pada hari itu (kemarin), tak ada satupun benda, makhluk, ataupun peristiwa yang menurut saya menarik. Anda memang akan memandang sekitar Anda berbeda ketika anda menjadi mahasiswa tingkat tua. well, seperti saya.
tapi tak menarik menurut saya, mungkin tidak demikian dengan orang lain. mungkin yang lain sudah menemukan banyak hal menarik. entahlah. tapi saya belum juga menemukannya. karena sekali lagi menurut saya, kelihatannya memang tak ada.
karena merasa tak kan pernah menemukan hal menarik, saya sedikit memodifikasi 'tema' tugas yang diberikan. saya memang tak menemukan hal apapun yag menarik, tapi saya menjumpai dan atau mendapati beberapa hal yang 'menggelitik'. terserah bagaimana 'menggelitik' dalam persepsi Anda. menggelitik dalam kepala saya adalah, pokoknya yang bikin geli. hihihii.
saya bilang beberapa, karena memang ada lebih dari satu, kalo tak mau dibilang banyak, hal menggelitik nan bikin geli di gedung itu. seperti meja semacam 'front office' yang mungkin harusnya jadi tempat bertanya jika ada yang butuh informasi. tapi nyatanya tak pernah dihuni petugas informasi dari fakultas, kecuali oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang nunggu kuliah dimulai dan atau sekedar nongkrong. maka tak jarang banyak yang mengeluh setelah berjuang menaiki tiga atau empat lantai dan ternyata salah ruangan, atau ruangan yang dicari ternyata bukan di gedung itu. hahahaa. *latihan sabar*
seperti juga halnya gedung cukup tinggi dengan beberapa lantai, gedung itupun dilengkapi (atau saya lebih senang menyebutnya, dihiasi) dengan lift. sekali lagi saya tak tau apa gunanya benda itu. karena pada kenyataannya, selama beberapa minggu terakhir menghuni gedung baru itu, belum pernah sekalipun saya melihat ada orang yang masuk ataupun keluar dari lift. saya tak tau kalo ada kuntilanak atau pocong yang pernah memakainya, tapi sejauh yang saya tau, lift itu masih tak berfungsi. sejauh ini. atau mungkin lebih tepatnya, tak berguna. karena memang belum pernah digunakan. maka tak heran, saya lebih cenderung menganggapnya sebagai hiasan. seperti yang saya bilang, mungkin cuma buat gaya-gayaan. biar dibilang fakultas keren. hanya karena ada gedungnya yang pake lift. cuih!
yang ketiga, dan mungkin ini yang terakhir, karena kalo semuanya saya sebutkan bisa jadi tulisan tiada akhir, adalah ketika dari lantai tiga itu, saya menolehkan pandangan ke arah selatan. bukan melihat pepohonan, tapi sedikit lebih jauh ke sebuah gedung yang juga masih baru. saya juga tak tau, baru selesai dibangun, atau masih dalam taraf pembangunan. yang jelas, gedung itu tak bisa tidak untuk tak dilihat oleh siapapun yang sengaja tak sengaja mengarahkan pandangan ke arahnya. terlebih, dari lantai tiga, semakin nyata penampakan gedung yang menurut saya, terkesan 'aneh' itu.
gedung baru yang terletak dikawasan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) itu sepertinya berlomba dengan gedung yang sedang saya injak. ya, berlomba. berlomba menjadi mana yang lebih tinggi. saya tak tau hanya sebatas gedungnya, atao 'ego' kedua fakultas yang juga ikut berlomba saling bergaya. sekali lagi, dalam hal ini, gedung (baru) nya.
sebenarnya bukan pertama kalinya saya melihat gedung itu. karena terkadang jika sedang kurang kerjaan, saya malah mengamatinya. walopun tidak dengan seksama. namun cukup untuk melihatnya dengan cukup jelas. walopun yang saya lihat cuma bagian atas hingga atapnya yang berdesain nyeleneh. atau seperti saya bilang, aneh.
gedung baru yang konon katanya akan dilengkapi fasilitas warung kopi Starbukcs itu memang sekilas terkesan wah. itu saja belum rampung total. entah seperti apa nantinya jika gedung itu sudah sepenuhnya jadi dan 'dihias'. mungkin akan dobel wah. mungkin. bahkan jika saya naik ke lantai dua kosan saya, gedung itu adalah salah satu yang paling terlihat menjulang. mengalahkan gedung-gedung lain di kawasan Universitas Gadjah Mada. atau mungkin diseluruh kawasan kota Jogjakarta dan daerah sub-urbannya.
rasanya, kalo dipikir-pikir, wajar fakultas sekelas FEB membangun gedung se-wah itu. selain memang sesuai namanya yang Fakultas Ekonomika dan BISNIS, yang mana mungkin saja gedung itu diperuntukkan bagi kegiatan yang ada hubungannya, yang berbau, dan atau bahkan berorientasi bisnis. sekali lagi saya tak tau. dan mungkin juga memang tak terlalu perlu tau. yang saya tau, gedung tinggi itu cukup memancing untuk dijadikan sebuah 'pemikiran'. pemikiran ringan yang mungkin saja juga akan memunculkan pertanyaan ringan yang membuat kita akan terus bertanya, "Buat apa?".
No comments:
Post a Comment