Sep 30, 2011

Biasa Saja

"malam minggu datang lagi, malam yang bosan lagi.. malam minggu datang lagi, malam minggu yang sepi.. malam ini sendiri.."

begitulah sepenggal lirik lagu Malam Minggu-nya Slank yang kadang kala setia menemani saya bermalam Minggu. bersama Saturday Night (is the Loneliest Night of the Week)-nya Frank Sinatra, lagu itu seakan sudah menjadi soundtrack paten ketika malam Minggu datang. terutama jika saya memang sedang bosan, lagu itu terasa makin mengena.

pertanyaan sederhana, kenapa banyak orang yang senang ketika malam Minggu datang?

atau kenapa banyak orang yang begitu bernafsu menggebu gebu menunggu datangnya malam Minggu?


kenapa sih ya banyak orang yang nunggu nunggu malem Minggu, sementara saya malah justru seringnya males setiap malem Minggu dateng. kenapa?? karena nggak punya pacar?! bukan. karena nggak ada kencan?! juga bukan. karena nggak punya duit?? mungkin iya. hehee.. maksud saya adalah, kenapa kebanyakan orang begitu antusias menyambut malem Minggu. padahal menurut pendapat saya, malem Minggu bukanlah malem yang spesial.

itu menurut saya. pandangan orang pasti juga akan beda. apalagi yang sudah punya agenda tetap bersama orang orang tercinta tiap malem Minggunya. dan itu sah sah saja. saya kan bukan mereka. dan mereka bukan saya. wajar kalo kita berbeda. termasuk soal malam Minggu dan tetek bengeknya.

kalopun ada yang menarik di malem Minggu, bagi saya, adalah karena di malem Minggu berarti waktunya maen futsal dengan kawan kawan yang kalo bukan karena futsal mungkin susah dipersatukan. atau karena di malem Minggu ada banyak pertandingan sepak bola di tipi., kemudian siangnya bisa dihabiskan untuk tidur. selebihnya, biasa saja. nggak terlalu beda dengan malam malam yang lainnya.

kebanyakan orang yang bersemangat menyambut malem Minggu mungkin merasa bahwa malem Minggu adalah waktunya have fun, waktunya senang senang. sedangkan saya, bagi saya setiap hari adalah waktunya senang senang. emangnya salah kalo setiap hari senang senang? bukankah emang begitu seharusnya. tiap hari harus senang. di sini senang. di sana senang. di hari apa saja saya (berusaha selalu) senang.

pokoknya begitu lah. nikmatilah kalian yang begitu bernafsu menunggu nunggu malem Minggu. sedangkan saya.. saya nikmati setiap malam, setiap hari, setiap waktu.

karena hidupku tak hanya malem Minggu.

cheers.

Stranger Than Fiction

dengan alasan relevansi, sekali lagi saya meminjam judul sebuah film untuk dijadikan judul tulisan saya kali ini. karena dari segi cerita, keduanya memang sama sama 'aneh'. bahkan aneh sekali. lebih aneh dari fiksi. begitu kira kira lebay nya. walopun bedanya, cerita saya jelas tanpa skenario sebelumnya. dan sebisa mungkin, saya deskripsikan dalam versi yang paling mendekati kebenaran! ;)

rasanya rada susah juga menulis tentang ciuman pertama. karena sejujurnya, di samping nyaris tak pernah.. (munafik ya kalo bilang tak pernah?! hehee), okelah.. di samping jarang dan atau sedikit sekali memiliki pengalaman berciuman, saya juga tak ingat persis, yang mana yang benar benar yang paling pertama. namun dengan dalih 'tuntutan' tema, tak ada salahnya saya mencoba menulis yang terlintas di kepala saja. atau yang setidaknya yang saya anggap sebagai ciuman pertama saya.

here we go..

pada suatu masa di mana Indonesia sudah merdeka,

adalah paman saya yang pada suatu hari mengajak saya untuk ikut dengannya ke sebuah kota di Jawa Barat bernama Cirebon. kota di mana paman saya bekerja, saat itu. dengan alasan juga pengen liburan, sayapun mengiyakan.

singkat cerita, pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah kami berdua dari terminal bus ketika senja hendak menjelang. dan beberapa saat terombang ambing di kegalauan bus antar kota itu, haripun telah gelap. seperti kebanyakan bus ekonomi tak tau diri, bus yang saya tumpangi saat itupun sering sekali berhenti untuk menaik-turunkan penumpang. tempat pemberhentiannya pun sembarang. di mana saja terlihat ada (calon) penumpang. hingga di suatu pemberhentian, -saya tak tau tepatnya di mana karena hari sudah gelap- naiklah seorang bapak yang seingat saya belum terlalu tua, dengan anak perempuannya yang saya kira umurnya sedikit lebih muda dari saya.

setelah memastikan badannya terangkut oleh bus, keduanyapun celingukan mencari kursi untuk duduk. sayapun tak pengen sok hero dengan menawarkan kursi, seperti adegan di film film. entah karena terpaksa, dan atau memang karena tak ada pilihan lainnya, sang bapakpun merelakan anaknya duduk di sebelah saya, karena kebetulan kursi di sebelah saya kosong. dan sang bapak duduk tepat di barisan depan anaknya. mungkin khawatir anak perempuannya duduk di samping orang asing yang tak jelas asal usulnya. alias saya. karena saya duduk di barisan yang terdiri dari tiga kursi, jadilah saya duduk di tengah tengah di antara paman saya dan si gadis yang saya juga tak tau rimba asalnya.

waktu berlalu, dan malam makin gelap. suasana hening, karena selain sopir, rasanya semua makhluk hidup dalam bus itu sudah tertidur. sedangkan saya terjebak di antara keduanya. tak bisa dianggap sadar, walaupun tak sepenuhnya tertidur.

rasanya aneh juga duduk sebelahan dengan cewek yang sama sekali tak saya kenal. rasanya serba nggak nyaman. terlebih, saya memang belum 'sempat' ngobrol dengannya. atau setidaknya bertegur sapa. sekedar bermaksud say hi biar terkesan sopan. tapi nyatanya tak saya lakukan. we were totally stranger for each other.

malampun beranjak semakin menua, dan sayapun tertidur makin dalam. hingga dalam tidur saya merasa bermimpi. mimpi yang terbilang janggal untuk orang yang tidur di kendaraan. yap, benar sekali. saya mimpi berciuman. berciuman dengan seorang gadis, yang seperti di kebanyakan mimpi, seakan sengaja dibikin samar siapa gerangan sebenarnya dia. tapi tak apa. yang penting menikmati mimpi. hihii..

mimpi yang sungguh aneh, karena sebelumnya, belum pernah sekalipun saya bermimpi mencium bibir seorang gadis. mimpi yang terasa begitu memabukkan, melenakan, dan terasa begitu nyata. mungkin akan terdengar munafik kalo saya bilang saya tak menikmatinya. maklum, saat itu umur saya masih belasan. masih remaja SMA dimana puber sedang dalam masa menuju mateng matengnya. ahh, wajar remaja seusia saya saat itu mimpi begituan. walopun tentu saja, untungnya, saya nggak sampai mimpi basah! ;)

entah makhluk apa yang mencoba membangunkan, sesaat kemudian sayapun terbangun. dan sungguh demi apapun saya tak pernah menyangka, ketika membuka mata, ada seberkas muka dengan mata sedikit sayu yang tepat berada di depan mata saya. yang lebih tak terduga, bibirnya ternyata tepat menempel di bibir saya. kaget yang bercampur.. entahlah.. saya lupa gimana persisnya perasaan saya waktu itu. karena ternyata, sedari tadi saya TIDAK sedang bermimpi. saya benaran berciuman. dengan gadis yang sedari pertama tak pernah saya hiraukan. what a shock!

untuk beberapa saat, kami hanya bisa saling memandang. rasanya seperti tak ada yang memisahkan antara kedua matanya dan kedua mata saya selain celah beberapa mikromilimeter. namun sesaat kemudian, dengan bermaksud sok sopan, saya lepaskan ciuman tak terencana dan tak terduga itu. saya bingung, harus malu, atau pura pura tak tau malu. hehe.. dan sekali lagi, saya tak tau apa yang harus di katakan.

hal lebih bodoh yang terjadi kemudian adalah, kami asik saling berpegangan tangan, tanpa menyadari siapa yang memulai duluan. tak cukup sampai di situ, bodohpun meningkat menjadi kuadrat. kami kembali berciuman. dan kali ini, tentu saja, sengaja dan terencana! ;D


seperti layaknya seorang dewasa yang sedang dikuasai birahi setan insomnia, tangan sayapun mulai mencari sesuatu untuk dijamah, sembari tetap berciuman. dan anda pasti juga dapat menduga, di mana tangan setan saya akhirnya berlabuh dan melakukan aktivitas kesetanannya. walaupun sesaat kemudian, si gadis mengangkat tangan saya yang mungkin hampir membuatnya asma karena sedari tadi 'membebani' dadanya. ;)

kembali saya menjadi tak enak rasa. canggung. grogi. dan entah apa lagi. tapi yang jelas, kami masih melakukannya beberapa kali. sambil curi curi pandang, berharap harap cemas semoga tak ketauan orang. rasanya nggak lucu juga kalo kepergok sedang berciuman kemudian di saksikan seisi bus.

tapi sekali lagi kata kata bang napi terbukti. cuma butuh niat dan kesempatan, semuanya bisa kejadian. pinternya setan malam itu adalah, semuanya terjadi ketika malam sudah sangat larut. mungkin sudah menjelang pagi. dan sudah pasti, semua lampu di dalam bus mati. dan kegelapan adalah satu perangkap setan yang luar biasa menjebaknya. dan mungkin karena kadung tanggungnya, saya memilih untuk terjebak saja. hahaa..


beberapa jam sebelumnya, saya dan dia adalah orang asing. namun sejurus kemudian, kami seperti dua orang yang sudah lama berpacaran. walaupun pada kenyataannya, kami masih tetap dua orang asing, yang sama sekali tak saling kenal. buat saya, saat itu ciuman adalah sesuatu yang masih asing. lebih asing lagi ketika dilakukan dengan orang asing. di tempat yang asing. di antara orang orang yang juga asing. lengkaplah keasingan malam itu.

dan begitulah. hingga akhirnya waktu jualah yang memisahkan. dia dan bapaknya yang (untungnya) nggak menyadari apa yang terjadi pada anak perempuannya, turun dari bus. dan saya masih harus melanjutkan perjalan ke barat. maksudnya ke Jawa Barat.

kadang saya masih sering berandai andai, kenapa dulu saya tak minta nomor handphonenya. atau bertanya di mana rumahnya. tapi jangankan nomer telfon atau bahkan alamat rumah, namanya saja hingga saat ini, saya masih tak tau. dan mungkin tak kan pernah tau.


seorang gadis yang nyaris semalaman jadi partner in desire, nyatanya tetap jadi misteri. misteri yang walaupun meninggalkan rasa penasaran, namun tak pernah bermaksud saya lupakan. misteri yang selamanya akan jadi kenangan.

I knew it wasn't love, just kind of an odd fond
made us act like we were in love with no bond
couldn't deny I got a little bit satisfaction
'though I realized it was stranger than fiction


cheers.

Sep 29, 2011

Head & Shoulder

Anda mungkin tak tau apa nama shampo anti ketombe nomer dua di dunia. tapi saya yakin, sebagian besar dari anda yang mungkin membaca tulisan ini tau, kalo judul tulisan saya kali ini terlihat, dan kalo diucapkan juga akan terdengar, mirip dengan nama brand sebuah shampo yang katanya shampo anti ketombe nomer satu di dunia. saya juga tak tau, maksudnya dunia yang mana. tapi sudahlah. disamping nggak mau terkesan seperti sedang beriklan, toh juga bukan soal itu yang ingin saya tuliskan.

beranjak dari.. beranjak? sik opo yo kata yang lebih tepat.. mmm... mmm... oke..

terinspirasi dari twit salah seorang kawan (sejak) lama saya yang berinisial N.A.N.A alias Nana ato saya lebih suka memanggilnya Po, maka terpikirlah di kepala saya untuk menulis tulisan (yang lagi lagi tetaplah) sampah ini. twit singkat yang iseng iseng saya balas dengan twit yang sama singkatnya. tanpa bermaksud sok gimana, saya memang suka ngrusuhi orang. salah satunya ya dengan sok nyamber twitnya. mohon maklumnya saja. sudah kebiasaan dari sononya! ;)


Nana >> : Need a shoulder

Saya >> : I have two! ;) RT : Need a shoulder

Nana >> : would you lend it to me :'(

Saya >> : If we were near, my friend. Aren't there any other shoulders around you?! ;) RT : would you lend it to me :'(

singkat kata, begitu kurang lebih kronologisnya. terus apa menariknya? tak ada. hahahaa.

begini.

kita, semua, tanpa kecuali, pasti pernah merasakan perasaan yang tidak mengenakkan. macemnya bisa apa saja. sedih perih sedu sedan gundah gulana tiada tara, you name it. intinya, kita semua bangsa manusia yang punya kesadaran emosional, pasti dan pasti pernah merasakan gejolak 'emosi' ini. terutama anda yang wanita, yang perempuan, yang cewek, ato apalah sebutannya, relatif lebih pandai mengungkapkannya. lebih pandai mengekspresikannya. namun di sisi yang lain, juga lebih pandai menahannya. paham maksudnya? kalo tidak juga tak apa. no need to be too serious. sekali lagi, saya katakan relatif. tanpa bermaksud menggenaralisasi.

banyak cara yang kemudian kita lakukan untuk mencari ajang pelampiasan. tanpa bermaksud mempertajam isu gender, karena dalam kasus ini teman saya adalah seorang cewek, seorang wanita, maka saya akan lebih berbicara tentang segi wanitanya.

seperti yang barusan saya tuliskan, kaum wanita biasanya relatif lebih pandai mengungkapkan atau mengekspresikan perasaannya. caranya pun macam macam pula. ada yang curhat sama sahabatnya. ada yang sok nyari kesibukan. ada yang milih mencoba melupakan masalah dengan makan. ato ada juga yang kemudian tak melakukan apa apa karena memang tak tau harus ngapain. (anda termasuk yang mana? hahaa). dan mungkin masih ada jutaan cara lainnya. terserah anda.

Need a shoulder.

sekilas mungkin terbaca atau terdengar sepele. namun anda mungkin tak pernah membayangkan, bagi anda yang wanita, gimana jika kalimat singkat nan sederhana tersebut dibaca, atau didengar oleh pria yang naksir pada anda. yang ada rasa kepada anda. atau bahkan yang sudah jadi pacar anda. you have no idea how it felt, girls! ;)

apalagiii, jika kata kata tersebut memang anda tujukan buat si pria yang karena berkah Tuhan, juga anda taksir. sempurnalah taksiran anda. taksiran yang tak bertepuk sebelah badan. rasanya mungkin seperti lagunya Queen, It's Kind of Magic.

bagi seorang cewek, atau wanita, terlebih jika dianya wanita labil (hahaaa), mendapatkan bahu untuk bersandar adalah 'sesuatu banget' kalo bahasa alay sekarang bilang. baik mendapatkan bahu untuk bersandar dalam pengertian denotatif maupun secara kiasan. intinya, mendapatkan tempat untuk sejenak berbagi 'beban' dikepala, dan mungkin di jiwa raga, adalah sesuatu yang sangat berarti bagi seorang wanita. terlebih ketika dalam keadaan emosi yang sedang 'bergejolak'.

tentu saya tak akan membantah jika mungkin ada diantara anda yang cowok dan ternyata suka menyandarkan kepalanya ke cewek, atau justru ke sesama cowok. itu hak anda. selama yang punya bahu tak keberatan, silakan! ;D

itu dari sudut pandang wanita. biar terkesan cover both side, mungkin saya harus sedikit berkisah. untuk me-nyudut pandang-kan pria.

in my entire life, so far, cuman ada 2 wanita yang pernah menyandarkan kepalanya di bahu saya. yang pertama adalah ibunya ibu saya yang berarti juga adalah nenek saya. dan yang kedua adalah.. bukan nenek saya. rasanya nggak terlalu asik juga kalo ngomongin nenek saya, karena romannya pasti akan berbeda. jadi saya lebih memilih yang kedua. wanita yang bukan nenek saya. ;)

sebut saja namanya.. ehh, nggak usah disebut saja dink. nanti dia ge er! hihii. singkatnya, she was one of my senior high girl-friends. baiklah, saya dulu memang naksir dia. dan memang sedang dalam masa dekatepe. tau sendiri lah ya gimana kelakuan anak sma kalo lagi jatuh cinta. kadang norak. dan sering ngisin-isini. tapi tak apa. namanya juga anak sma. sukanaya cari perhatian dari sang pujaan.

singkat kata singkat cerita, hingga pada suatu jam pelajaran kosong, dia mendatangi saya yang sedang duduk sendirian di bangku paling belakang dan sekonyong konyong menyandarkan kepala kecilnya dibahu saya, yang jujur saja, dari dulu sampai sekarang tak berubah. tetep cengkring. kayak orang kurang gizi. ehh, bukan kayak, emang beneran kurang gizi.

what a blast!

"I love you like very much. and now you are leaning your head on my shoulder."

kurang lebih begitu pikir saya waktu itu. tentu saja waktu itu dalam bahasa jawa. hahaa.

entah kenapa dia hanya diam. dan saya pun, sebagai seorang lelaki jantan, tentu saja juga ikut diam! ;D

at that very moment, saya merasa, this is one of the happiest times of my life. yak, sampai kinipun saya masih merasa, saat itu adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup saya. apa yang lebih membahagiakan bagi seorang pria dari menjadi tempat bersandar seorang wanita yang dia cinta? *mungkin begitu lebay nya*

saat itu, untuk sesaat, tiba tiba saya merasa seperti menjadi makhluk yang lebih berguna. buat dia. atau paling tidak, dia yang saya cinta mengakui kalo saya ada. I was exist for her. atleast, I had a shoulder for she leaned her head to.

saya curhat ya?! hahaa. tak apa. namanya juga ilustrasi. mohon dimaafkan juga kalo saya terlalu banyak menggunakan kata 'cinta'. kata yang absurd. memang. biar lebih dramatis lah ya! ;D

intinya dari semua cerita sampah di atas adalah, bahagialah anda yang memiliki bahu yang masih bisa dijadikan tempat bersandar bagi orang lain. karena bagaimanapun, sekecil apapun, meski tanpa anda sadari sedikitpun sekalipun, that means a lot! for others, or atleast for your own satisfaction.


cheers!

Sep 28, 2011

Wakes Me Up Before September Ends

yak, dengan sedikit diplesetkan, judulnya memang meminjam salah satu judul lagunya Green Day. selain karena belakangan ini sering saya dengar, judul lagunya cukup kontekstual dengan aktivitas menulis saya kali ini. karena selain nyontek Puisi Terakhir Soe Hok Gie, di bulan September ini nyaris saya belum menulis apapun. baik nyampah di blog atau bikin note nggak jelas di Facebook. nulis di kelas saat kuliah tentu tak masuk hitungan. karena memang jarang saya lakukan. jadi tulisan ini, bisa dikatakan 'membangunkan' saya dari mati suri nggak menulis dalam beberapa waktu belakangan. walopun sebenarnya juga saya nggak sering-sering amat nulis. atleast, this writing wakes me up before September ends. demi menjaga 'motto', setidaknya sekali nyampah dalam sebulan. nyampah dalam bentuk tulisan.

pertama, mungkin saya harus haturkan ucapan terima kasih yang cukup besar kepada (asisten/dosen) mata kuliah Daspen (Dasar-dasar Penulisan), yang dengan alasan mencari kesibukan semester ini saya ulang, karena telah memberi tugas. sebagaimana namanya yang adalah Dasar-dasar penulisan, tugasnya tak lain dan tak bukan, ya nulis. nulis apa saja. bebas. dalam arti bebas bentuk, durasi, maupun isi tulisannya. walopun sudah diberikan 'tema' yang menjadi dasar tulisan bebas tersebut.

'tema' nya pun sederhana. menulis tentang sesuatu, apapun itu, yang dianggap menarik saat keluar dari ruangan kelas, setelah selesai kuliah hari itu (kemarin). jadi begini, mata kulaih Daspen diadakan di sebuah ruang kelas di lantai tiga. ketika keluar dan menuruni tiga lantai tersebut, kita (mahasiswa) ditugaskan untuk menulis tentang sesuatu, apapun itu, bisa benda, orang, kejadian, atau apapun, yang dianggap menarik. boleh apa saja. namanya juga bebas. begitulah. kurang lebihnya.

well, here it comes..

once upon a time, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, tempat saya selama beberapa tahun terakhir menuntut 'ilmu', membangun sebuah gedung baru, yang kalo saya tak salah hitung, berlantai empat. terdiri dari empat lantai. sebuah gedung yang bisa dibilang paling tinggi yang pernah berdiri di fakultas itu, bahkan mungkin yang paling tinggi yang ada di kluster Humaniora. saat itu. well, jujur saja, saya tak terlalu paham alasan mendasar pembangunan gedung setinggi itu. modernisasi. peremajaan. atau cuma gaya-gayaan. entahlah. saya tak tau. dan memang tak mau tau.

dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, jadilah gedung itu. well, mungkin setengah jadi, karena belum semua ruangan berfungsi. atau memang sengaja dibiarkan tak berfungsi. entahlah. lagi-lagi saya tak mau tau.

karena 'kecintaan' terhadap ilmu pengetahuan, sayapun akhirnya ikut menggunakan gedung yang mungkin harusnya, atau setidaknya begitu kenyataannya, diperuntukkan untuk kegiatan kuliah mahasiswa baru dan S2 itu. tapi tak apalah, toh saya juga bayar. jadi saya punya hak yang sama dengan mahasiswa lainnya, termasuk maba! ;) *sok*

kelas berinisial B.A dilantai tiga adalah yang paling sering saya kunjungi. karena semester ini, nyaris memang hanya di dua ruangan itu saya mencari 'ilmu'. sehingga setiap kali tiba di kampus, dari parkiran di basement, tiada tujuan lain selain langsung naik ke lantai tiga. kadang saya iri sama yang bawa mobil. mereka ke kampus naik mobil, saya ke kelas naik tangga. hahaa. memang nggak nyambung. tapi tak apa, itung-itung olah raga. tiap kali ke kampus, kemudian menuju ruangan kelas, setidaknya saya menaiki dua lantai. tiga jika dari parkiran di basement. belum lagi jika pulang. menuruni tiga lantai. belum lagi jika dalam satu hari ada dua kuliah. begitulah. gedung baru itu memang menyehatkan. wuekk!

saya kira cukup segitu saja. pembukanya. hahahaaa.

here's the real story.

singkat kata, setelah kuliah cukup ndagel dan perkenalan dosen Daspen yang lumayan keren (ini bukan menjilat), kuliahpun diakhiri dengan bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya. ehh, bukan dink. diakhiri dengan pemberian tugas seperti yang saya sebut di atas.

keluar dari kelas, sayapun kembali terpikir tentang hal-hal menarik yang mungkin akan saya lihat, atau temui, sembari menuruni empat lantai yang terbentang di depan mata. kalo dipikir-pikir, atau setidaknya dari yang saya lihat pada hari itu (kemarin), tak ada satupun benda, makhluk, ataupun peristiwa yang menurut saya menarik. Anda memang akan memandang sekitar Anda berbeda ketika anda menjadi mahasiswa tingkat tua. well, seperti saya.

tapi tak menarik menurut saya, mungkin tidak demikian dengan orang lain. mungkin yang lain sudah menemukan banyak hal menarik. entahlah. tapi saya belum juga menemukannya. karena sekali lagi menurut saya, kelihatannya memang tak ada.

karena merasa tak kan pernah menemukan hal menarik, saya sedikit memodifikasi 'tema' tugas yang diberikan. saya memang tak menemukan hal apapun yag menarik, tapi saya menjumpai dan atau mendapati beberapa hal yang 'menggelitik'. terserah bagaimana 'menggelitik' dalam persepsi Anda. menggelitik dalam kepala saya adalah, pokoknya yang bikin geli. hihihii.

saya bilang beberapa, karena memang ada lebih dari satu, kalo tak mau dibilang banyak, hal menggelitik nan bikin geli di gedung itu. seperti meja semacam 'front office' yang mungkin harusnya jadi tempat bertanya jika ada yang butuh informasi. tapi nyatanya tak pernah dihuni petugas informasi dari fakultas, kecuali oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang nunggu kuliah dimulai dan atau sekedar nongkrong. maka tak jarang banyak yang mengeluh setelah berjuang menaiki tiga atau empat lantai dan ternyata salah ruangan, atau ruangan yang dicari ternyata bukan di gedung itu. hahahaa. *latihan sabar*

seperti juga halnya gedung cukup tinggi dengan beberapa lantai, gedung itupun dilengkapi (atau saya lebih senang menyebutnya, dihiasi) dengan lift. sekali lagi saya tak tau apa gunanya benda itu. karena pada kenyataannya, selama beberapa minggu terakhir menghuni gedung baru itu, belum pernah sekalipun saya melihat ada orang yang masuk ataupun keluar dari lift. saya tak tau kalo ada kuntilanak atau pocong yang pernah memakainya, tapi sejauh yang saya tau, lift itu masih tak berfungsi. sejauh ini. atau mungkin lebih tepatnya, tak berguna. karena memang belum pernah digunakan. maka tak heran, saya lebih cenderung menganggapnya sebagai hiasan. seperti yang saya bilang, mungkin cuma buat gaya-gayaan. biar dibilang fakultas keren. hanya karena ada gedungnya yang pake lift. cuih!

yang ketiga, dan mungkin ini yang terakhir, karena kalo semuanya saya sebutkan bisa jadi tulisan tiada akhir, adalah ketika dari lantai tiga itu, saya menolehkan pandangan ke arah selatan. bukan melihat pepohonan, tapi sedikit lebih jauh ke sebuah gedung yang juga masih baru. saya juga tak tau, baru selesai dibangun, atau masih dalam taraf pembangunan. yang jelas, gedung itu tak bisa tidak untuk tak dilihat oleh siapapun yang sengaja tak sengaja mengarahkan pandangan ke arahnya. terlebih, dari lantai tiga, semakin nyata penampakan gedung yang menurut saya, terkesan 'aneh' itu.

gedung baru yang terletak dikawasan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) itu sepertinya berlomba dengan gedung yang sedang saya injak. ya, berlomba. berlomba menjadi mana yang lebih tinggi. saya tak tau hanya sebatas gedungnya, atao 'ego' kedua fakultas yang juga ikut berlomba saling bergaya. sekali lagi, dalam hal ini, gedung (baru) nya.

sebenarnya bukan pertama kalinya saya melihat gedung itu. karena terkadang jika sedang kurang kerjaan, saya malah mengamatinya. walopun tidak dengan seksama. namun cukup untuk melihatnya dengan cukup jelas. walopun yang saya lihat cuma bagian atas hingga atapnya yang berdesain nyeleneh. atau seperti saya bilang, aneh.

gedung baru yang konon katanya akan dilengkapi fasilitas warung kopi Starbukcs itu memang sekilas terkesan wah. itu saja belum rampung total. entah seperti apa nantinya jika gedung itu sudah sepenuhnya jadi dan 'dihias'. mungkin akan dobel wah. mungkin. bahkan jika saya naik ke lantai dua kosan saya, gedung itu adalah salah satu yang paling terlihat menjulang. mengalahkan gedung-gedung lain di kawasan Universitas Gadjah Mada. atau mungkin diseluruh kawasan kota Jogjakarta dan daerah sub-urbannya.

rasanya, kalo dipikir-pikir, wajar fakultas sekelas FEB membangun gedung se-wah itu. selain memang sesuai namanya yang Fakultas Ekonomika dan BISNIS, yang mana mungkin saja gedung itu diperuntukkan bagi kegiatan yang ada hubungannya, yang berbau, dan atau bahkan berorientasi bisnis. sekali lagi saya tak tau. dan mungkin juga memang tak terlalu perlu tau. yang saya tau, gedung tinggi itu cukup memancing untuk dijadikan sebuah 'pemikiran'. pemikiran ringan yang mungkin saja juga akan memunculkan pertanyaan ringan yang membuat kita akan terus bertanya, "Buat apa?".