Jul 7, 2011

Saya Menyebutnya Ironi

Selasa. 5 Juli 2011.

sekitar jam 10 pagi saya sudah terbangun. sejenak melihat siaran berita di televisi, sayapun tertegun dengan breaking news di salah satu televisi swasta berinisial t.v.o.n.e, "KH Zainuddin MZ Wafat". begitulah headline nya.

jujur saja, saya nggak tau persis bagaimana perasaan saya waktu itu. antara kaget. sedih. rada nggak percaya. dan entah apa lagi. rasanya saya tak pernah se stuck-at-the-moment itu ketika melihat atau mendengar berita tentang kematian seseorang yang notabene bukan keluarga, atau sanak sodara saya.

sejenak saya mengikuti breaking news yang dilaporkan langsung dari rumah almarhum itu. nampak ramai dengan orang orang yang melayat, selain tentu saja juga banyak wartawan. barulah sesaat kemudian, saya beralih ke Twitter. meskipun tak banyak, tapi saya dapati juga beberapa berita yang memberitakan hal yang sama. dan sekali lagi, saya makin merasa tak tau bagaimana perasaan saya waktu itu. saya merasa seperti tak merasa. entahlah. saya bingung bagaimana mengungkapkannya dalam kata kata. halahh!

sehari berselang. dua hari berlalu. hingga hari ini, saya amati, atau setidaknya sepanjang pengetahuan saya yang sempit, nyaris sudah tak ada lagi berita tentang wafatnya sang kyai. media massa, terutama televisi, tak lagi mengangkat, bahkan tak menyinggung berita tersebut. saya juga nggak tau persis kenapa, karena jujur saja saya memang nggak tau.

tapi kalo boleh sedikit sok tau, nilai berita mungkin bisa jadi alasannya. paling tidak, salah satunya. ya, nilai berita adalah salah satu pertimbangan utama ketika sebuah berita hendak diberitakan. dengan bahasa sederhananya, berita yang diberitakan hanya berita yang dianggap memiliki nilai yang tinggi. gampangnya, berita yang menarik bagi khalayak luas. sehingga berita yang dianggap nggak 'menarik' biasanya hanya akan diberitakan sekilas, atau bahkan tidak diberitakan sama sekali. dengan bahasa kasarnya, tidak layak berita.

lalu bagaimana dengan berita kematian sang da'i sejuta umat??

kalo merujuk pada nilai berita, kematian, merupakan salah satu berita yang potensial memiliki nilai berita yang tinggi, di samping bencana dan konflik. tentu saja dengan catatan, bahwa berita kematian tersebut melibatkan pihak yang juga potensial memiliki nilai berita. semakin populer (nama) seseorang, makin potensial menjadi berita. ketika dunia jurnalisme mengenal istilah bad news is good news, maka segala peristiwa yang mungkin buruk bagi kita, di sisi lain memiliki nilai berita yang luar biasa bagi media. berita, semakin menyedihkan, semakin menakutkan, menyeramkan, menegangkan, atau singkatnya semakin menyentuh perasaan orang, akan semakin dianggap memiliki nilai berita yang tinggi.

berita tentang kematian KH Zainuddin MZ, dianggap memiliki nilai berita karena kepopuleran nama sang kyai yang bisa dianggap fenomenal. betapa tidak, 'gelar' da'i sejuta umat tentu indikasi paling gampang kalo mau ngomong soal kepopuleran. namun kenapa berita tentang kematiannya yang ditampilkan di media massa, terutama televisi, terkesan hanya 'sekilas'?!

sekali lagi, karena dalam konteks membicarakan pemberitaan di televisi, hal itu menjadi pertimbangan televisi. namun lagi lagi kalo boleh berhipotesis, dalam kasus ini, populer nama bukan berarti populer menjadi berita. nama yang terkenal tak lantas berarti menjadikannya berita yang dianggap menarik. setidaknya oleh yang memberitakan, dalam hal ini televisi. maupun media masa lainnya.

bandingkan saja, sebagai contoh paling gampang, dengan berita kematian sang king of pop, Michael Jackson, yang diberitakan hingga berminggu minggu bahkan hingga berbulan bulan sejak hari kematiannya. sampai saat inipun kita masih bisa sekali dua kali menjumpai perkembangan pemberitaan tentang kematiannya.

mungkin ada yang menyangkal bahwa perbandingan saya terlalu njomplang. jelas saja berbeda, MJ adalah nama yang terkenal seantero bumi, sedangkan nama KH Zainuddin MZ paling banter cuman ngetop di Indonesia. dan mungkin sekitarnya. karya karya MJ jelas jelas adalah lagu lagu ngetop yang digemari hampir semua umat manusia. sedangkan karya sang da'i mungkin 'hanya' rekaman rekaman ceramah agama. selain itu, kematian MJ adalah kematian yang kontroversial, sedangkan kematian sang da'i adalah kematian yang 'wajar', akibat penyakit yang dideritanya. jelas jauh berbeda.

sah sah saja bila ada yang menyanggah demikian, karena sayapun juga setuju dengan pernyataan seperti itu. karena memang begitu kenyataannya. adapun yang ingin saya tekankan, keduanya adalah sama sama nama yang relatif populer bagi sebagaian dari kita. walopun akan berbeda jika kita berbicara kepopuleran dalam taraf dunia. namun saya hanya akan berbicara dalam lingkup kita saja. lingkup Indonesia. intinya, keduanya adalah nama yang sama sama populer bagi kita orang orang Indonesia. sehingga berita tentang keduanya relatif sama sama 'menarik' bagi kita. lantas kenapa kenyataannya tidak demikian?!

saya masih bisa mengingat, semenjak kecil saya sering mendengarkan ceramah beliau. terutama ketika bulan puasa. bulan Ramadhan. setiap hendak berbuka puasa, dengan semangat saya menunggu ceramah beliau di televisi setiap hendak waktu berbuka puasa. ketika bulan puasa pula, ceramah ceramah beliau sering berkumandang melalui pengeras suara di mushola atau masjid masjid sekitar rumah. semenjak kecil, saya sudah akrab dengan nada suara beliau yang terdengar sangat khas.

hingga saat inipun, saya masih sering mendengarkan ceramah ceramah beliau yang 'kebetulan' saya punya cukup banyak koleksinya dalam bentuk mp3. saya sering mendengarkannya ketika hendak tidur. karena rasanya sungguh menenangkan. walopun nggak jarang saya jadi nggak bisa tidur karena ketawa mendengar gaya berceramahnya yang selalu diselipi dengan humor humor yang cerdas nan mendidik. tanpa bermaksud meremehkan para penceramah lain, rasanya memang tak ada yang bisa berceramah seperti beliau. bahasanya. gayanya. pembawaannya. wallahua'lam.

ketika sang king of pop wafat, seluruh dunia rasanya berduka. tapi ketika sang da'i sejuta umat wafat, rasanya cuma sebagian saja manusia Indonesia yang berduka. dan itupun tak berapa lama. sebagian dari kita rasanya sedih dan berduka luar biasa saat kehilangan sesosok penyanyi pop, namun di sisi lain kita merasa berduka ala kadarnya ketika kita kehilangan seorang kyai. da'i. seorang ulama. seorang pejuang agama. yang menurut saya, sungguh tak ada duanya lagi di negeri ini.


tapi memang begitulah kenyataan yang terjadi. dan sekali lagi, saya menyebutnya ironi.

inna lillahi wa inna illaihi raji'un.

selamat jalan KH Zainuddin MZ. selamat jalan da'i sejuta umat.

semoga segala yang pernah beliau lakukan senantiasa membawa manfaat.

semoga beliau diberi tempat yang sebaik baiknya di sisi Nya.


amin ya rabbal alamin.

No comments: