Jul 3, 2011

Rubbish #3

"kalo misalnya keluarganya pengen nengok gimana, bu?? maklum sebelumnya nggak pernah pisah sama anak."

tanpa bermaksud curi curi dengar, begitulah sepenggal obrolan yang sempet saya dengar hari ini. obrolan antara ibu kos dengan orang tua salah satu anak kos baru. obrolan teramat panjang jika semuanya saya tuliskan. namun entah kenapa, saya pengen sedikit menulisnya. sedikit saja.

pada musim musim begini, musim di mana hujan tak lagi pernah datang dan banyak orang sibuk mencari sekolahan, memang musim yang serba sibuk. untuk yang sibuk! tak hanya anak anaknya, bahkan orang tua tak jarang ikut ikutan ubek. ikut ikutan repot kesana kemari demi anak anaknya tercinta. tak terkecuali dalam urusan mencari kosan. well, terutama salah satunya dalam hal kosan. kenapa saya bilang terutama? karena percayalah, tak ada orang tua yang rela anaknya berakhir di kosan yang akan membimbing anaknya ke neraka! hahahaa. lebay ya?!

sederhananya, kosan adalah salah satu aspek penting yang menjadi perhatian para orang tua ketika hendak merelakan anak anaknya di perantauan. terlebih jika daerah asalnya jauh dari perantauan (dalam hal ini jauh dari Jogja). maka tak heran jika setiap musim begini, banyak tempat kosan, salah satu contohnya ya kosan saya, banyak didatangi orang orang yang ingin cari kosan. bahkan tak jarang mambawa keluarga besarnya. maka tak heran, belakangan kosan saya sering terlihat seperti sedang ada hajatan karena saking seringnya didatangi mobil mobil yang membawa orang sekampung.

pengen menemui dan bersilaturahmi dengan induk semang. ingin melihat langsung keadaan kosan. dan yang pasti ingin memastikan anak anaknya dapat tempat kos yang 'bener' adalah beberapa alasan kenapa banyak orang tua, bahkan beserta keluarga besarnya, yang ikut datang ketika ada anak baru di kosan. beberapa (ato bisa dibilang banyak. sekali) orang tua yang mungkin belum rela jika belum datang dan melihat langsung bakal tempat anak anaknya menetap, paling tidak untuk beberapa waktu ke depan. karena seperti yang saya katakan, tak ada orang tua yang rela anaknya tinggal ditempat yang dianggap tak layak. baik tak layak secara harafiah, maupun tak layak dalam arti kehidupannya. pergaulannya. lingkungannya. dan sebagainya.

well, segitu saja... pengantarnya. hahahaaa. silakan kalo masih mau baca.

mendengar pertanyaan si ibu, saya merasa seperti.. entahlah. saya bingung mengungkapkan. ato lebih tepatnya, saya nggak yakin, ato nggak tau pasti perasaan macam apa yang saya rasakan. ada semacem perasaan terusik yang mendadak membuat saya berakhir pada satu pertanyaan retoris, gimana rasanya kalo pertanyaan macam itu dilontarkan oleh orang tua saya?! pertanyaan yang seolah nggak rela melepas anaknya. pertanyaan yang mengisyaratkan betapa orang tua, terutama si ibu, begitu berat untuk jauh dari anaknya, walopun sudah jelas arah tujuan anaknya di Jogja. setidaknya untuk alasan pendidikan.

sesaat saya sempat berpikir, mungkin saya iri. ya, saya iri kepada anak itu, entah siapa dia karena saya sendiri juga belum tau anaknya, yang begitu disayang orang tuanya. setidaknya tergambar dari keberatan-hati ibunya untuk jauh dari si anak.

mungkin bisa dibilang wajar jika saya iri, karena jujur saja, saya punya lebih dari cukup alasan untuk iri. rasanya jarang sekali, kalo tak mau dibilang hampir tak pernah, saya merasa begitu diinginkannya oleh orang tua, hingga orang tua tak rela saya jauh dari mereka. saya bahkan tak ingat kapan terakhir kali merasa dikangeni oleh orang tua. ato mungkin memang nggak pernah. mungkin.

semenjak kecil hidup jauh dari orang tua mungkin alasan utamanya. semenjak kecil saya selalu iri, kadang sedih, bahkan tak jarang menangis, ketika melihat teman teman sepermainan yang kelihatannya hidup begitu bahagia dekat bersama kedua orang tua yang selalu di rumah. ada yang dipamiti ketika hendak pergi. ada yang mengkhawatirkan ketika telat pulang. dan banyak lagi. sedangkan saya? ada si embah, memang. tapi bagaimanapun si embah, mereka tetap berbeda dari orang tua. walopun kemudian, dan pada kenyataannya, saya jadi jauh lebih dekat dengan kakek nenek daripada dengan orang tua kandung saya sendiri.

bagaimanapun, tak adil rasanya jika saya menyalahkan orang tua, karena kalo bisa memilih, mungkin mereka juga akan memilih hidup bersama dekat dengan anaknya yang paling ganteng ini. hahaa. (maklum sodara saya satu satunya perempuan!) tapi keadaan mengharuskan demikian. nasib sebagai orang kampung yang butuh penghidupan mengharuskan orang tua saya, dan sebenarnya juga banyak orang tua orang tua yang lain, untuk pergi jauh merantau ke negeri seberang demi memenuhi kebutuhan untuk keberlangsungan kehidupan. termasuk, terutama, kehidupan anak anaknya.

walopun diawali rasa iri, sekali lagi saya diajarkan untuk senantiasa bersyukur. bersyukur karena walau bagaimanapun merananya saya yang jauh dari orang tua, setidaknya saya masih punya orang tua. setidaknya saya masih punya dua orang yang bisa saya panggil ibu dan bapak.


Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”


amin.

No comments: