Jul 17, 2011

When I'm Twenty-Four

When I get older losing my hair
Many years from now
Will you still be sending me a valentine
Birthday greetings bottle of wine?

If I'd been out till quarter to three

Would you lock the door
Will you still need me, will you still feed me
When I'm sixty-four?

begitulah penggalan lirik lagu When I'm Sixty-Four nya The Beatles yang mendadak jadi trending song saya hari ini. lagu karya Sir Paul McCartney itu rasanya paling tepat jadi bahan 'perenungan' saya di Minggu yang sempet mendung ini. walopun pada kenyataannya, tentu saja saya nggak bisa sebegitu merenungnya.

hari ini, Minggu 17 Juli 2011. kalo yang ngetik akte kelahiran saya nggak salah ketik, berarti hari ini saya genap berusia 24 tahun. dua puluh empat. DUA PULUH EMPAT. angka yang sudah cukup banyak untuk ukuran usia. usia yang cukup tua untuk ukuran manusia biasa yang pasti nggak akan muda selamanya. kalo rata rata umur manusia biasa sekitar 60 taunan, berarti saya sudah menjalani kurang lebih sepertiga jatah hidup di dunia yang di berikan Tuhan. tersisa dua per tiga. jika Tuhan mengijinkan saya berumur panjang.

when I'm 24.

rasanya saya selalu malu jika berbicara tentang usia. malu dalam arti yang sebenar benarnya. bukan malu karena sudah bisa dibilang tua ato jadi sering dikatain tua. tapi lebih kepada malu karena sudah bisa dibilang tua tapi belum jadi apa apa. kecuali MASIH jadi mahasiswa. belum jadi orang kalo kata orang tua. juga belum melakukan apa apa. baik bagi diri saya sendiri. apa lagi buat keluarga. dan lebih jauh, buat orang orang di sekitar saya. singkat kata, saya masih tidak berguna sebagai manusia.

when I'm 24.

walopun tak berguna, bukan berarti saya tak tau diri. bagaimanapun, terlalu banyak hal yang harus selalu saya syukuri. saya bersyukur hingga detik ini masih bisa bernafas. saya bersyukur masih bisa menghirup udara seenaknya dengan cuma cuma. saya bersyukur masih diberikan jiwa dan raga yang sehat. saya bersyukur masih hidup. dan merasa bahagia dengan bagaimanapun keadaan hidup saya.

saya bersyukur punya ibu yang selalu (mau) maklum ketika bertanya kapan saya lulus dan selalu saya jawab "Insyaallah tahun depan". saya bersyukur punya lebih dari cukup teman untuk membuat hidup saya lebih berwarna. apapun warnanya. saya bahkan bersyukur bahwasanya terkadang saya dianggap menyebalkan oleh sebagaian orang. hahahaa. dan banyak lagi hal hal yang sepatutnya saya syukuri yang sepertinya tak terhingga. jadi nggak perlu ditulis semuanya.

when I'm 24.

hanya do'a dan harapan sederhana yang bisa dipanjatkan. saya tak akan muluk meminta umur panjang. walopun tentu saja saya akan sangat bersyukur jika diberi umur panjang nan berkah. saya bahkan beruntung jika saya masih bisa merasakan umur 25. tapi yang pasti, sampai seberapapun waktu yang diberikan Tuhan mengijinkan saya menghuni dunia sebagai manusia, saya hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik. bukan manusia terbaik, hanya manusia yang lebih baik. memang terkesan ambigu dan terdengar klise. tapi tak apa. saya memang manusia ambigu. dan lebih dari itu pula, hidup memang penuh dengan hal hal klise.

when I'm 24.

I just wanna be simply a better man.

p.s : terima kasih tak berhingga buat temanku sahabatku sodariku Mahar Prastiwi yang menjadi orang pertama dan satu satunya yang memberi ucapan dan do'a, walopun demi Tuhan saya tak mengharapkannya. terima kasih kau masih ingat. terima kasih masih mau mendo'akan temanmu yang useless dan menyebalkan ini.


terima kasih.

Jul 9, 2011

Wedding Thing

selain musim dingin, bulan Juli ternyata juga musim kawin.

hahaa.. begitulah kira kira yang terlintas dalam pikiran saya ketika membaca beberapa wedding invitation yang kalo mau sedikit lebay, rasanya bertubi tubi seakan tiada henti nongol di halaman fesbuk saya. ketauan ya kalo belakangan jadi lebih sering buka fesbuk lagi! ;D

sungguh, baru belakangan ini saya diundang beberapa kawan yang semuanya serba kawinan. itu belum termasuk beberapa 'status' di fesbuk maupun kicauan di Twitter yang menyebutkan, dan atau mengisyaratkan hal yang sama. yang berbau kawinan. yang ada hubungannya sama kawinan. pokoknya yang ujung ujungnya kawinan. sekian.

ehh masih ada lagi dink.. hehehe..

ehh, kawinan kesannya kasar nggak sih?! berdasar sense of sensitivity saya yang sungguh sensitif, mungkin saya akan mengganti istilah kawinan dengan nikahan saja. selain terlihat lebih etis, kayaknya juga terdengar lebih sopan! ;)

well, kalo boleh jujur, sebenernya saya rada minder kalo ngomongin soal pernikahan dan atau serba serbi yang ada kaitan dengannya. kenapa? selain yang pasti saya belum berpengalaman, juga karena.. mmm.. mm.. karena apa ya.. kayaknya nggak ada alasan lain dink. itu saja. saya belum berpengalaman.

kalo alasan pengalaman belum terlalu meyakinkan, mungkin saya akan kasih alasan lain. walopun mungkin terkesan ngelantur dan yang pasti ngawur, pernikahan, bagi saya pribadi merupakan sesuatu hal yang serius. hal yang besar. bahkan hanya untuk sekedar diomongin. bukankah selain kelahiran dan kematian, peristiwa terbesar dalam hidup (kebanyakan) manusia adalah pernikahan?!

manusia yang masih senang berpikiran kekanak kanakan seperi saya rasanya belum waktunya, atau lebih tepatnya, belum nyampe pikirannya, kalo kata orang tua. tapi memang begitulah. saya masih merasa belum pantas membicarakan soal pernikahan. walopun sebagai manusia biasa yang normal, saya juga menginginkannya. kelak. suatu saat. nanti.

sayapun mencoba kembali sedikit mengenang, sedikit flashback ke masa lalu yang tak terlalu lampau. rasanya belum lama saya 'berpisah' dari kawan kawan saya seperjuangan semasa muda. walopun juga nggak bisa dibilang sebentar. kawan kawan yang bisa dikatakan jarang, ato malah nyaris tak pernah bertatap muka lagi semenjak terakhir kali saling semprot phylox ke seragam putih abu abu waktu itu. maka tak heran jika tiap ada kesempatan untuk bisa bertemu dan berkumpul lagi untuk sekedar temu rindu, sungguh saya tak mengelak saya merasa senang. tapi sungguh pula berbeda rasanya, dan apa mau dikata, jika sekalinya kesempatan itu datang, ianya datang dalam wujud undangan pernikahan. #JLEB

sayapun sering merasa simalakama. serba salah. di satu sisi, undangan datang dari kawan. tak enak kalo tak datang. di sisi yang lain, saya merasa seperti tak ada nyali. ya, tak ada nyali. nggak berani. nggak beraninya seperti apa dan kenapa, rada susah juga menjelaskannya. karena saya sendiri juga nggak tau gimana persis alasannya.

jujur saja, saya memang bukan tipe orang yang suka acara macam begituan. pernikahan dan sejenisnya. yang mengharuskan berdandan. berpakaian sopan. dan sebaginya. singkatnya, mungkin bisa dikatakan saya alergi pada segala macem kegiatan yang mengharuskan berpakaian rapi! ;D

jangankan pernikahan atau hajatan dari kawan kawan, acara pernikahan atau hajatan maupun segalama macem acara kerabat atau bahkan keluarga sendiri saja, saya kadang masih males malesan. well, bukan kadang kadang, lebih tepatnya, selalu. saya selalu merasa enggan menghadiri acara acara hajatan dan semacamnya. entah kenapa, tapi begitulah kenyataannya.

mungkin banyak yang kemudian menganggap saya tak sopan. bukankah sebagai seorang muslim yang baik, harusnya datang ketika diundang, selama memang tak berhalangan?! tapi apa mau dikata, jangankan muslim yang baik, saya bahkan bukan orang yang baik. atau dalam hal ini, mungkin saya memang bukan teman yang baik.

karma itu ada. dan saya percaya. jika sekarang saya nggak datang ketika diundang, mungkin di masa mendatang hal demikian terjadi pada saya. mungkin ketika nanti saya menikah, banyak yang tak datang meskipun saya undang. tapi tak apalah. toh saya juga nggak berencana nikahan dengan acara gede gedean! hahaa.


buat kawan kawan yang berbaik hati mengundang, setulus hati saya mohon maaf jika sekiranya tak datang ke pernikahan kalian. banyak alesan klise dan retoris yang mungkin akan terdengar picisan jika harus disebutkan. bagaimanapun, saya hanya bisa memberi do'a dan ikut berbahagia. sebagai kawan, apa yang bisa saya lakukan selain ikut senang atas kebahagiaan kalian.

selamat menempuh hidup baru, kawan kawanku. semoga saya juga diberi kesempatan untuk merasakan indahnya pernikahan. suatu hari nanti. semoga! ;D

bahagia untuk kalian. bahagia untuk kita semua.

'till death do us apart!


cheers.

Jul 7, 2011

Saya Menyebutnya Ironi

Selasa. 5 Juli 2011.

sekitar jam 10 pagi saya sudah terbangun. sejenak melihat siaran berita di televisi, sayapun tertegun dengan breaking news di salah satu televisi swasta berinisial t.v.o.n.e, "KH Zainuddin MZ Wafat". begitulah headline nya.

jujur saja, saya nggak tau persis bagaimana perasaan saya waktu itu. antara kaget. sedih. rada nggak percaya. dan entah apa lagi. rasanya saya tak pernah se stuck-at-the-moment itu ketika melihat atau mendengar berita tentang kematian seseorang yang notabene bukan keluarga, atau sanak sodara saya.

sejenak saya mengikuti breaking news yang dilaporkan langsung dari rumah almarhum itu. nampak ramai dengan orang orang yang melayat, selain tentu saja juga banyak wartawan. barulah sesaat kemudian, saya beralih ke Twitter. meskipun tak banyak, tapi saya dapati juga beberapa berita yang memberitakan hal yang sama. dan sekali lagi, saya makin merasa tak tau bagaimana perasaan saya waktu itu. saya merasa seperti tak merasa. entahlah. saya bingung bagaimana mengungkapkannya dalam kata kata. halahh!

sehari berselang. dua hari berlalu. hingga hari ini, saya amati, atau setidaknya sepanjang pengetahuan saya yang sempit, nyaris sudah tak ada lagi berita tentang wafatnya sang kyai. media massa, terutama televisi, tak lagi mengangkat, bahkan tak menyinggung berita tersebut. saya juga nggak tau persis kenapa, karena jujur saja saya memang nggak tau.

tapi kalo boleh sedikit sok tau, nilai berita mungkin bisa jadi alasannya. paling tidak, salah satunya. ya, nilai berita adalah salah satu pertimbangan utama ketika sebuah berita hendak diberitakan. dengan bahasa sederhananya, berita yang diberitakan hanya berita yang dianggap memiliki nilai yang tinggi. gampangnya, berita yang menarik bagi khalayak luas. sehingga berita yang dianggap nggak 'menarik' biasanya hanya akan diberitakan sekilas, atau bahkan tidak diberitakan sama sekali. dengan bahasa kasarnya, tidak layak berita.

lalu bagaimana dengan berita kematian sang da'i sejuta umat??

kalo merujuk pada nilai berita, kematian, merupakan salah satu berita yang potensial memiliki nilai berita yang tinggi, di samping bencana dan konflik. tentu saja dengan catatan, bahwa berita kematian tersebut melibatkan pihak yang juga potensial memiliki nilai berita. semakin populer (nama) seseorang, makin potensial menjadi berita. ketika dunia jurnalisme mengenal istilah bad news is good news, maka segala peristiwa yang mungkin buruk bagi kita, di sisi lain memiliki nilai berita yang luar biasa bagi media. berita, semakin menyedihkan, semakin menakutkan, menyeramkan, menegangkan, atau singkatnya semakin menyentuh perasaan orang, akan semakin dianggap memiliki nilai berita yang tinggi.

berita tentang kematian KH Zainuddin MZ, dianggap memiliki nilai berita karena kepopuleran nama sang kyai yang bisa dianggap fenomenal. betapa tidak, 'gelar' da'i sejuta umat tentu indikasi paling gampang kalo mau ngomong soal kepopuleran. namun kenapa berita tentang kematiannya yang ditampilkan di media massa, terutama televisi, terkesan hanya 'sekilas'?!

sekali lagi, karena dalam konteks membicarakan pemberitaan di televisi, hal itu menjadi pertimbangan televisi. namun lagi lagi kalo boleh berhipotesis, dalam kasus ini, populer nama bukan berarti populer menjadi berita. nama yang terkenal tak lantas berarti menjadikannya berita yang dianggap menarik. setidaknya oleh yang memberitakan, dalam hal ini televisi. maupun media masa lainnya.

bandingkan saja, sebagai contoh paling gampang, dengan berita kematian sang king of pop, Michael Jackson, yang diberitakan hingga berminggu minggu bahkan hingga berbulan bulan sejak hari kematiannya. sampai saat inipun kita masih bisa sekali dua kali menjumpai perkembangan pemberitaan tentang kematiannya.

mungkin ada yang menyangkal bahwa perbandingan saya terlalu njomplang. jelas saja berbeda, MJ adalah nama yang terkenal seantero bumi, sedangkan nama KH Zainuddin MZ paling banter cuman ngetop di Indonesia. dan mungkin sekitarnya. karya karya MJ jelas jelas adalah lagu lagu ngetop yang digemari hampir semua umat manusia. sedangkan karya sang da'i mungkin 'hanya' rekaman rekaman ceramah agama. selain itu, kematian MJ adalah kematian yang kontroversial, sedangkan kematian sang da'i adalah kematian yang 'wajar', akibat penyakit yang dideritanya. jelas jauh berbeda.

sah sah saja bila ada yang menyanggah demikian, karena sayapun juga setuju dengan pernyataan seperti itu. karena memang begitu kenyataannya. adapun yang ingin saya tekankan, keduanya adalah sama sama nama yang relatif populer bagi sebagaian dari kita. walopun akan berbeda jika kita berbicara kepopuleran dalam taraf dunia. namun saya hanya akan berbicara dalam lingkup kita saja. lingkup Indonesia. intinya, keduanya adalah nama yang sama sama populer bagi kita orang orang Indonesia. sehingga berita tentang keduanya relatif sama sama 'menarik' bagi kita. lantas kenapa kenyataannya tidak demikian?!

saya masih bisa mengingat, semenjak kecil saya sering mendengarkan ceramah beliau. terutama ketika bulan puasa. bulan Ramadhan. setiap hendak berbuka puasa, dengan semangat saya menunggu ceramah beliau di televisi setiap hendak waktu berbuka puasa. ketika bulan puasa pula, ceramah ceramah beliau sering berkumandang melalui pengeras suara di mushola atau masjid masjid sekitar rumah. semenjak kecil, saya sudah akrab dengan nada suara beliau yang terdengar sangat khas.

hingga saat inipun, saya masih sering mendengarkan ceramah ceramah beliau yang 'kebetulan' saya punya cukup banyak koleksinya dalam bentuk mp3. saya sering mendengarkannya ketika hendak tidur. karena rasanya sungguh menenangkan. walopun nggak jarang saya jadi nggak bisa tidur karena ketawa mendengar gaya berceramahnya yang selalu diselipi dengan humor humor yang cerdas nan mendidik. tanpa bermaksud meremehkan para penceramah lain, rasanya memang tak ada yang bisa berceramah seperti beliau. bahasanya. gayanya. pembawaannya. wallahua'lam.

ketika sang king of pop wafat, seluruh dunia rasanya berduka. tapi ketika sang da'i sejuta umat wafat, rasanya cuma sebagian saja manusia Indonesia yang berduka. dan itupun tak berapa lama. sebagian dari kita rasanya sedih dan berduka luar biasa saat kehilangan sesosok penyanyi pop, namun di sisi lain kita merasa berduka ala kadarnya ketika kita kehilangan seorang kyai. da'i. seorang ulama. seorang pejuang agama. yang menurut saya, sungguh tak ada duanya lagi di negeri ini.


tapi memang begitulah kenyataan yang terjadi. dan sekali lagi, saya menyebutnya ironi.

inna lillahi wa inna illaihi raji'un.

selamat jalan KH Zainuddin MZ. selamat jalan da'i sejuta umat.

semoga segala yang pernah beliau lakukan senantiasa membawa manfaat.

semoga beliau diberi tempat yang sebaik baiknya di sisi Nya.


amin ya rabbal alamin.

Jul 6, 2011

Lagi Lagi Iri

hari ini, mungkin karena saking kurang kerjaannya, iseng iseng saya baca baca blog orang. sebenernya saya memang suka baca tulisan orang, yang salah satunya dalam bentuk blog. jadi kalopun sedang nggak kurang kerjaan, kadang saya juga masih tetep seneng iseng baca tulisan orang. bedanya, ke-kurangkerjaan-an saya kali ini membuat saya punya sedikit lebih banyak waktu. yang berarti juga lebih banyak blog yang bisa saya buka. lebih banyak tulisan yang bisa saya baca.

bisa dibilang, saya termasuk orang yang beranggapan you are what you write. walopun tanpa bermaksud menggenaralisasikan, menurut saya, salah satu cara mengenal seseorang adalah melalui tulisannya. itulah kenapa saya relatif lebih suka membaca blog daripada membaca buku. membaca blog, menurut saya, berarti kita juga membaca penulisnya. setidaknya dari tulisannya kita jadi sedikit tau, atau paling tidak bisa sedikit membayangkan, manusia macam apa yang menulisnya. walopun hal yang sama bisa dilakukan melalui membaca buku, tulisan di blog biasanya relatif lebih personal, baik dalam hal apa yang ditulis maupun bagaimana menuliskannya. well, itu cuman masalah selera dalam pendekatan, jadi yang manapun sebenernya sama saja, toh sama sama membaca.

hal paling menyenangkan dari membaca tulisan orang, terutama yang ditulis di blog, adalah mengetahui bermacam perspektif orang. bagaimana cara pandang seseorang. bagaimana seseorang bercerita tentang apapun melalui tulisan adalah hal menarik yang bisa saya (kita) lihat setiap membaca tulisan orang. terlebih jika tulisan yang dibaca memberikan daya tarik lebih kepada kita, pembacanya. kita sebagai pembaca jadi bisa lebih memberikan kredit, memberikan apresiasi. karena yang pasti, kita jadi bisa menikmati membacanya.

setiap kali berburu blog, tak jarang saya menemui tulisan tulisan yang menurut saya bagus sekali. walopun yang nggak bagus jauh lebih banyak. tapi sekali lagi, saya tak akan terlalu memaksakan pendapat subjektif saya ini tentang apa dan bagaimana tulisan yang bagus. karena saya memang nggak tau! hahahaa.

setiap membaca tulisan yang menurut saya bagus (sekali), tak jarang saya merasa minder, bahkan iri. pengen rasanya bisa bikin tulisan bagus seperti tulisan mereka. jika kemudian saya bandingkan dengan tulisan tulisan yang pernah saya buat, rasanya seperti membandingkan karya tulis dengan sampah. benar benar sampah. dan sayapun hanya pisa pasrah. karena bagaimanapun, saya bukan mereka. jadi wajar saya nggak bisa nulis seperti mereka. tapi biarlah, biar sampah yang penting karya sendiri. hahaa. alibi!

terkadang sayapun iri tentang bagaimana seseorang bisa menulis dengan bahasa penulisan yang terlihat apik dan terkesan cerdas. entah tulisannya yang cerdas ato sayanya saja yang bodoh. entahlah. tapi tiap kali menjumpai tulisan macam itu, saya hanya bisa gedeg gedeg mengagumi. kalo tulisannya saja keliatan pinter, gimana penulisnya. pastilah.. minimal sok pinter! ;D

banyak tulisan yang (mencoba) memberikan sesuatu kepada pembacanya. minimal memberikan hiburan. bahkan tak jarang memberikan informasi ato pengetahuan kepada para pembacanya. sedangkan tulisan saya? nampaknya lebih seperti sebuah pembodohan daripada sebuah tulisan. tapi tak apalah. bukankah sudah banyak orang yang menulis tentang hal hal yang penting dan bermanfaat, jadi sudah saatnya ada seseorang yang berani menulis tentang berbagai macam hal yang nggak penting dan sampah. itulah.. saya!

dan sekali lagi sayapun harus menghibur diri. karena kalo bukan saya sendiri, siapa lagi?! ;D


cheers.

Jul 3, 2011

Rubbish #3

"kalo misalnya keluarganya pengen nengok gimana, bu?? maklum sebelumnya nggak pernah pisah sama anak."

tanpa bermaksud curi curi dengar, begitulah sepenggal obrolan yang sempet saya dengar hari ini. obrolan antara ibu kos dengan orang tua salah satu anak kos baru. obrolan teramat panjang jika semuanya saya tuliskan. namun entah kenapa, saya pengen sedikit menulisnya. sedikit saja.

pada musim musim begini, musim di mana hujan tak lagi pernah datang dan banyak orang sibuk mencari sekolahan, memang musim yang serba sibuk. untuk yang sibuk! tak hanya anak anaknya, bahkan orang tua tak jarang ikut ikutan ubek. ikut ikutan repot kesana kemari demi anak anaknya tercinta. tak terkecuali dalam urusan mencari kosan. well, terutama salah satunya dalam hal kosan. kenapa saya bilang terutama? karena percayalah, tak ada orang tua yang rela anaknya berakhir di kosan yang akan membimbing anaknya ke neraka! hahahaa. lebay ya?!

sederhananya, kosan adalah salah satu aspek penting yang menjadi perhatian para orang tua ketika hendak merelakan anak anaknya di perantauan. terlebih jika daerah asalnya jauh dari perantauan (dalam hal ini jauh dari Jogja). maka tak heran jika setiap musim begini, banyak tempat kosan, salah satu contohnya ya kosan saya, banyak didatangi orang orang yang ingin cari kosan. bahkan tak jarang mambawa keluarga besarnya. maka tak heran, belakangan kosan saya sering terlihat seperti sedang ada hajatan karena saking seringnya didatangi mobil mobil yang membawa orang sekampung.

pengen menemui dan bersilaturahmi dengan induk semang. ingin melihat langsung keadaan kosan. dan yang pasti ingin memastikan anak anaknya dapat tempat kos yang 'bener' adalah beberapa alasan kenapa banyak orang tua, bahkan beserta keluarga besarnya, yang ikut datang ketika ada anak baru di kosan. beberapa (ato bisa dibilang banyak. sekali) orang tua yang mungkin belum rela jika belum datang dan melihat langsung bakal tempat anak anaknya menetap, paling tidak untuk beberapa waktu ke depan. karena seperti yang saya katakan, tak ada orang tua yang rela anaknya tinggal ditempat yang dianggap tak layak. baik tak layak secara harafiah, maupun tak layak dalam arti kehidupannya. pergaulannya. lingkungannya. dan sebagainya.

well, segitu saja... pengantarnya. hahahaaa. silakan kalo masih mau baca.

mendengar pertanyaan si ibu, saya merasa seperti.. entahlah. saya bingung mengungkapkan. ato lebih tepatnya, saya nggak yakin, ato nggak tau pasti perasaan macam apa yang saya rasakan. ada semacem perasaan terusik yang mendadak membuat saya berakhir pada satu pertanyaan retoris, gimana rasanya kalo pertanyaan macam itu dilontarkan oleh orang tua saya?! pertanyaan yang seolah nggak rela melepas anaknya. pertanyaan yang mengisyaratkan betapa orang tua, terutama si ibu, begitu berat untuk jauh dari anaknya, walopun sudah jelas arah tujuan anaknya di Jogja. setidaknya untuk alasan pendidikan.

sesaat saya sempat berpikir, mungkin saya iri. ya, saya iri kepada anak itu, entah siapa dia karena saya sendiri juga belum tau anaknya, yang begitu disayang orang tuanya. setidaknya tergambar dari keberatan-hati ibunya untuk jauh dari si anak.

mungkin bisa dibilang wajar jika saya iri, karena jujur saja, saya punya lebih dari cukup alasan untuk iri. rasanya jarang sekali, kalo tak mau dibilang hampir tak pernah, saya merasa begitu diinginkannya oleh orang tua, hingga orang tua tak rela saya jauh dari mereka. saya bahkan tak ingat kapan terakhir kali merasa dikangeni oleh orang tua. ato mungkin memang nggak pernah. mungkin.

semenjak kecil hidup jauh dari orang tua mungkin alasan utamanya. semenjak kecil saya selalu iri, kadang sedih, bahkan tak jarang menangis, ketika melihat teman teman sepermainan yang kelihatannya hidup begitu bahagia dekat bersama kedua orang tua yang selalu di rumah. ada yang dipamiti ketika hendak pergi. ada yang mengkhawatirkan ketika telat pulang. dan banyak lagi. sedangkan saya? ada si embah, memang. tapi bagaimanapun si embah, mereka tetap berbeda dari orang tua. walopun kemudian, dan pada kenyataannya, saya jadi jauh lebih dekat dengan kakek nenek daripada dengan orang tua kandung saya sendiri.

bagaimanapun, tak adil rasanya jika saya menyalahkan orang tua, karena kalo bisa memilih, mungkin mereka juga akan memilih hidup bersama dekat dengan anaknya yang paling ganteng ini. hahaa. (maklum sodara saya satu satunya perempuan!) tapi keadaan mengharuskan demikian. nasib sebagai orang kampung yang butuh penghidupan mengharuskan orang tua saya, dan sebenarnya juga banyak orang tua orang tua yang lain, untuk pergi jauh merantau ke negeri seberang demi memenuhi kebutuhan untuk keberlangsungan kehidupan. termasuk, terutama, kehidupan anak anaknya.

walopun diawali rasa iri, sekali lagi saya diajarkan untuk senantiasa bersyukur. bersyukur karena walau bagaimanapun merananya saya yang jauh dari orang tua, setidaknya saya masih punya orang tua. setidaknya saya masih punya dua orang yang bisa saya panggil ibu dan bapak.


Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo.

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”


amin.