Jun 29, 2011

Rubbish #2

pernahkan anda merasa aneh dengan diri sendiri?? well, nggak usah terlalu njlimet menafsirkan anehnya gimana, sepanjang anda merasa aneh, dalam penafsiran anda sendiri. kalo mungkin anda tak pernah, saya pernah. anda juga nggak perlu sok kaget kenapa saya begitu yakin menjawab. bukan karena saya makhluk aneh, tapi lebih kepada niatan untuk senantiasa mensyukuri keanehan. ahh pokoknya begitulah!


kalo mau sedikit menelisik, sebenarnya banyak hal aneh yang saya kuasai (??) maksudnya yang ada pada diri saya yang hina dina lorenza ini. kalo mau menyebut, mungkin ada sekitar 92938384754756 keanehan yang bisa anda temui pada diri saya, baik yang secara eksplisit dapat anda lihat, maupun yang secara implisit tak kasat mata. hanya orang orang berhati mulia yang bisa melihatnya. tapi dengan maksud nggak mau terlalu bangga akan aib diri sendiri, saya hanya akan menyebutkan beberapa saja yang terlintas di kepala. ato setidaknya yang saya anggap sebagai aib layak publikasi.


straight to the points.. salah satu keanehan yang sering saya rasakan, dan percayalah yang ini benar benar sering, adalah adanya semacam perasaan ambigu terhadap diri sendiri. yang saya maksud jelas bukan ambigu jenis kelamin, tapi lebih pada ambigu soal personal. ambiguitas kepribadian. mungkin begitu bahasa psikologisnya.


meminjam nama salah satu musuh Batman, saya kadang merasa seperti Two-Face. bermuka dua kalo bahasa kita mengartikannya. mendengar kata 'bermuka-dua' saja rasanya nggak bisa nggak, sebagian dari kita akan langsung megasosiakan negatif. setidaknya begitu bahasa keseharian kita menafsirkannya. tapi soal penafsiran, itu masalah subjektif, dan untuk masalah subjektif, rasanya nggak ada gunanya memperdebatkannya.


walopun secara fisik muka saya tetaplah satu dan pastilah jelek, banyak yang bisa dijadikan contoh betapa bermuka duanya saya. beberapa teman yang secara fisik sering bergaul dengan saya pasti sedikit banyak bisa mengenali sifat saya yang satu ini. jangankan kelakuan, omongan saya saja kadang tak jarang mencerminkan ambiguitas ini. seorang teman mungkin bilang saya alim. yang lain bisa bilang saya sok alim. yang satu bilang kadang saya pemalu, yang lain bilang saya sering tak tau malu. kadang saya bilang anti-alay, lain waktu saya malah biangnya alay. hahahaa. dan begitu seterusnya. kalo mau disebutin semua, nanti malah jadi skripsi.


ambiguitas yang aneh. aneh yang ambigu. ambigu yang saya tak tau bagaimana kronologis asal muasalnya, tapi begitu terasa dampaknya. ambigu 'muka' menjadi yang paling dominan saya rasakan. muka yang satu ke kanan, muka yang satu ke kiri. muka yang satu begitu, muka yang lain begini. personalitas bermuka dua kadang membuat saya menjadi seperti munafik. walopun, untungnya, munafik yang masih dalam taraf intern. munafik yang, semoga, tidak menyakiti atau bahkan merugikan orang lain.

selain bermuka dua, kadang saya merasa juga berkepribadian ganda. sekali lagi, berkepribadian ganda. bukan berkelamin ganda. bedanya, jika keanehan bermuka dua relatif saya rasakan dalam diri saya pribadi, keanehan berkeperibadian ganda cenderung ada hubungannya dengan orang di sekitar. dengan lingkungan. dengan pergaulan.


bisa dikatakan, ato setidaknya yang saya rasakan, saya termasuk manusia yang cukup socialiable, yang relatif mudah bergaul membaur dan melebur dengan lingkungan. kalo saja bunglon, kemampuan mimikri saya sudah dalam taraf cukup berhasil. tapi di lain sisi, entah kenapa pula, kadang sayapun merasa sangat un-connected. nggak nyambung. nggak mampu menyatu dengan sekitar. seolah teralienisasi. dengan bahasa bunglonnya, mimikri saya gagal. total.


mungkin kalo soal yang ini, saya bisa sedikit menelaah sebab musababnya. karena melibatkan orang lain, minimal ada beberapa hipotesis yang mungkin saja masuk akal. pertama, tetap melibatkan faktor personal, mood. yak, mood adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan saya ketika bergaul. terutama ketika bergaul dengan orang orang yang baru kenal, atau baru ditemui. ketika mood sedang bagus, rasanya lebih gampang 'memulai' sebuah koneksi dengan lingkungan (orang-orang) baru. begitu pula sebaliknya. ketika mood sedang nggak mendukung, ngomong saja rasanya males. nanggepi omongan apa lagi. lebih parah jika yang diajak ngomong malah makin merusak mood. hasilnya mood hancur kuadrat! dan endingnya jelas, mau dibawa kemana hubungan kita, nggak ada yang tau jawabannya.


selain mood, koneksi juga sangat dipengaruhi signal. signal bisa bermacam bentuknya. gesture. bahasa tubuh. tutur kata. dan sebagainya. contoh sederhananya, ngomong dengan orang murah senyum tentu sangat berbeda rasanya dibanding ngomong dengan orang yang, entah sengaja ato tidak, lupa caranya tersenyum. ngobrol dengan orang yang sama sama suka becanda tentu beda rasanya dibanding ngobrol dengan orang yang merasa seisi dunia berada di pundaknya.


secar naluriah, semenjak pertama dilahirkan ke muka dunia saya sudah bikin keramaian. dan hingga saat inipun saya adalah tipe manusia yang suka keramaian. tapi karena satu dan lain hal, tak jarang saya lebih senang ketenangan. lebih suka sendirian. walopun saya sangat menikmati keramaian, ada beberapa hal yang menurut saya lebih asik dilakukan ato dinikmati ketika sendirian. ato setidaknya sebagai variasi dalam cara menikmati. sengaja mengalienisasi diri terkadang lebih menghibur bagi saya, daripada di tengah keramaian tapi tak tau harus bagaimana menikmatinya.


muter muter keliling kota. buang buang waktu ke mall. nonton bioskop. nonton konser. adalah beberapa hal yang lazim dilakukan rame rame. ato setidaknya dengan pasangan. terserah definisi anda soal pasangan. singkatnya, kebanyakan orang melakukannya dengan orang lain. tapi pernahkah anda mencoba cara lain menikmatinya. melakukannya seorang diri. kalo anda tidak, ato belum pernah, saya sering. dan bagi saya selalu ada sensasi berbeda setiap melakukan sesuatu yang nggak lazim. nggak seperti orang lain melakukannya. dan sungguh, jika anda belum pernah mencoba, anda melewatkan indahnya menjadi i am me! ;D


dan begitulah. saya nggak tau apakah keanehan keanehan itu bisa dikatakan kelainan. toh saya juga nggak keberatan dibilang memiliki kelainan. karena pada kenyataannya saya memang lain. lain dari orang lain.


bagi kebanyakan orang mungkin akan dibilang aneh, tapi bagi saya yang notabene terlahir 'aneh', sering bergaul dengan berbagai keanehan membuat aneh tak lagi aneh. aneh seakan menjadi kewajaran. kewajaran yang secara akal sehat saya terima sebagai suata berkah dari Yang Maha Kuasa.


cheers.