"I don't mind in making jokes. But I don't want to look like one." - Marilyn Monroe
apakah anda pernah becanda?? hehee. pertanyaan retoris memang. atau mungkin malah pertanyaan bodoh. jadi anda nggak usah repot-repot menjawabnya.
saya sendiri nggak tau pasti apakah ada manusia di bumi ini yang (selama hidupnya) nggak pernah becanda. kalo orang yang tidak suka becanda, mungkin ada. bahkan bisa banyak. tapi orang yang nggak pernah becanda? sama sekali?! saya meragukan ada orang seperti itu. kecuali kalo dari bayi udah kloningan hitler! hitler saja barangkali juga pernah becanda. dan saya lebih yakin kalo dia juga pernah -mungkin malah sering- jadi bahan becandaan. who knows.
ngomongin canda dan becanda, nampaknya tidak bisa lepas dari ketawa. jangan tanya kenapa. memang sudah begitu dari sononya. coba tengok orang yang sedang becanda, hampir dapat dipastikan bahwa mereka juga tertawa. atau senyum lah setidak tidaknya. kalo anda pernah melihat orang becanda yang nggak tertawa, ato bahkan nggak senyum sama sekali, saya dapat pastikan bahwa anda menyaksikan peristiwa langka!
saya sendiri sebagai umat manusia yang beragama, merasa sangat bersyukur bahwasanya saya terlahir sebagai kelompok manusia yang senang becanda. dan tak jarang jadi bahan becandaan. buat saya, becanda adalah salah satu anugerah tuhan kepada manusia yang harus kita manfaatkan sebaik baiknya. kenapa? ya nggak papa sih. itu cuman kata saya. ;)
sebagai orang yang suka becanda, tentulah saya juga senang (dan syukurlah memang begitu keadaannya) banyak bergaul dengan orang orang yang juga suka becanda. karena saya tau, betapa kikukknya ketika saya harus bergaul dengan orang yang 'serius'. mengingat saya bukan tipe orang seriusan. maka jangan heran jika anda tipe orang yang serius, saya pastikan kita tak kan sejalan. hehee.
seperti kata saya di muka, semua orang pasti pernah becanda. walopun nggak semua orang senang becanda. ada kalanya orang merasa segan dengan becandaan. tak heran, karena orang yang kadung akut, di mana mana bawaanya pengennya becanda. well, oke lah, saya contohnya. saya sendiri, terkadang heran dengan naluri (kebiasaan) becanda saya yang saya sendiri merasa mungkin.... mmmm... apa ya kata yang tepat. berlebihan, mungkin. ya, saya kadang merasa saya suka becanda yang berlebihan. ato relatif berlebihan lah. bahasa sederhananya, nggak jarang saya becanda yang nggak pada tempatnya. jadi nggak heran juga kalo banyak orang yang jadi korban, yang mungkin kemudian dendam, karena becandaan saya yang dirasa nggak semestinya kepada ato tentang mereka.
ketika mengikuti seleksi masuk sebuah organisasi di kampus, saya pernah ditolak karena mereka rasa saya kebanyakan becanda ketika wawancara. saya pernah ditegur dosen karena dianggap terlalu bencanda ketika menjawab soal ujian. belum lagi ketika ditampar cewek karena dikiranya becanda ketika saya bilang saya ingin menciumnya. hahahaa. dan banyak lagi contoh bodoh dari becandaan saya yang mungkin nggak pada tempatnya.
seorang 'teman' saya yang bisa dibilang juga kadung akut soal kebiasaan becanda pernah saya tanya, apakah dia selalu suka becanda. dengan mantap dianya menjawab iya. dan ketika ditanya kenapa, karena hidup cuma sekali, katanya.
saya sebenernya bingung dengan jawabannya yang saat itu saya pikir nggak nyambung. tapi saya diam saja karena nggak mau menyinggungnya dengan menyanggah jawaban 'bijaksana' nya. pada awalnya, saya merasa senang bergaul dengan 'teman' saya ini, tentu saja karena alasan 'penyakit' becanda yang sama sama sudah stadium lanjut. namun lama kelamaan, saya semakin dibuat malas dengan tipe becandaannya yang menurut saya kadang nggak ada lucunya. jayus, kalo kata anak jaman sekarang.
memakluminya adalah hal pertama yang saya lakukan sebagai sikap seorang teman. namun entah kenapa, lama kelamaan, saya jadi bosan cenderung muak dengan gaya becandanya yang semakin nggak ada lucunya. sekali lagi, menurut saya. saya sendiri nggak tau, apakah dia menyadari betapa jayusnya dia becanda. ato memang dia sengaja becanda, tak peduli jayus ato tidak, selama hasrat becandanya terlampiaskan.
mengenal 'teman' saya itu, saya jadi rada lega, setidaknya saya jadi tau kalo saya bukan orang paling parah dalam hal kebiasaan becanda. karena jujur saja, dia jauh lebih parah dari saya. buat dia, rasanya tiada menit berlalu tanpa becanda. tak peduli canda itu memancing tawa, ato justru mengundang prasangka. prasangka bahwa ternyata ada orang yang doyan becanda yang becandaaannya nggak ada lucu lucunya. whatthefuck!
beberapa orang yang suka becanda, belum tentu suka jadi bahan becandaan. karena percayalah, rasanya sangat berbeda antara menertawakan dengan ditertawakan. terlebih bila kita ditertawakan tentang hal hal yang kita anggap sensitif, sehingga enggan kita jadikan bahan becandaan. sekali lagi saya harus bersyukur bahwa saya dianugerahi 'berkah' berimbang. sebanyak saya becandain orang, mungkin sebanyak itu pula saya jadi bahan becandaan. sebanyak saya menertawakan orang, mungkin sebanyak itu pula saya juga pernah ditertawakan. mungkin ada yang bilang begitulah karma. karena memang begitulah seharusnya. saya sendiri selalu mencoba untuk menanggapinya dengan becanda. karena dari kebiasaan becanda yang akut saya dapat sebuah pelajaran sederhana, sikapi candaan dengan becanda. karena sudah begitu hukum alamnya jika anda tak ingin terluka. hahaa. that simple!
hidup terkadang nggak harus melulu diambil serius. walopun juga nggak semestinya melulu becanda. life has to be a little nuts sometimes. and there's no point in being nuts if you can't have a little fun.
bijaklah dalam becanda, karena becanda adalah bagian yang memberi warna hidup kita sebagai manusia. becandalah sewajarnya. becandalah pada tempatnya. mengutip (sekaligus) menyanggah kata 'teman' saya di muka, hidup di dunia cuman sekali, jangan dihabiskan dengan sesuatu yang sia sia seperti becandaan yang nggak ada lucunya. daripada becanda tapi nggak ada lucunya, mending diam saja. hahaa.
mari becanda. mari ceria.
cheers.
apakah anda pernah becanda?? hehee. pertanyaan retoris memang. atau mungkin malah pertanyaan bodoh. jadi anda nggak usah repot-repot menjawabnya.
saya sendiri nggak tau pasti apakah ada manusia di bumi ini yang (selama hidupnya) nggak pernah becanda. kalo orang yang tidak suka becanda, mungkin ada. bahkan bisa banyak. tapi orang yang nggak pernah becanda? sama sekali?! saya meragukan ada orang seperti itu. kecuali kalo dari bayi udah kloningan hitler! hitler saja barangkali juga pernah becanda. dan saya lebih yakin kalo dia juga pernah -mungkin malah sering- jadi bahan becandaan. who knows.
ngomongin canda dan becanda, nampaknya tidak bisa lepas dari ketawa. jangan tanya kenapa. memang sudah begitu dari sononya. coba tengok orang yang sedang becanda, hampir dapat dipastikan bahwa mereka juga tertawa. atau senyum lah setidak tidaknya. kalo anda pernah melihat orang becanda yang nggak tertawa, ato bahkan nggak senyum sama sekali, saya dapat pastikan bahwa anda menyaksikan peristiwa langka!
saya sendiri sebagai umat manusia yang beragama, merasa sangat bersyukur bahwasanya saya terlahir sebagai kelompok manusia yang senang becanda. dan tak jarang jadi bahan becandaan. buat saya, becanda adalah salah satu anugerah tuhan kepada manusia yang harus kita manfaatkan sebaik baiknya. kenapa? ya nggak papa sih. itu cuman kata saya. ;)
sebagai orang yang suka becanda, tentulah saya juga senang (dan syukurlah memang begitu keadaannya) banyak bergaul dengan orang orang yang juga suka becanda. karena saya tau, betapa kikukknya ketika saya harus bergaul dengan orang yang 'serius'. mengingat saya bukan tipe orang seriusan. maka jangan heran jika anda tipe orang yang serius, saya pastikan kita tak kan sejalan. hehee.
seperti kata saya di muka, semua orang pasti pernah becanda. walopun nggak semua orang senang becanda. ada kalanya orang merasa segan dengan becandaan. tak heran, karena orang yang kadung akut, di mana mana bawaanya pengennya becanda. well, oke lah, saya contohnya. saya sendiri, terkadang heran dengan naluri (kebiasaan) becanda saya yang saya sendiri merasa mungkin.... mmmm... apa ya kata yang tepat. berlebihan, mungkin. ya, saya kadang merasa saya suka becanda yang berlebihan. ato relatif berlebihan lah. bahasa sederhananya, nggak jarang saya becanda yang nggak pada tempatnya. jadi nggak heran juga kalo banyak orang yang jadi korban, yang mungkin kemudian dendam, karena becandaan saya yang dirasa nggak semestinya kepada ato tentang mereka.
ketika mengikuti seleksi masuk sebuah organisasi di kampus, saya pernah ditolak karena mereka rasa saya kebanyakan becanda ketika wawancara. saya pernah ditegur dosen karena dianggap terlalu bencanda ketika menjawab soal ujian. belum lagi ketika ditampar cewek karena dikiranya becanda ketika saya bilang saya ingin menciumnya. hahahaa. dan banyak lagi contoh bodoh dari becandaan saya yang mungkin nggak pada tempatnya.
seorang 'teman' saya yang bisa dibilang juga kadung akut soal kebiasaan becanda pernah saya tanya, apakah dia selalu suka becanda. dengan mantap dianya menjawab iya. dan ketika ditanya kenapa, karena hidup cuma sekali, katanya.
saya sebenernya bingung dengan jawabannya yang saat itu saya pikir nggak nyambung. tapi saya diam saja karena nggak mau menyinggungnya dengan menyanggah jawaban 'bijaksana' nya. pada awalnya, saya merasa senang bergaul dengan 'teman' saya ini, tentu saja karena alasan 'penyakit' becanda yang sama sama sudah stadium lanjut. namun lama kelamaan, saya semakin dibuat malas dengan tipe becandaannya yang menurut saya kadang nggak ada lucunya. jayus, kalo kata anak jaman sekarang.
memakluminya adalah hal pertama yang saya lakukan sebagai sikap seorang teman. namun entah kenapa, lama kelamaan, saya jadi bosan cenderung muak dengan gaya becandanya yang semakin nggak ada lucunya. sekali lagi, menurut saya. saya sendiri nggak tau, apakah dia menyadari betapa jayusnya dia becanda. ato memang dia sengaja becanda, tak peduli jayus ato tidak, selama hasrat becandanya terlampiaskan.
mengenal 'teman' saya itu, saya jadi rada lega, setidaknya saya jadi tau kalo saya bukan orang paling parah dalam hal kebiasaan becanda. karena jujur saja, dia jauh lebih parah dari saya. buat dia, rasanya tiada menit berlalu tanpa becanda. tak peduli canda itu memancing tawa, ato justru mengundang prasangka. prasangka bahwa ternyata ada orang yang doyan becanda yang becandaaannya nggak ada lucu lucunya. whatthefuck!
beberapa orang yang suka becanda, belum tentu suka jadi bahan becandaan. karena percayalah, rasanya sangat berbeda antara menertawakan dengan ditertawakan. terlebih bila kita ditertawakan tentang hal hal yang kita anggap sensitif, sehingga enggan kita jadikan bahan becandaan. sekali lagi saya harus bersyukur bahwa saya dianugerahi 'berkah' berimbang. sebanyak saya becandain orang, mungkin sebanyak itu pula saya jadi bahan becandaan. sebanyak saya menertawakan orang, mungkin sebanyak itu pula saya juga pernah ditertawakan. mungkin ada yang bilang begitulah karma. karena memang begitulah seharusnya. saya sendiri selalu mencoba untuk menanggapinya dengan becanda. karena dari kebiasaan becanda yang akut saya dapat sebuah pelajaran sederhana, sikapi candaan dengan becanda. karena sudah begitu hukum alamnya jika anda tak ingin terluka. hahaa. that simple!
hidup terkadang nggak harus melulu diambil serius. walopun juga nggak semestinya melulu becanda. life has to be a little nuts sometimes. and there's no point in being nuts if you can't have a little fun.
bijaklah dalam becanda, karena becanda adalah bagian yang memberi warna hidup kita sebagai manusia. becandalah sewajarnya. becandalah pada tempatnya. mengutip (sekaligus) menyanggah kata 'teman' saya di muka, hidup di dunia cuman sekali, jangan dihabiskan dengan sesuatu yang sia sia seperti becandaan yang nggak ada lucunya. daripada becanda tapi nggak ada lucunya, mending diam saja. hahaa.
mari becanda. mari ceria.
cheers.
No comments:
Post a Comment