ini adalah sebuah tulisan bodoh. hasil dari 'eksperimen' saya yang tak kalah bodohnya. hahahaa. bagi siapa saja sangat disarankan untuk tidak usah buang buang waktu membacanya!
beranjak dari sebuah perbincangan ringan dengan seorang teman, mendadak saya kepikiran dengan 'tema' konyol ini. ya. saya sendiri mengakui, memang konyol. makanya saya tulis! ;)
dengan maksud sedikit sok serius dalam ber 'eksperimen' sayapun mensurvei beberapa teman dengan mengajukan sebuah pertanyaan. beberapa teman yang saya jadiakan sample secara kuantitas maupun kualitas saya anggap sudah cukup representatif mewakili populasi. bahasane rek! ;D
pertanyaannya sederhana,
in your personal opinion, do you think that we have to be lover then we can have a date?
jujur saja, saya nggak yakin kalimat pertanyaan itu bener ato nggak. lalu kenapa sok pake bahasa inggris. well, sok gaya saja. hahaa.
bahasa sederhananya begini,
menurut pendapat anda, apakah anda harus pacaran dengan si A baru anda bisa ngedate dengan si A? atau dengan kata lain, apakah anda hanya akan ngedate dengan si A hanya jika si A adalah pacar anda??
anda bingung?! saya juga! ;D
jika mau lebih spesifik, sebenernya kerangka konsep dari pertanyaan tersebut hanyalah sebuah permasalahan sederhana, bagaimana setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang ngedate, dan tentu saja yang tak kalah penting, DENGAN SIAPA mereka mau ngedate.
let's start with what is date?
seperti halnya jika anda mencari artinya di kamus, kata date bisa diartikan tanggal, janji, atau berkencan. tentu saja semua benar. karena memang begitulah kata kata dalam bahasa inggris. satu kata yang sama persis bisa memiliki arti yang sangat berbeda beda bila diterjemahkan ke dalam bahasa kita indonesia tercinta.
tentu saja, yang saya maksudkan di sini adalah date dalam artian berkencan. pertanyaannya sekarang, yang kemudian saya jadikan pijakan 'penelitian' ini adalah, dengan siapa anda (kita) berkencan?
untuk masalah definisi kata nampaknya semua bisa sepakat, tapi untuk permasalahan kedua, nampaknya nggak semua bersuara senada. kenapa? ya karena beda manusia kan beda kepala. yang berarti juga beda isi kepalanya. maksudnya beda jalan pikirannya.
beberapa teman yang saya jadikan sample bisa jadi contohnya. karena ternyata mereka memberikan jawaban yang berbeda beda. yang berarti semakin beragam sudut pandang yang saya dapatkan berdasar jawaban yang mereka berikan.
seorang teman saya, yang sudah punya pasangan (pacar) dengan tegas mengatakan bahwa dia hanya mau ngedate dengan pacarnya saja. ini tipe setia, kayaknya ;). teman saya yang lain, yang juga sudah punya pasangan mengatakan tergantung, kalo yang diajak ngedate mau mau saja, terlepas itu pacarnya atau bukan, ya hayo saja, kalo nggak mau ya nggak apa apa. yang ini tipe fleksibel. yang lainnya lagi, ini jawaban favorit saya, menyatakan bahwa ngedate nggak harus dengan pacar. dengan kata lain, kita nggak perlu harus berstatus pacaran untuk bisa sekedar have a date. lainnya mengatakan, ngedate nggak harus ketika sudah berstatus pacaran, bukankah ketika pedekate juga bisa disebut ngedate?! dan beberapa yang lain memberi jawaban dengan kata kata yang berbeda namun garis besarnya sama. well, sebenarnya ada juga teman saya yang nggak mau menjawab. mungkin dia mewakili sample yang abstain. golput. netral. ato kemungkinan paling mungkin, dia nggak ngerti pertanyaan saya, makanya nggak ngerti musti jawab apa. hahahaa. it's okay.
dari beberapa jawaban tersebut, saya jadi mendapatkan sebuah pencerahan. pencerahan bahwasanya manusia diciptakan berbeda beda dalam hal pemikirannya dalam memandang sebuah permasalahan bodoh bin konyol dan nggak penting yang saya ajukan kepada mereka.
biar terkesan adil, mungkin saya juga harus menyatakan pandangan saya.
ngedate, dalam persepsi saya mungkin agak berbeda dengan persepsi orang kebanyakan. hal itu mungkin tidak terlepas dari pemahaman dasar saya atas date itu sendiri. bukankah date juga berarti berkencan atau kencan. dan sebagai orang kampung, kencan dalam kamus bahasa kampung saya adalah berarti janji. sehingga jika kita ingin membuat janji dengan seseorang, saya (berdasarkan kamus besar bahasa kampung) mengatakannya membuat kencan. dengan kata lain, jika saya berkencan, sebenarnya saya hanya menjalankan sebuah janji. that simple.
salah satu teman saya yang 'kebetulan' sudah bekerja, cewek tentu saja, terkadang sok sibuk untuk sekedar diajak nonton atau hang out, kata anak gaul. hingga tak jarang saya harus membuat janji dengannya jauh jauh hari untuk bisa ketemu. dan dalam hal ini, sayapun juga menggunakan istilah ngedate, tapi date dalam artian tanggal. karena saya selalu menanyakan kepadanya, when we can have a date? - kapan kita bisa punya tanggal (hari) - tanggal (hari) untuk bertemu maksudnya. yang ini mungkin penjelasan bodoh tapi polos. hehee.
dari dua ilustrasi tersebut, rasanya sudah cukup menggambarkan pandangan sempit saya akan date dan ngedate. walopun saya sebenernya juga ngerti dengan istilah date dan ngedate menurut pemahaman kebanyakan orang jaman sekarang. namun dengan alasan keterbatasan pengalaman ngedate dalam pemahaman orang jaman sekarang, mungkin lebih bijak bila saya lebih menitikberatkan pemahaman secara lebih simple dan fleksibel. sehingga kalo ditanya, dengan siapa saya mau ngedate, tentu saja dengan siapa saja! tentu saja selama yang diajak ngedate juga tidak keberatan. lebih jauh, tidak ada pihak yang merasa keberatan. karena bukan tidak mungkin, orang yang kita (saya) ajak ngedate sudah memiliki pasangan (pacar) yang mungkin saja keberatan. itu tentu lain soal.
well, itu hanya sebuah pandangan bodoh orang bodoh. jadi anda tak perlu terlalu memikirkannya jika tidak ingin ikut ikutan bodoh.
p.s : tulisan ini sebenernya saya mulai di malam minggu, karena malem minggu identik dengan waktu sebagian orang untuk ngedate. tapi apa daya baru sempet diselesaikan sekarang, minggu malam. tapi tak apalah. bukannya ngedate nggak harus malem minggu. hehee.
thanks and have a nice date.
cheers.
beranjak dari sebuah perbincangan ringan dengan seorang teman, mendadak saya kepikiran dengan 'tema' konyol ini. ya. saya sendiri mengakui, memang konyol. makanya saya tulis! ;)
dengan maksud sedikit sok serius dalam ber 'eksperimen' sayapun mensurvei beberapa teman dengan mengajukan sebuah pertanyaan. beberapa teman yang saya jadiakan sample secara kuantitas maupun kualitas saya anggap sudah cukup representatif mewakili populasi. bahasane rek! ;D
pertanyaannya sederhana,
in your personal opinion, do you think that we have to be lover then we can have a date?
jujur saja, saya nggak yakin kalimat pertanyaan itu bener ato nggak. lalu kenapa sok pake bahasa inggris. well, sok gaya saja. hahaa.
bahasa sederhananya begini,
menurut pendapat anda, apakah anda harus pacaran dengan si A baru anda bisa ngedate dengan si A? atau dengan kata lain, apakah anda hanya akan ngedate dengan si A hanya jika si A adalah pacar anda??
anda bingung?! saya juga! ;D
jika mau lebih spesifik, sebenernya kerangka konsep dari pertanyaan tersebut hanyalah sebuah permasalahan sederhana, bagaimana setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang ngedate, dan tentu saja yang tak kalah penting, DENGAN SIAPA mereka mau ngedate.
let's start with what is date?
seperti halnya jika anda mencari artinya di kamus, kata date bisa diartikan tanggal, janji, atau berkencan. tentu saja semua benar. karena memang begitulah kata kata dalam bahasa inggris. satu kata yang sama persis bisa memiliki arti yang sangat berbeda beda bila diterjemahkan ke dalam bahasa kita indonesia tercinta.
tentu saja, yang saya maksudkan di sini adalah date dalam artian berkencan. pertanyaannya sekarang, yang kemudian saya jadikan pijakan 'penelitian' ini adalah, dengan siapa anda (kita) berkencan?
untuk masalah definisi kata nampaknya semua bisa sepakat, tapi untuk permasalahan kedua, nampaknya nggak semua bersuara senada. kenapa? ya karena beda manusia kan beda kepala. yang berarti juga beda isi kepalanya. maksudnya beda jalan pikirannya.
beberapa teman yang saya jadikan sample bisa jadi contohnya. karena ternyata mereka memberikan jawaban yang berbeda beda. yang berarti semakin beragam sudut pandang yang saya dapatkan berdasar jawaban yang mereka berikan.
seorang teman saya, yang sudah punya pasangan (pacar) dengan tegas mengatakan bahwa dia hanya mau ngedate dengan pacarnya saja. ini tipe setia, kayaknya ;). teman saya yang lain, yang juga sudah punya pasangan mengatakan tergantung, kalo yang diajak ngedate mau mau saja, terlepas itu pacarnya atau bukan, ya hayo saja, kalo nggak mau ya nggak apa apa. yang ini tipe fleksibel. yang lainnya lagi, ini jawaban favorit saya, menyatakan bahwa ngedate nggak harus dengan pacar. dengan kata lain, kita nggak perlu harus berstatus pacaran untuk bisa sekedar have a date. lainnya mengatakan, ngedate nggak harus ketika sudah berstatus pacaran, bukankah ketika pedekate juga bisa disebut ngedate?! dan beberapa yang lain memberi jawaban dengan kata kata yang berbeda namun garis besarnya sama. well, sebenarnya ada juga teman saya yang nggak mau menjawab. mungkin dia mewakili sample yang abstain. golput. netral. ato kemungkinan paling mungkin, dia nggak ngerti pertanyaan saya, makanya nggak ngerti musti jawab apa. hahahaa. it's okay.
dari beberapa jawaban tersebut, saya jadi mendapatkan sebuah pencerahan. pencerahan bahwasanya manusia diciptakan berbeda beda dalam hal pemikirannya dalam memandang sebuah permasalahan bodoh bin konyol dan nggak penting yang saya ajukan kepada mereka.
biar terkesan adil, mungkin saya juga harus menyatakan pandangan saya.
ngedate, dalam persepsi saya mungkin agak berbeda dengan persepsi orang kebanyakan. hal itu mungkin tidak terlepas dari pemahaman dasar saya atas date itu sendiri. bukankah date juga berarti berkencan atau kencan. dan sebagai orang kampung, kencan dalam kamus bahasa kampung saya adalah berarti janji. sehingga jika kita ingin membuat janji dengan seseorang, saya (berdasarkan kamus besar bahasa kampung) mengatakannya membuat kencan. dengan kata lain, jika saya berkencan, sebenarnya saya hanya menjalankan sebuah janji. that simple.
salah satu teman saya yang 'kebetulan' sudah bekerja, cewek tentu saja, terkadang sok sibuk untuk sekedar diajak nonton atau hang out, kata anak gaul. hingga tak jarang saya harus membuat janji dengannya jauh jauh hari untuk bisa ketemu. dan dalam hal ini, sayapun juga menggunakan istilah ngedate, tapi date dalam artian tanggal. karena saya selalu menanyakan kepadanya, when we can have a date? - kapan kita bisa punya tanggal (hari) - tanggal (hari) untuk bertemu maksudnya. yang ini mungkin penjelasan bodoh tapi polos. hehee.
dari dua ilustrasi tersebut, rasanya sudah cukup menggambarkan pandangan sempit saya akan date dan ngedate. walopun saya sebenernya juga ngerti dengan istilah date dan ngedate menurut pemahaman kebanyakan orang jaman sekarang. namun dengan alasan keterbatasan pengalaman ngedate dalam pemahaman orang jaman sekarang, mungkin lebih bijak bila saya lebih menitikberatkan pemahaman secara lebih simple dan fleksibel. sehingga kalo ditanya, dengan siapa saya mau ngedate, tentu saja dengan siapa saja! tentu saja selama yang diajak ngedate juga tidak keberatan. lebih jauh, tidak ada pihak yang merasa keberatan. karena bukan tidak mungkin, orang yang kita (saya) ajak ngedate sudah memiliki pasangan (pacar) yang mungkin saja keberatan. itu tentu lain soal.
well, itu hanya sebuah pandangan bodoh orang bodoh. jadi anda tak perlu terlalu memikirkannya jika tidak ingin ikut ikutan bodoh.
p.s : tulisan ini sebenernya saya mulai di malam minggu, karena malem minggu identik dengan waktu sebagian orang untuk ngedate. tapi apa daya baru sempet diselesaikan sekarang, minggu malam. tapi tak apalah. bukannya ngedate nggak harus malem minggu. hehee.
thanks and have a nice date.
cheers.
No comments:
Post a Comment