When I got tired, I slept. When I got hungry, I ate. When I had to go, you know, I went.
seperti hampir tidak terasa, di hitung berdasarkan kalender monyet, sepertinya sudah hampir seperempat abad lamanya saya nggak menulis tulisan sampah. hingga akhirnya sebuah candaan tengah malam dengan seorang teman kembali membangkitkan gairah dan hasrat saya untuk kembali menulis. dan percayalah, kali ini tetap sampah. hasrat yang memuncak dan gairah yang meninggi untuk menulis ternyata tak diimbangi dengan ide yang nampaknya hilang, ikut terhanyut saat saya ke kamar mandi. entahlah.
well, beranjak dari ide 'nggak ada ide', dan biar nggak terkesan goblok goblok amat, saya memilih menulis tentang sesuatu yang saya suka, film. sebenernya terlalu 'murah' untuk mengatakan saya suka film, karena sebenernya perasaan saya lebih dari sekedar 'suka'. mungkin saya sudah jatuh cinta pada film. ato apalah namanya. kalo saja film itu cewek cantik pasti sudah dari dulu saya kawinin saking cintanya. ya pokoknya seperti itulah kira kira gambaran perasaan saya yang begitu tulus dan mendalam kepada film. kalo saja film tau perasaanku. halahh.
My Mama always said, "life was like a box of chocolates. you never know what you're gonna get."
anggap saja sebuah metafora, rasanya nggak ada yang nggak tau dengan kata kata (bijak) itu. setidaknya pernah sekilas baca. ato denger dari temen lah. ato kalo emang ada yang sama sekali belum pernah tau, ato baca, ato denger, saya do'akan semoga anda segera diberi petunjuk oleh Tuhan Yang Maha Esa. amin.
sebuah quote film yang nampaknya sudah sangat populer, sepopuler filmnya sendiri, forrest gump. sebuah film yang menurut saya rrruuuaarrrr biasa. Best Picture Oscar menjadi salah satu wujud 'legitimasi' betapa bagusnya film itu. walopun saya lebih seneng menilainya secara subjektif. menurut opini pribadi saya sendiri sebagai seorang penikmat film, yang tentu saja sangat mungkin berbeda pandangan dan sudut pandang penilaiannya dengan para juri Oscar di hollywood sono. yang juga sangat mungkin berbeda dengan penilaian anda. jadi saya sangat maklum kalo ada yang nggak sependapat. namanya juga subjektif, ya sudah pasti tergantung tiap subjek yang beropini. seperti dalam hal 'menilai' bagaimana suatu film dikatakan bagus. bagus menurut saya kan belum tentu bagus menurut anda. dan begitu juga sebaliknya. pun demikian saya tak ingin memperdebatkan soal itu. anggap saja ini hanyalah opini sampah dari seorang anak manusia yang suka (nonton) film. period.
You have to do the best with what God gave you.
dan inilah yang saya lakukan sekarang. saya merasa menulis tulisan sampah adalah berkah yang diberikan Tuhan. dan seperti layaknya semua berkah, sudah sepantasnya kita bersyukur. dan inilah salah satu wujud syukur saya. menulis sampah. hahahaa. so wottt.
forrest gump, sebuah judul film yang sebenernya sudah tak asing bagi kita. ato setidaknya bagi saya. walopun sudah berulang kali menontonnya, rasanya saya tak pernah bosan untuk kembali menontonnya. saya memang punya kebiasaan menonton film yang (menurut saya) bagus berkali kali. tak hanya bagus secara cerita, film ini menurut saya juga sarat makna. aseekk, mulai berat bahasanya. contoh paling gampang adalah begitu banyaknya kata kata bijak yang ada dalam film itu, yang secara langsung ato tidak, juga berusaha menyampaikannya pada para penontonnya. termasuk saya tentunya. setiap kali menontonnya, saya merasa seperti baru pertama kali menontonnya. persis seperti ketika saya menyaksikan Captain Jack Sparrow ato Jason Bourne. walopun sebenernya saya sudah hapal betul dengan ceritanya. bahkan tiap adegannya. bahkan tak jarang saya hapal beberapa potongan dialognya. is it weird??
I'm not a smart man, but I know what love is.
selain bagus dari segi cerita, forrest gump juga merupakan sebuah film yang menurut saya memberikan pembelajaran. karena saya percaya, salah satu ciri film yang bagus selain menghibur, adalah mendidik. mendidik dalam artian positif tentu saja. menyaksikan forrest gump, bagi saya sendiri memberikan banyak pembelajaran (tentang) hidup. suka. duka. cinta. semangat. perjuangan. kebebasan. solidaritas. canda. tawa. tangis. haru. bersatu padu di dalamnya. semua rasa yang kita rasakan dalam hidup nampaknya terangkum dalam film itu. walopun tidak secara eksplisit menjelaskan semuanya. karena kalo harus menjelaskan semuanya, durasi filmnya bisa jadi tujuh hari delapan malem.
Dear God, make me a bird. so I could fly far.. far far away from here.
menonton film ini, saya tak akan munafik, saya juga terharu. bahkan sempat meneteskan air mata saking trenyuhnya. (trenyuh ki bahasa indonesia bukan sih ya?? hihihi). saking terharunya lah pokoknya. dan untungnya saya nontonnya sendirian. jadi nggak ada yang tau kalo nggak saya kasih tau. hehee.
saya sendiri terkadang heran, betapa sebuah film bisa begitu 'menyentuh'. (mohon maklum kalo dalam tulisan ini saya rada lebay - karena suasnanya mendukung). entah karena filmnya yang memang menyentuh, ato karena saya nya saja yang sensitif. (sensitif??). ato mungkin karena kedua duanya. entahlah. yang jelas, saya tak kan malu dan tak pernah ragu untuk menyebutnya sebagai salah satu film favorit saya. bahkan salah satu film paling bagus yang pernah saya tonton. (kalo mau terkesan lebih ekstrim bisa ditambah kata 'sepanjang masa'. hehee). dan kalo boleh menilai film ini dari skala satu sampe sepuluh, saya akan menilai film ini layak mendapat nilai dua belas. saluuute!
My Mama always said, you've got to put the past behind you before you can move on.
cheers.
seperti hampir tidak terasa, di hitung berdasarkan kalender monyet, sepertinya sudah hampir seperempat abad lamanya saya nggak menulis tulisan sampah. hingga akhirnya sebuah candaan tengah malam dengan seorang teman kembali membangkitkan gairah dan hasrat saya untuk kembali menulis. dan percayalah, kali ini tetap sampah. hasrat yang memuncak dan gairah yang meninggi untuk menulis ternyata tak diimbangi dengan ide yang nampaknya hilang, ikut terhanyut saat saya ke kamar mandi. entahlah.
well, beranjak dari ide 'nggak ada ide', dan biar nggak terkesan goblok goblok amat, saya memilih menulis tentang sesuatu yang saya suka, film. sebenernya terlalu 'murah' untuk mengatakan saya suka film, karena sebenernya perasaan saya lebih dari sekedar 'suka'. mungkin saya sudah jatuh cinta pada film. ato apalah namanya. kalo saja film itu cewek cantik pasti sudah dari dulu saya kawinin saking cintanya. ya pokoknya seperti itulah kira kira gambaran perasaan saya yang begitu tulus dan mendalam kepada film. kalo saja film tau perasaanku. halahh.
My Mama always said, "life was like a box of chocolates. you never know what you're gonna get."
anggap saja sebuah metafora, rasanya nggak ada yang nggak tau dengan kata kata (bijak) itu. setidaknya pernah sekilas baca. ato denger dari temen lah. ato kalo emang ada yang sama sekali belum pernah tau, ato baca, ato denger, saya do'akan semoga anda segera diberi petunjuk oleh Tuhan Yang Maha Esa. amin.
sebuah quote film yang nampaknya sudah sangat populer, sepopuler filmnya sendiri, forrest gump. sebuah film yang menurut saya rrruuuaarrrr biasa. Best Picture Oscar menjadi salah satu wujud 'legitimasi' betapa bagusnya film itu. walopun saya lebih seneng menilainya secara subjektif. menurut opini pribadi saya sendiri sebagai seorang penikmat film, yang tentu saja sangat mungkin berbeda pandangan dan sudut pandang penilaiannya dengan para juri Oscar di hollywood sono. yang juga sangat mungkin berbeda dengan penilaian anda. jadi saya sangat maklum kalo ada yang nggak sependapat. namanya juga subjektif, ya sudah pasti tergantung tiap subjek yang beropini. seperti dalam hal 'menilai' bagaimana suatu film dikatakan bagus. bagus menurut saya kan belum tentu bagus menurut anda. dan begitu juga sebaliknya. pun demikian saya tak ingin memperdebatkan soal itu. anggap saja ini hanyalah opini sampah dari seorang anak manusia yang suka (nonton) film. period.
You have to do the best with what God gave you.
dan inilah yang saya lakukan sekarang. saya merasa menulis tulisan sampah adalah berkah yang diberikan Tuhan. dan seperti layaknya semua berkah, sudah sepantasnya kita bersyukur. dan inilah salah satu wujud syukur saya. menulis sampah. hahahaa. so wottt.
forrest gump, sebuah judul film yang sebenernya sudah tak asing bagi kita. ato setidaknya bagi saya. walopun sudah berulang kali menontonnya, rasanya saya tak pernah bosan untuk kembali menontonnya. saya memang punya kebiasaan menonton film yang (menurut saya) bagus berkali kali. tak hanya bagus secara cerita, film ini menurut saya juga sarat makna. aseekk, mulai berat bahasanya. contoh paling gampang adalah begitu banyaknya kata kata bijak yang ada dalam film itu, yang secara langsung ato tidak, juga berusaha menyampaikannya pada para penontonnya. termasuk saya tentunya. setiap kali menontonnya, saya merasa seperti baru pertama kali menontonnya. persis seperti ketika saya menyaksikan Captain Jack Sparrow ato Jason Bourne. walopun sebenernya saya sudah hapal betul dengan ceritanya. bahkan tiap adegannya. bahkan tak jarang saya hapal beberapa potongan dialognya. is it weird??
I'm not a smart man, but I know what love is.
selain bagus dari segi cerita, forrest gump juga merupakan sebuah film yang menurut saya memberikan pembelajaran. karena saya percaya, salah satu ciri film yang bagus selain menghibur, adalah mendidik. mendidik dalam artian positif tentu saja. menyaksikan forrest gump, bagi saya sendiri memberikan banyak pembelajaran (tentang) hidup. suka. duka. cinta. semangat. perjuangan. kebebasan. solidaritas. canda. tawa. tangis. haru. bersatu padu di dalamnya. semua rasa yang kita rasakan dalam hidup nampaknya terangkum dalam film itu. walopun tidak secara eksplisit menjelaskan semuanya. karena kalo harus menjelaskan semuanya, durasi filmnya bisa jadi tujuh hari delapan malem.
Dear God, make me a bird. so I could fly far.. far far away from here.
menonton film ini, saya tak akan munafik, saya juga terharu. bahkan sempat meneteskan air mata saking trenyuhnya. (trenyuh ki bahasa indonesia bukan sih ya?? hihihi). saking terharunya lah pokoknya. dan untungnya saya nontonnya sendirian. jadi nggak ada yang tau kalo nggak saya kasih tau. hehee.
saya sendiri terkadang heran, betapa sebuah film bisa begitu 'menyentuh'. (mohon maklum kalo dalam tulisan ini saya rada lebay - karena suasnanya mendukung). entah karena filmnya yang memang menyentuh, ato karena saya nya saja yang sensitif. (sensitif??). ato mungkin karena kedua duanya. entahlah. yang jelas, saya tak kan malu dan tak pernah ragu untuk menyebutnya sebagai salah satu film favorit saya. bahkan salah satu film paling bagus yang pernah saya tonton. (kalo mau terkesan lebih ekstrim bisa ditambah kata 'sepanjang masa'. hehee). dan kalo boleh menilai film ini dari skala satu sampe sepuluh, saya akan menilai film ini layak mendapat nilai dua belas. saluuute!
My Mama always said, you've got to put the past behind you before you can move on.
cheers.
No comments:
Post a Comment