"(Hollywood is) a place where they'll pay you a thousand dollars for a kiss and fifty cents for your soul." - Marilyn Monroe
ngomongin soal film, rasanya hampir mustahil kita nggak ngomongin Hollywood. bagaimana tidak, Hollywood nampaknya sudah menjadi kiblatnya dunia perfilman. di samping dalam hal kuantitas produksinya, tak bisa dipungkiri juga bahwa kualitas juga turut andil besar mengapa film film Hollywood bisa jadi seperti sekarang ini, yang bisa dibilang merajai perfilman dunia. setidaknya bila mengacu pada film film yang beredar ataupun dari pendapatannya di bioskop di seluruh dunia. coba saja anda ingat ingat sendiri, dari sekian banyak film yang pernah anda tonton, saya yakin sebagian besar adalah film film Hollywood. kecuali kalo anda adalah penggemar berat drama Korea atau fanatik film film India. it's a different case.
seperti halnya juga industri film di manapun di dunia, industri film di Hollywood tentu juga pada akhirnya pastilah bermuara pada satu tujuan, keuntungan. kecuali film film festival yang biasanya memang lebih ditujukan untuk mencari award. itulah kenapa kata film nampaknya sudah sangat klop bila disandingkan dengan kata industri. di mana mana yang namanya industri pastilah ujung ujungnya ingin mendapatkan keuntungan. tak terkecuali industri film. terlebih lagi industri film Hollywood. well, TERUTAMA industri film Hollywood. kalo mau disebutkan, mungkin ada sekitar tujuh milyar cara yang digunakan industri film di Hollywood sono untuk mencari keuntungan. namun dengan alasan keterbatasan pengetahuan, saya tak akan menyebutkan semuanya. bego aja!
jika anda termasuk orang yang suka, ato setidaknya cukup sering, menonton film film Hollywood, mungkin anda juga akan sepakat bila film film Hollywood tidak bisa dilepaskan dari satu kata, SEX. (nggak sepakat juga nggak papa sih). yah, film dan sex (dalam berbagai bentuk visualisasinya) seolah sudah menjadi dua elemen yang sudah menjadi larutan yang tak terpisahkan. tentu saja yang saya maksudkan di sini bukan tentang film porno, tapi film film Hollywood secara umum. jika kita sedikit memperhatikan, walopun tidak seratus persen, hampir semua film film Hollywood selalu menampilkan adegan adegan yang dalam istilah akademisnya, hmm, menggugah syahwat. syahwatnya siapa? tentu saja yang menontonnya ;)
start from the easiest. anda semua pasti juga pernah menyaksikan adegan ciuman dalam film. maksud saya jelas bukan ciuman cheek to cheek ala tukul arwana di bukan empat mata nya, tapi ciuman lips to lips. ciuman bibir dengan bibir. ato cipokan, kata orang jaman purba. adegan ciuman mungkin bisa dikatakan sebagai hal paling 'wajar' di film film Hollywood. pernahkah anda menonton film Hollywood yang tidak menyertakan adegan ciuman di dalamnya? kalopun ada, jumlahnya pasti sangat sedikit sekali, kalo tak mau di bilang nyaris tak ada. mungkin satu diantara sejuta. kalo anda kurang kerjaan silahkan coba cari cari sendiri.
selain ciuman, adegan ranjang juga sudah menjadi hal biasa di industri film Hollywood. dari adegan ranjang yang 'biasa biasa' saja, sampe adegan ranjang yang biasanya nggak biasa biasa saja. hihihii. seperti halnya juga ciuman, adegan ranjang nampaknya sudah jadi barang lumrah di film film Hollywood. dan puncaknya, ya apalagi kalo bukan adegan topless. naked. nude. ato apalah istilah lainnya yang gampangnya dapat diartikan sebagai adegan tanpa busana alias telanjang. walopun memang sudah ada sejak zaman film bisu di Amrik, adegan telanjang di film film Holywood nampaknya tak pernah lekang oleh zaman dan senantiasa menjadi 'trend', ato paling tidak jadi salah satu strategi jualan si yang buat film. setidaknya begitulah dari hasil 'pengamatan' saya yang cukup seksama. hahaaha.
tak heran bila yang terjadi kemudian, banyak artis (wanita) yang kemudian tanpa ragu dan (sudah pasti) tanpa malu, ato malah lebih parahnya saling berlomba, untuk menampakkan bagian tubuhnya yang (mungkin) seharusnya jadi konsumsi pribadi. sekali lagi saya tentu nggak perlu menyebutkan nama nama artis untuk sekedar dijadikan contoh. karena percayalah, daftarnya akan teramat sangat panjang. mulai dari artis artis pendatang baru, hingga artis artis yang sudah punya nama, nampaknya tak terlalu jauh berbeda.
jika ditelisik lebih jauh, namun terus terang saya nggak ingin terlalu jauh, banyak faktor yang nampaknya melatarbelakangi seorang artis untuk 'sukarela' melakukan adegan topless. bayaran tinggi, memburu award, ato 'sekedar' untuk mencari sensasi, seperti yang banyak dilakukan artis pendatang baru. walopun artis yang sudah kondangpun tak jarang sengaja mencari sensasi juga. kita mungkin tak kan habis pikir bila Warner Bros Pictures mau membayar setengah juta dollar 'hanya' untuk Halle Berry agar mau menanggalkan bra nya. kita juga mungkin tidak akan pernah menyaksikan Kate Winslet atau Gwyneth Paltrow menerima Oscar kalo bukan karena 'totalitas' mereka dalam filmnya masing masing. ato mungkin kita tak akan pernah kenal dengan Miley Cyrus kalo bukan karena 'sensasi' (sok) hebohnya. but it's showbizz, dude!
bagaimana dengan perfilman di negara kita tercinta Indonesia??
mungkin saya tak perlu repot menjawabnya karena rasanya anda semua juga sudah cukup tau jawabannya. cobalah tengok daftar film film indonesia yang sedang diputar di bioskop belakangan ini. katakanlah sebuah perumpamaan, jika ada empat film Indonesia yang sedang diputar, tiga diantaranya mungkin adalah film film horror yang, jujur saja, dilihat dari judulnya saja sudah terlihat 'bodoh'. ITU KATA SAYA loh ya. sayapun kadang tak habis pikir dan tak tau apa maksud sebenernya film seperti itu di buat. namun satu yang pasti, ya itu tadi, mencari keuntungan.
seperti kodok di musim hujan, trend perfilman indonesia nampaknya sangat mudah di tebak. kreativitas para insan perfilman (walopun nggak semuanya) lebih terorientasi tentang bagaimana mengkreasikan keuntungan. melakukan berbagai cara agar sebisa mungkin film yang dibuat bisa mendatangkan keuntungan (sebesar besarnya). cara paling gampang ya apalagi kalo bukan 'menjual' si artis. ironisnya, yang dijual bukanlah kualitas aktingnya, tapi lebih kepada kualitas 'sampingan' nya. bisa tampang sensualnya. bisa body sexy nya. ato seberapa besar sensasi atau bahkan kontroversi yang sudah (dan yang mungkin akan) dibuatnya. apalah artinya akting bagus kalo tampang dan body nggak menjual. apa guna film bagus kalo nggak berpotensi untung. maka tak mengejutkan bila kemudian film film kita didominasi oleh film film 'murahan' yang tak lebih dari sekedar profit oriented. walopun saya yakin, banyak juga yang nggak untung, ato malah tekor. who knows.
singkatnya, dalam konteks yang saya maksud, industri film di Hollywood dan industri film di Indonesia mungkin bisa dibilang serupa tapi tak sama. sekali lagi, saya tak akan ngelantur terlalu jauh. dengan mengkaji perbedaan budaya misalnya. karena selaen saya memang minim wawasan, mungkin juga akan mengaburkan substansi. serupa, karena sebenernya juga banyak film film Hollywood maupun film film Indonesia yang (hanya) mengumbar sensualitas dengan 'isi' film yang tidak jelas. banyak adegan adegan 'sensual' yang terkesan dipaksakan, padahal nggak ada kaitannya dengan cerita. dengan kata lain, kalopun tidak ada adegan seperti itupun sebenernya tak apa. tapi begitulah bisnis. tak sama, karena setidaknya, di Hollywood mengemasnya dengan proses 'kreatif' yang bisa dikatakan lebih NIAT, sedangkan film film Indonesia lebih sering menampilkannya dengan motto yang penting untung. sehingga tak jarang kemudian yang dihasilkan hanyalah film film sampah yang hanya mengumbar body sexy para pemainnya. maka tak heran juga jika kemudian film film di Indonesia mendapat label film jorok. komedi jorok. horror jorok. dan sebagainya. semoga saja nanti tidak (akan pernah) ada film religi jorok. di film film kita, banyak artis (wanita) yang kemudian rela beradegan syur ato beradegan panas (bukan adegan kebakaran) dengan mengatasnamakan 'totalitas' dan berlindung dibalik 'tuntutan peran'. whatever.
well, saya sendiri tak akan munafik dengan mengatakan kalo saya seratus persen 'menolak'. karena tak bisa dipungkiri, bagaimanapun, terkadang sayapun juga menikmatinya. hahaahaa. sekali lagi ini hanya sebuah 'studi' komparasi berdasarkan perspektif subjektif dengan ejaan yang sengaja tidak disempurnakan. jadi kalo ada yang nggak setuju ato tak suka, dengan dada six pack saya memakluminya ;)
dan akhirnya, seperti kata orang bijak.. rakyat bijak taat pajak. jadi menontonlah dengan bijak. lha emang ra nyambung! hihihii..
cheers.
ngomongin soal film, rasanya hampir mustahil kita nggak ngomongin Hollywood. bagaimana tidak, Hollywood nampaknya sudah menjadi kiblatnya dunia perfilman. di samping dalam hal kuantitas produksinya, tak bisa dipungkiri juga bahwa kualitas juga turut andil besar mengapa film film Hollywood bisa jadi seperti sekarang ini, yang bisa dibilang merajai perfilman dunia. setidaknya bila mengacu pada film film yang beredar ataupun dari pendapatannya di bioskop di seluruh dunia. coba saja anda ingat ingat sendiri, dari sekian banyak film yang pernah anda tonton, saya yakin sebagian besar adalah film film Hollywood. kecuali kalo anda adalah penggemar berat drama Korea atau fanatik film film India. it's a different case.
seperti halnya juga industri film di manapun di dunia, industri film di Hollywood tentu juga pada akhirnya pastilah bermuara pada satu tujuan, keuntungan. kecuali film film festival yang biasanya memang lebih ditujukan untuk mencari award. itulah kenapa kata film nampaknya sudah sangat klop bila disandingkan dengan kata industri. di mana mana yang namanya industri pastilah ujung ujungnya ingin mendapatkan keuntungan. tak terkecuali industri film. terlebih lagi industri film Hollywood. well, TERUTAMA industri film Hollywood. kalo mau disebutkan, mungkin ada sekitar tujuh milyar cara yang digunakan industri film di Hollywood sono untuk mencari keuntungan. namun dengan alasan keterbatasan pengetahuan, saya tak akan menyebutkan semuanya. bego aja!
jika anda termasuk orang yang suka, ato setidaknya cukup sering, menonton film film Hollywood, mungkin anda juga akan sepakat bila film film Hollywood tidak bisa dilepaskan dari satu kata, SEX. (nggak sepakat juga nggak papa sih). yah, film dan sex (dalam berbagai bentuk visualisasinya) seolah sudah menjadi dua elemen yang sudah menjadi larutan yang tak terpisahkan. tentu saja yang saya maksudkan di sini bukan tentang film porno, tapi film film Hollywood secara umum. jika kita sedikit memperhatikan, walopun tidak seratus persen, hampir semua film film Hollywood selalu menampilkan adegan adegan yang dalam istilah akademisnya, hmm, menggugah syahwat. syahwatnya siapa? tentu saja yang menontonnya ;)
start from the easiest. anda semua pasti juga pernah menyaksikan adegan ciuman dalam film. maksud saya jelas bukan ciuman cheek to cheek ala tukul arwana di bukan empat mata nya, tapi ciuman lips to lips. ciuman bibir dengan bibir. ato cipokan, kata orang jaman purba. adegan ciuman mungkin bisa dikatakan sebagai hal paling 'wajar' di film film Hollywood. pernahkah anda menonton film Hollywood yang tidak menyertakan adegan ciuman di dalamnya? kalopun ada, jumlahnya pasti sangat sedikit sekali, kalo tak mau di bilang nyaris tak ada. mungkin satu diantara sejuta. kalo anda kurang kerjaan silahkan coba cari cari sendiri.
selain ciuman, adegan ranjang juga sudah menjadi hal biasa di industri film Hollywood. dari adegan ranjang yang 'biasa biasa' saja, sampe adegan ranjang yang biasanya nggak biasa biasa saja. hihihii. seperti halnya juga ciuman, adegan ranjang nampaknya sudah jadi barang lumrah di film film Hollywood. dan puncaknya, ya apalagi kalo bukan adegan topless. naked. nude. ato apalah istilah lainnya yang gampangnya dapat diartikan sebagai adegan tanpa busana alias telanjang. walopun memang sudah ada sejak zaman film bisu di Amrik, adegan telanjang di film film Holywood nampaknya tak pernah lekang oleh zaman dan senantiasa menjadi 'trend', ato paling tidak jadi salah satu strategi jualan si yang buat film. setidaknya begitulah dari hasil 'pengamatan' saya yang cukup seksama. hahaaha.
tak heran bila yang terjadi kemudian, banyak artis (wanita) yang kemudian tanpa ragu dan (sudah pasti) tanpa malu, ato malah lebih parahnya saling berlomba, untuk menampakkan bagian tubuhnya yang (mungkin) seharusnya jadi konsumsi pribadi. sekali lagi saya tentu nggak perlu menyebutkan nama nama artis untuk sekedar dijadikan contoh. karena percayalah, daftarnya akan teramat sangat panjang. mulai dari artis artis pendatang baru, hingga artis artis yang sudah punya nama, nampaknya tak terlalu jauh berbeda.
jika ditelisik lebih jauh, namun terus terang saya nggak ingin terlalu jauh, banyak faktor yang nampaknya melatarbelakangi seorang artis untuk 'sukarela' melakukan adegan topless. bayaran tinggi, memburu award, ato 'sekedar' untuk mencari sensasi, seperti yang banyak dilakukan artis pendatang baru. walopun artis yang sudah kondangpun tak jarang sengaja mencari sensasi juga. kita mungkin tak kan habis pikir bila Warner Bros Pictures mau membayar setengah juta dollar 'hanya' untuk Halle Berry agar mau menanggalkan bra nya. kita juga mungkin tidak akan pernah menyaksikan Kate Winslet atau Gwyneth Paltrow menerima Oscar kalo bukan karena 'totalitas' mereka dalam filmnya masing masing. ato mungkin kita tak akan pernah kenal dengan Miley Cyrus kalo bukan karena 'sensasi' (sok) hebohnya. but it's showbizz, dude!
bagaimana dengan perfilman di negara kita tercinta Indonesia??
mungkin saya tak perlu repot menjawabnya karena rasanya anda semua juga sudah cukup tau jawabannya. cobalah tengok daftar film film indonesia yang sedang diputar di bioskop belakangan ini. katakanlah sebuah perumpamaan, jika ada empat film Indonesia yang sedang diputar, tiga diantaranya mungkin adalah film film horror yang, jujur saja, dilihat dari judulnya saja sudah terlihat 'bodoh'. ITU KATA SAYA loh ya. sayapun kadang tak habis pikir dan tak tau apa maksud sebenernya film seperti itu di buat. namun satu yang pasti, ya itu tadi, mencari keuntungan.
seperti kodok di musim hujan, trend perfilman indonesia nampaknya sangat mudah di tebak. kreativitas para insan perfilman (walopun nggak semuanya) lebih terorientasi tentang bagaimana mengkreasikan keuntungan. melakukan berbagai cara agar sebisa mungkin film yang dibuat bisa mendatangkan keuntungan (sebesar besarnya). cara paling gampang ya apalagi kalo bukan 'menjual' si artis. ironisnya, yang dijual bukanlah kualitas aktingnya, tapi lebih kepada kualitas 'sampingan' nya. bisa tampang sensualnya. bisa body sexy nya. ato seberapa besar sensasi atau bahkan kontroversi yang sudah (dan yang mungkin akan) dibuatnya. apalah artinya akting bagus kalo tampang dan body nggak menjual. apa guna film bagus kalo nggak berpotensi untung. maka tak mengejutkan bila kemudian film film kita didominasi oleh film film 'murahan' yang tak lebih dari sekedar profit oriented. walopun saya yakin, banyak juga yang nggak untung, ato malah tekor. who knows.
singkatnya, dalam konteks yang saya maksud, industri film di Hollywood dan industri film di Indonesia mungkin bisa dibilang serupa tapi tak sama. sekali lagi, saya tak akan ngelantur terlalu jauh. dengan mengkaji perbedaan budaya misalnya. karena selaen saya memang minim wawasan, mungkin juga akan mengaburkan substansi. serupa, karena sebenernya juga banyak film film Hollywood maupun film film Indonesia yang (hanya) mengumbar sensualitas dengan 'isi' film yang tidak jelas. banyak adegan adegan 'sensual' yang terkesan dipaksakan, padahal nggak ada kaitannya dengan cerita. dengan kata lain, kalopun tidak ada adegan seperti itupun sebenernya tak apa. tapi begitulah bisnis. tak sama, karena setidaknya, di Hollywood mengemasnya dengan proses 'kreatif' yang bisa dikatakan lebih NIAT, sedangkan film film Indonesia lebih sering menampilkannya dengan motto yang penting untung. sehingga tak jarang kemudian yang dihasilkan hanyalah film film sampah yang hanya mengumbar body sexy para pemainnya. maka tak heran juga jika kemudian film film di Indonesia mendapat label film jorok. komedi jorok. horror jorok. dan sebagainya. semoga saja nanti tidak (akan pernah) ada film religi jorok. di film film kita, banyak artis (wanita) yang kemudian rela beradegan syur ato beradegan panas (bukan adegan kebakaran) dengan mengatasnamakan 'totalitas' dan berlindung dibalik 'tuntutan peran'. whatever.
well, saya sendiri tak akan munafik dengan mengatakan kalo saya seratus persen 'menolak'. karena tak bisa dipungkiri, bagaimanapun, terkadang sayapun juga menikmatinya. hahaahaa. sekali lagi ini hanya sebuah 'studi' komparasi berdasarkan perspektif subjektif dengan ejaan yang sengaja tidak disempurnakan. jadi kalo ada yang nggak setuju ato tak suka, dengan dada six pack saya memakluminya ;)
dan akhirnya, seperti kata orang bijak.. rakyat bijak taat pajak. jadi menontonlah dengan bijak. lha emang ra nyambung! hihihii..
cheers.
No comments:
Post a Comment