Dec 22, 2010

Thanks, Mom!

ada (banyak) yang bilang kalo hari ini adalah hari ibu. maklum saja saya tak tau, karena selain tanggal 17 Agustus yang adalah hari ulang tahunnya Republik Indonesia, dan tanggal 1 Juni yang adalah hari ulang tahunnya Marilyn Monroe, saya tak tau lagi hari hari 'penting' yang biasa 'dirayakan' oleh masyarakat kita. tanggal di kalender pun, seperti biasanya berwarna hitam. yang artinya bukan hari libur (nasional). barulah ketika sejenak menengok fesbuk (dan kemudian meyakinkannya dengan bertanya kepada seorang teman) saya mendapati kalo hari ini adalah hari ibu, ato orang bule menyebutnya mother's day.

sayapun mencoba kembali mengingat ingat, dan untungnya sedikit ingat, kalo sebelumnya saya pernah menulis tentang hari ibu. seperti nggak ada jejaknya, waktu ternyata begitu cepat berlalu, karena ternyata saya masih mahasiswa. ehh, maksudnya ternyata sudah hari ibu. lagi. berarti sudah satu tahun sejak terakhir kali saya menulis tentang hari ibu. hari ibu setaon sekali kan ya?! lalu kenapa saya menulis tentang hari ibu lagi?? jawabannya sederhana. daripada nggak ada yang ditulis.

well, hari ibu. walopun bisa dikatakan ini bukan pertama kalinya saya menulis tentang hari ibu, toh sampai detik inipun saya tetep belum ngerti dengan maksudnya hari ibu, selain definisi sok taunya. mungkin seperti kebanyakan orang memahaminya. seperti juga hari hari 'penting' lain, hari ibu pastilah HARI TENTANG IBU. hari yang spesial dipersembahkan bagi kaum ibu. mungkin. tapi saya nggak perlu dan nggak mau terlalu pusing memikirkan maknanya. toh, kalo mau jujur, saya bukan termasuk orang yang terlalu aware dengan eksistensi hari ibu.

let's just talk a very little bit about Mom..

The most important thing in life, is family! Family, always comes first.

sebagian besar orang pasti akan memaknai secara berbeda bila ditanya tentang apa itu keluarga. mungkin ada yang akan bilang keluarga adalah ayah, ibu, adek, kakak, om, tante, ponakan, encing enyak babe dan seterusnya, yang pokoknya adalah mencakup orang orang terdekat, minimal secara biologis. mungkin ada juga yang akan bilang keluarga adalah dimanapun seseorang itu merasa menjadi 'anggota' dari sebuah 'keluarga'. bisa dengan teman, kawan, sahabat, komunitas, organisasi, pacar, ato bahkan dengan selingkuhannya. siapa tau.

apapun persepsi (ato mungkin imajinasi) kita tentang keluarga, nampaknya kata keluarga tak akan bisa lepas dari sosok ibu, baik secara biologis, apalagi secara psikologis tentang bagaimana sebuah keluarga dapat berjalan dan bertumbuh kembang. secara biologis jelas, ibu adalah yang melahirkan kita [tentu saja dengan kerjasama kooperatif dengan si bapak ;)]. secara psikologis, peran ibu bisa lebih dahsyat lagi. semua pasti tidak akan menyangkal jika dikatakan salah satu orang yang paling berjasa ato berperan besar dalam kehidupan kita adalah sosok seorang ibu.

apa ato bagaimana peran ato jasa seorang ibu kepada kita, saya tak akan menulis detailnya karena pasti tidak akan ada habisnya. intinya, sosok ibu tidak bisa tidak untuk menjadi salah satu figur sentral yang membuat kita bisa seperti sekarang ini. apapun dan bagaimanapun kita saat ini. maka tak jarang, ketika kita sedang senang, sedang berbahagia, pertama yang ingin kita bagi adalah dengan keluarga. pun ketika kita sedang merasa sedih, merasa berduka, pertama yang ingin kita jadikan tempat bersandar, tempat berkeluh kesah adalah keluarga. keluarga menjadi tempat istimewa bagi kita, karena rasanya tak semua tempat bisa se welcome keluarga.

Sometimes I feel like nobody understands me.

diakui ato tidak, disadari atopun tidak, selain diri kita sendiri, seorang ibu bisa jadi adalah orang yang paling tau tentang bagaimana diri kita, dibanding manusia manapun di dunia. alasan sebagai 'darah daging' bisa menjadi argumen paling gampang. namun lebih dari itu, seorang ibu selalu memiliki pemahaman yang mungkin kadang kita sendiri anak anaknya tak memahaminya. seorang ibu lebih tau bagaimana anak anaknya yang kadang anaknya sendiri tidak menyadarinya. naluri sebagai seorang ibu, mungkin adalah salah satu anugerah yang luar biasa yang diberikan Tuhan kepada para wanita, khususnya yang sudah menjadi seorang ibu. ketika kita merasa tak ada orang yang mengerti dan memahami kita, ibu seolah menjadi satu satunya manusia yang bertindak sebaliknya.

Mama always had a way of explaining things so I could understand them.


tidak jarang kita merasa bahwa dalam berbagai hal tertentu, kadang kita merasa orang lain tidak bisa memahami. anda yang seorang murid, mungkin kadang merasa bapak ibu guru nggak mengerti anda. saya yang (masih) mahasiswa sering merasa dosen nggak memahami saya. ato anda yang sudah bekerja mungkin kadangkala merasa atasan tidak memahami anda yang notabene adalah bawahannya. kecuali kalo anda yang jadi bosnya. tapi seorang ibu.. seorang ibu nampaknya nyaris tanpa cela dalam hal mengerti dan memahami. seorang ibu, dalam posisinya sebagai seorang istri, bisa jadi adalah orang yang paling mengerti dan memahami suaminya. seorang ibu dalam kapasitasnya sebagai seorang ibu, bisa jadi (dan hampir pasti) adalah orang yang paling (mau) mengerti dan memahami anak anaknya. walopun kadang (ato malah sering) anak anaknya yang nggak mau mengerti dan memahami orang tuanya, terutama ibunya. betapapun susahnya kita dimengerti oleh orang lain, ibu selalu bisa memahami kita. dengan caranya sendiri yang mungkin tak pernah kita duga, ato bahkan tak pernah kita sadari.

Kids, just because I'm not listening doesn't mean I don't care.

seorang ibu, dalam perspektif saya, adalah guru, dosen, ato bahkan 'atasan' yang paling ideal. sebagai guru, beliau adalah orang yang paling banyak memberi pelajaran dalam hidup. bukan pelajaran yang membuat kita mendapat nilai raport yang bagus, tapi pelajaran yang membuat kita menjadi manusia yang baik. dan lebih baik. dari hari ke hari. dari waktu ke waktu. sebagai seorang dosen, ibu bukanlah dosen yang menempatkan mahasiswanya sebagai peserta seminar sehingga setiap hari hanya diberi ceramah dan ceramah, tapi dosen yang tau bagaimana memanfaatkan potensi mahasiswanya, sekecil apapun potensi yang dimiliki si mahasiswa. sebagai seorang 'atasan', seorang ibu bukanlah atasan yang ekslusif apalagi diktator, tapi atasan yang mau bergaul, berbicara, akrab, dan mengenal lebih jauh tentang bagaimana bawahannya, sehingga selain mendapat respect lebih dari bawahannya, para bawahanpun tak akan sungkan untuk bekerja maksimal buat sang atasan. singkatnya, ibu adalah contoh ideal untuk nyaris semua hal tentang bagaimana kita (seharusnya) memposisikan diri.

Life's hard. It's supposed to be. If we didn't suffer, we'd never learn anything.

seperti yang sering saya 'curhat' kan sebelumnya, betapa sering kita merasa bahwa hidup kita kadang kala terasa begitu susah, sedih, duka dan sebagainya. tak jarang ibu menjadi pelarian kita. beliau seakan tak pernah bosan mendengar keluh kesah anak anaknya. beliau selalu membuat kita merasa lebih nyaman, walopun kita dalam keadaan yang sebenarnya tidak. ibu selalu memiliki cara bijak tentang bagaimana menghadapi kesusahan, kesedihan, ato bahkan penderitaan, yang tak jarang kemudian diajarkan kepada kita anak anaknya, dengan harapan kita juga bisa menghadapinya. mungkin tak perlu dipertanyakan lagi tentang bagaimana seorang ibu mengerti akan artinya susah, sedih, duka, derita dan sebagainya. cobalah kita sedikit merenung, dan bertanya pada diri kita sendiri, siapa diantara orang orang disekitar kita yang paling banyak merasakan susah, sedih, duka ato bahkan derita demi keluarganya, terutama anak anaknya?? ibu, bisa jadi adalah salah satu jawaban paling tepat. demi anak anaknya, seorang ibu rela menanggung susah. ketika anak anaknya bersedih, tak jarang ibu merasa ikut sedih. ketika anak anaknya sedang berduka, tak jarang justru sang ibu yang lebih menderita. bahkan hingga meneteskan air mata.

that's Mom.

seperti kata lagu masa TK, kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. mungkin tak ada orang lain yang bisa menyayangi kita seperti seorang ibu menyangi kita, anak anaknya. hanya memberi tak harap kembali. seorang ibu adalah panutan, teladan sejati tentang bagaimana kita menjalani kehidupan. kasih sayang, keikhlasan, ketulusan seorang ibu mungkin (saya sendiri yakin) tak ada yang menyamainya. wallahua'lam.

dan sebagai akhir tapi semoga bukan yang terakhir.. buat ibu saya, ibu anda, dan ibu ibu dimanapun di dunia, saya do'akan beliau beliau semuanya masuk surga.

Thank you, Mom for having me. I know it's been a lot of pain.

Dec 18, 2010

Untitled #2

"(Hollywood is) a place where they'll pay you a thousand dollars for a kiss and fifty cents for your soul." - Marilyn Monroe

ngomongin soal film, rasanya hampir mustahil kita nggak ngomongin Hollywood. bagaimana tidak, Hollywood nampaknya sudah menjadi kiblatnya dunia perfilman. di samping dalam hal kuantitas produksinya, tak bisa dipungkiri juga bahwa kualitas juga turut andil besar mengapa film film Hollywood bisa jadi seperti sekarang ini, yang bisa dibilang merajai perfilman dunia. setidaknya bila mengacu pada film film yang beredar ataupun dari pendapatannya di bioskop di seluruh dunia. coba saja anda ingat ingat sendiri, dari sekian banyak film yang pernah anda tonton, saya yakin sebagian besar adalah film film Hollywood. kecuali kalo anda adalah penggemar berat drama Korea atau fanatik film film India. it's a different case.

seperti halnya juga industri film di manapun di dunia, industri film di Hollywood tentu juga pada akhirnya pastilah bermuara pada satu tujuan, keuntungan. kecuali film film festival yang biasanya memang lebih ditujukan untuk mencari award. itulah kenapa kata film nampaknya sudah sangat klop bila disandingkan dengan kata industri. di mana mana yang namanya industri pastilah ujung ujungnya ingin mendapatkan keuntungan. tak terkecuali industri film. terlebih lagi industri film Hollywood. well, TERUTAMA industri film Hollywood. kalo mau disebutkan, mungkin ada sekitar tujuh milyar cara yang digunakan industri film di Hollywood sono untuk mencari keuntungan. namun dengan alasan keterbatasan pengetahuan, saya tak akan menyebutkan semuanya. bego aja!

jika anda termasuk orang yang suka, ato setidaknya cukup sering, menonton film film Hollywood, mungkin anda juga akan sepakat bila film film Hollywood tidak bisa dilepaskan dari satu kata, SEX. (nggak sepakat juga nggak papa sih). yah, film dan sex (dalam berbagai bentuk visualisasinya) seolah sudah menjadi dua elemen yang sudah menjadi larutan yang tak terpisahkan. tentu saja yang saya maksudkan di sini bukan tentang film porno, tapi film film Hollywood secara umum. jika kita sedikit memperhatikan, walopun tidak seratus persen, hampir semua film film Hollywood selalu menampilkan adegan adegan yang dalam istilah akademisnya, hmm, menggugah syahwat. syahwatnya siapa? tentu saja yang menontonnya ;)

start from the easiest. anda semua pasti juga pernah menyaksikan adegan ciuman dalam film. maksud saya jelas bukan ciuman cheek to cheek ala tukul arwana di bukan empat mata nya, tapi ciuman lips to lips. ciuman bibir dengan bibir. ato cipokan, kata orang jaman purba. adegan ciuman mungkin bisa dikatakan sebagai hal paling 'wajar' di film film Hollywood. pernahkah anda menonton film Hollywood yang tidak menyertakan adegan ciuman di dalamnya? kalopun ada, jumlahnya pasti sangat sedikit sekali, kalo tak mau di bilang nyaris tak ada. mungkin satu diantara sejuta. kalo anda kurang kerjaan silahkan coba cari cari sendiri.

selain ciuman, adegan ranjang juga sudah menjadi hal biasa di industri film Hollywood. dari adegan ranjang yang 'biasa biasa' saja, sampe adegan ranjang yang biasanya nggak biasa biasa saja. hihihii. seperti halnya juga ciuman, adegan ranjang nampaknya sudah jadi barang lumrah di film film Hollywood. dan puncaknya, ya apalagi kalo bukan adegan topless. naked. nude. ato apalah istilah lainnya yang gampangnya dapat diartikan sebagai adegan tanpa busana alias telanjang. walopun memang sudah ada sejak zaman film bisu di Amrik, adegan telanjang di film film Holywood nampaknya tak pernah lekang oleh zaman dan senantiasa menjadi 'trend', ato paling tidak jadi salah satu strategi jualan si yang buat film. setidaknya begitulah dari hasil 'pengamatan' saya yang cukup seksama. hahaaha.


tak heran bila yang terjadi kemudian, banyak artis (wanita) yang kemudian tanpa ragu dan (sudah pasti) tanpa malu, ato malah lebih parahnya saling berlomba, untuk menampakkan bagian tubuhnya yang (mungkin) seharusnya jadi konsumsi pribadi. sekali lagi saya tentu nggak perlu menyebutkan nama nama artis untuk sekedar dijadikan contoh. karena percayalah, daftarnya akan teramat sangat panjang. mulai dari artis artis pendatang baru, hingga artis artis yang sudah punya nama, nampaknya tak terlalu jauh berbeda.

jika ditelisik lebih jauh, namun terus terang saya nggak ingin terlalu jauh, banyak faktor yang nampaknya melatarbelakangi seorang artis untuk 'sukarela' melakukan adegan topless. bayaran tinggi, memburu award, ato 'sekedar' untuk mencari sensasi, seperti yang banyak dilakukan artis pendatang baru. walopun artis yang sudah kondangpun tak jarang sengaja mencari sensasi juga. kita mungkin tak kan habis pikir bila Warner Bros Pictures mau membayar setengah juta dollar 'hanya' untuk Halle Berry agar mau menanggalkan bra nya. kita juga mungkin tidak akan pernah menyaksikan Kate Winslet atau Gwyneth Paltrow menerima Oscar kalo bukan karena 'totalitas' mereka dalam filmnya masing masing. ato mungkin kita tak akan pernah kenal dengan Miley Cyrus kalo bukan karena 'sensasi' (sok) hebohnya. but it's showbizz, dude!

bagaimana dengan perfilman di negara kita tercinta Indonesia??

mungkin saya tak perlu repot menjawabnya karena rasanya anda semua juga sudah cukup tau jawabannya. cobalah tengok daftar film film indonesia yang sedang diputar di bioskop belakangan ini. katakanlah sebuah perumpamaan, jika ada empat film Indonesia yang sedang diputar, tiga diantaranya mungkin adalah film film horror yang, jujur saja, dilihat dari judulnya saja sudah terlihat 'bodoh'. ITU KATA SAYA loh ya. sayapun kadang tak habis pikir dan tak tau apa maksud sebenernya film seperti itu di buat. namun satu yang pasti, ya itu tadi, mencari keuntungan.

seperti kodok di musim hujan, trend perfilman indonesia nampaknya sangat mudah di tebak. kreativitas para insan perfilman (walopun nggak semuanya) lebih terorientasi tentang bagaimana mengkreasikan keuntungan. melakukan berbagai cara agar sebisa mungkin film yang dibuat bisa mendatangkan keuntungan (sebesar besarnya). cara paling gampang ya apalagi kalo bukan 'menjual' si artis. ironisnya, yang dijual bukanlah kualitas aktingnya, tapi lebih kepada kualitas 'sampingan' nya. bisa tampang sensualnya. bisa body sexy nya. ato seberapa besar sensasi atau bahkan kontroversi yang sudah (dan yang mungkin akan) dibuatnya. apalah artinya akting bagus kalo tampang dan body nggak menjual. apa guna film bagus kalo nggak berpotensi untung. maka tak mengejutkan bila kemudian film film kita didominasi oleh film film 'murahan' yang tak lebih dari sekedar profit oriented. walopun saya yakin, banyak juga yang nggak untung, ato malah tekor. who knows.

singkatnya, dalam konteks yang saya maksud, industri film di Hollywood dan industri film di Indonesia mungkin bisa dibilang serupa tapi tak sama. sekali lagi, saya tak akan ngelantur terlalu jauh. dengan mengkaji perbedaan budaya misalnya. karena selaen saya memang minim wawasan, mungkin juga akan mengaburkan substansi. serupa, karena sebenernya juga banyak film film Hollywood maupun film film Indonesia yang (hanya) mengumbar sensualitas dengan 'isi' film yang tidak jelas. banyak adegan adegan 'sensual' yang terkesan dipaksakan, padahal nggak ada kaitannya dengan cerita. dengan kata lain, kalopun tidak ada adegan seperti itupun sebenernya tak apa. tapi begitulah bisnis. tak sama, karena setidaknya, di Hollywood mengemasnya dengan proses 'kreatif' yang bisa dikatakan lebih NIAT, sedangkan film film Indonesia lebih sering menampilkannya dengan motto yang penting untung. sehingga tak jarang kemudian yang dihasilkan hanyalah film film sampah yang hanya mengumbar body sexy para pemainnya. maka tak heran juga jika kemudian film film di Indonesia mendapat label film jorok. komedi jorok. horror jorok. dan sebagainya. semoga saja nanti tidak (akan pernah) ada film religi jorok. di film film kita, banyak artis (wanita) yang kemudian rela beradegan syur ato beradegan panas (bukan adegan kebakaran) dengan mengatasnamakan 'totalitas' dan berlindung dibalik 'tuntutan peran'. whatever.

well, saya sendiri tak akan munafik dengan mengatakan kalo saya seratus persen 'menolak'. karena tak bisa dipungkiri, bagaimanapun, terkadang sayapun juga menikmatinya. hahaahaa. sekali lagi ini hanya sebuah 'studi' komparasi berdasarkan perspektif subjektif dengan ejaan yang sengaja tidak disempurnakan. jadi kalo ada yang nggak setuju ato tak suka, dengan dada six pack saya memakluminya ;)

dan akhirnya, seperti kata orang bijak.. rakyat bijak taat pajak. jadi menontonlah dengan bijak. lha emang ra nyambung! hihihii..

cheers.