Sep 20, 2010

Di Tepi Pulau Bali

denpasar. agustus 2010

---- beberapa jam sebelum meninggalkan pulau Bali ----

ngomongin pulau dewata.. mungkin memang tak kan pernah ada habisnya. bagaimana tidak, apa sih yang nggak bisa dibahas kalo udah menyangkut Bali. hampir semua yang ada di Bali bisa dijadikan bahan pembicaraan. yah, walopun pembicaraannya memang nggak selalu menyenangkan. well, saya sendiri, sebagai seorang manusia katrok yang notabene nggak pernah bepergian jauh, sangat bersyukur ketika sekali waktu dapat kesempatan untuk bisa ke Bali. walopun dengan alibi klise memenuhi kewajiban sebagai seorang akademisi (baca : mahasiswa nggak lulus lulus). whatever. apapun alasannya, saya tetap senang, dan bahagia, dan sentosa, ketika garis nasib mambawa saya ke pulau dewata. BALIIII... (dengan nada iklan sampoerna hijau). yeeaahhh.

singkat kata singkat cerita, mimpi untuk ke Bali pun akhirnya jadi kenyataan. saya menginjakkan kaki di pulau Bali. tepat jam 6 pagi WITA. dan sekali lagi, ini bukan mimpi. well, bagi orang lain, dan mungkin juga bagi anda, pergi ke Bali mungkin bukan hal yang istimewa, dengan kata lain, biasa saja. tapi bagi saya, bisa ke Bali adalah seperti mimpi. cuman kali ini mimpi saya harus bayar mahal. tekor! ;)

walopun disambut indahnya pelangi sehabis hujan deras selama di laut, kesan pertama menginjak pulau Bali sebenernya bisa dibilang nggak terlalu mengesankan. setidaknya begitulah yang saya rasakan ketika sampai di pelabuhan Gilimanuk, yang jadi 'pintu' nya Bali dari laut. provinsi yang notabene BALI, ternyata memiliki pelabuhan yang jauh dari menarik. belum lagi kemudian dicegat sekuriti pelabuhan karena KTP beberapa teman saya ternyata kadaluwarsa. hahahaa. untunglah, korupsi, kolusi dan nepotisme masih ada di negri kita ini. hehee.

setelah melewati begitu banyak desa sepanjang perjalanan, akhirnya sampai juga di Denpasar. yeaahh. Denpasar. sebagai 'ibu kota' nya Bali, Denpasar tentu lebih menarik dari daerah-daerah lain di Bali. itu menurut saya. seperti Jakarta yang ibu kota negara kita tercinta, Denpasar tentu menawarkan berbagai macam hal yang layaknya ada di sebuah kota besar. seperti juga halnya di Jakarta yang memiliki berbagai macam yang ada di Indonesia, Denpasar nampaknya juga memiliki segala macam yang ada di Bali. mungkin bisa dibilang Denpasar adalah miniaturnya Bali. mungkin.

and the days went on.. sebulan di pulau dewata, begitu banyak cerita suka duka. (suka duka?? hehee) walopun tentu saja lebih banyak sukanya. lebih banyak senengnya. karena niat sedari awal ke Bali emang untuk seneng-seneng. walopun ada embel embel tugas kuliah. wtf.

well, dari begitu banyak pesona yang ditawarkan pulau Bali, mungkin ada beberapa yang menurut saya layak untuk ditulis. walopun belum tentu layak di baca. hehee. so what.

let's see!

- desa adat

seperti juga halnya di Jawa, di Bali ternyata juga banyak pedesaan, yang biasanya di sebut dengan desa adat. walopun nggak semua desa di Bali disebut desa adat. perbedaan yang paling keliatan mungkin adalah tentang adatnya. hehee. ya namanya desa adat, soal adat, tradisi ato budaya terlihat sangat kental di setiap desa. mulai dari bangunan-bangunan pura, patung patung dewa (bukan dewa 19), sampe sesajen yang tak hanya ada di tempat tempat ibadah seperti pura, tapi juga di setiap rumah. bahkan di jalan jalan pun kita bisa dengan mudahnya menemukan sesajen yang biasanya terdiri dari bunga bungaan dan dupa. yang sempat membuat saya heran, bahkan di setiap toko di mall pun ada tempat khusus untuk sesajen, toko mewah dan elite sekalipun. walopun awalnya sempat heran, lama kelamaan sayapun mulai terbiasa dan justru mengagumi adat orang Bali yang satu ini. untuk soal menjaga adat ato tradisi, dalam hal ini tentang sesajen, salut saya untuk orang Bali. modernisasi dan globalisasi ternyata tidak membuat (masyarakat) Bali kehilangan identitasnya, yang dalam hal ini terkait soal adat ato tradisinya. semoga bisa jadi contoh dalam skala yang lebih besar, bagi bangsa kita tercinta ini agar tak kehilangan ciri khasnya karena tertelan kemajuan zaman. (halahh)

- tiang bali

hari hari pertama di Bali, saya sering di buat bingung oleh cara bicara orang Bali (pribumi). selaen emang saya nggak ngerti bahasa Bali, orang Bali juga ngomong dengan nada yang 'aneh'. (ato unik??) dan seperti nggak pake spasi. mungkin mirip mirip dengan gaya bicaranya orang Sunda. ketika pertama kali mendengar orang Bali bilang kata 'tiang' saya sempat berpikir bahwa maksud mereka adalah tiang bendera ato tiang rumah, ato tiang secara umum. namun ternyata 'tiang' dalam bahasa Bali memiliki kesamaan makna dengan 'tiang' dalam bahasa Jawa yang artinya sama sama 'orang'. jadi 'tiang bali' artinya 'orang bali'. ooaallahh. belum lagi bingung soal 'bli' dan 'beli' yang kalo diucapkan sekilas (bagi saya) terdengar sama saja, padahal artinya jelas jauh berbeda. well, mungkin bisa dibilang beruntung saya tinggal di sekitar orang-orang yang secara umum bersikap welcome terhadap pendatang, walopun tidak terlalu akrab. dan setelah beberapa lama berbaur, barulah saya tau kalo ternyata banyak orang jawa juga di Bali. karena kata kepala desa nya, warga Denpasar Barat - daerah yang sementara nggelandang di Bali saya jadikan tempat tinggal - memang sebagian (besar) adalah pendatang. tak terkecuali pendatang dari pulau Jawa. barulah kemudian saya tau kalo ibu yang jualan kupat tahu ternyata dari Blitar. tante yang jualan bakwan ternyata dari Surabaya. bapak yang jualan sate ternyata dari Solo. mbak mbak SPG di mall pun ternyata orang Malang. dan banyak lagi. dan banyak lagi. intinya, "welehhh.. wong jowo juga tho mbak'e". hahahaa.

- piknik lagi piknik lagi

Bali adalah liburan. Bali adalah senang senang. karena di Bali emang banyak yang bisa bikin senang. salah satunya ya sudah barang tentu tempat tempat wisatanya. well, dengan alasan keterbatasan sumber daya manusia (baca : kehabisan ongkos) sayapun hanya sempat mengunjungi beberapa tempat yang memungkinkan untuk di kunjungi. yang masih memungkinkan ditempuh dengan jalan kaki dari Denpasar. hehee. nggak segitunya juga dink. intinya, beberapa tempat yang sempat saya kunjungi memang layak jadi tujuan wisata. yang menyenangkan. yang mengesankan. mulai dari makan malam a la orang kaya di Jimbaran (yang kalo nggak di traktir oleh keluarga salah seorang teman saya, nampaknya seumur hidup pun belum tentu saya bisa makan malam di pinggir pantai kayak begitu. big thanks my friend), nongkrongin patung kepala perkutut, ehh, kepala garuda di garuda wisnu kencana (GWK), kemudian nengok pura di tengah laut di tanah lot, sampai napak tilas Bung Karno di istana tampak siring. lumayan. dan kemudian... mengunjungi seluruh circle k di Bali. hahaa. keluyuran nggak jelas hingga ujung Bali Utara. tidur di pantai lovina saking capeknya. dan nongkrong hingga pagi di kantor camat Kintamani. untung nggak digigit anjing! :)

- shopping time

soal menghabiskan dana, bagian ini mungkin bisa jadi kambing hitamnya. mulai dari pasar seni sukowati di mana bisa menawar sampai tepar, hingga ke pabrik kata katanya pak joseph 'joger' theodorus wulianadi, di mana bisa berdesak desakan sampai asma saking ramenya. yahh, naluri sebagai manusia membuat saya ingin belanja satu dua barang. dan tiga empat barang. dan lima enam barang. dan ini. dan itu. dan ini lagi. dan itu lagi. ditambah ini. sama itu. hingga akhirnya dompet saya yang kempes menyadarkan. seperti halnya Jogja yang kota budaya, Bali tentu juga punya berbagai macam cinderamata yang kayaknya sayang untuk dilewatkan. kapan lagi ke Bali??. hehee. mungkin cuma sekali kalinya saya ke Bali. who knows. jadi ya, seperti kata Efek Rumah Kaca, belanja terus sampai kere! hahaa.

- malam di legian

rasanya kurang afdhol dan kurang lengkap kalo kita ke Bali tapi belum menyusuri jalanan yang satu ini. yak, jalan legian yang kondang karena bom Bali itu ternyata memang layak jadi tujuan 'wajib' kalo kita ke Bali. selain atmosfer kehidupan malam Bali, jalan legian nampaknya memiliki kharisma dan daya tarik tersendiri hingga membuat banyak wisatawan (terutama para bule) membanjirinya hampir di setiap malam. belanja. makan. dugem. nongkrong. 'jajan'. semua ada di jalan legian. melihat lihat pertokoan dan tempat tempat hiburan yang berjajar di sepanjang jalan legian. napak tilas bom Bali menyaksikan reruntuhan sari club dan melihat kemeriahan paddy's club yang nampaknya sudah bangkit dari keterpurukan akibat guncangan bom bertaun taun silam. ato cuma sekedar berjalan jalan sambil sesekali nyenggol cewe bule. prikitieeeuuwww. hehee.

- the beaches

apa yang pertama terlintas di kepala kalo mendengar kata BALI?? mungkin sebagian dari anda (termasuk saya) akan menyebut pantai sebagai jawabannya. yahh, Bali memang tempatnya pantai. mungkin bagi turis asing, Bali adalah pantai. karena tak bisa dipungkiri, hampir semua turis pasti menjadikan pantai pantai di Bali sebagai salah satu tujuan utama mereka datang ke Bali. mulai dari pantai kuta, yang katanya pantai paling kondang se asia (tenggara?!) itu, yang nampaknya sudah menjadi salah satu ikon Bali, pantai sanur yang lebih tenang dan tempat asik main layang layang, pantai dreamland yang favoritnya para surfer, hingga pantai legian, surganya orang orang kere seperti saya. hahaa. yahh, dari semua yang pernah saya liat di Bali, pantai adalah favorit saya. dan dari semua pantai di Bali yang pernah saya datangi, pantai legian adalah juaranya. pantai yang lebih kondang dengan nama double six (66) ini emang menawarkan pesona pantai a la luar negri. di samping lebih rame, lebih dinamis dan lebih meriah, pantai double six juga menawarkan variasi 'pemandangan' yang berbeda dengan pantai lainnya. di mana mata memandang sampe jauh, yang nampak hanyalah bule bule yang kayaknya hampir semuanya, entah karena lupa ato emang sengaja lupa nggak bawa baju. hahahaa. tentu saja saya cuman ngeliatin bule yang cewe saja. hahahaa. sungguh 'pemandangan' yang langka. nggak setiap hari bisa kepantai yang kayak begini. hihihii. -- nyesel nggak bawa kamera ;) --


dan begitulah. begitu banyak cerita di Bali. mulai dari cerita cerita menyenangkan karena bisa mengunjungi tempat tempat yang memang menyenangkan, sampai cerita yang memalukan seperti kencing sembarangan di depan bule karena teler semalaman di legian. ahh, Bali. sebuah tulisan sampah mungkin tak sebanding dengan apa yang harusnya bisa diungkapkan tentang betapa indahnya Bali.

dan seperti entah kata siapa, ada pertemuan, pasti ada perpisahan. ada waktunya datang, pasti ada waktunya pergi. dan hari di mana saya harus angkat kaki dari Bali pun tiba. tanpa begitu terasa, sebulan telah berlalu. sebulan penuh suka cita. sebulan yang mengesankan. sebulan yang mungkin tak kan pernah terlupakan.


terima kasih Bali ku, untuk budaya dan alam mu
terima kasih untuk cantik gadis mu, dan kerasnya... arak Bali mu.


cheers.

No comments: