Jun 24, 2010

Just Be Grateful

salah nggak sih kalo saya bilang (hampir) semua orang pernah merasa 'jengah' dengan hidupnya?! ato jika dianggap terlalu menggeneralisasikan, mungkin sebagian orang kali ya. yah, mungkin lebih tepatnya sebagian orang. sebagian dari kita mungkin pernah merasa dimana hidup rasa rasanya nggak seperti yang kita minta. nggak seperti yang kita harapkan. nggak seperti yang kita rencanakan. ada kalanya dimana manusia merasa hidupnya serba nggak seperti yang diduga dan direncana sebelumnya. dalam artian tak terduga yang tidak mengenakkan. yang tidak menyenangkan. ato kalo mau nyontek lirik lagu dangdut, hidup seolah hanya penuh cerita duka lara, derita dan nestapa.

karena saya juga orang, sayapun tentu bukan pengecualian. sayapun, terkadang, juga merasa kok rasa rasanya hidup serba nggak nyaman. bukan terkadang dink, sering. hehee. dalam artian nggak nyaman secara perasaan. nggak nyaman secara psikologis. sebabnya tentu banyak. saking banyaknya, demi alasan durasi, tentu tak akan saya sebutkan satu persatu. disamping nggak penting, juga (kayaknya) nggak ada yang peduli.

kalo bicara soal bagaimana menjalani hidup, sebenernya, dan memang begitu realitanya, saya lebih sering jadi pihak yang pasif. pihak yang bodoh. dengan kalimat yang lebih sederhana dan rada bijaksana, saya lebih banyak jadi pihak yang dinasehati daripada yang menasehati. walopun tulisan sampah saya ini tak ada niat sedikitpun untuk 'menasehati' siapapun (kecuali diri saya sendiri). disamping saya yang masih, hmmm, muda, sehingga belum banyak makan asamnya cuka dan asinnya garam kehidupan, juga karena 'muda' nya pemikiran saya sebagai seorang manusia yang harusnya sudah bisa dibilang dewasa. walopun kita tentu sependapat, usia bukan harga mati sebagai satu satunya patokan untuk sebuah 'kedewasaan'. orang tua bisa saja berpikiran kayak anak anak. walopun kayaknya jarang anak anak yang berpikiran kayak orang tua. hehee.

entah karena malu pada diri sendiri ato kebanyakan denger ceramahnya kyai sejuta umat, saya yang notabene adalah manusia dewasa secara biologis, mendadak merasa menjadi anak anak. ato lebih tepatnya, mendadak (merasa) kekanak kanakan. walopun (menurut sebuah buku yang pernah saya baca, dan percayalah itu bener bener buku), di dalam jiwa setiap orang, orang tua sekalipun, selalu ada jiwa 'kekanak kanakan' nya. bisa dimaklumi, penjelasan sok taunya tentu saja karena orang tua juga pernah merasakan menjadi anak anak. tapi jarang ada anak anak yang berjiwa orang tua, karena anak anak belum pernah ngerasain tua --- kayaknya penjelasan yang tidak perlu --- ;)

berdasar pengalaman hidup sehari hari yang pernah kita jalani hingga saat ini, disadari ato tidak, pasti banyak hal yang bisa dijadikan contoh dimana kita merasa kekanak kanakan. baik dalam hal pemikiran, ucapan maupun tindakan yang kita lakukan. dari hal hal yang sepele, hingga hal hal yang duapele. ehh, maksudnya dari hal hal yang biasa hingga hal hal yang luar biasa. dari hal hal yang enteng sampai hal hal yang nggak enteng ato berat alias serius. sering sekali saya merasa dimana saya menganggap ucapan saya kekanak kanakan. ada kalanya saya berpikir tindakan saya kekanak kanakan. ato yang paling sering, saya merasa bahwa cara berpikir saya masih sangat kayak anak anak sekali. parah memang. yah walopun sekali lagi, dewasa kan nggak ada ukuran bakunya. dewasa menurut saya kan belum tentu dewasa menurut anda. pun begitu juga sebaliknya. jadi dewasa ato nggaknya kita, mungkin kita bisa (belajar) menilai sendiri. dengan kata lain, menilai kedewasaan kita sendiri sudah selayaknya juga dimulai dari diri kita sendiri. setidaknya begitulah menurut saya. yang nggak setuju juga nggak papa.

menilik dari apa yang pernah saya rasakan sebagai seorang manusia biasa yang sering merasa belum bisa 'dewasa', salah satu indikasi gampang dari 'ketidak-dewasaan' adalah betapa seringnya kita (ato dalam hal ini saya) yang kurang menghargai apa yang sudah dimiliki. ato dengan kata lain, kurang mensyukuri apa yang kita punyai. apapun yang ada saat ini, rasanya masih belum cukup. serba kurang. ato tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. tak sesuai dengan yang diharapkan. mungkin banyak orang yang demikian. merasa serba kekurangan padahal serba berkecukupan. suka mengeluh bahwasanya hidup kok rasanya nggak fair. ato yang lebih parah, mungkin sampe menganggap Tuhan nggak adil kepada kita. padahal jika kita mau sedikit berpikir lebih dalem, berpikir dalam bentuk yang paling mendasar, bukankah Tuhan lebih tau apa yang terbaik bagi kita?! Tuhan jauh lebih ngerti apa yang baik untuk kita. apa yang sesuai dan apa yang pas untuk kita. apapun dan bagaimanapun keadaan kita saat ini, mungkin ya seperti inilah yang terbaik untuk kita. menurut pertimbangan Dia Yang Maha Tau.

jika kita menuntut lebih dari apa apa yang sudah kita punya, siapa tau dengan keadaan yang lebih itu kita bisa jadi tergelincir. jadi sombong misalnya. ato angkuh. ato congkak. ehh, artinya sama dink ya. hehee. dan tuhan sungguh lebih tau itu. katakanlah kita yang hidup sederhana, dalam artian nggak miskin tapi juga nggak kaya, sekali lagi saya contohnya, mungkin ada kalanya merasa serba kekurangan. serba pas pasan. tapi seperti kata aa' gym, bukankah segala sesuatu dalam hidup ini akan menyenangkan kalo pas pasan. pas butuh, pas ada. hehee. lagian kan nggak ada salahnya hidup sederhana. hidup pas pasan. siapa tau dengan begitu kita jadi lebih pandai bersyukur atas segala yang sudah kita punya. siapa tau kalo tuhan menjadikan kita orang yang serba berlebihan kita jadi sombong dan kufur nikmat. ya nggak sih?! katanya aa' gym sih gitu ;)

contoh lain misalnya, mmmm.. apa ya.. bentar mikir dulu ------- oh iya, suara saya yang jelek misalnya. setidaknya begitu kata teman teman saya. biarpun banyak orang yang bilang suara saya jelek, saya mencoba untuk tidak menganggapnya sebagai ejekan. bukan karena saya orang yang sabar ato pemaaf, tapi karena saya sendiri juga nyadar kalo suara saya emang nggak bagus. hahaaa. tapi juga nggak jelek jelek amat deh kayaknya. toh saya masih suka nyanyi nyanyi (sendiri). masih suka karaokean kalo ada yang bayarin. buat saya, biar suara jelek, yang penting untuk bersuara yang baik. apa gunanya suara merdu mempesona bak seorang diva kalo kata kata yang keluar dari mulutnya adalah kata kata yang sia sia. nggak ada gunanya. ---- baru nyadar kalo saya orangnya bijaksana ---- hahahaa.

ato muka saya yang, hmmm, apa ya istilahnya. yang jelas muka yang ganteng enggak, jelek iya!! (heran, ternyata gampang sekali nyari contoh yang jelek jelek dari saya ini). dari semua yang jelek jelek, muka saya yang jelek tentu bisa jadi contoh paling gampang. di samping juga yang paling keliatan. biar punya muka yang nggak tampan dan nggak rupawan, setidaknya saya jadi nggak ngerasa sok tampan. gimana mau sok tampan kalo kenyataannya kagak ada tampan tampannya. hahahaa. ato kalo ingin menghibur diri, saya suka berkata dalam hati, harusnya orang orang ganteng berterima kasih kepada orang orang seperti saya. kalo nggak ada orang orang yang mukanya minor kayak saya, mana ada yang bilang mereka ganteng. coba kalo semua manusia di dunia mukanya sama, nggak ada kan yang namanya ganteng, nggak ada yang namanya nggak ganteng --- pembelaan --- hahahaa.

singkat kata, hidup memang penuh metafora. seperti kata para montir, hidup kan kayak roda yang berputar, kadang di atas kadang di bawah. kadang senang kadang susah. dan itu wajar saja. karena percayalah, banyak manusia yang mengalaminya. daripada mengeluh dengan apa yang tidak kita punya, kenapa nggak mencoba menjalani hidup dengan berbahagia. bukankah ada yang bilang, bahagia adalah ketika kita bisa mensyukuri (dan menikmati) apa yang kita punya?!

life is about changes, sometimes it's painful, sometimes it's beautiful.. just be grateful.

cheers.