entah kenapa belakangan ini rasa rasanya saya sedang senang dengan kata kata sarkastik itu. sekali lagi, seneng loh ya. jadi nggak berarti saya senang mengucapkannya. saya hanya senang dengannya. yahh walopuuuun, emang saya juga sering mengucapkannya juga dink. hehee. mungkin ada yang nganggep saya sedang sebal. kesal. marah. jengah. dan laen sebagainya yang inti pokoknya saya sedang nggak enak rasa. mungkin ada benarnya. walopun nggak semuanya benar adanya. helehh.
sebenernya banyak alesan kenapa saya seneng banget dengan kata kata yang hampir semua orang mungkin menafsirkannya sebagai sebuah umpatan, ato bahkan makian itu. liat orang lebay, saya bilang what the fuck. liat dosen ganjen, saya bilang what the fuck. ban motor kempes di jalan, saya bilang what the fuck. liat cewe cakep tapi cowoknya ancur, saya bilang what the fuck. dan banyak lagi. sederhananya, setiap saya melihat, mendengar ato merasa hal hal yang menurut saya nggak sesuai dengan (perasaan) saya, saya cuman bisa bilang.. what the fuck.
dan memang nggak salah. karena emang kata kata macem begitu, apalagi yang ada kata 'fuck' nya pasti dianggep sebagai suatu bentuk ekspresi yang (biasanya) nggak jauh jauh dari yang saya sebutkan tadi. sebal. kesal. marah. dan sebagainya. mungkin ada juga yang menyebutnya sebagai sebuah sebuah sumpah serapah. terserah.
straight to the case, sebenernya apa yang pengen saya tulis di sini adalah semacam 'sumpah serapah' saya sendiri (yang terutama ditujukan untuk saya sendiri juga) sebagai salah satu manusia user facebook. kenapa facebook?
here's the shit..
well, walopun (menurut pendapat saya pribadi) makin lama kayaknya makin membosankan saja, nampaknya banyak orang yang tetep setia dengan yang namanya fesbuk. fesbuk seolah sudah jadi bagian hidup sehari hari bagi sebagian orang. dalam tingkatan yang lebih ekstirm, fesbuk mungkin sudah jadi 'kebutuhan primer' bagi sebagian yang lain. rasanya hidup nggak afdhol kalo belum fesbukan.
diakui ato tidak, disadari ato enggak, jejaring sosial yang satu ini emang super duper fenomenilnya (fenomenil = saking fenomenalnya). tak kurang dari 350 juta users di seluruh dunia (saat tulisan ini dibuat) tentu sudah lebih dari cukup untuk membuat fesbuk bisa dibilang fenomenal. di indonesia sendiri, jangan tanya berapa jumlah penggunanya. anda mungkin sudah tau. ato setidaknya lebih tau dari saya.
sayapun tentu juga nggak mau dibilang makhluk munafik dengan membantahnya, karena walopun sering sekali merasa bosan dengannya, toh sesekali saya juga masih tetep menyempatkan buka buka fesbuk. walopun cuma sekedar buat upload poster film yang baru saya tonton (benar benar kegiatan yang mengindikasikan kekurang kerjaan). ato ketika kekurangkerjaan saya lebih parah, kadang saya sempatkan baca 'status' beberapa teman yang (kebanyakan) nggak penting. ato sekedar untuk baca (dan terkadang memberi) komen komen yang lebih nggak penting. mungkin itulah kenapa saya sering menganggap saya sendiri sebagai orang yang (benar benar sangat) kurang kerjaan (sekali) ketika dengan nggak berdosanya membuka fesbuk. tapi kalo mau jujur, saya memang orang yang kurang kerjaan. karena saya memang nggak punya kerjaan. dan kalopun punya kerjaan, belum tentu saya kerjakan. heehee. begitulah.
beberapa hari belakangan saya emang lagi males ambles dengan fesbuk. bukan dengan situsnya, tapi lebih kepada isinya. isinya tentu banyak, tapi saya lebih menekankan kepada salah satu isi 'utama' fesbuk, yakni apalagi kalo bukan 'status' dari orang orang yang jadi 'teman' kita.
saya, dan mungkin sebagian dari anda, mungkin bisa sedikit bernostalgia ke masa lalu, ketika kita baru mengenal fesbuk. baru punya akun fesbuk. baru memiliki beberapa 'teman' di dalamnya. semuanya mungkin nampak menyenangkan kala itu, mengingat kita masih 'baru' (kalo nggak mau dibillang masih asing) dengan fesbuk. saat itu mungkin kita lebih akrab dengan yang namanya friendster. begitupun juga saya. ketika pertama kali memiliki akun fesbuk, saya sendiri juga nggak nyangka fesbuk bakal se booming dan se fenomenal saat ini. maklum, saat itu (menurut saya) situs jejaring sosial belumlah sepopuler sekarang. ato mungkin sudah populer, cuman saya nya saja yang katrok makanya nggak tau. entahlah. yang jelas, berbagai situs jejaring sosial saat ini sudah dan semakin populer saja. fesbuk tentu bisa jadi contoh paling familiar.
dulu, ato mungkin juga sampai sekarang, mungkin sebagian dari pengguna fesbuk akan senang jika memiliki banyak 'teman'. siapa sih yang nggak seneng punya banyak teman. teman di dunia maya sekalipun. toh tetep saja teman. dahulu kala pun saya juga berpikir seperti itu. sebagai user fesbuk yang masih (dan tetap) lugu, saya pasti pengennya juga punya banyak teman. walopun sekali lagi, 'cuma' teman di dunia maya. sehingga saya, dan saya yakin ribuan ato bahkan jutaan pengguna fesbuk yang lain juga melakukannya, berlomba lomba mencari teman sebanyak banyaknya dengan membabi buta nge add orang. terutama yang cowok, pasti getol berburu teman. siapa aja di add. apalagi kalo cewek. apalagi kalo cewek cakep. apalagi kalo cewek cakep yang belum punya cowok. yahh, begitulah.
suatu saat, ketika sudah punya banyak teman, saya (dan mungkin juga anda) tentu merasa senang. seperti yang saya bilang tadi, siapa sih yang nggak seneng punya banyak teman. well, kalo anda menanyakan hal itu kepada saya, saat ini, saya akan menjawab, SAYA. yahh, saya adalah termasuk (mungkin malah cuma satu satunya) orang yang tidak suka (terlalu) banyak teman. namun perlu digarisbawahi, dalam hal ini adalah teman di jejaring fesbuk. kalo di alam nyata sih, saya juga pasti senang punya banyak teman.
tanya kennn apa ??
simple saja, saya nggak suka (cenderung muak) membaca bermacam 'status' nggak penting dari orang orang yang bagi saya juga nggak penting. penting nggak pentingnya gimana, mungkin cuma saya yang bisa menilainya. namun yang pasti, teman saya di fesbuk adalah orang orang yang memang saya tau. dan saya kenal. walopun kenal cuma sekedar pernah saling menyapa pas ketemu di sekolah. ato karena dia temannya teman saya di sma. ato setidaknya karena saya sudah sering dan intens berkomunikasi dengannya. berkomunikasi dengan orang yang di kenal menurut saya jauh lebih afdhol dari pada terus berbasa basi dengan orang orang yang nggak jelas rimbanya. muspro.
sayapun kadang heran ketika melihat beberapa teman di fesbuk (yang kebanyakan cewek) yang punya teman hingga ribuan. padahal seleb bukan. koruptor juga bukan. entahlah. mungkin emang dia populer. mana saya tau.
puncaknya mungkin dalam beberapa hari ini ketika saya (dengan tidak hormat) membuang orang orang nggak penting dari daftar teman di fesbuk hingga nyaris tinggal setengahnya. sayapun sempet heran, ternyata selama ini saya banyak 'berteman' dengan para fucking faker di fesbuk. walopun statusnya teman, tapi cuman mandeg sebatas status pertemanan. apa gunanya. kualitas lebih penting dari kuantitas mungkin berlaku dalam pandangan saya ini. bagaimanapun, saya juga tau, mereka nggak penting buat saya seperti saya yang juga nggak penting buat mereka. jadi ya, nothing to lose.
dengan sedikit teman yang tersisa (yang sebagian besar adalah kawan kawan masa sma), saya justru merasa lega. selega halaman 'home' fesbuk saya yang setidaknya tak lagi dipenuhi dengan daftar barang barang belanja dari manusia manusia yang (menurut saya) sangat terinspirasi dari lagunya efek rumah kaca; belanja terus sampai mati. walopun, masih saja tetap ada, setidaknya dia teman yang saya kenal. jadi bisa di toleransi. saya kan baik hati. hahaa.
cheers.
sebenernya banyak alesan kenapa saya seneng banget dengan kata kata yang hampir semua orang mungkin menafsirkannya sebagai sebuah umpatan, ato bahkan makian itu. liat orang lebay, saya bilang what the fuck. liat dosen ganjen, saya bilang what the fuck. ban motor kempes di jalan, saya bilang what the fuck. liat cewe cakep tapi cowoknya ancur, saya bilang what the fuck. dan banyak lagi. sederhananya, setiap saya melihat, mendengar ato merasa hal hal yang menurut saya nggak sesuai dengan (perasaan) saya, saya cuman bisa bilang.. what the fuck.
dan memang nggak salah. karena emang kata kata macem begitu, apalagi yang ada kata 'fuck' nya pasti dianggep sebagai suatu bentuk ekspresi yang (biasanya) nggak jauh jauh dari yang saya sebutkan tadi. sebal. kesal. marah. dan sebagainya. mungkin ada juga yang menyebutnya sebagai sebuah sebuah sumpah serapah. terserah.
straight to the case, sebenernya apa yang pengen saya tulis di sini adalah semacam 'sumpah serapah' saya sendiri (yang terutama ditujukan untuk saya sendiri juga) sebagai salah satu manusia user facebook. kenapa facebook?
here's the shit..
well, walopun (menurut pendapat saya pribadi) makin lama kayaknya makin membosankan saja, nampaknya banyak orang yang tetep setia dengan yang namanya fesbuk. fesbuk seolah sudah jadi bagian hidup sehari hari bagi sebagian orang. dalam tingkatan yang lebih ekstirm, fesbuk mungkin sudah jadi 'kebutuhan primer' bagi sebagian yang lain. rasanya hidup nggak afdhol kalo belum fesbukan.
diakui ato tidak, disadari ato enggak, jejaring sosial yang satu ini emang super duper fenomenilnya (fenomenil = saking fenomenalnya). tak kurang dari 350 juta users di seluruh dunia (saat tulisan ini dibuat) tentu sudah lebih dari cukup untuk membuat fesbuk bisa dibilang fenomenal. di indonesia sendiri, jangan tanya berapa jumlah penggunanya. anda mungkin sudah tau. ato setidaknya lebih tau dari saya.
sayapun tentu juga nggak mau dibilang makhluk munafik dengan membantahnya, karena walopun sering sekali merasa bosan dengannya, toh sesekali saya juga masih tetep menyempatkan buka buka fesbuk. walopun cuma sekedar buat upload poster film yang baru saya tonton (benar benar kegiatan yang mengindikasikan kekurang kerjaan). ato ketika kekurangkerjaan saya lebih parah, kadang saya sempatkan baca 'status' beberapa teman yang (kebanyakan) nggak penting. ato sekedar untuk baca (dan terkadang memberi) komen komen yang lebih nggak penting. mungkin itulah kenapa saya sering menganggap saya sendiri sebagai orang yang (benar benar sangat) kurang kerjaan (sekali) ketika dengan nggak berdosanya membuka fesbuk. tapi kalo mau jujur, saya memang orang yang kurang kerjaan. karena saya memang nggak punya kerjaan. dan kalopun punya kerjaan, belum tentu saya kerjakan. heehee. begitulah.
beberapa hari belakangan saya emang lagi males ambles dengan fesbuk. bukan dengan situsnya, tapi lebih kepada isinya. isinya tentu banyak, tapi saya lebih menekankan kepada salah satu isi 'utama' fesbuk, yakni apalagi kalo bukan 'status' dari orang orang yang jadi 'teman' kita.
saya, dan mungkin sebagian dari anda, mungkin bisa sedikit bernostalgia ke masa lalu, ketika kita baru mengenal fesbuk. baru punya akun fesbuk. baru memiliki beberapa 'teman' di dalamnya. semuanya mungkin nampak menyenangkan kala itu, mengingat kita masih 'baru' (kalo nggak mau dibillang masih asing) dengan fesbuk. saat itu mungkin kita lebih akrab dengan yang namanya friendster. begitupun juga saya. ketika pertama kali memiliki akun fesbuk, saya sendiri juga nggak nyangka fesbuk bakal se booming dan se fenomenal saat ini. maklum, saat itu (menurut saya) situs jejaring sosial belumlah sepopuler sekarang. ato mungkin sudah populer, cuman saya nya saja yang katrok makanya nggak tau. entahlah. yang jelas, berbagai situs jejaring sosial saat ini sudah dan semakin populer saja. fesbuk tentu bisa jadi contoh paling familiar.
dulu, ato mungkin juga sampai sekarang, mungkin sebagian dari pengguna fesbuk akan senang jika memiliki banyak 'teman'. siapa sih yang nggak seneng punya banyak teman. teman di dunia maya sekalipun. toh tetep saja teman. dahulu kala pun saya juga berpikir seperti itu. sebagai user fesbuk yang masih (dan tetap) lugu, saya pasti pengennya juga punya banyak teman. walopun sekali lagi, 'cuma' teman di dunia maya. sehingga saya, dan saya yakin ribuan ato bahkan jutaan pengguna fesbuk yang lain juga melakukannya, berlomba lomba mencari teman sebanyak banyaknya dengan membabi buta nge add orang. terutama yang cowok, pasti getol berburu teman. siapa aja di add. apalagi kalo cewek. apalagi kalo cewek cakep. apalagi kalo cewek cakep yang belum punya cowok. yahh, begitulah.
suatu saat, ketika sudah punya banyak teman, saya (dan mungkin juga anda) tentu merasa senang. seperti yang saya bilang tadi, siapa sih yang nggak seneng punya banyak teman. well, kalo anda menanyakan hal itu kepada saya, saat ini, saya akan menjawab, SAYA. yahh, saya adalah termasuk (mungkin malah cuma satu satunya) orang yang tidak suka (terlalu) banyak teman. namun perlu digarisbawahi, dalam hal ini adalah teman di jejaring fesbuk. kalo di alam nyata sih, saya juga pasti senang punya banyak teman.
tanya kennn apa ??
simple saja, saya nggak suka (cenderung muak) membaca bermacam 'status' nggak penting dari orang orang yang bagi saya juga nggak penting. penting nggak pentingnya gimana, mungkin cuma saya yang bisa menilainya. namun yang pasti, teman saya di fesbuk adalah orang orang yang memang saya tau. dan saya kenal. walopun kenal cuma sekedar pernah saling menyapa pas ketemu di sekolah. ato karena dia temannya teman saya di sma. ato setidaknya karena saya sudah sering dan intens berkomunikasi dengannya. berkomunikasi dengan orang yang di kenal menurut saya jauh lebih afdhol dari pada terus berbasa basi dengan orang orang yang nggak jelas rimbanya. muspro.
sayapun kadang heran ketika melihat beberapa teman di fesbuk (yang kebanyakan cewek) yang punya teman hingga ribuan. padahal seleb bukan. koruptor juga bukan. entahlah. mungkin emang dia populer. mana saya tau.
puncaknya mungkin dalam beberapa hari ini ketika saya (dengan tidak hormat) membuang orang orang nggak penting dari daftar teman di fesbuk hingga nyaris tinggal setengahnya. sayapun sempet heran, ternyata selama ini saya banyak 'berteman' dengan para fucking faker di fesbuk. walopun statusnya teman, tapi cuman mandeg sebatas status pertemanan. apa gunanya. kualitas lebih penting dari kuantitas mungkin berlaku dalam pandangan saya ini. bagaimanapun, saya juga tau, mereka nggak penting buat saya seperti saya yang juga nggak penting buat mereka. jadi ya, nothing to lose.
dengan sedikit teman yang tersisa (yang sebagian besar adalah kawan kawan masa sma), saya justru merasa lega. selega halaman 'home' fesbuk saya yang setidaknya tak lagi dipenuhi dengan daftar barang barang belanja dari manusia manusia yang (menurut saya) sangat terinspirasi dari lagunya efek rumah kaca; belanja terus sampai mati. walopun, masih saja tetap ada, setidaknya dia teman yang saya kenal. jadi bisa di toleransi. saya kan baik hati. hahaa.
cheers.