apa yang terlintas dipikiran anda ketika mendengar istilah ftv?? saya nggak tau bagaimana dengan anda, tapi setiap kali saya mendengar istilah ef ti vi, saya langsung teringat dengan salah satu stasiun tv swasta kita. ftv seolah sudah identik denga salah satu stasiun tv swasta yang (menurut saya) paling nggak bermutu itu. selain ftv ftv monotonnya, berbagai sinetron yang ampun najisnya, acara musik yang super noraknya, dan beberapa relity show yang nggak jelas maksudnya, stasiun tv itu nyaris nggak punya tayangan maupun program yang (menurut saya) layak tonton. tentu saja program news sebagai pengecualian.
well, di sini seperti biasanya saya nggak mau membahas soal kayak begitu. karena pastinya akan sangat membosankan. makanya saya memilih menulis soal yang lain, yang saya jamin akan lebih membosankan. hehee.
bagi anda yang ngefans setengah mati dengan ftv, pasti sudah mahfum dengan program yang satu itu. karena memang setiap hari selalu ada ftv. itupun dalam sehari biasanya lebih dari satu judul. itupun kayaknya tidak memberi spot untuk program lain, karena seperti halnya sinetron dan infotainment, mulai dari pagi, siang, sore hingga menjelang tengah malam, ftv selalu setia menghantui. pemirsa seolah tidak diberi kesempatan untuk menyaksikan program yang lain. banyak pemirsa yang akhirnya menjadi korban serakahnya stasiun televisi. salah satunya, ya saya. hehee. (nggak dink)
beberapa malam yang lalu, ketika anemia saya kumat, (anemia apa insomnia gitu lahh) saya tetap terjaga hingga tengah malam. susah sekali rasanya memejamkan mata. ehh, memejamkan matanya nggak susah sih. maksudnya susah tidurnya. ketika susah tidur, biasanya saya cuman guling guling nggak jelas di atas kasur. sambil sesekali berharap mendadak ketiduran. walopun itu jarang terjadi.
hingga pantat saya terasa terganjal oleh sesuatu yang ternyata adalah remote tv yang secara nggak sengaja kepencet pantat bohai saya. dan muncul lah gambar di layar kaca yang terasa menyilaukan setelah beberapa saat kamar saya gelap gulita. dan ftv pun ternyata masih hidup. saya lihat jam lantai (karena jam saya nempel di lantai, bukan di dinding), ternyata sudah hampir setengah satu. tengah malam. heran. kadang saya bertanya, emang yang nonton berapa banyak sih kalo ditayanginnya jam jam orang ngorok begini. mending kalo pelem pelem yang identik dengan tengah malam. hehee.. (hayo jangan buru buru su'udzon, maksud saya sinema tengah malam. hahaa)
sekali lagi, bila anda penggemar berat ftv, ato sering nonton ftv, ato setidaknya beberapa kali nonton ftv, terutama di stasiun tv yang satu itu, maka pasti anda setuju kalo saya bilang saat ini ftv seolah telah menjadi 'duta pariwisata'. (kalo nggak setuju juga nggak papa sihh). kenapa saya bilang begitu, karena anda pasti juga tau, kalo sebagian besar (kalo tidak mau dibilang hampir semuanya) ftv ftv yang tayang belakangan ini di ambil di dua kota saja, bali dan jogjakarta. seolah sudah tidak mempedulikan jakarta yang pusatnya hiburan. berhubung saya berdomisili di jogja, tentu saya lebih tertarik untuk membahas 'ftv jogja'. ftv yang shooting nya di jogja.
selain katrok dan monoton, menurut saya ftv sangatlah tidak kreatif. baik dari segi cerita, pemain, hingga hal hal 'sepele' seperti lokasi shooting. selain nyaris cuma di dua kota, tempat tempat yang jadi lokasi shooting pun hampir semuanya adalah tempat tempat wisata. seolah di kota kota itu hanya ada tempat tempat (wisata) itu, dengan sedikit sekali menampilkan tempat tempat (sisi) lain di bali dan jogjakarta. saya memang tak tau banyak tempat tempat wisata terkenal di bali, namun satu yang pasti, pantai kuta hampir selalu jadi background wajib ftv bali. maksudnya ftv yang shooting di bali. sedangkan di jogja, mungkin saya sedikit lebih tau. dan mungkin anda semua juga tau. setiap ftv yang shooting di jogja, selalu menampilkan malioboro. seolah di jogja 'cuma' ada malioboro.
bukannya saya tidak senang, karena menurut saya hal itu justru bagus dalam artian lebih memperkenalkan wisata jogja (dan bali) kepada masyarakat. namun yang membuat saya rada nggak ngehh adalah minimnya variasi dari 'angle' yang coba ditampilkan, sehingga lama kelamaan jadi terkesan membosankan. tempat tempat yang di tampilkan (di jogja misalnya malioboro dan keraton) justru adalah tempat tempat yang sudah di kenal luas oleh masyarakat. karena jangankan ftv, macam macam program atopun acara selain ftv pun telah banyak yang menampilkannya, semisal program wisata dengan embel embel jalan jalan dan sejenisnya dan sebagainya.
saya pun kadang heran, entah karena keterbatasan kreatif, ato memang keterbatasan sumber daya (baca : dana) yang memang selalu jadi kendala di segala aspek kehidupan di negara kita tercinta ini, yang menyebabkan minimnya 'kreativitas' ftv. terlepas dari itu, ftv ftv tersebut semakin mebuat saya antipati terhadapnya. bukan berarti saya membencinya. saya hanya nggak menyukainya.
selain lokasi shooting yang itu itu saja, ftv terkadang juga terkesan nggak sepenuh hati dalam hal pemerannya sendiri. tengoklah para pemain ftv yang hampir semuanya adalah warga ibu kota, ato setidaknya dari kota kota metropolitan lainnya, yang secara bahasa tentu saja bahasa indonesia yang fasih. namun ketika berperan di ftv yang bersetting jogja, mereka mendadak medok. mendadak jadi orang jawa yang awut awutan aksen jawanya. pengennya menampakkan image jawa dalam perannya, tapi justru kelihatan seperti jawa nyasar. yang bagi saya malah terdengar lucu cenderung konyol. kenapa mereka nggak mau sedikit berusaha untuk benar benar mendapatkan 'nuansa' jawanya. seperti film laskar pelangi misalnya, yang mengambil para pemainnya dari belitong, sesuai dengan cerita kisah nyatanya. ato setidaknya, sesuai dengan setting nya.
mungkin memang ftv tidak diberi budget sebesar film sehinggga tidak mungkin mencari pemain lokal dari daerah, dalam hal ini orang orang jogja untuk 'ftv jogja' misalnya. namun setidaknya mereka bisa menampilkan pemeran yang memang sesuai setting nya. yang benar benar bisa memerankan perannya. bukannya para jawa dadakan yang nggak jelas logatnya mau kemana. sumpahh. kayaknya bahasa indonesia nggak. medok pun juga nggak (kalo nggak mau dibilang medok yang dipaksakan). konyol. norak. untung saja yang maen cantik, jadi saya masih mau nonton. hahaa.
(saya jadi rada terhibur, setelah sering dibilang terlalu medok kalo ngomong bahasa indonesia. hehee)
semoga saja ke depan, program program yang mendominasi jam tayang televisi semacam ftv mau sedikit lebih 'bekerja keras' untuk sebuah tontonan yang benar benar tontonan. tontonan yang minimal bisa jadi hiburan. bukannya justru jadi 'pembodohan'.
## apakah anda juga sering melihat speaker 'nyasar' di bagian atas layar televisi anda ketika menyaksikan ftv?! hehee
cheers.
No comments:
Post a Comment