'boleh putus sekolah asal tidak putus belajar'. begitulah bunyi sebuah adagium (pepatah) dari salah seorang tokoh pendidikan, bahrudin, asal salatiga, jawa tengah. pendiri sekolah alternatif qoryah thabiyyah (QT) ini gelisah melihat kerupekan yang masih saja menggeluti alam pendidikan kita. pendidikan, yang kemudian diidentikan dengan sekolah, ternyata gagal dalam membelajarkan para siswa pada persoalan hidup yang akan mereka hadapi kelak.
andrias harefa, berpendapat, sekolah kita ternyata hanya melahirkan 'generasi sarimin'. yakni generasi yang cengeng, tidak mandiri, gagap dan gamang menyambut derasnya arus globalisasi. sekolah kita tak lebih dari sebuah pabrik yang memproduksi robot berjalan. karena itu, lulusan yang dihasilkan cenderung tidak mampu untuk menumbuhkembangkan potensinya sendiri.
pendidikan kita sejak awal memang salah urus dan keliru orientasi. tiap tahun angka pengangguran terdidik bukannya berkurang, tapi terus membengkak. ini mengisyaratkan betapa perguruan tinggi kita tidak mampu membekali lulusannya dengan keterampilan hidup. mereka hanya dicekoki dengan segudang teori namun minim ajaran daya survival.alhasil, walaupun bergelar sarjana namun acap gelagapan saat harus hidup di tengah tengah masyarakat.
pendidikan kitapun hanya berorientasi pada selembar ijazah. ijazah tersebut seolah sudah mewakili segala kemampuan peserta didik. karenanya, jika seseorang tidak memiliki selembar ijazah pun, maka dengan mudah kita mencapnya sebagai orang tak berpendidikan. stereotip seperti ini benar benar disahkan masyarakat lantaran sistem pendidikan kita yang menempatkan ijazah di atas segala galanya.
sejak kita memekikkan gaung kemerdekaan, nyaris belum ada format pendidikan yang betul betul memberdayakan siswa. kita sudah terbiasa dengan model pendidikan yang berkutat pada datang, duduk, mendengarkan dan pulang. peserta didik kita tidak dibiasakan untuk menjadi manusia pembelajar yang sesungguhnya. format pendidikan kita juga salah kaprah. proses pendidikan yang berjalan selalu menempatkan murid pada objek yang tidak tahu apa apa, harus di didik dan dibentuk sedemikian rupa oleh pendidik.
pendidikan semestinya merupakan proses pembelajaran yang menekankan siswa untuk aktif menggali potensi diri. adapun posisi pendidik adalah sebagai fasilitator, bukan sosok serba bisa yang wajib diikuti apapun tindakannya. jadi, siswa yang harus diajari untuk menemukan jati dirinya sendiri. orientasi pendidikan bukan hanya sekedar ijazah, melainkan kapabilitas yang dirasakan sendiri oleh siswa. pendidikan seharusnya juga mengajarkan siswa untuk mendidik dirinya sendiri.
@ KR 4 agustus 2009
andrias harefa, berpendapat, sekolah kita ternyata hanya melahirkan 'generasi sarimin'. yakni generasi yang cengeng, tidak mandiri, gagap dan gamang menyambut derasnya arus globalisasi. sekolah kita tak lebih dari sebuah pabrik yang memproduksi robot berjalan. karena itu, lulusan yang dihasilkan cenderung tidak mampu untuk menumbuhkembangkan potensinya sendiri.
pendidikan kita sejak awal memang salah urus dan keliru orientasi. tiap tahun angka pengangguran terdidik bukannya berkurang, tapi terus membengkak. ini mengisyaratkan betapa perguruan tinggi kita tidak mampu membekali lulusannya dengan keterampilan hidup. mereka hanya dicekoki dengan segudang teori namun minim ajaran daya survival.alhasil, walaupun bergelar sarjana namun acap gelagapan saat harus hidup di tengah tengah masyarakat.
pendidikan kitapun hanya berorientasi pada selembar ijazah. ijazah tersebut seolah sudah mewakili segala kemampuan peserta didik. karenanya, jika seseorang tidak memiliki selembar ijazah pun, maka dengan mudah kita mencapnya sebagai orang tak berpendidikan. stereotip seperti ini benar benar disahkan masyarakat lantaran sistem pendidikan kita yang menempatkan ijazah di atas segala galanya.
sejak kita memekikkan gaung kemerdekaan, nyaris belum ada format pendidikan yang betul betul memberdayakan siswa. kita sudah terbiasa dengan model pendidikan yang berkutat pada datang, duduk, mendengarkan dan pulang. peserta didik kita tidak dibiasakan untuk menjadi manusia pembelajar yang sesungguhnya. format pendidikan kita juga salah kaprah. proses pendidikan yang berjalan selalu menempatkan murid pada objek yang tidak tahu apa apa, harus di didik dan dibentuk sedemikian rupa oleh pendidik.
pendidikan semestinya merupakan proses pembelajaran yang menekankan siswa untuk aktif menggali potensi diri. adapun posisi pendidik adalah sebagai fasilitator, bukan sosok serba bisa yang wajib diikuti apapun tindakannya. jadi, siswa yang harus diajari untuk menemukan jati dirinya sendiri. orientasi pendidikan bukan hanya sekedar ijazah, melainkan kapabilitas yang dirasakan sendiri oleh siswa. pendidikan seharusnya juga mengajarkan siswa untuk mendidik dirinya sendiri.
@ KR 4 agustus 2009
No comments:
Post a Comment