Sep 7, 2009

Sebuah Nasehat Indah

pada suatu malam di bulan ramadhan, seperti biasanya saya, dan beberapa kawan satu kosan, bareng bareng pergi ke mesjid untuk sholat isya', dan taraweh. adapun yang laen adalah, malam itu kami memutuskan untuk pergi ke mesjid yang beda dari biasanya. maklum saja, di deket kosan saya ada beberapa mesjid. maka jangan heran juga kalo anak anak di kosan saya orangnya alim alim. terutama ya, ehmm.. tau sendiri lah! ;)

malem itu, kami pergi ke sebuah mesjid yang berada di suatu sekolah menengah, karena sebenernya emang mesjid sekolah. namun begitu, banyak juga warga sekitar yang dateng ke situ untuk sholat. ya iya lah, masa' untuk mancing!

sebenernya saya (rada) males juga taraweh di mesjid itu. hee.. soalnya biasanya sholatnya lama banget. yang biasanya saya denger lewat pengeras suara, imam tarawehnya kayak baca 30 juz. gimana nggak pegel?! ya emang nggak beneran baca 30 juz. pokoknya lama lah. namun atas nama soladiritas, dan terutama niat suci untuk sholat taraweh berjama'ah, sayapun berangkat.

dan bener saja, sholat di situ emang lebih lama (kalo nggak mau dibilang lama banget) dari mesjid yang biasanya saya datengi. baru sholat isya' aja rasanya udah pengen makan. ehh, pengen pulang maksudnya. kalo di mesjid kampung saya, pasti jam segitu udah selese taraweh. selese sholat isya', mendadak saya ngerasa ngantuk. dan terutama, lapar! soalnya saya emang biasanya makan setelah taraweh. namun dengan niat tulus beribadah, kantuk saya lawan, lapar saya tahan.

sesaat kemudian, berdirilah seorang bapak, lelaki paruh baya. nggak terlalu muda, tapi juga belum tua tua amat. biasa, mau ceramah. mau khotbah. makin lemas lah saya, karena biasanya saya terkantuk kantuk ketika mendengar khotbah yang menurut saya (kebanyakan) terdengar monoton. membosankan. udah membosankan, lama pula. rrgghh..

namun seperti mendapat 'teguran' entah dari mana, ngantuk saya mendadak ilang setelah mendengar beberapa saat si bapak berkhotbah, yang memang nggak terlalu banyak basa basi seperti yang biasanya saya dengar. bagi saya pribadi, itu adalah salah satu khotbah paling menarik yang pernah saya dengar. mungkin ada di antara anda anda sekalian yang juga sudah pernah mendengarnya. saya nggak inget persis gimana khotbahnya, dan mungkin emang nggak persis dengan 'riwayat' sebenernya. namun intinya, atau garis besarnya kurang lebih seperti ini.

suatu saat, Imam Al Ghazali pernah bertanya kepada murid muridnya,

"wahai murid muridku, menurut kalian, apakah yang paling tajam di dunia ini?"

murid muridnya pun menjawab,

"pisau".. "pedang".. "kapak".

Imam Al Ghazali kemudian berkata,

"semua jawaban kalian adalah benar. namun taukah kalian, bahwa ada yang lebih tajam di dunia ini daripada pisau, pedang dan kapak, yaitu lidah. jika seseorang terluka karena pisau ataupun pedang, maka yang terluka adalah tubuh luarnya, dan walaupun meninggalkan bekas, lukanya akan sembuh. namun apabila seseorang terluka karena lidah, karena perkataan yang diucapkan oleh lidah, maka yang terluka adalah hatinya. akan membekas selamanya di dalam hati, dan lukanya akan di bawa sampai mati".

Imam Al Ghazali kemudian bertanya lagi,

"menurut kalian apakah yang paling besar di dunia ini?"

murid muridnya pun kemudian menjawab berdasar benda benda terbesar yang mereka tau,

"gunung".. "bumi".. "matahari".

Imam Al Ghazali kemudian berkata,

"semua jawaban kalian adalah benar. namun taukah kalian bahwasanya ada yang lebih besar dari gunung, bulan, maupun matahari, yaitu nafsu manusia. seseorang akan merasa puas ketika sampai di puncak gunung, atau bahkan bisa mengelilingi bumi. namun seseorang tidak akan pernah merasa puas ketika ia menuruti nafsunya".

Imam Al Ghazali kemudian bertanya lagi,

"menurut kalian apakah yang paling dekat di dunia ini?"

murid muridnya pun kemudian menjawab berdasar orang orang terdekat mereka,

"ibu saya".. "saudara saya".. "teman saya".

Imam Al Ghazali kemudian berkata,

"semua jawaban kalian adalah benar. namun taukah kalian bahwasanya ada yang lebih dekat dari itu semua, yaitu maut. sedekat apapun kita dengan ibu kita, saudara kita, ataupun teman kita, kita tetap memiliki 'jarak' (batasan) dengan mereka. namun jika sudah tiba saat maut menjemput, sungguh tidak ada jarak antara kita dengannya. tak ada sesuatu apapun yang bisa menundanya."

Imam Al Ghazali kemudian bertanya lagi,

"menurut kalian, apakah yang paling jauh di dunia ini?"

murid muridnya pun kemudian menjawab berdasar tempat terjauh yang mereka tau,

"cina".. "bulan".. "bintang".

Imam Al Ghazali kemudian berkata,

"semua jawaban kalian adalah benar. namun taukah kalian bahwasanya ada yang lebih jauh dari tempat tempat itu, yaitu masa lalu. sejauh apapun tempat tempat itu, kita masih bisa mencapainya walaupun butuh waktu berhari hari atau bahkan berbulan bulan. namun kita tak kan pernah bisa kembali ke masa lalu, walaupun cuma semenit yang lalu".

Imam Al Ghazali kemudian bertanya lagi,

"menurut kalian, apakah yang paling ringan di dunia ini?"

murid muridnya pun kemudian menjawab,

"kain".. "debu".. "kapas".

Imam Al Ghazali kemudian berkata,

"semua jawaban kalian adalah benar. namun taukah kalian bahwasanya ada yang lebih ringan dari kain, debu, maupun kapas, yaitu meninggalkan sholat. hujan badai tak kan menghentikan kita untuk menemui kekasih kita, atau orang yang kita sayangi ketika kita sudah berjanji. namun sedikit panas atau gerimis, sudah cukup bagi kita untuk tidak pergi ke masjid menunaikan sholat".

Imam Al Ghazali kemudian bertanya lagi,

"menurut kalian, apakah yang paling berat di dunia ini?"

murid muridnya pun kemudian menjawab,

"batu".. "besi".. "baja".

Imam Al Ghazali kemudian berkata,

"semua jawaban kalian adalah benar. namun taukah kalian bahwasanya ada yang lebih berat dari itu semua, yaitu menjaga amanah. seseorang yang kuat dan kekar dapat mengangkat batu dan besi dengan kekuatannya, namun tak akan pernah bisa menjaga amanah selama tidak ada sifat 'amannah' dalam dirinya".

subhanallah. saya bener bener terkagum kagum dengan khotbah itu. sungguh indah. sangat sederhana. tentang hal hal yang sederhana. bahkan mungkin terdengar sangat sepele, namun ternyata sangat benar adanya. saya pun jadi sejenak merenung, apakah selama hidup saya pernah berpikir tentang hal hal itu?? ya Allah, ampunilah hamba Mu ini yang terlalu terlena oleh dunia.


dan sayapun hanya bisa berucap lirih, astagfirullah.

No comments: