Jul 10, 2009

We Live, We Die

lagi lagi tulisan saya memakai kata die alias mati. tapi sekali lagi, ini bukan cerita horror ;)
ini hanya tulisan sebagai bahan renungan saya pribadi. 'peringatan' bagi diri saya sendiri. sebenernya juga nggak penting. dan nggak mutu. jadi kalo anda punya kegiatan lain yang lebih menyenangkan, saya sarankan untuk tidak usah membuang buang waktu membaca tulisan ini. hehee.

nggak tau kenapa belakangan ini kok rasanya lagi 'seneng' membahas yang berhubungan dengan mati. mungkin karena belakangan ini juga banyak yang mati di sekitar saya. mati secara kiasan maupun beneran mati. di samping matinya michael jackson tentu saja. walopun nggak kenal jacko, cuman liat di tipi, tapi berita tentang kematiannya sungguh menggemparkan dunia. dunia dalam berita!

saya nggak tau gimana pandangan orang lain, tapi menurut saya mati bukanlah sesuatu yang tabu untuk di bahas. ato mungkin sebagian yang lain beranggapan bahwa nggak baik ngomongin soal mati. gampangnya pamali mungkin. tanpa bermaksud 'menentang' anggapan itu, saya sendiri menganggap bahwa ngomongin mati, dalam hal ini ngomongin dengan diri saya sendiri, ato mungkin dengan orang lain jika ada yang mau, saya anggap hal yang wajar. biasa biasa saja. seperti ngobrolin hal hal yang lain. bahkan kalo bisa, bagi saya pribadi, ngorolin mati (terutama dengan diri saya sendiri) harusnya dapat porsi lebih. karena menurut saya mati adalah topik yang nggak bakalan pernah out of date. nggak bakalan pernah terdengar kuno. bukannya mati itu sudah pasti. maksudnya sudah pasti terjadi. dan dalam agama saya pun dianjurkan agar kita banyak banyak mengingat mati. karena dengan mengingat mati kita jadi merasa bahwa hidup ini bener bener berarti. anugerah dari Tuhan yang sudah seharusnya kita syukuri. ya nggak sih??

mati pasti terjadi pada setiap yang hidup. jadi siapa saja yang baca tulisan ini, suatu saat pasti mati. (tapi saya nggak tau juga sih kalo mungkin ada hantu yang baca tulisan ini. hiihii.)

dari cukup banyaknya kematian yang terjadi di sekitar saya belakangan ini, membuat saya bertanya tanya pada diri sendiri, bagaimana kalo suatu saat saya yang mati. ketika melihat jenazah dalam peti mati, saya juga sering ngeri membayangkan gimana kalo saya yang di peti itu. ketika melihat peti di kubur di liang lahat, makin membuncah lah rasa itu. ngeri nggak sih? hehee..

yang membuat 'ngeri' tentu bukan mati nya. apalagi orang matinya. bukan. sama sekali bukan itu. tapi yang membuat saya ngeri, ato mungkin juga membuat anda 'ngeri' juga, adalah bagaimana kalo kita udah mati tapi ternyata kita (ngerasa) belum punya cukup 'bekal' untuk mati. karena mati bukanlah akhir dari segalanya. mati hanyalah salah satu tahapan menuju tahap selanjutnya, gerbang untuk menuju kehidupan lain yang jauh lebih sangat kekal abadi sekali. begitulah yang saya yakini.

saya selalu meyakinkan pada diri sendiri, bahwa mati bukanlah sesuatu yang harus di takuti. apalagi dihindari. soalnya emang nggak bisa dihindari. hehee.. maka jika ditanya apakah saya takut mati, saya akan menjawab bahwa saya belom ingin mati. saat ini.

jawabannya nggak nyambung kan ya?! hee.. saya belom ingin mati saat ini, bukannya saya takut mati, tapi saya belum siap mati. sekali lagi, saya belum siap mati. saat ini. saya merasa masih terlalu banyak dosa. dan terlalu sedikit amal. itupun kalo ada amal baik saya yang di catet malaikat. kaya dosa miskin amal. mungkin begitulah saya saat ini. jadi kalo saya mati sekarang, saya sungguh sungguh, bener bener teramat sangat belum siap. saya ngerasa belum punya cukup 'modal' untuk menjalani kehidupan saya setelah mati nanti. makanya setiap hari saya berdo'a agar diberi umur yang berkah. saya nggak minta umur yang panjang, saya minta umur yang berkah. bagi saya yang penting bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya. setuju?!

saya jadi teringat akan suatu nasehat, yang menurut saya bagus sekali. saya sudah sering mendengarnya. bahkan dikatakan oleh orang yang sama. tapi entah kenapa saya nggak bosen mendengarnya. kurang lebih begini, kalo kita mau mengambil suatu perumpamaan, hidup itu ibarat es batu. (ato batu es?). ya pokoknya itu lah. anda pasti tau maksud saya. es batu, jika anda taruh ke dalam segelas teh manis, maka es batu itu akan habis menjadi segelas es teh yang segar untuk dinikmati. namun jika anda taruh es batu di sembarang tempat, es batu itu juga akan tetep habis, tapi hanya menjadi air yang berceceran begitu saja. begitu juga hidup, jika kita gunakan hidup untuk hal hal yang baik dan bermanfaat, hidup tetap akan berakhir. dan begitupun jika kita gunakan hidup untuk hal hal yang buruk dan nggak bermanfaat, hidup juga tetap akan berakhir.

nasehat yang singkat, namun begitu mengena. menurut saya.

jadi terserah bagaimana pilihan kita. hidup kita adalah milik kita. dan pilihanpun terserah kita. semoga saja kita dapat menggunakan hidup yang singkat ini dengan hal hal terbaik yang bisa kita lakukan dalam hidup. hal hal terbaik yang bisa kita berikan untuk kehidupan itu sendiri. amin.


jagalah sempat sebelum sempitmu, jagalah hidup sebelum matimu.

cheers.

No comments: