jarum jam sudah menunjuk angka satu ketika kumulai menulis tulisan nggak jelas ini. jam satu malem maksudnya. sebenernya udah ngerasa ngantuk berat. tapi entah kenapa belom pengen tidur. menelan kopi campur areng (ato areng campur kopi?) membuat perutku cukup 'bergejolak' malam ini. dan seharian belum makan membuat perutku berdendang kian nyaring. persis seperti pantun peribahasa lama,
perut kosong berbunyi nyaring, raine togex gosong kaing kaing.
sejenak ingatanku berputar kembali ke memori kelabu beberapa hari yang lalu. hampir seminggu yang lalu. hari minggu. beranjak ke hari senin. di jam jam yang mungkin hampir sama seperti saat ini. jam satu malem. ato hampir pagi. ketika aku dan enam orang 'bodoh' lainnya masih berusaha sekuat tenaga menjadi bintang bintang akademi fantasi. alias menuju puncak. alias mendaki. alias munggah gunung.
sudah lama sekali nggak naek gunung. nggak tau dengan yang laen, tapi aku sendiri, kalo nggak salah ingat terakhir kali mendaki sekitar empat taon yang lalu. ketika masih jadi siswa sma. ketika masih 'muda'. walopun relatif belom terlalu lama, empat taon bagiku adalah rentang waktu yang sangat panjang untuk ukuran absen naek gunung. dalam empat taon, paling tidak harusnya udah naek gunung empat ato lima kali. tapi apa daya, status mahasiswa yang 'terpaksa' harus kujalani membuatku 'berpisah' dengan teman teman sesama 'pendaki' semasa sma.
dan setelah perencanaan selama beratus ratus taon (maksudnya sangat lama sekali direncanakan), akhirnya kemaren jadi juga berangkat. betapa senangnya hati saat itu. kerinduan yang teramat sangat ingin kembali ke gunung akhirnya bisa segera terobati. maklum, selama kurang lebih empat taon 'vakum', mendaki gunung biasanya cuman mandeg sampe niat. boro boro direncanakan, niatpun kemudian menguap dan hilang kebawa angin. dan ketika akhirnya teman teman bersepakat, rencanapun disusun. dengan perencanaaan yang setengah matang dan persiapan yang meragukan, kamipun bersiap kembali ke alam. back into the wild. dan tujuan kali ini adalah, merbabu.
seperti yang dulu dulu, rumahnya pak lurah sabrang jadi tempat ngumpul sebelum berangkat. sudah lama sekali rasanya nggak 'berkunjung' ke rumah itu. semuanya masih nampak sama. kecuali si yang punya rumah yang nampak makin ganteng. sapa lagi kalo bukan kapiten tri yulianto mangundirejo honocoroko podomesakno. ketika sampe disana, sudah terlihat beberapa makhluk aneh, termasuk yang punya rumah. rencana ngumpul setengah tiga. tapi seperti yang kita semua pasti tau, jadwalpun molor. perpanjangan waktu dua kali empat puluh lima menit. setelah semua personel ngumpul, sekitar jam empat sore, rombongan bersiap lepas landas. sore itu, total ada tuju orang bodoh yang siap siap jadi pendaki kampungan amatiran kurang pengalaman. semoga kembali pulang dalam keadaan hidup. do'aku dalam hati.
karena berencana mendaki dari pos selo, boyolali, kamipun berangkat dengan mengendarai motor. semua punya pasangan (baca; boncengan) kecuali kapiten tri yang nampaknya menikmati kesendiriannya di depan. sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang sama sekali nggak menarik. yang ada cuman debu. dan debu. kayaknya aku bakal pingsan sebelum tujuan. belom juga sampe tujuan, rasanya aku udah kena asma di jalan. heran.
sampe di daerah selo sekitar jam lima sore. sambil menunggu maghrib, (karena sebagian masih ada yang belum kafir) kamipun berhenti di mushola. ehh, di warung ding. di warung dekat mushola. singgah di warung depan polsek untuk makan makan. dan minum minum. ngopi maksudnya. dan belanja souvenir kalo si togex. maklum, cowok shopaholic. setelah cukup pengakuan dosa di mushola, si togex yang sudah cukup belanja, dan terutama sudah cukup makan, kamipun beranjak menuju ke base camp.
sampe di base camp sekitar lima belas menit kemudian. kamipun singgah di salah satu rumah. rumahnya pak narto kalo nggak salah. nyampe di sana ternyata rame teuing. banyak banget orang yang udah di sana hingga kami sempet kesusahan nyari tempat parkir mobil. ehh, parkir motor. setelah ngobrol dengan salah satu dari mereka, yang percaya ato tidak ternyata kerabatnya si togex, ternyata mereka adalah rombongan para kader simpatisan pks. partai keadilan sejahtera. yang 'kebetulan' lagi, ternyata juga dari klaten.
dugaanku, kayaknya mereka bukannya mau kampanye. soalnya kalo nggak salah pemilu udah lewat. tapi masa bodo lah, aku juga nggak tau. dan nggak mau tau. di pandang positifnya aja, jadi banyak teman mendaki. makin banyak orang kan makin rame. makin rame berarti makin asik. pikirku. rombongan partai itu katanya ada sekitar seratus lima puluh ekor. bussett. akupun jadi heran, dan bertanya tanya dalam hati, gimana ngumpulin orang sebanyak itu. mungkin mereka dibilangin kalo presiden bakalan pidato di puncak merbabu makanya orang sebanyak itu pada mau naek gunung. entahlah.
sambil menunggu jam sembilan malam, karena kami berencana take off jam sembilan, kamipun duduk duduk, ngobrol ngobrol. dan si togex, apalagi kalo nggak belanja. belanja souvenir lagi. nggak heran tas si togek lebih banyak diisi souvenir ketimbang bekal perjalanan. satu satunya bekal yang masuk akal yang dia bawa adalah tiga bungkus rokok. gud gud gud. lanjutkan gex!!
jarum jam nampak berdetik lambat sekali waktu itu. dua jam manunggu rasanya seperti.. dua jam. heehee.. sesaat sebelum jam sembilan, 'ujian' awal pun datang. turun hujan. ato mungkin gerimis. karena nggak deres deres banget. nggak sampe ada petir menyambar nyambar si togex. untunglah gerimis segera reda. dan akhirnya kamipun memutuskan untuk mulai berjalan. mendaki. belagak sok yes mendahului para kader pks. soalnya mereka kayaknya juga lagi siap siap mau berangkat. dengan penuh percaya diri, dan penuh muatan perbekalan, kamipun melangkah. mulai mendaki.
belum juga sempet masuk 'gerbang', ternyata udah salah jalan. tanda tanda yang kurang baik. pikirku. mungkin yang laen juga berpikiran sama. untung masih ada orang orang baek yang memberi tau kami untuk bertobat kembali ke jalan yang benar sebelum kami lebih jauh terjerumus ke dalam lembah yang sesat. lembah sesat beneran loh ya. bukan kiasan. meminjam judul lagunya tere, itu bener bener bukan awal yang indah. untung bukan aku yang di depan. jadi punya alibi. otomatis bebas dari tuduhan tersangka dalam kasus menjerumuskan orang ke jalan yang tidak benar. yang lain mungkin juga berpikir demikian. mau tau siapa yang di depan?? saya nggak mau menyebut nama, nanti dibilang pencemaran nama baik. saya kasih petunjuk saja. yang di depan waktu itu adalah seseorang berinisial c-o-t-r-e-x.
setelah kembali ke jalan yang benar, perjalananpun dilanjutkan melewati jalan jalan curam yang diselingi pemandangan jurang jurang yang dalam. ternyata ada baeknya juga tadi sempet gerimis. jalan yang berdebu bisa sedikit diminimalisir. minimal menunda gejala asma. perjalanan awal dihiasi dengan berbagai canda tawa konyol khas orang bodoh. membuat perjalanan terkesan meriah ditengah pegunungan yang senyap. yang paling 'menghibur' tentu saja 'nyanyian' sepanjang jalan yang tak henti hentinya didendangkan oleh teman kita yang gagah perkasa, heru su-pongge. mungkin gejala shock, karena baru pertama kali naek gunung. berkat dia lah rombongan harus berhenti tiap lima langkah untuk istirahat. beruntung dia tak 'lewat' di perjalanan.
ternyata sudah cukup lama berjalan. kamipun sampai di antah berantah yang entah bagaimana bentuknya. maklum, gelapnya malam 'dihiasi' indahnya kabut tebal membuat jarak pandang hanya sejauh satu sentimeter. sepinya malam membuat suasana kian mencekam. hehee.. yang terdengar dari kejauhan hanya teriakan teriakan rombongan para kader partai keadilan sejahtera yang tak henti hentinya meneriakkan 'allahuakbar'. persis seperti ketika fpi sedang razia.
kamipun berjalan semakin tak tentu arah. dan seperti yang diduga, akhirnya nyasar. jalan buntu. sebenernya juga nggaj buntu buntu amat. di depan masih ada jurang. kalo mau jalan terus juga masih bisa. paling paling cuman jatuh ke jurang. berhubung nggak ada dari kami yang pengen mati malem itu, kamipun memutuskan untuk duduk istirahat. sambil menunggu rombongan fpi. rombongan pks maksudnya. siapa tau mereka tau jalan yang bener. mereka kan pasti pada alim. hee..
yang kami tunggu tunggu akhirnya datang juga. rombongan pks. tapi tanpa diduga tanpa disangka, ternyata mereka juga berjalan menuju ke arah kami. ato dengan kata lain, mereka juga nyasar. karena kami adalah orang orang baik, kami biarkan mereka tetap berjalan ke arah kami. biar sama sama nyasar. hwahahaaaa.. lumayan. ada teman sesama orang orang tersesat. wkwkwkwwkk..
ketika melihat di depan jalan buntu dan cuma ada jurang, mereka baru nyadar kalo ternyata mereka nyasar. merekapun kemudian bertanya kepada kami yang keliatannya lagi pada duduk duduk nyantai sambil ngerokok seperti nggak punya dosa. mereka udah nyadar kalo kesasar, tapi belom nyadar kalo bertanya pada orang orang yang salah. jelas jelas kami juga kesasar. orang nyasar bertanya pada orang kesasar. jadinya nyasar kuadrat. kalo peribahasa, ibaratnya nggak ada rotan, khafilah tetap berlalu. goblog kabeh!! haahaaa..
setelah puas menertwakan kebodohan orang laen, dan terutama kebodohan diri sendiri, kamipun bertekad melanjutkan perjalanan meski jalan buntu. malam berkabut kami hadapi, semak belukar kami babati. hehee.. kayaknya kami menemukan jalan. mungkin jalan ular. ato jalan tikus, karena kayaknya belum terjamah manusia. yang penting jalan. usahapun tak sia sia. setelah menerjang belantara semak, jalan kebenaranpun ditemukan. kami kembali ke jalur yang seharusnya.
mungkin karena kecapekan setelah membabat hutan, membabat semak semak maksudnya, kami jadi ngerasa capek berat. dan akhirnya memutuskan untuk berhenti. beristirahat. tidur. mungkin karena saking capeknya, kita jadi asal berhenti. pengennya cepet istirahat. pengen cepet cepet merebahkan badan. hingga tak sempat mengamati keadaan sekitar. kami berhenti di tempat yang kalo orang normal mungkin nggak akan pernah berhenti di situ untuk istirahat. apalagi tidur. jika ada skala satu sampe sepuluh untuk tempat nggak layak di merbabu, kami ada di nomer sebelas. separah parahnya tempat di gunung itu. mungkin. sejelek jeleknya tempat untuk istirahat di merbabu. karena setelah pagi hari, setelah semuanya terlihat cukup jelas, kami baru menyadari kalo kami berhenti di tepian padang sabana yang cukup luas. tak ada satu batang pohonpun yang melindungi kami. hingga angin bisa dengan santainya menghembus ke arah kami. padahal kami berhenti sekitar jam setengah tiga pagi. rasanya seperti di antartika waktu itu. pagi harinya, setelah menyadarinya, kembali kami menertawakan kebodohan diri sendiri.
setelah gagal menyaksikan sunrise karena kabut yang masih terlalu tebal,perjalananpun kembali dilanjutkan. setelah photo photo tentunya. maklum, kebanyakan personel adalah model model iklan pembalut. nggak ada momen tanpa jepretan kamera. setelah beberapa saat berjalan, kembali kami harus berhenti. kali ini untuk alasan yang sedikit bisa diperdebatkan. salah satu pemeran utaman kita, si danang su-togex mendadak kebelet. mending kalo kebelet pipis. ini kebelet.. tau sendiri lah. dengan berat hati, dan berat tas, kami berhenti sejenak untuk memberi waktu padanya melaksanakan hajatnya. setelah beberapa saat, dengan semangat penuh solidaritas, rombongan meninggalkannya yang sedang asik menikmati hajatannya. siapa juga mau menunggui kebo boker.
perjalanan dilanjutkan. kali ini perjalanan terasa begitu indah karena disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. para model pun tak mau melewatkannya untuk berpose di pemandangan yang menyejukkan itu. sejenak berjalan, kami tiba di padang sabana yang luas. sepanjang mata memandang hanya ada rerumputan. pegunungan seperti kepala gondrong yang diselimuti rerumputan lebat. tak jauh dari situ, kami kemudian menjumpai hutan edelweis. meskipun nggak terlalu luas, cukup banyak pepohonan edelweis di tempat itu. setidaknya itu adalah 'belantara' edelwis terbanyak yang pernah saya liat. sayang, bunga edelwis belum 'layak' petik saat itu. dengan sedikit rasa kecewa, harus rela pulang tanpa membawa (banyak) edelweis.
setelah dihibur oleh pemandangan yang menyejukkan hati, kami kembali di hadapkan pada tantangan. jalan kian menajak curam. dengan tanah labil yang bisa longsor sewaktu waktu ketika dipijak. kami harus ekstra hati hati. tiga ato empat bukit telah didaki. tiga ato empat lembah pula sudah diseberangi. kami belum juga sampai di puncak. saya jadi bertanya tanya. di mana sebenernya puncaknya. perasaan kami sudah berulang kali naik turun puncak. rasa penasaranpun terjawab ketika kami kembali bertemu dengan rombongan fpi. ehh, rombongan pks maksudnya. bedanya, kami masih berjalan menuju puncak, mereka sudah turun dari puncak. 'kebetulan' lainpun terjadi. kami bertemu dengan teman lama. teman semasa sma. sebut saja marjito. soalnya namanya emang marjito ;). setelah lulus sma, nggak pernah ketemu dengannya lagi. sekalinya ketemu, bener bener nggak nyangka bakal ketemu di gunung. yang lebih nggak disangka, ternyata dia ikut dalam rombongan pks. heran. jangan jangan dia jadi caleg. ato minimal jadi tim sukses. hee.. setelah saling bertegur sapa dan berbasa basi, dia melanjutkan perjalanan turun dan kami melanjutkan perjalanan naik.
kamipun akhirnya bisa melihat puncak. baru bisa ngeliat. tapi belom nyampe. mungkin masih sekitar seratus meter lagi. tapi seratus meter digunung, bisa dibayangin, rasanya jauh banget. apalagi jalanan terakhir menuju puncak termasuk yang paling berat. selain tanah labil, juga sangat berdebu. membuat bukit terakhir menuju puncak menjadi 'tantangan terakhir' untuk dihadapi.
dan setelah berjuang dengan semangat empat koma lima (bukan semangat empat lima), kamipun tiba di puncak. kali ini beneran puncak. puncak gunung merbabu. senangnya hati akhirnya mencapai puncak. rasanya bener bener, rada susah diungkapkan. pokoknya mak nyuss, rasanya capek. tapi seneng. seneng tapi capek. rasanya mungkin seperti orgasme. mungkin. saya juga belom tau rasanya orgasme. pokonya rasanya campur aduk. capek, pegel, seneng, plong dan sebagainya dan sebagainya.
sampe di puncak sekitar jam sebelas siang. tak ada satu orangpun yang tersisa di puncak ketika kami sampai. semuanya udah pada turun. ternyata hari itu yang 'ngisi' gunung merbabu hampir semuanya adalah orang klaten. karena selaen kami dan rombongan pks, nggak banyak pendaki yang kami temui. sekalinya ketemu pendaki lain, ternyata orang klaten juga. hanya ada tiga orang pendaki dari sukoharjo yang sesaat kemudian menyusul tiba di puncak.
nyampe di puncak, hal pertama yang dilakukan adalah menikmati pemandangan yang sungguh luar biasa menakjubkan. setidaknya begitulah menurut saya. serasa seperti di puncak dunia. kita bisa melihat sejauh mata memandang, pemandangan yang pastinya nggak setiap hari bisa diliat. dari puncak merbabu, terlihat jelas para 'tetangganya'. yang paling deket, dan paling eksotis menurutku, tentu saja gunung merapi. yang nampak begitu jelas. keliatannya cuman beberapa meter di depan mata. di sisi sisi yang lain, terlihat gunung sindoro. dan gunung sumbing, kalo nggak salah. ada juga gunung ungaran. dan yang paling jauh, terlihat gunung lawu yang dari kejauhan hanya keliatan puncaknya. subhanallah.
to be continued...