Jul 31, 2009

Unforgetable Moments (Part II)

setelah perjuangan panjang nan melelahkan, akhirnya sampai juga di tujuan. puncak merbabu. sampe di puncak, hal pertama yang dilakukan adalah menikmati pemandangan yang sungguh luar biasa menakjubkan. setidaknya begitulah menurut saya. serasa seperti di puncak dunia. kita bisa melihat sejauh mata memandang, pemandangan yang pastinya nggak bisa diliat setiap hari.

dari puncak merbabu, terlihat jelas para 'tetangganya'. yang paling deket, dan paling eksotis menurutku, tentu saja gunung merapi. yang nampak begitu jelas. keliatannya cuman beberapa meter di depan mata. di sisi sisi yang lain, terlihat gunung sindoro. dan gunung sumbing, kalo nggak salah. ada juga gunung ungaran. dan yang paling jauh, terlihat gunung lawu yang dari kejauhan hanya keliatan puncaknya. begitu indah. subhanallah.

sambil menikmati pemandangan yang rasanya nggak pernah membosankan, para modelpun kembali beraksi. puncak merbabu mendadak jadi kayak studionya darwis triadi. potret sana jepret sini. nggak ada sudut yang terlewatkan untuk berpose. pokok'e narsis kabeh!!

rasa laparpun kemudian menghampiri. segala benda yang ada dalam tas dikeluarkan. mencari sesuatu yang bisa di makan. untunglah, ternyata masih cukup banyak yang tersisa. yang bisa dimakan. hawa dingin mendadak ikutan menyerang. dingin sekali rasanya. padahal tengah hari. sekitar jam dua belas siang. saking dinginnya, aku yang sebelumnya cuman pake celana kolor, buru buru pake celana panjang dan jaket rangkap tiga. begitupun masih kerasa dinginnya. aku jadi kangen kasurku. jadi pengen tidur dan selimutan. ;(

sejenak kemudian, berbincang dan berbasa basi dengan tiga pendaki dari sukoharjo yang 'kebetulan' hampir bersamaan nyampe di puncak. dan lagi, emang nggak ada orang laen. jadi ya sok ramah begitu lah. seperti dua orang yang lagi pdkt, kamipun kemudin janjian turun bareng. hahaaha.. maklum lah, waktu itu di merbabu nggak ada makhluk yang namanya wanita. jeruk makan jeruk pun jadi.

nggak terasa udah sekitar dua jam di puncak. menikamati keindahan alam. mengagumi kebesaran Tuhan. dan kebesaran gunung. gunungnya gede gede soalnya. setelah cukup berpose, cukup istirahat, dan nggak cukup makan ;), kamipun memutuskan untuk turun gunung. seperti janji 'kencan' sebelumnya, kamipun turun bersama tiga pendaki dari sukoharjo itu. mereka bertiga di depan. kami bertuju di belakang. ngikutin. sebenernya ada untungnya juga diajak turun bareng, soalnya kami emang nggak tau pasti jalan pulang. semalem waktu mendaki kan gelap, jadi nggak tau jalan mana mana aja yang dilewati.

satu bukit dituruni. dua bukit terlewati. kami masih bisa mengikuti. bukit ketiga kami masih bisa melihatnya. bukit keempat, kami sendiri lagi. mereka bertiga udah nggak keliatan. mungkin udah jauh meninggalkan. maklum saja, mereka berhenti istirahat tiap lima belas menit, kami berhenti istirahat tiap lima belas detik. kalo aja balapan, mungkin udah di over lap lima kali.

selain untuk istirahat, tiap berhenti selalu saja diisi dengan jeptar jepret. yang bikin tiap berhenti pasti lama. ngga selama waktu untuk berjalan. heran. di gunung, mungkin karena tempatnya tinggi, narsisnya pada ikutan tinggi. mungkin termasuk aku juga ding. hehee..

karena sudah nggak ada orang yang dijadikan 'penunjuk' jalan, akhirnya kami berjalan sendiri. dengan mengandalkan insting sendiri. insting yang sudah sering diasah. meskipun nggak tajem tajem juga. akibatnya, seperti yang kita duga, akhirnya nyasar. lagi. naik nyasar. turunpun nyasar. 'rekor' perjalanan yang mungkin sulit disamai oleh kelompok pendaki yang lain. untunglah cepet tersadar kalo nyasar, sebelum terjerumus lebih jauh. dengan berat hati dan beratnya melangkahkan kaki, kami kembali ke titik yang kira kira kami ingat. untunglah ketemu. dan untunglah lagi, kami bisa kembali ke jalan yang benar. jalan yang sudah dikenali. dan setelah itu, perjalanan benar benar 'lancar'.

singkat kata singkat cerita, akhirnya kami sampai di bawah. tapi belum nyampai di base camp. di bawah maksudnya sudah dekat dengan pemukiman. kami sempat bertemu beberapa penduduk setempat yang sedang bertanam, mencari pakan ternak dan sebagainya. ketika kami bertanya, merekapun bilang kalo kami sudah dekat. dekat dengan tempat di mana kita berangkat. kamipun jadi makin semangat. jalan makin cepat. makin cepat jalan, berarti makin cepat nyampe base camp. begitu seharusnya.

rasanya sudah cukup lama kami berjalan, namun tak juga sampai di base camp. kamipun terus berjalan. dan terus berjalan. hingga makin lama berjalan kami makin nyadar. yak, benar sekali. nyasar lagi. jika ketika naik nyasar sekali, ketika turun nyasar dua kali. benar benar 'membanggakan'.

karena jalanan nampak sudah familiar, maksudnya udah sering dilewati manusia, kamipun terus berjalan mengikuti jalan jalan kecil di tengah tengah ladang warga. namun siapa sangka, kami justru berputar putar entah kemana. hingga akhirnya kami jauh meninggalkan base camp, yang seharusnya kami tuju. dengan rasa hampir putus asa dan sedikit tenaga yang tersisa, kami terus berjalan. dan berjalan. seolah pasrah kemana kaki melangkah.

puji Tuhan semesta alam. kami akhirnya bisa melihat warung yang kemarin jadi tempat singgah sebelum ke base camp. tepat di seberang polsek. betapa senangnya hati. nggak hanya itu, kamipun menemukan air. walopun cuman mancur dari pipa warga yang bocor, rasanya seperti menemukan oase ditengah gurun. buru buru kami menghampiri 'sumber' air itu. rasanya sudah lama nggak ngeliat air. ada yang cuman ciprat ciprit. ada yang cuci tangan cuci kaki. ada yang cuci uang, ehh cuci muka. termasuk saya. saking senengnya nemu air, nggak mikirin efeknya. mungkin karena suhu badan yang masih panas kemudian mendadak kena air yang amat dingin, akibatnya nggak bagus buat kulit. terutama kulit muka. karena sampai di rumah, muka jadi seperti ganti kulit. mengelupas. mirip kayak ular kalo ganti kulit. menyebalkan.

sampai di warung, apalagi kalo bukan makan. dan minum. sepuasnya. kecuali saya, yang mendadak hilang nafsu makan. setelah bolak balik warung-base camp untuk mengambil motor, kamipun pulang. 'keberuntungan'pun nggak mandeg sampe di situ. terutama buatku. karena di jalan, ban motor mendadak bocor. tekor!! namun tetap bersukur, karena akhirnya semua sampai di rumah masing masing dengan selamat. sehat wal afiat. amin.

dengan berbagai aral, rintangan, ujian, cobaan dan entah apalagi namanya, akhirnya kami 'sukses' mendaki gunung merbabu. pengalaman yang menyenangkan, menantang, melelahkan dan me-kan me-kan yang lain. pengalaman yang bagi saya, kayaknya benar benar nggak akan terlupakan.

terima kasih buat teman teman, sahabat sahabat, saudara saudaraku. kalian memberiku pengalaman indah yang nggak akan pernah kulupakan. kecuali kalo aku hilang ingatan.

sampai jumpa di pendakian selanjutnya, sampai jumpa di petualangan berikutnya.

salam rimba. salam putusss!

cheers.

Jul 30, 2009

Unforgetable Moments (Part I)

jarum jam sudah menunjuk angka satu ketika kumulai menulis tulisan nggak jelas ini. jam satu malem maksudnya. sebenernya udah ngerasa ngantuk berat. tapi entah kenapa belom pengen tidur. menelan kopi campur areng (ato areng campur kopi?) membuat perutku cukup 'bergejolak' malam ini. dan seharian belum makan membuat perutku berdendang kian nyaring. persis seperti pantun peribahasa lama,

perut kosong berbunyi nyaring, raine togex gosong kaing kaing.

sejenak ingatanku berputar kembali ke memori kelabu beberapa hari yang lalu. hampir seminggu yang lalu. hari minggu. beranjak ke hari senin. di jam jam yang mungkin hampir sama seperti saat ini. jam satu malem. ato hampir pagi. ketika aku dan enam orang 'bodoh' lainnya masih berusaha sekuat tenaga menjadi bintang bintang akademi fantasi. alias menuju puncak. alias mendaki. alias munggah gunung.

sudah lama sekali nggak naek gunung. nggak tau dengan yang laen, tapi aku sendiri, kalo nggak salah ingat terakhir kali mendaki sekitar empat taon yang lalu. ketika masih jadi siswa sma. ketika masih 'muda'. walopun relatif belom terlalu lama, empat taon bagiku adalah rentang waktu yang sangat panjang untuk ukuran absen naek gunung. dalam empat taon, paling tidak harusnya udah naek gunung empat ato lima kali. tapi apa daya, status mahasiswa yang 'terpaksa' harus kujalani membuatku 'berpisah' dengan teman teman sesama 'pendaki' semasa sma.

dan setelah perencanaan selama beratus ratus taon (maksudnya sangat lama sekali direncanakan), akhirnya kemaren jadi juga berangkat. betapa senangnya hati saat itu. kerinduan yang teramat sangat ingin kembali ke gunung akhirnya bisa segera terobati. maklum, selama kurang lebih empat taon 'vakum', mendaki gunung biasanya cuman mandeg sampe niat. boro boro direncanakan, niatpun kemudian menguap dan hilang kebawa angin. dan ketika akhirnya teman teman bersepakat, rencanapun disusun. dengan perencanaaan yang setengah matang dan persiapan yang meragukan, kamipun bersiap kembali ke alam. back into the wild. dan tujuan kali ini adalah, merbabu.

seperti yang dulu dulu, rumahnya pak lurah sabrang jadi tempat ngumpul sebelum berangkat. sudah lama sekali rasanya nggak 'berkunjung' ke rumah itu. semuanya masih nampak sama. kecuali si yang punya rumah yang nampak makin ganteng. sapa lagi kalo bukan kapiten tri yulianto mangundirejo honocoroko podomesakno. ketika sampe disana, sudah terlihat beberapa makhluk aneh, termasuk yang punya rumah. rencana ngumpul setengah tiga. tapi seperti yang kita semua pasti tau, jadwalpun molor. perpanjangan waktu dua kali empat puluh lima menit. setelah semua personel ngumpul, sekitar jam empat sore, rombongan bersiap lepas landas. sore itu, total ada tuju orang bodoh yang siap siap jadi pendaki kampungan amatiran kurang pengalaman. semoga kembali pulang dalam keadaan hidup. do'aku dalam hati.

karena berencana mendaki dari pos selo, boyolali, kamipun berangkat dengan mengendarai motor. semua punya pasangan (baca; boncengan) kecuali kapiten tri yang nampaknya menikmati kesendiriannya di depan. sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang sama sekali nggak menarik. yang ada cuman debu. dan debu. kayaknya aku bakal pingsan sebelum tujuan. belom juga sampe tujuan, rasanya aku udah kena asma di jalan. heran.

sampe di daerah selo sekitar jam lima sore. sambil menunggu maghrib, (karena sebagian masih ada yang belum kafir) kamipun berhenti di mushola. ehh, di warung ding. di warung dekat mushola. singgah di warung depan polsek untuk makan makan. dan minum minum. ngopi maksudnya. dan belanja souvenir kalo si togex. maklum, cowok shopaholic. setelah cukup pengakuan dosa di mushola, si togex yang sudah cukup belanja, dan terutama sudah cukup makan, kamipun beranjak menuju ke base camp.

sampe di base camp sekitar lima belas menit kemudian. kamipun singgah di salah satu rumah. rumahnya pak narto kalo nggak salah. nyampe di sana ternyata rame teuing. banyak banget orang yang udah di sana hingga kami sempet kesusahan nyari tempat parkir mobil. ehh, parkir motor. setelah ngobrol dengan salah satu dari mereka, yang percaya ato tidak ternyata kerabatnya si togex, ternyata mereka adalah rombongan para kader simpatisan pks. partai keadilan sejahtera. yang 'kebetulan' lagi, ternyata juga dari klaten.

dugaanku, kayaknya mereka bukannya mau kampanye. soalnya kalo nggak salah pemilu udah lewat. tapi masa bodo lah, aku juga nggak tau. dan nggak mau tau. di pandang positifnya aja, jadi banyak teman mendaki. makin banyak orang kan makin rame. makin rame berarti makin asik. pikirku. rombongan partai itu katanya ada sekitar seratus lima puluh ekor. bussett. akupun jadi heran, dan bertanya tanya dalam hati, gimana ngumpulin orang sebanyak itu. mungkin mereka dibilangin kalo presiden bakalan pidato di puncak merbabu makanya orang sebanyak itu pada mau naek gunung. entahlah.

sambil menunggu jam sembilan malam, karena kami berencana take off jam sembilan, kamipun duduk duduk, ngobrol ngobrol. dan si togex, apalagi kalo nggak belanja. belanja souvenir lagi. nggak heran tas si togek lebih banyak diisi souvenir ketimbang bekal perjalanan. satu satunya bekal yang masuk akal yang dia bawa adalah tiga bungkus rokok. gud gud gud. lanjutkan gex!!

jarum jam nampak berdetik lambat sekali waktu itu. dua jam manunggu rasanya seperti.. dua jam. heehee.. sesaat sebelum jam sembilan, 'ujian' awal pun datang. turun hujan. ato mungkin gerimis. karena nggak deres deres banget. nggak sampe ada petir menyambar nyambar si togex. untunglah gerimis segera reda. dan akhirnya kamipun memutuskan untuk mulai berjalan. mendaki. belagak sok yes mendahului para kader pks. soalnya mereka kayaknya juga lagi siap siap mau berangkat. dengan penuh percaya diri, dan penuh muatan perbekalan, kamipun melangkah. mulai mendaki.

belum juga sempet masuk 'gerbang', ternyata udah salah jalan. tanda tanda yang kurang baik. pikirku. mungkin yang laen juga berpikiran sama. untung masih ada orang orang baek yang memberi tau kami untuk bertobat kembali ke jalan yang benar sebelum kami lebih jauh terjerumus ke dalam lembah yang sesat. lembah sesat beneran loh ya. bukan kiasan. meminjam judul lagunya tere, itu bener bener bukan awal yang indah. untung bukan aku yang di depan. jadi punya alibi. otomatis bebas dari tuduhan tersangka dalam kasus menjerumuskan orang ke jalan yang tidak benar. yang lain mungkin juga berpikir demikian. mau tau siapa yang di depan?? saya nggak mau menyebut nama, nanti dibilang pencemaran nama baik. saya kasih petunjuk saja. yang di depan waktu itu adalah seseorang berinisial c-o-t-r-e-x.

setelah kembali ke jalan yang benar, perjalananpun dilanjutkan melewati jalan jalan curam yang diselingi pemandangan jurang jurang yang dalam. ternyata ada baeknya juga tadi sempet gerimis. jalan yang berdebu bisa sedikit diminimalisir. minimal menunda gejala asma. perjalanan awal dihiasi dengan berbagai canda tawa konyol khas orang bodoh. membuat perjalanan terkesan meriah ditengah pegunungan yang senyap. yang paling 'menghibur' tentu saja 'nyanyian' sepanjang jalan yang tak henti hentinya didendangkan oleh teman kita yang gagah perkasa, heru su-pongge. mungkin gejala shock, karena baru pertama kali naek gunung. berkat dia lah rombongan harus berhenti tiap lima langkah untuk istirahat. beruntung dia tak 'lewat' di perjalanan.

ternyata sudah cukup lama berjalan. kamipun sampai di antah berantah yang entah bagaimana bentuknya. maklum, gelapnya malam 'dihiasi' indahnya kabut tebal membuat jarak pandang hanya sejauh satu sentimeter. sepinya malam membuat suasana kian mencekam. hehee.. yang terdengar dari kejauhan hanya teriakan teriakan rombongan para kader partai keadilan sejahtera yang tak henti hentinya meneriakkan 'allahuakbar'. persis seperti ketika fpi sedang razia.

kamipun berjalan semakin tak tentu arah. dan seperti yang diduga, akhirnya nyasar. jalan buntu. sebenernya juga nggaj buntu buntu amat. di depan masih ada jurang. kalo mau jalan terus juga masih bisa. paling paling cuman jatuh ke jurang. berhubung nggak ada dari kami yang pengen mati malem itu, kamipun memutuskan untuk duduk istirahat. sambil menunggu rombongan fpi. rombongan pks maksudnya. siapa tau mereka tau jalan yang bener. mereka kan pasti pada alim. hee..

yang kami tunggu tunggu akhirnya datang juga. rombongan pks. tapi tanpa diduga tanpa disangka, ternyata mereka juga berjalan menuju ke arah kami. ato dengan kata lain, mereka juga nyasar. karena kami adalah orang orang baik, kami biarkan mereka tetap berjalan ke arah kami. biar sama sama nyasar. hwahahaaaa.. lumayan. ada teman sesama orang orang tersesat. wkwkwkwwkk..

ketika melihat di depan jalan buntu dan cuma ada jurang, mereka baru nyadar kalo ternyata mereka nyasar. merekapun kemudian bertanya kepada kami yang keliatannya lagi pada duduk duduk nyantai sambil ngerokok seperti nggak punya dosa. mereka udah nyadar kalo kesasar, tapi belom nyadar kalo bertanya pada orang orang yang salah. jelas jelas kami juga kesasar. orang nyasar bertanya pada orang kesasar. jadinya nyasar kuadrat. kalo peribahasa, ibaratnya nggak ada rotan, khafilah tetap berlalu. goblog kabeh!! haahaaa..

setelah puas menertwakan kebodohan orang laen, dan terutama kebodohan diri sendiri, kamipun bertekad melanjutkan perjalanan meski jalan buntu. malam berkabut kami hadapi, semak belukar kami babati. hehee.. kayaknya kami menemukan jalan. mungkin jalan ular. ato jalan tikus, karena kayaknya belum terjamah manusia. yang penting jalan. usahapun tak sia sia. setelah menerjang belantara semak, jalan kebenaranpun ditemukan. kami kembali ke jalur yang seharusnya.

mungkin karena kecapekan setelah membabat hutan, membabat semak semak maksudnya, kami jadi ngerasa capek berat. dan akhirnya memutuskan untuk berhenti. beristirahat. tidur. mungkin karena saking capeknya, kita jadi asal berhenti. pengennya cepet istirahat. pengen cepet cepet merebahkan badan. hingga tak sempat mengamati keadaan sekitar. kami berhenti di tempat yang kalo orang normal mungkin nggak akan pernah berhenti di situ untuk istirahat. apalagi tidur. jika ada skala satu sampe sepuluh untuk tempat nggak layak di merbabu, kami ada di nomer sebelas. separah parahnya tempat di gunung itu. mungkin. sejelek jeleknya tempat untuk istirahat di merbabu. karena setelah pagi hari, setelah semuanya terlihat cukup jelas, kami baru menyadari kalo kami berhenti di tepian padang sabana yang cukup luas. tak ada satu batang pohonpun yang melindungi kami. hingga angin bisa dengan santainya menghembus ke arah kami. padahal kami berhenti sekitar jam setengah tiga pagi. rasanya seperti di antartika waktu itu. pagi harinya, setelah menyadarinya, kembali kami menertawakan kebodohan diri sendiri.

setelah gagal menyaksikan sunrise karena kabut yang masih terlalu tebal,perjalananpun kembali dilanjutkan. setelah photo photo tentunya. maklum, kebanyakan personel adalah model model iklan pembalut. nggak ada momen tanpa jepretan kamera. setelah beberapa saat berjalan, kembali kami harus berhenti. kali ini untuk alasan yang sedikit bisa diperdebatkan. salah satu pemeran utaman kita, si danang su-togex mendadak kebelet. mending kalo kebelet pipis. ini kebelet.. tau sendiri lah. dengan berat hati, dan berat tas, kami berhenti sejenak untuk memberi waktu padanya melaksanakan hajatnya. setelah beberapa saat, dengan semangat penuh solidaritas, rombongan meninggalkannya yang sedang asik menikmati hajatannya. siapa juga mau menunggui kebo boker.

perjalanan dilanjutkan. kali ini perjalanan terasa begitu indah karena disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. para model pun tak mau melewatkannya untuk berpose di pemandangan yang menyejukkan itu. sejenak berjalan, kami tiba di padang sabana yang luas. sepanjang mata memandang hanya ada rerumputan. pegunungan seperti kepala gondrong yang diselimuti rerumputan lebat. tak jauh dari situ, kami kemudian menjumpai hutan edelweis. meskipun nggak terlalu luas, cukup banyak pepohonan edelweis di tempat itu. setidaknya itu adalah 'belantara' edelwis terbanyak yang pernah saya liat. sayang, bunga edelwis belum 'layak' petik saat itu. dengan sedikit rasa kecewa, harus rela pulang tanpa membawa (banyak) edelweis.

setelah dihibur oleh pemandangan yang menyejukkan hati, kami kembali di hadapkan pada tantangan. jalan kian menajak curam. dengan tanah labil yang bisa longsor sewaktu waktu ketika dipijak. kami harus ekstra hati hati. tiga ato empat bukit telah didaki. tiga ato empat lembah pula sudah diseberangi. kami belum juga sampai di puncak. saya jadi bertanya tanya. di mana sebenernya puncaknya. perasaan kami sudah berulang kali naik turun puncak. rasa penasaranpun terjawab ketika kami kembali bertemu dengan rombongan fpi. ehh, rombongan pks maksudnya. bedanya, kami masih berjalan menuju puncak, mereka sudah turun dari puncak. 'kebetulan' lainpun terjadi. kami bertemu dengan teman lama. teman semasa sma. sebut saja marjito. soalnya namanya emang marjito ;). setelah lulus sma, nggak pernah ketemu dengannya lagi. sekalinya ketemu, bener bener nggak nyangka bakal ketemu di gunung. yang lebih nggak disangka, ternyata dia ikut dalam rombongan pks. heran. jangan jangan dia jadi caleg. ato minimal jadi tim sukses. hee.. setelah saling bertegur sapa dan berbasa basi, dia melanjutkan perjalanan turun dan kami melanjutkan perjalanan naik.

kamipun akhirnya bisa melihat puncak. baru bisa ngeliat. tapi belom nyampe. mungkin masih sekitar seratus meter lagi. tapi seratus meter digunung, bisa dibayangin, rasanya jauh banget. apalagi jalanan terakhir menuju puncak termasuk yang paling berat. selain tanah labil, juga sangat berdebu. membuat bukit terakhir menuju puncak menjadi 'tantangan terakhir' untuk dihadapi.

dan setelah berjuang dengan semangat empat koma lima (bukan semangat empat lima), kamipun tiba di puncak. kali ini beneran puncak. puncak gunung merbabu. senangnya hati akhirnya mencapai puncak. rasanya bener bener, rada susah diungkapkan. pokoknya mak nyuss, rasanya capek. tapi seneng. seneng tapi capek. rasanya mungkin seperti orgasme. mungkin. saya juga belom tau rasanya orgasme. pokonya rasanya campur aduk. capek, pegel, seneng, plong dan sebagainya dan sebagainya.

sampe di puncak sekitar jam sebelas siang. tak ada satu orangpun yang tersisa di puncak ketika kami sampai. semuanya udah pada turun. ternyata hari itu yang 'ngisi' gunung merbabu hampir semuanya adalah orang klaten. karena selaen kami dan rombongan pks, nggak banyak pendaki yang kami temui. sekalinya ketemu pendaki lain, ternyata orang klaten juga. hanya ada tiga orang pendaki dari sukoharjo yang sesaat kemudian menyusul tiba di puncak.

nyampe di puncak, hal pertama yang dilakukan adalah menikmati pemandangan yang sungguh luar biasa menakjubkan. setidaknya begitulah menurut saya. serasa seperti di puncak dunia. kita bisa melihat sejauh mata memandang, pemandangan yang pastinya nggak setiap hari bisa diliat. dari puncak merbabu, terlihat jelas para 'tetangganya'. yang paling deket, dan paling eksotis menurutku, tentu saja gunung merapi. yang nampak begitu jelas. keliatannya cuman beberapa meter di depan mata. di sisi sisi yang lain, terlihat gunung sindoro. dan gunung sumbing, kalo nggak salah. ada juga gunung ungaran. dan yang paling jauh, terlihat gunung lawu yang dari kejauhan hanya keliatan puncaknya. subhanallah.


to be continued...

Jul 18, 2009

Jakarta Meledak Lagi

jakarta meledak lagi, kemaren ada bom lagi
apakah demokrasi seperti ini, orang bebas berbuat sesuka hati

begitulah sepenggal lirik lagu slank yang judulnya saya jadikan judul tulisan ini. jakarta meledak lagi. judul tersebut juga sempet dijadikan tajuk sebuah liputan di metro tv yang sempet saya saksikan tadi malam. kalo saya nggak salah, lagu tersebut 'dikeluarkan' slank sekitar tahun 2004, ato sekitar setaon setelah bom dahsyat meluluhlantakkan hotel jw marriott jakarta. untuk yang pertama kalinya.

sekitar lima taon semenjak lagu itu 'keluar', ato sekarang, taon 2009, saya nggak nyangka kalo ternyata lagu itu masih 'relevan'. gimana tidak, kemaren, seperti yang kita semua tau, jakarta kembali diguncang bom. dan nggak tanggung tanggung, di dua tempat sekaligus. hotel ritz carlton dan hotel jw marriott. dua tempat yang jaraknya relatif berdekatan karena masih di satu kawasan yang sama, mega kuningan. bagi ritz carlton, bom kali ini mungkin bisa dibilang sebagai 'pengalaman pertama'. namun tidak demikian dengan jw marriott. ianya adalah korban yang sama yang menjadi korban dari bom dahsyat sekitar enam taon yang lalu. dan bom yang kemaren meledak, makin menambah daftar panjang kasus terorisme di negara kita tercinta ini. yang tentu saja akan menjadi catatan sejarah kelam bangsa kita.

dan seperti yang kita semua ketahui juga, sesaat setelah bom itu mengguncang jakarta, berbagai daerah di indonesia, terutama kota kota besar, mendadak siaga satu. saya sendiri nggak terlalu ngerti artinya siaga satu. tapi kalo boleh ngawur, siaga satu mungkin artinya siaga tingkat satu. yang berarti siaga sesiaga siaganya. super siaga. di berbagai tempat tempat strategis, keamanan mendadak diperketat. alasannya apalagi kalo bukan untuk mengantisipasi (mencegah) bom bom laen yang mungkin akan diledakkan.

bagi negara kita indonesia yang tercinta ini, bom mungkin bisa dikatakan sesuatu yang tak lagi asing. walopun sebenernya juga nggak pernah mengharapkannya, negara kita kayaknya sudah sangat akrab dengan yang namanya bom. bom kayaknya 'gampang' banget meledak di indonesia. dari yang pertama, sekaligus yang terdahsyat sepanjang sejarah pengeboman di indonesia, yakni bom bali satu taon 2002, hingga bom terakhir yang 'baru' kemaren meledak di jakarta.

saya sendiri juga nggak habis pikir, kenapa bangsa kita, yang 'keliatannya' adem ayem saja, tapi begitu seringnya diguncang bom. dan yang lebih memiriskan, selalu ada warga negara asing yang menjadi korban. bom bali satu misalnya, sebagian besar korbannya justru warga negara asing. hal itu tentu saja 'merusak' citra bangsa kita di mata negara negara lain di dunia. bahkan sempat ada 'julukan' yang menyatakan kalo indonesia adalah sarangnya teroris, saking seringnya jadi sasaran teroris, sekaligus juga tempat tinggalnya para teroris itu sendiri. serem nggak tuh?!

selain merusak citra bangsa, seringnya peristiwa pengeboman di indonesia tentu berimbas pada kredibilatas bangsa kita, terutama menyangkut masalah keamanan. contoh teranyar dan paling gampang tentu saja adalah batalnya manchester united datang ke indonesia. bom yang kemaren, meledak hanya sehari sebelum kedatangan manchester united ke jakarta yang sedianya akan datang hari ini. benar benar tragis. acara yang sedianya diharapkan bisa 'mengangkat' moral bangsa indonesia, seketika justru menjadi kekecewaan luar biasa bagi para penggemar manchester united khususnya, dan bagi seluruh bangsa indonesia pada umumnya.

dengan demikian, singkat kata dapatlah dikatakan bahwa begitu besarnya dampak yang ditimbulkan dari makhluk yang namanya teroris dan terorisme. hal tersebut tentulah sebuah kerugian bagi seluruh bangsa. kerugian material, dan terutama, yang jauh lebih besar, kerugian immaterial. kerugian secara moral. kerugian secara mental.

bagaimanapun, yang namanya terorisme tetap nggak bisa dibenarkan. tidak hanya menyangkut orang ato kelompok tertentu, terorisme sejatinya mengancam seluruh bangsa. kitapun, juga tidak bisa 'menyalahkan' salah satu pihak tertentu yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi. karena saya, kita, tahu bahwa berbagai pihak pasti telah melakukan segala usaha untuk mencegah semua ini agar tidak terjadi. dan sekali lagi, nggak ada yang mengharapkan semua ini terjadi. kecuali para terorisnya tentu saja.

maka dari itu, mari bersama kita 'perangi' teroris dan terorisme. dan hal itu bisa kita mulai dari diri kita sendiri. meminjam istilahnya aa' gym, mulailah dari diri sendiri. kita bisa mulai memerangi 'teroris dan terorisme' dalam diri kita masing masing.

ingat, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada kesempatan, tapi juga karena ada niat pelakunya!!

waspadalah.. waspadalah.


cheers.

Jul 17, 2009

Ketika (Merasa) Semakin Tua

nggak kerasa, hari ini, jum'at legi, tanggal 17 juli, tepat dua puluh dua taon saya hidup di dunia. ya kerasa ding, cuman rasanya kayaknya kok cepet banget waktu berlalu. halahh.. walopun juga nggak inget persis gimana rasanya waktu dulu dilahirin, rasanya kok baru kemarin saya dilahirkan. baru kemarin rasanya melihat dunia. dan kayaknya baru kemaren ngerasain masa masa 'indah' menjadi anak anak. walopun semuanya serba 'nggak kerasa', tapi apa yang sekarang saya alami benar benar kerasa, karena emang bisa dirasain, ternyata sekarang udah dua puluh dua taon. udah mulai menua. semakin tua. dan semakin tua.

dua puluh dua. angka yang (relatif) nggak sedikit. bagi saya. apalagi kalo angkanya menyangkut masalah umur atau usia. secara umum, maksudnya secara umumnya umur manusia hidup, angka dua puluh dua mungkin bisa dibilang (relatif) masih 'muda'. bagi saya sendiri, usia dua puluh dua adalah angka yang sudah banyak. udah kepala dua, istilahnya. lebih dua malah.

walopun sebenernya masih pantes disebut anak muda, rasanya kok sekarang saya sudah ngerasa tua. beneran. ngerasa tua. walopun masih ada benernya, terkadang saya malu menyebut diri saya anak muda. soalnya kayaknya udah tua. tua banget kalo dibandingin ma balita. hee.. ato emang sebenernya udah tua. kalo saja misalnya usia rata rata manusia normal antara enam puluh sampe tuju puluh taon, berarti 'minimal' udah saya jalani sepertiganya. sepertiga. dan bagi saya, itu bagian yang cukup besar. udah di habiskan yang sepertiga, berarti tinggal dua pertiga yang tersisa. semoga. semoga lebih dari dua pertiga maksudnya. ;)

kayaknya rada 'aneh' menyebutnya 'ulang taon', karena sejujurnya, seumur hidup saya nggak pernah 'kenal' ma yang namanya ulang taon. 'ngerayain' ulang taon orang laen mungkin pernah, ato sering, tapi kalo ulang taon sendiri, sejauh yang bisa saya ingat, saya belum pernah ngerayain ulang taon saya sendiri. selain emang nggak ada 'tradisi' seperti itu dalam kehidupan pribadi saya yang masih sangat kuper alias katrok, ulang taon kok kesannya kayak anak kecil (bagi saya ulang taon 'cuman' untuk anak kecil). anda yang udah gede tapi tetep ulang taon nggak usah tersinggung. ;) anda mungkin punya pandangan yang beda ma saya. dan itu boleh boleh saja. toh nggak ada orang yang ngelarang anda ngerayain ulang taon.

namun begitu, hari ini, ulang taon kali ini, mungkin adalah ulang taon paling 'berkesan' yang pernah saya alami seumur hidup. walopun sebenernya sama saja kayak yang dulu dulu, dalam artian nggak ada 'perayaan' apapun, ulang taon kali ini rasanya lebih berasa. rasanya banyak banget. dan yang paling terasa, tentu saja, adalah rasanya sakit kepala. hee.. ulang taon yang 'indah' kali ini diisi dengan tidur. ato lebih tepatnya tiduran. karena sakit kepala yang terlalu menyiksa membuat nggak bisa tertidur. kepala senut senut. sekujur badan panas. saking panasnya, tanpa perlu menangispun mata saya bisa mengeluarkan air mata. heran. tenggorokan kering dan pait disertai batuk batuk yang bener bener membuat hari ini terasa begitu lama. membuat nggak nafsu makan. di samping emang nggak ada yang bisa dimakan tentu saja. ;)

hari yang aneh. begitulah hari ini. menurut saya. tepat di hari 'ulang taon', saya mendadak sakit. sakit beneran. sakit kepala. dan sakitnya nyebar ke seluruh badan. tulang tulang rasanya pegel. dan linu. dan ngilu. dan entah apalagi istilahnya. pokoknya rasanya nggak enak banget. emang sejak kapan sakit terasa enak?! hee.. sakit kali ini membuat saya seharian tak berdaya dan hanya terkapar di tempat tidur. sayapun jadi berpikir sembari bertanya tanya, dalam hati, mungkin saya kena flu babi. maklum, flu babi lagi happening benget sekarang ini. kalo nggak flu babi mungkin flu burung. ato mungkin juga flu flu lain yang belum di kasih nama. flu kuda misalnya. tapi karena di sekitar saya nggak ada babi, nggak ada burung, apalagi kuda, kesimpulan saya paling cuma flu biasa. biarpun kesimpulan saya mengatakan sakit flu, saya minumnya obat sakit kepala. kenapa? soalnya obat flunya ternyata habis. yang ada tinggal obat sakit kepala. heehee.. jayus!

walau bagaimanapun, saya tetap mensyukurinya. sakitpun perlu disyukuri. bagi saya, yang saya yakini, sakit adalah salah satu cara 'menebus' dosa. jadi setiap kali kita sakit, sebagian dari dosa kita digugurkan. walopun kita nggak pernah tau seberapa besarnya bagian itu. intinya, saya tetap bersukur. bersukur untuk sakit yang saya alami hari ini, dan bersukur untuk umur yang diberikan kepada saya hingga hari ini.

seringkali saya ngerasa, mungkin anda juga pernah ngerasa, terkadang kita ngerasa terlalu tua dari yang seharusnya. ato mungkin juga sebaliknya, ngerasa terlalu muda dari yang seharusnya. ato lebih gampangnya, saya sering ngerasa terlalu muda untuk jadi orang tua, tapi juga terlalu tua untuk jadi anak muda. ada kalanya di mana saya ngerasa masih ingin menikmati hidup yang penuh kegembiraan, penuh kebebasan layaknya anak muda. ato lebih ekstrimnya seperti anak anak. tapi maksud saya bukan berarti orang tua nggak bisa hidup seneng, hidup dengan gembira. tapi di sisi yang lain, saya juga ngerasa udah nggak pantes lagi untuk hidup seperti anak muda, ato anak anak, yang isinya cuma seneng seneng. bener bener dilematis. complicated. bener bener rumit. susah untuk dijelaskan.

tapi umur dua puluh dua seolah menyadarkan saya, kalo ternyata saya tak lagi muda. ato dengan kata lain ya sudah tua. udah seharusnya bisa berpikir, bersikap, dan bertindak seperti orang tua. tapi setiap kali dihadapkan pada hal hal seperti itu, di mana saya harus bisa berpikir, bersikap dan bertindak seperti layaknya orang tua, saya sendiri sering bingung. karena jujur saja, saya nggak ngerti gimana harus melakukannya.

mungkin kita sering denger, dan saya sangat sependapat, bahwa umur nggak menjamin seseorang untuk menjadi dewasa. dewasa dalam hal pemikiran maksud saya. semakin hari sudah barang pasti kita semakin tua, tapi nggak menjamin kita semakin dewasa. saya sendiri masih nggak tau tentang gimana seharusnya menjadi dewasa. dan semata mata itu karena kebodohan saya. saya yakin kalo setiap hari saya semakin tua, tapi saya nggak yakin apakah tiap hari saya semakin dewasa. itulah kenapa terkadang saya ngiri kepada orang orang yang umurnya lebih muda, ato bahkan jauh lebih muda daripada saya, tapi menurut saya bisa berpikir jauh lebih dewasa dari saya. dan di dalam hati, saya bener bener pengen mencontohnya. menirunya. dan saya nggak malu untuk mengakuinya. karena kalo mau jujur, saya ngerasa saya sangat belum dewasa. kelakuannya masih jauh dari dewasa.

bagaimana pun, saya percaya bahwa segala sesuatu butuh proses. tak terkecuali untuk menjadi dewasa. setiap hari, setiap saat, selalu saya anggap sebagai suatu proses untuk menjadi sesuatu yang disebut dewasa. walopun sekali lagi saya nggak ngerti, dan mungkin memang nggak ada, standar pasti yang menyatakan seseorang bisa bilang dewasa. andapun mungkin punya pendapat ato pandangan yang beda beda tentang dewasa dan menjadi dewasa.

bagi saya, setiap kejadian dalam hidup, yang baik maupun yang buruk, yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, semuanya adalah 'sarana' pendewasaan diri dalam rangka proses menjadi dewasa itu sendiri. saya, anda, kita, setiap hari mengalami berbagai kejadian dalam hidup yang berbeda beda. tapi semuanya bisa kita jadikan 'pelajaran' untuk belajar bagaimana menjadi dewasa. dan sayapun, menjalani setiap hari dengan harapan yang mungkin tak terlalu berbeda dengan anda. menjadi dewasa. dan lebih dewasa.

bagi saya, yang penting bukanlah mengetahui apakah kita sudah dewasa. yang lebih penting adalah bagaimana cara kita berpikir, bersikap dan bertindak bisa 'mencerminkan' sesuatu yang dinamakan kedewasaan.

usia bertambah, berarti jatah hidup semakin berkurang. berarti pula, makin hari makin dekat dengan akhir. semoga sebelum hidup (saya dan anda) berakhir, kita bisa melakukan sesuatu yang benar benar berarti, yang membuat hidup kita menjadi hidup yang juga penuh arti. bagi kita, maupun bagi kehidupan itu sendiri.


make each day count, coz each day is a gift.

cheers.

Jul 15, 2009

We Can't Not Communicate

sesaat setelah mendengar 'communication' nya the cardigans, saya jadi kepikiran pengen nulis tulisan yang lagi lagi nggak jelas ini. lagu yang cukup mellow. memang. dahulu kala, waktu pertama kali denger lagu itu, sebenernya yang pertama membuat saya tertarik bukan lagunya, tapi judulnya. communication. bagi anda mungkin biasa saja. tapi bagi saya, judulnya bisa dibilang 'pas'. pas dengan 'dunia' saya sehari hari di kampus. walopun nggak tiap hari saya ke kampus. dunia komunikasi. karena 'kebetulan' kuliah saya 'berhubungan' dengan komunikasi.

we can not not communicate. yang artinya kita nggak bisa nggak berkomunikasi. saya pertama kali baca kalimat itu pada sebuah stiker yang dibagikan kampus kepada mahasiswa baru ketika awal masa kuliah. walopun waktu pertama kali membacanya saya nggak terlalu ngerti artinya, namun saya ngerasa itu adalah sebuah kalimat yang menarik.

walopun saya kuliah komunikasi, saya sendiri bukan orang yang pinter soal komunikasi. buktinya saya sering dapet c. hahaaa.. dan lagian, saya memang nggak bermaksud untuk ngebahas soal komunikasi. karena seperti yang saya bilang, saya bukan orang yang pinter soal komunikasi. say cuman rada 'tertarik' dengan kalimat yang saya sebutkan tadi. we can not not communicate.

setiap hari, dari mulai buka mata bangun tidur sampe kembali menutup mata untuk tidur lagi, nggak bisa nggak, kita pasti melakukan aktivitas yang namanya komunikasi. karena disadari ato tidak, setiap yang kita lakukan bisa dibilang sebagai aktivitas komunikasi. bahkan di saat kita diam. kenapa? karena kita diampun bisa ditanggapi oleh orang laen. mungkin orang menyangka kita diam karena kita sedang marah. mungkin orang laen manganggap kita diam karena kita emang pendiam. ato mungkin juga orang laen mengira kita diam karena kita sedang laper. hee.. karena seperti yang saya baca di buku buku, buku komunikasi tentunya, bahwa sebagaian besar komunikasi kita justru dilakukan secara non verbal. alias non lias. alias bukan dengan bahasa kata kata. bukan dengan ngomong.

setiap gerak gerik kita, bahasa tubuh kita, bahkan raut muka kita, adalah bentuk bentuk komunikasi non verbal yang disadari ato tidak, setiap hari kita lakukan. dan sebagian besar komunikasi yang kita lakukan justru dalam bentuk bentuk seperti itu. dan kita sadari ato tidak, orang lain pun menanggapi hal tersebut sebagai suatu bentuk komunikasi. walopun tanggapan yang diberikan juga bisa secara verbal, maupun non verbal.

walopun terdengarnya sederhana, berkomunikasi ternyata tak semudah kedengarannya. komunikasi yang saya maksud di sini bukannya kita ngomong terus orang lain menanggapi dan seterusnya, namun komunikasi yang saya maksud di sini adalah lebih pada 'kesamaan makna'. adanya 'kesepahaman' antara orang orang yang berkomunikasi. bingung?! ;)

coba deh kalo kita liat di tv tv, di acara acara berita, ato terutama di acara paling memuakkan di dunia yang namanya infotainment. kita sangat sering sekali melihat, dan mendengar berita tentang artis artis yang kawin cerai. kawin dulu baru cerai. hee.. kalo kita mau sedikit seksama 'memperhatikan', penyebab para artis bercerai di samping kdrt adalah, apalagi kalo bukan soal komunikasi. mungkin mereka bilang kurang komunikasi. mungkin juga karena komunikasi yang berjalan kurang baik sehingga berimbas pada hubungan mereka yang menjadi kurang harmonis. dan banyak lagi yang menyangkut soal komunikasi. dari situ saja kita sudah bisa melihat, betapa besarnya pengaruh komunikasi pada 'hubungan' seseorang dengan orang lain di sekitarnya.

seperti yang pernah saya baca di buku, orang yang kurang berkomunikasi dalam hidupnya punya kecenderungan lebih cepat mati. maka sungguh benarlah nasehat Rasulullah saw, bahwasanya silaturahmi bisa memperpanjang umur.


jaga hati, dan mari bersilaturahmi.

cheers.

Jul 13, 2009

Thank You For Smoking

kali ini judulnya nyontek dari judul sebuah buku yang beberapa waktu lalu sempet saya liat di toko buku. ya iya lah, masa di toko bangunan ;) pertama liat judulnya aja kayaknya udah 'gatel' pengen liat tuh buku. sayang masih di bungkus jadi nggak bisa di liat dalemnya. pengennya sih buka buka tuh buku. baca baca dikit. tapi kalo pengen baca dalem nya harus dibuka bungkusnya. dan kalo mau buka bungkusnya mesti dibeli dulu bukunya. ya udah nggak usah dibuka aja. liat aja yang keliatan. hee..


sebenernya saya juga pengen beli tuh buku. tapi setelah saya perhatikan dengan seksama, dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya, baru saya tau kalo tuh buku harganya ternyata mahal kali cing. maksudnya mahal bagi saya. mungkin tidak mahal bagi anda. padahal bukunya cuman kecil. dan nggak tebel tebel amat. dugaan saya, pasti judulnya yang bikin mahal. hee.. gimana nggak bikin mahal. judulnya aja lucu gitu, thank you for smoking. bener bener judul yang unik, menarik, 'menggelitik', nyentrik, dan 'kontroversialistik'. kata yang terakhir cuman karangan saya saja ;). nanti kayaknya saya harus baca buku itu. mungkin beli. mungkin juga nyolong. ehh, pinjem maksudnya. pokoknya harus baca.

anyway, sebenernya di sini saya bukan mau ngulas tentang itu buku. bukan ngomongin resensi buku. sama sekali bukan. membuat resensi buku adalah di luar kuasa saya. dan lagian saya sama sekali nggak ngerti soal resensi buku. resensi bukunya baca aja di tempat laen.

yang kemudian sedikit agak rada 'menggangu' dipikiran saya, yang kemudian pengen saya tulis di sini, adalah lebih pada smoking nya. pada soal merokoknya. nahh, kalo soal ini saya 'sedikit' ngerti. hee.. coba deh sedikit kita obrolin. sedikit aja.

ada nggak sih di dunia ini yang nggak kenal ato nggak ngerti sama yang namanya rokok? ya ada lah, bayi mana ngerti rokok. hee.. iya juga sih. maksud saya cuman pengen menggambarkan, kalo di dunia ini, yang namanya rokok tuh udah sangat populer banget. tul nggak?! saking populernya, presiden kita aja pasti kalah populer. haahaa.. ya iyaaaa lahh, lha wong presiden kita emang nggak 'populer'. intinya, rokok tuh bisa di bilang udah go global, nggak cuman sekedar go international. tapi artis artis indonesia yang pengen go international nggak usah ngiri ma rokok. ;)

di belahan bumi manapun, yang ada penghuninya tentu saja, pasti pada kenal ato tau sama yang namanya rokok. minimal pernah ngeliat lah. kenapa? karena emang di mana mana tuh ada rokok. di dunia mana sih yang nggak ada rokok? rokok udah menyebar ke berbagai penjuru bumi. sejak dahulu kala. sejak nenek moyang kita. bahkan mungkin sejak nenek moyangnya kakek moyang kita. kebayang nggak tuh?! bahkan sampe orang orang pedalaman aja, di beberapa tempat, pada ngerti dengan yang namanya rokok. walopun mereka mungkin tidak menyebutnya rokok. dan yang pasti rokok mereka nggak ada yang rasa menthol.

kemudian mungkin ada pertanyaan usil, kenapa sih pada (seneng) ngerokok??

well, saya sendiri juga nggak ngerti jawabannya. saya juga sering nanya pada diri saya sendiri. kenapa? karena, walopun nggak bangga, saya sendiri juga adalah seorang perokok. orang yang 'terkadang' (seneng) ngerokok. ketika ditanya kenapa seneng ngerokok, saya juga sering bingung mau jawab gimana. karena memang saya nggak punya jawabannya. dan meskipun sering bertanya tanya (pada diri sendiri), saya tetep belum nemu jawabannya. sejauh ini, 'dalih' saya merokok ya cuman karena saya pengen saja. jawaban yang mungkin terdengar sedikit rada pragmatis. jawaban normatif khas para perokok. hee.. mungkin jika bertanya pada perokok lain, akan didapet jawaban yang beda beda. banyak perokok yang bisa sedikit lebih kreatif dari saya untuk memberi jawaban atas pertanyaan tadi.

nggak bisa dipungkiri, disadari ato tidak, lingkungan ternyata (sangat) berpengaruh kepada kebiasaan seseorang merokok. setidaknya begitulah menurut saya. dan saya rasakan. ambil lah contoh.. siapa yang mau jadi contoh?? nggak ada?! ya udah saya sendiri contohnya. saya mulai merokok sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. sejauh yang dapat saya ingat, saya pertama kali menyentuh rokok, maksudnya pertama kali menhisap rokok, adalah ketika saya masih kelas tiga sd. saya sendiri saja kadang heran, saya yang saat itu masih begitu kecil, mungkin masih ingusan, hee.. sudah kenal dengan yang namanya rokok. kalo dibikin sinetron, judulnya pasti 'perokokan dini'. emang terdengar rada mirip dengan sinetron jadulnya agnes monica. pernikahan dini. hahaa..

kenapa ketika saya masih sekecil itu, tapi udah kenal dengan yang namanya rokok?? nggak lain dan nggak bukan, ya karena temen temen sepermaianan sayapun juga udah pada mulai ngerokok. temen temen di sekolah maupun temen temen di rumah. walopun nggak semuanya, banyak dari mereka yang ternyata juga udah pada ngerokok. karena saya adalah seorang anak yang masih lugu, dan mungkin lucu ;), saat itu, sayapun juga tak kuasa menolak ajakan temen temen untuk mulai mencoba ngerokok. selain temen temen, (hampir) semua orang di sekitar saya ngerokok. yang cowok maksudnya. sebagai seorang anak yang masih labil, saya pun begitu mudah terbawa oleh pengaruh dari temen temen dan orang orang di sekitar saya.

dan kalo disuruh menyebut salah satu orang yang menurut saya paling 'bertanggung jawab' atas kebiasan saya merokok sampe sekarang, adalah mantunya kakek saya. alias suaminya ibu saya. alias bapak saya!! siapa suruh dulu keseringan seenaknya saja ngerokok di depan anaknya yang masih kecil, lugu dan lucu. saya bahkan pernah liat kelakuan bapak saya yang rada 'aneh' itu yang menguatkan 'tuduhan' saya kepadanya. ketika itu bulan puasa dan waktu sahur. waktu itu bapak saya telat bangun sehingga waktu sahur hampir habis. ketika sudah bangun, bukannya makan seperlunya ato minum sedapetnya, ehh, kayak nggak punya dosa malah milih ngerokok. aneh nggak tuh. jadi bukan cuman salah saya donk kalo saya jadi ikut ikutan pengen ngerokok. pernah denger kan peribahasa yang mengatakan kalo buah kelapa jatuh nggak jauh dari pohonnya. (peribahasa aslinya kan pake buah apel, tapi berhubung di kampung saya nggak ada apel, saya pake buah yang ada saja, buah kelapa). nah, kalo sekarang saya jadi kebiasaan ngerokok, saya anggep bukan cuman salah saya saja, masih ada tersangka lain yang belum terungkap. siapa lagi kalo bukan buuuapak saya itu. sorry pak. kebenaran harus ditegakkan.

pertama kali ngerasain asep rokok, rasanya bener bener cuma rasa asep. hee.. karena baru pertama kali, tentu saja belum bisa 'menikmati'. yang ada juga napas jadi sesak. kepala jadi pusing. dan badan jadi ling lung. bahkan sampe pengen muntah. persis ketika pertama kali saya mencoba minuman keras. maksudnya minuman beralkohol, bukan yoghurt. heran, kaya gitu kok pada doyan. begitu pikiran (lugu) saya waktu itu.

seiring perkembangan jaman dan teknologi, ehh nggak ada hubungannya dink ya. maksudnya seiring berjalannya waktu, halahh.. semakin lama saya ngerasa semakin terbiasa dengan kebiasaan baru saya. merokok. dulu saya nggak percaya ketika di bilang rokok itu adiktif. kenapa nggak percaya? karena jujur saja, waktu itu saya nggak ngerti artinya adiktif. saya nggak mau percaya dong yang saya nggak tau. barulah ketika saya udah 'addicted' saya baru ngerti artinya adiktif. dan tentulah kemudian saya percaya. bego!!

meskipun saya sudah kenal rokok sejak duduk di bangku sd, baru ketika menginjak smp saya jadi perokok 'aktif'. dan baru ketika sma menjadi perokok 'sangat aktif'. dan sekarang, setelah jadi mahasisiwa, saya jadi aktivis rokok. hahaa... aktivis rokok di sini bisa diartikan juga sebagai perokok 'sangat aktif sekali'. itu kasta tertinggi di kalangan perokok. menurut saya. hee.. kenapa saya jadi perokok aktif? karena saya tau betapa bahayanya jadi perokok pasif!!! haahaaa.. makanya, kalian yang pasif, harus sedikit lebih aktif. heehee.. nggak ding. becanda.

padahal, seperti yang sering digembar gemborkan tanpa bosan, merokok kan berbahaya. berbahaya bagi kesehatan maksudnya. katanya di dalem rokok tuh kan ada jutaan zat zat berbahaya. walopun saya sendiri kadang bingung dan jadi bertanya tanya, bisa tau ada jutaan gitu kayak gimana ngitungnya?? tapi intinya kan sebenernya merokok tuh nggak baik untuk kesehatan. sampe bungkus rokok aja bilang gitu juga. tapi tetep aja banyak orang yang seneng ngerokok.

jadi sebenernya yang bego tuh siapa coba? pabrik rokok yang jual rokok tapi bilang (di setiap bungkus rokok) kalo rokok itu berbahaya bagi kesehatan? ato para perokok yang udah tau bahayanya rokok tapi tetep aja ngerokok? emang pertanyaan yang susah. dan saya sendiri lagi lagi juga nggak tau jawabannya. silahkan anda sendiri yang menjawabnya.

meski sekarang bisa dibilang saya adalah perokok aktif, bukan berarti saya nggak pernah nyoba untuk berhenti. dulu ketika masih smp, saya bisa berhenti merokok sekitar tiga ato empat bulan. sekarang, kalo saya mencoba berhenti ngerokok paling lama dua hari. sumpehh, susah kali bagi saya menahan 'godaan' rokok. ngerokok seperti udah jadi bagian hidup yang tak terpisahkan. istilah ekstrimnya, rokok nggak hanya sekedar pengen, tapi butuh. halahh.. parah emang. sampe sekarang pun saya masih sering nyoba, berusaha, walopun nggak berhenti, minimal bisa ngurangi ngerokok. sukur sukur kalo nanti bisa berhenti. walopun masih dalam tahap wacana. dan kemungkinannya nol koma. tapi niat baik udah dicatet malaikat. ;)

walopun perokok pasif lebih bahaya ketimbang perokok aktif, saya tidak menyarankan anda yang pasif untuk jadi aktif. walopun biasanya emang bagus, menjadi aktif nggak selalu baik, aktif merokok contohnya. jadi bagi anda yang belum terlanjur 'mencintai' rokok, mendingan nggak usah sekali kali mencoba. sekali kali nggak papa ding. asal jangan keterusan. oiya, tolong jangan bilang bilang sama pegawe pabrik rokok loh ya kalo saya nulis kayak gini. ntar saya malah dikasih penghargaan kan nggak enak saya jadinya. ;)

tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi anda. tapi sukur kalo anda terpengaruh. hee.. ini hanyalah semata mata 'warning' bagi saya sendiri. karena sejujurnya, saya nggak lebih baik dari anda. saya tulis karena saya senang bisa 'berbagi' dengan anda. terima kasih untuk waktu anda. semoga tidak terbuang sia sia.


cheers.

Sound Scene Soccer

judulnya terkesan maksa nggak sih?? heehee.. semoga saja tidak.

sound, scene, and soccer di sini mewakili tiga hal yakni musik, film dan sepak bola. tiga hal yang sangat saya sukuri ada di dunia ini. kenapa? coba deh bayangin kalo di dunia ini nggak ada tiga 'makhluk super' itu. jangankan kok nggak ada tiga tiganya, nggak ada salah satunya saja saya pikir mendingan kiamat. hehee.. nggak dink. becanda. cuma sekedar menggambarkan bahwa (bagi saya pribadi) musik, film dan sepak bola adalah tiga hal yang membuat hidup saya berbeda. membuat hidup terasa lebih berwarna. mungkin anda juga berpendapat demikian. kalo nggak sependapat juga nggak papa sih.

maka bersyukurlah kita yang hidup di masa masa di mana musik, film dan sepak bola sudah ada. karena tiga makhluk itu, hidup terasa leih meriah. hidup berasa ada alternatif. maksudnya kita jadi punya alternatif untuk menikmati hidup.

karena apalah artinya hidup kalo kita nggak bisa 'menghidupinya'. apalah artinya hidup kalo kita nggak bisa menikmatinya.

bukan begitu?!

cheers.

Mendengar Itu (Kadang) Nggak Gampang

judul yang terdengar rada 'aneh'. mungkin. andapun ketika sekilas membacanya pasti juga menganggapnya aneh. lha wong mendengar saja kok susah. asal nggak tunarungu alias (maaf) budeg, yang namanya mendengar kayaknya gampang gampang saja. ya nggak sih?! mendengar kan termasuk.. indera yang otomatis itu namanya apa sih? lupa saya. hee.. pokoknya termasuk indera yang bisa 'bekerja' tanpa harus kita 'perintah'. jadi sederhananya, kita bisa denger tanpa harus memberi 'perintah' kepada telinga untuk mendengar. dan sekali lagi, dengan catatan kupingnya masih normal. alias nggak budeg! ;)

sayapun nggak menyalahkan jika anda menganggapnya aneh. pendapat pendapat anda, ya terserah anda. namun yang saya maksud mendengar di sini mungkin bukan mendengar dalam artian mendengar suara ato bunyi secara umum, namun lebih kepada mendengar dalam artian yang lebih luas. bingung?! heehee.

sebagian dari kita, mungkin ada yang sangat seneng ngomong. dikit dikit ngomong. apa apa pengennya ngomong. jadinya banyak omong. ato cerewet istilah gampangnya. tapi saya nggak menganggap cerewet sebagai sesuatu yang negatif. asal nggak berlebihan tentunya. dan sebagian kita yang lain, mungkin ada yang tidak terlalu suka ngomong. nggak terlalu banyak omong. saya nggak mau menyebutnya pendiam, karena orang yang nggak banyak omong belum tentu pendiam. bisa aja kan, nggak banyak omong tapi hiperaktif?! hehee.

untuk yang nggak banyak omong, mungkin juga nggak perlu ato nggak pengen denger orang laen ngomong. tapi untuk yang seneng ngomong? tentu saja 'harus' ada yang diajak ngomong. ato dengan kata lain, ada yang mendengar. tapi saya nggak tau juga kalo mungkin ada yang seneng ngomong sendiri. ;)

sebagian dari kita, terutama yang suka ngomong, biasanya akan ngerasa lebih seneng kalo bisa terus ngomong. lebih seneng kalo dia yang selalu ngomong. dan tentu saja ada yang mendengar ketika dia ngomong. dengan kata lain, lebih seneng di dengar daripada mendengar. sebagian dari kita, mungkin sebagian besar, lebih senang jadi yang didengar daripada menjadi yang mendengar. betul nggak? kalo nggak betul berarti saya salah. ;)

saya sering liat di tv tv, ketika ada dua ato beberapa orang (pihak) yang sedang berdebat tentang suatu permasalahan, terutama permasalahan yang menyangkut kepentingan mereka, mereka seolah nggak mau kalah 'suara'. mereka pada berebut pengen ngomong. yang satu belom selesai ngomong, yang kedua sudah ikutan ngomong. yang kedua baru ngomong, yang selanjutnya sudah motong. begitu seterusnya. dan seterusnya.

kesimpulan sederhananya, mereka berebut pengen ngomong. pengen menjadi yang didengar. nggak mau cuman jadi pendengar. terkadang saya sendiri sampe heran, bisa berdebat 'sepanas' itu kok ya nggak pada berantem. hehee.. walopun nggak jarang juga sampe berantem beneran.

saya tidak bermaksud menggeneralisasikan semua orang. karena saya yakin nggak semua orang seneng 'didengar'. karena emang nggak semua seneng ngomong tentunya. saya sendiri, mungkin termasuk yang golput. hehee, cari aman. jika menurut saya memang waktunya saya ngomong, tentu saja saya pengen didengar. jika memang waktunya orang laen ngomong dan harus didengar, ya saya mendengar. namun begitu, mungkin saya sendiri lebih condong pada yang lebih suka mendengar daripada menjadi yang didengar. saya juga nggak tau kenapa. mungkin karena saya termasuk orang yang nggak terlalu banyak ngomong. di samping karena suara saya jelek pastinya. tapi saya tetep seneng nyanyi. ;)

mungkin susah juga kalo kita jadi bertanya kenapa sebagian dari kita, cenderung lebih seneng didengar daripada mendengar. saya juga nggak tau jawabannya. mungkin memang sudah tabiat dari sononya kalo manusia pengennya (selalu) didengar.

bagaimanapun, sudah seharusnya kita dapat 'mendengar' dengan bijak. kita mendengar disaat kita memang harusnya mendengar. karena ada kalanya kita didengar, ada kalanya kita mendengar.

dan yang nggak kalah penting, jangan lupa bersyukur, kita masih bisa mendengar.

cheers.

About A Woman

for me,
she's the greatest thing God ever made

for me,
she's the most beautiful I ever seen

for me,
she's the prettiest creature on earth

for me,
she's the most precious in my whole life

for me,
she's still the best I ever have


and I love her more than anything in the world.

Jul 11, 2009

Underestimate

one of the most things that I hate in my life!

yak, saya benci diremehkan. sangat benci sekali malah. kalo misalnya dibikin list tentang hal hal yang paling saya benci dalam hidup, diremehkan mungkin termasuk di urutan teratas.

sebagai manusia normal, saya, dan mungkin anda, pasti nggak seneng diremehkan. betul?! di mana mana yang namanya diremehkan selalu terasa menyakitkan. rasanya seperti ditusuk tusuk jarum. hee.. iklan apa ya itu?! tapi bagi anda yang sering diremehkan mungkin rasanya biasa biasa saja. ;)

bagi saya, terbiasa ato tidak, yang namanya diremehkan selalu terasa nggak mengenakkan. ato lebih tepatnya ya itu tadi, menyakitkan. diremehkan sama saja menyakitkannya dengan suatu keadaan di mana kita tidak 'dianggap'. perasaan tidak 'dianggep', tidak diakui 'keberadaannya', tidak diakui kalo saya 'ada', merupakan salah satu perasaan paling menyesakkan yang pernah saya alami. dan tak jarang, saya emosi karenanya. walopun nggak tiap kali emosi saya perlihatkan. apalagi dilampiaskan.

saya sendiri relatif cukup sering merasa diremehkan. walopun orang yang meremahkan belum tentu ngerasa sedang meremehkan saya. saya sendiri kadang juga bertanya tanya, kenapa saya begitu 'gampang' ngerasa diremehkan. apakah saya yang terlalu sensitif. saya yang terlalu perasa. ato mereka (yang meremehkan saya) yang tidak punya perasaan. apakah segitu remehnya saya sehingga melulu diremehkan. dan sekali lagi, saya nggak ngerti, nggak tau, apa yang 'remeh' dari saya. apa yang membuat mereka meremehkan saya. ato mungkin saya sendiri memang dari sononya sudah 'remeh'.

ada kalanya dimana saya, mungkin juga sebagian dari anda, dianggap tidak bisa melakukan sesuatu, tidak bisa mendapatkan ato meraih sesuatu, bahkan sebelum kita mencoba melakukannya. sederhanya, kita sering dianggap kalah sebelum kita sempet bertanding. dan percayalah, rasanya jauh lebih menyakitkan. saya bisa bilang demikian, karena saya termasuk salah satu orang yang pernah mengalaminya. saya dianggap tidak mampu melakukan sesuatu yang bahkan belum saya coba. saya dianggap nggak bisa mencapai sesuatu bahkan sebelum saya kepikiran untuk mencobanya. dan kalo lagi begitu, rasanya pengen nyekek orang yang meremehkan itu. nggak sampe mati tentu saja. ;)

tapi yang bikin ironis, orang yang 'sering' meremehkan saya adalah justru orang orang di sekitar saya, yang relatif 'dekat' dengan saya. heran. kok bisa. apa karena orang orang yang 'dekat' dengan saya relatif lebih 'tau' tentang saya sehingga lebih tau apa yang bisa dianggep remeh dari saya?! entahlah.

walopun begitu, kalo kita pernah ngerasa diremehkan, disadari ato tidak, kita pasti juga pernah meremehkan orang lain. tentunya dalam kapasitas yang berbeda beda. ada kalanya di mana kita meremehkan orang lain dengan 'nada' becanda, ada kalanya kita bener bener meremehkan seseorang dalam tingkat tinggi. alias bener bener meremehkan. sengaja meremehkan. dan walopun orang yang kita remehkan belom tentu merasa kita remehkan. karena tentu saja kita nggak selalu nunjukin kepada seseorang kalo kita sedang meremehkannya.

saya sendiri, selalu berusaha untuk sebisa mungkin nggak meremehkan seseorang ato sesuatu. karena seseorang ato sesuatu yang kita remehkan, terkadang bisa jadi bumerang bagi kita sendiri. pesan standarnya, jangan meremehkan orang laen kalo nggak mau diremehin orang laen.

cheers.

Menyebalkan Itu Menyenangkan

bagaimana jika anda dianggep atau dibilang nyebelin oleh teman-teman anda? atau oleh orang-orang di sekitar anda? mungkin sebagian dari anda akan jadi sedih. atau mungkin bisa jadi sebel. atau bahkan mungkin sampe marah?! mungkin anda anda akan memberikan reaksi yang bed-beda. tapi kalo ada yang menganggap saya nyebelin, atau bahkan bilang kepada saya bahwa saya nyebelin, with my pleasure, saya akan bilang terima kasih. beneran. saya akan bilang terima kasih. saya senang mendengarnya. heehee.

bagi sebagian orang, mungkin kebanyakan orang, mungkin termasuk anda, dianggep nyebelin pasti nggak menyenangkan. coba deh gimana kalo anda deket deket sama orang nyebelin. apalagi yang nyebelinya sudah pada tahap stadium lanjut. pasti anda dibuat 'gerah' olehnya. dan andapun pasti pengennya jauh-jauh dari orang nyebelin. nah, sekarang gimana jika anda di posisi sebagai orang yang nyebelin. yang bikin orang laen sebel. orang orang pengennya jauh jauh dari anda. pasti anda ngerasa sebel. mungkin bete. dan mungkin marah. anda jadi merasa nggak nyaman dengan diri anda sendiri, dan orang lain pun jadi ngerasa nggak nyaman dengan keberadaan anda. kebayang nggak?!

saya nggak tau gimana anda menilai, dan sejujurnya juga saya nggak terlalu peduli, tapi saya justru seneng kalo dibilang nyebelin. beneran. saya senang kalo anda anggap saya menyebalkan. mungkin emang terdengar rada 'aneh' bagi anda. orang normal mana ada yang mau dibilang nyebelin. apalagi seneng. mungkin anda nggak nyaman deket dengan saya karena saya nyebelin, tapi saya nyaman jadi nyebelin di dekat anda. mungkin anda tidak 'menikmati' berada di dekat orang nyebelin, tapi saya menikmati jadi orang nyebelin di dekat anda.hahaa.

mungkin saya memang bukan orang normal. ya normal, tapi mungkin nggak one hundred percent. hee. nggak tau kenapa, terkadang saya justru seneng dianggep nyebelin. menurut saya, menjadi menyebalkan adalah salah satu cara untuk mendapat 'perhatian' dari orang orang di sekitar. walaupun tindakan menyebalkan saya nggak melulu untuk sengaja nyari perhatian.

dan walaupun saya adalah orang menyebalkan, dan saya 'bangga' mengakuinya, bukan berarti saya jadi asal menyebalkan. saya menyebalkan ketika saya ngerasa 'harusnya' demikian. sederhananya, saya menyebalkan ketika diperlukan. ;) jadi kalo 'harusnya' emang nggak menyebalkan, ya saya jadi manusia biasa saja. yang apa adanya. yang cute! hehee. dan adanya saya ternyata menyebalkan juga. jadi intinya, disengaja ato tidak, saya tetaplah orang yang menyebalkan. ;) meski begitu, mungkin secara tidak saya sadari, menyebalkan saya dianggep berlebihan sehingga 'menyakiti' orang lain. untuk itu saya mohon maaf kepada orang orang yang pernah sakit (hati) oleh saya yang menyebalkan. yakin deh, itu pasti bener bener ketidaksengajaan yang tidak direkayasa. kayak di sinetron sinetron.

banyak orang yang biasanya nggak tahan dengan saya yang terkadang mungkin dianggep terlalu menyebalkan. walaupun saya bisa bilang, seperti di tulisan saya yang lalu, bahwasanya menyebalkannya saya juga masih relatif. artinya saya mungkin menyebalkan bagi anda, tapi mungkin tidak bagi orang lain. bagi orang lain bisa jadi saya dianggep sangat menyebalkan. hehee.

mungkin karena itu juga, banyak teman-teman saya, atau orang orang di sekitar saya yang jadi males 'bergaul' dengan saya. mana ada orang yang mau bergaul dengan orang menyebalkan. kalau saya jadi mereka, saya pasti juga males bergaul dengan orang yang menyebalkan. apalagi yang menyebalkannya seperti saya. terlanjur parah. mungkin nggak ketulungan.

tapi justru dari situ, saya bisa menemukan orang orang, teman teman, sahabat sahabat, yang benar benar 'menerima' saya. dengan segala kekurangan dan kelebihan saya. kekurangan saya adalah kurang bisa mengurangi sifat menyebalkannya, sedangkan kelebihan saya adalah saya lebih menyebalkan dari teman teman saya yang lain. hahahaaa. nggak banyak orang orang di sekitar saya yang 'tahan' dengan sifat menyebalkan yang senantiasa saya lestarikan. sehingga nggak banyak pula yang akhirnya 'bertahan' dengan saya.

tapi apapun, dan bagaimanapun, saya tetap seneng (dan bangga) menjadi orang (yang dianggap) menyebalkan. walopun bukan karena kebaikan, setidaknya ada orang orang yang akan ingat kepada saya. akan ingat betapa menyebalkannya saya. setidaknya.

cheers.

Lies For The Liar

judulnya nyontek dari salah satu judul albumnya the used. salah satu album favorit, dan termasuk yang paling sering saya dengerin. lies for the liars. kata kata yang menarik. menurut saya.

saya yakin, dua ratus persen, kalo (hampir) semua dari kita pasti pernah ngelakuin yang namanya berbohong. dan begitu juga, disadari ato tidak, (hampir) semua dari kita pasti juga pernah ngerasain yang namanya dibohongi. baik tentang hal hal kecil ato sepele, maupun tentang hal hal 'besar' ato serius. tapi saya juga yakin tiga ratus persen, kalo (hampir) semua dari kita pasti nggak seneng berbohong. dan yakin tiga ribu persen kalo (hampir) semua dari kita kagak ada yang mau dibohongi. nggak pernah. dan nggak bakalan pernah. selama masih jadi manusia normal, kita pasti nggak pernah mau dibohongi. saya bilang hampir, karena saya juga nggak tau kalo mungkin ada dari anda yang seneng berbohong. ato mungkin yang lebih parah, seneng dibohongi. salut saya kalo ada dari anda yang seneng dibohongi. anda luar biasa.

bagaimanapun, di mana mana yang namanya bohong adalah tindakan yang tidak baik. tidak baik untuk diri kita sendiri, dan terutama tidak baik untuk orang lain. orang yang kita bohongi. tidak baik untuk kita sendiri, karena sudah jelas berbohong itu dosa. dan kalo ketauan kita bohong, kita jadinya disebut pembohong. nggak enak banget kan rasanya dibilang pembohong. dan nggak baik buat orang lain, karena sudah jelas orang lain tertipu oleh kebohongan kita. dan kalo misalnya ketauan kita bohong, bisa repot kita. ya kalo yang kita bo'ongin itu orang yang baik dan pemaaf, kalo yang kita bo'ongin itu preman?? ato pembunuh berantai?? bisa mati kita dibunuh pake rante. hehee.

namun demikian, ada kalanya di mana kita nggak bisa 'menolak' untuk berbohong. ada kalanya di mana kita nggak bisa tidak untuk berbohong. karena ada kalanya di mana kita menginginkan 'sesuatu' yang menjadi alasan kita berbohong. tul nggak?! dah ngaku aja. hee.. banyak sekali alesan yang melatarbelakangi kita untuk berbohong. dan setiap pembohong pasti punya alesannya sendiri sendiri. giamana kreatifnya mereka aja. ;)

dan saya tentu bukan pengecualian. sebagai manusia biasa, dan juga normal, saya juga pernah (baca ; sering) berbohong. walopun sebenernya saya malu mengakuinya, seumur hidup, sudah cukup banyak orang yang sudah saya bohongi. mungkin anda salah satunya. hee.. yang lebih 'menyakitkan' bagi saya adalah, saya ngerasa paling banyak berbohong kepada orang yang justru paling jujur kepada saya. kayak peribahasanya, air susu di bales air aki.

dan Tuhan pun maha Adil. sebanyak saya ngebohongi orang lain, sebanyak itu pula saya (ngerasa) pernah dibohongi. mungkin malah lebih banyak ;). tapi mungkin memang sudah seharusnya begitu. yang bisa jadi pelajaran bagi kita, terutama bagi saya. jika tidak ingin dibohongi, maka jangan membohongi.

dan setiap kita berbohong, dalam lubuk hati kita yang paling dalam, ato kalo saya, dari lubuk hati saya yang cukup dalam, pasti ada gejolak yang sebenernya 'menentang' kebohongan kita. kalo bahasa fisikanya, ada konflik batin lah. (fisika?!)

kita mungkin 'seneng' bisa berbohong kepada orang lain, tapi nggak bakalan pernah seneng bisa berbohong kepada diri sendiri. kenapa? karena kita mungkin bisa berbohong kepada orang lain, tapi nggak bakalan pernah bisa berbohong kepada diri kita sendiri. apalagi berbohong kepada Tuhan. mungkin anda juga pernah ngerasain. kalo anda nggak pernah, saya pernah. nggak mudah, ato lebih tepatnya nggak bisa, untuk berbohong pada diri sendiri. tapi hal itu justru selalu mengingatkan saya tiap kali saya 'berniat' hendak berbohong akan suatu hal kepada orang lain. saya mungkin bisa berbohong kepada orang lain, tapi nggak kan pernah bisa berbohong kepada diri saya sendiri. dan percaya ato tidak, hal itu 'menghantui' saya seumur hidup. selama saya bisa mengingat suatu kebohongan yang pernah saya lakukan kepada orang lain, selama itu pula saya 'dihantui' oleh kebohongan itu sendiri. semacem kayak rasa bersalah. begitulah.

dan sungguh bodoh lah saya, dan anda, yang berusaha untuk membohongi diri sendiri. berusaha membohongi diri sendiri mungkin salah satu perbuatan terbodoh yang pernah saya lakukan. salah satu perbuatan terbodoh yang pernah dilakukan oleh orang bodoh. bahkan mungkin bisa jadi salah satu ciri orang tolol. setolol tololnya orang tolol, sebego begonya orang bego, adalah mereka yang sudah tau kalo nggak bakalan bisa, tapi tetep berusaha membohongi diri sendiri. dan saya akui, saya pernah menjadi orang bodoh, bego dan tolol itu.

saya sendiri, mungkin juga anda, sebenernya kalo bisa milih juga nggak bakalan pernah mau berbohong. namun terkadang ada kalanya di mana kita 'terpaksa' oleh suatu keadaan yang 'mengharuskan' kita berbohong. sehingga dalam situasi situasi tertentu, mungkin anda juga sering denger, muncul istilah 'berbohong demi kebaikan'. ato kalo dalam bahasa jurnalistiknya biasa disebut white lies.

bukannya bermaksud tidak setuju, tapi menurut saya, apapun yang di dalamnya memakai unsur kebohongan, biasanya nggak pernah berakhir baik. karena kebohongan itu sendiri tidak baik. sulit rasanya mengharapkan akhir yang baik jika dari awal sudah dimulai dengan sesuatu yang tidak baik. mungkin begitu gampangannya. tapi mungkin juga pendapat saya salah.

walopun hingga saat inipun, saya masih sering berbohong kepada orang orang di sekitar saya, saya selalu berharap semoga diberi kemudahan untuk tidak harus berbohong.

buat orang orang yang pernah saya bohongi, setulus hati saya mohon maaf. semoga maaf anda semua menjadi 'petunjuk' bagi saya untuk tidak berbohong lagi di waktu yang akan datang.

amin.

Semuanya Serba Relatif

judulnya ngutip kata katanya si embah 'nyentrik'. mbah einstein almarhum. hee.. enaknya dipanggil mbah ato eyang ya? biar nggak terkesan nganggep beliau terlalu tua, kita panggil mbah aja. mbah kan kesannya lebih 'muda' daripada eyang :)

siapa coba yang nggak kenal dengan mbah yang satu ini. kalo di indonesia, kepopulerannya mungkin setara, ehh kayaknya malah melebihi ding ya, dengan kepopuleran mbah surip saat ini. ato mbah marijan beberapa waktu yang lalu. wkwkwwkk..

biar mukanya rada 'embohh' nggak jelas, nggak bisa dipungkiri kalo mbah yang satu itu emang jenius abis kubis. top markotop lah. otaknya aja (katanya) sampe nggak di kubur dan masih disimpen sampe sekarang saking jeniusnya tuh otak punyanya mbah einstein. ckckckckk..

dan bukan kita saja, bahkan duniapun mengakui kejeniusannya. nobel prize di bidang fisika adalah salah satu bentuk 'pengakuan' dunia akan kejeniusan si mbah yang selama hidupnya sempet punya lima kewarganegaraan itu. kalo saya nggak salah baca sih. hee.. dan sekali lagi, salut buat mbah albert einstein.

meski begitu, di sini saya bukannya pengen nulis soal profilnya mbah einstein secara panjang lebar. apalagi 'teori relativitas' nya yang, sumpehh, saya bener bener nggak ngerti sama sekali, kecuali yang sering saya liat di poster poster, E = mc2

saya emang nggak ngerti sama sekali soal teori relativitas nya mbah einstein itu. yang mungkin cuma bisa dimengerti oleh orang orang yang setiap harinya makan buku buku fisika. saya cuman rada kepikiran soal kata katanya yang saya jadikan judul di atas. semuanya serba relatif. kalo saya nggak salah inget, kata kata itu sempet saya baca di sebuah buku yang saya juga sama nggak ngertinya. kalo nggak salah judulnya how to think like einstein. buku yang berat memang. berat dalam arti kiasan maupun dalam arti sebenernya. soalnya tuh buku emang tebel. hehee.

lalu, apakah anda setuju dengan mbah einstein kalo semuanya itu serba relatif? saya juga nggak bisa menjawabnya sih. karena saya juga nggak tau yang dimaksud dengan 'relatif' menurut mbah einstein dalam kata katanya itu. kalo 'relatif' yang dimaksud adalah berkaitan dengan teori relativitas nya yang sudah sangat terkenal itu, dengan yakin saya akan bilang, saya nggak ngerti. ;)

biar nggak terkesan (terlalu) bodoh, kita anggep aja 'relatif' nya adalah 'relatif' secara umum. maksudnya 'relatif' sebagai kata kata yang biasa kita gunakan sehari hari. yang nggak ada kaitannya (secara langsung) dengan teori relativitas nya mbah einstein. masih belum ngerti?! saya sendiri sebenernya juga nggak ngerti. makanya bingung ngejelasinnya. hee.

dalam keseharian kita, sebagian dari kita mungkin cukup sering menggunakan istilah ato kata 'relatif'. ya nggak?! saya termasuk salah satunya. kenapa? kalo bagi saya, kata 'relatif' menunjukkan 'relativitas' akan apa yang sedang kita bicarakan. maka jangan heran kalo di beberapa tulisan, ato mungkin dalam omongan omongan, saya sukup sering menggunakan kata 'relatif'. relatif mahal. relatif gampang. relatif cantik. dan banyak lagi relatif relatif yang lain.

kenapa harus pake relatif? seperti yang saya bilang tadi, bagi saya, kata 'relatif' adalah menunjukkan 'relativitas' akan apa yang sedang kita bicarakan. misalnya kalo saya bilang mahal, berarti saya yakin kalo emang bener bener mahal. tapi kalo saya bilang relatif mahal, saya anggap emang mahal, tapi belum tentu anda juga akan bilang mahal. karena mahal bagi saya belum tentu mahal bagi anda. begitu juga kalo saya bilang relatif cantik. mungkin anda nganggepnya cantik, tapi saya tidak menganggapnya demikian. karena cantik menurut anda belum tentu cantik menurut saya. dan sebagainya dan sebagainya. kesimpulannya, segala sesuatu bisa 'dipandang' berbeda oleh setiap orang. karena setiap orang tentu saja memiliki sudut pandangnya sendiri sendiri.

kebalikan dari relatif, adalah absolut. ato bisa kita artikan sebagai sesuatu yang mutlak. yang pasti sepasti pastinya. apakah anda bisa memberi contoh, sesuatu di dunia ini yang sifatnya mutlak. yang bener bener pasti. yang tak terbatahkan lagi? kalo saya jujur saja nggak tau. yang saya maksud di sini tentu saja adalah yang sifatnya duniawi. ato keduniaan. kalo yang sifatnya ketuhanan, tentu saja saya tidak 'berani' berkomentar tentang ke 'absolut' annya.

jadi, walopun saya juga nggak bisa bilang kalo 'teori' nya mbah einstein yang menyatakan kalo semuanya serba relatif itu sepenuhnya benar, tapi saya akui kalo 'teori' itu ada benarnya. bahwasanya di dunia ini, sekali lagi, di dunia ini, menurut saya, emang serba relatif. karena dunia itu sendiri relatif. nggak mutlak. nggak abadi. dan yang pasti nggak absolut. karena sesungguhnya tak ada yang absolut kecuali Dia Yang Maha Absolut.

cheers.

Tak Ada Yang Namanya Kebetulan

apakah anda percaya dengan yang namanya kebetulan? anda boleh bilang percaya. boleh juga bilang tidak. terserah anda. lha wong saya juga cuma nanya. hehee.

namun tanpa bermaksud ingin 'menentang' anda yang mungkin tidak sependapat dengan saya, kalo ditanya siapa yang nggak percaya dengan 'kebetulan', mungkin saya adalah orang pertama yang angkat tangan. udah pertama, paling tinggi pulak!

setidaknya begitulah yang saya yakini. menurut saya di dunia ini nggak ada yang kebetulan. kenapa? ya karena semuanya sudah ditentukan. siapa yang nentuin? yang pasti bukan oleh pak pos. oleh Tuhan tentu saja. mungkin sebagian (besar) dari kita juga berkeyakinan demikian. namun sekali lagi, saya tetep menghargai anda yang mungkin tidak sependapat.

meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwasanya disadari ato tidak, dalam keseharian kita, maksudnya dalam kehidupan kita sehari hari, seringkali kita menggunakan istilah ato kata 'kebetulan'. bener nggak?! kebetulan lewat. kebetulan ketemu. kebetulan ini. kebetulan itu. dan kebetulan kebetulan lainnya. dan itu tentu saja boleh boleh saja. sah sah saja. lagian juga nggak ada aturan ato hukum yang ngelarang kita bilang 'kebetulan'.

dan saya akui, saya sendiri juga (cukup) sering menggunakan kata 'kebetulan'. tapi meski demikian, seperti yang saya nyatakan di awal, saya adalah orang yang teramat sangat tidak percaya sekali dengan yang namanya kebetulan. jadi kalopun saya cukup lumayan sering menggunakan kata 'kebetulan', maksud saya semata mata hanyalah untuk 'memperhalus' kalimat saja ketika berbicara dengan orang laen. biasanya untuk berbasa basi dengan lawan bicara. mungkin anda anda juga sering mengalami situasi situasi dimana kita berusaha menjadi se 'sopan' mungkin dengan lawan bicara. salah satunya ya dengan itu tadi. basa basi. asal jangan kelewat basi ;)

trus, kalo nggak ada yang kebetulan, dalam artian semuanya sudah ditentukan, buat apa dong kita 'berusaha' susah payah dalam hidup ini. toh semuanya juga sudah ditentukan?! mungkin begitu 'pertanyaan' yang kemudian muncul. kalo semuanya sudah ditentuin, ngapain juga kita repot repot, susah susah untuk melakukan sesuatu ato mencapai sesuatu dalam hidup kita. bukannya semua udah ditentukan.

heehee.. sebenernya saya juga nggak ngerti jawabannya. kalo ada dari anda yang bisa jawab, tolong saya di kasih tau. tapi coba deh kita sedikit lebih 'dalem' ngeliatnya.

kalo di dalam ajaran agama saya, dan saya meyakininya, ada dua macem ketentuan yang sudah di 'buat' oleh Tuhan Yang Maha Esa. qodo dan qadar namanya. kalo saya nggak salah. yang pertama, adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan sebelumnya. maksudnya sebelum penciptaan segala sesuatu yang sekarang ada. termasuk sebelum penciptaan manusia tentunya. seperti contohnya, sebelum seorang manusia dilahirkan, dalam artian masih di dalem perutnya si ibu, telah ditentukan bagi si jabang bayi akan umur, rejeki, (termasuk jodoh kalo nggak salah) dan matinya. dan apalagi ya. saya lupa. cuman itu yang saya ingat. hee.. intinya, bahkan sebelum seorang bayi, seorang manusia terlahir ke dunia, telah ditentukan baginya ketentuan ketentuan tersebut yang akan terjadi padanya kelak. yang akan terjadi ketika ia manjalani hidup di dunia. ketentuan ini sifatnya udah fixed. nggak bisa diubah. dan nggak bisa digangu gugat.

sedang yang kedua, kalo nggak salah, adalah ketentuan ketentuan yang berkaitan dengan apa apa yang terjadi dalam kehidupan seekor manusia. maksudnya seorang manusia. takdir salah satu contohnya. ato bahasa yang lebih gampang biasanya disebut nasib. ketentuan yang ini sifatnya masih bisa berubah sesuai kehendakNya. sekali lagi maap kalo saya salah. karena keterbatasan pengetahuan saya akan agama. harap maklum.

kembali ke soal pertanyaan yang tadi. terus ngapain dong kita repot repot di dunia ini kalo semuanya udah ditentuin?? sekali lagi, saya emang nggak tau jawabannya. tapi kalo anda bertanya kepada saya, ngapain kita repot repot di dunia ini kalo semuanya udah ditentuin?? saya akan jawab, ngapain hidup kalo nggak mau repot. hee.. jawaban yang mungkin nggak menjawab.

tapi coba deh kita pikirin, ngapain juga kita hidup kalo nggak mau repot. bukannya semua orang (hidup) juga repot. tentu saja dalam kapasitasnya masing masing. terus seandainya kita nggak repot, kita nggak nglakuin apa apa, bukannya hidup kita justru bakalan membosankan. segala hal yang sudah ditentukan oleh Nya nggak berarti lantas kita hidup cuman buat tiduran kan?! segala 'kerepotan' kita dalam hidup, menurut saya justru sangatlah wajar. justru segala kerepotan itulah yang bikin hidup kita lebih berasa. betul?!

saya sama sekali tidak bermaksud mengesampingkan anda yang mungkin hidupnya super duper repotnya. saya sendiri kadang juga suka 'mengeluh', ato bahkan nyaris strss ketika menghadapi suatu permasalahan. dan nggak jarang saya 'kalah' dengan masalah yang saya hadapi. saya nggak sedikitpun bermaksud menganggap remeh anda yang mungkin sedang menghadapi masalah ato persoalan yang 'berat'. di sini saya cuman pengen mencoba memandang dari sisi normatif saja. memandang dari sisi manusiawinya. dari sisi kewajarannya. bahwasanya manusia hidup memang selalu penuh dengan berbagai hal, masalah, persoalan dan sebagainya dan sebagainya. bukannya kita akan semakin 'kuat' kala kita sudah terbiasa menghadapi dan menyelelesaikan berbagai masalah dan persoalan yang kita hadapi?! yang biasa saya denger sih katanya begitu. hehee.

jadi, mari nikmati hidup kita ini yang sebenernya amat terlalu singkat untuk di sia siakan. nikmati setiap hal yang hadir dalam hidup kita. karena kita tak pernah tau kapan hidup kita akan berakhir. mungkin esok, mungkin lusa, ato entah kapan, tak pernah ada yang tau kecuali hanya Dia yang membuat kita hidup.


just enjoy our life... and live it!

cheers.

Ignorance

judulnya ngambil dari judul single terbarunya paramore ;), beberapa hari belakangan emang lagi doyan banget denger lagu itu. dan kemudian kepikiran untuk menulis tulisan nggak jelas ini.

ignorance, ato dalam bahasa indo-belanda-jawanya berarti penolakan, kayaknya kok nggak asing dalam hidup kita. kalo anda merasa asing dengan penolakan berarti anda manusia luar biasa. saya akui. beneran. dengan kata lain, anda pasti orang nggak normal. hahaa.

menurut saya, semua orang pasti pernah ngrasain yang namanya penolakan. ya nggak sih?! saya nggak tau kalo ada dari anda yang belum pernah ngrasain penolakan. dari penolakan yang sepele sepele, kayak ditolak cewek ;) (bagi saya itu sepele), sampe penolakan yang membuat 'hancur' hidup anda, seperti misalnya ditolak rumah sakit pas anda udah sekarat. haahaaa.. ada nggak sih penolakan yang sampe menghancurkan hidup?? ya itu cuman karangan saya saja. cuman sekedar untuk menggambarkan kalo kita pasti pernah ngerasain yang namanya ditolak. ditolak untuk hal hal kecil maupun hal hal 'besar' dalam hidup. dan itu manusiawi.

kalo saya sendiri, jujur saja, emang sering mengalami yang namanya ditolak. waktu baru lahir saja rasanya kayak udah ditolak dunia. haahaa.. nggak dink. becanda. pokonya lumayan sering lah kalo cuman ditolak mah. terkadang jengkel juga kalo melulu ditolak. emosi. rasanya pengen nonjok yang nolak itu. heehee.. di mana mana yang namanya ditolak (biasanya) emang nggak nyenengin. saya nggak tau juga sih kalo ada orang yang seneng ditolak. tapi setahu saya, orang normal biasanya ngerasa ngggak seneng, ato jengkel kalo ditolak. minimal sebel lah.

saya sendiri selalu (sok) berusaha memandang dari sisi positifnya saja. ciieeee.. sok belagak bijak kalo ditolak. soalnya mau bijak ato nggak bijak tetep aja ditolak!! hee.. kalo ditolak kerja misalnya. salah satu bentuk penolakanyang pernah saya alami. biar udah ngelamar lebih dari sekali, tapi tetep aja ditolak. bener bener menyebalkan rasanya ditolak. apalagi ditolaknya lebih dari sekali. oleh penolak yang sama pula. yang lebih bikin sebel adalah alasan penolakannya adalah karena saya belum cukup tua untuk kerjaan itu. assem. sebagai anak muda tentu saja saya emosi. tentu saja emosinya cuma dalam hati. hee.

namun demikian, yang namanya orang (sok) bijak seperti saya ini, harus bisa berpikir jernih. sejernih air dari mata air pegunungan. saya mikirnya mungkin saya emang belum kompatible untuk kerjaan itu. mungkin orang lain yang lebih 'pantas' dan mampu untuk kerjaan itu. dan kalo itu belum cukup melegakan, saya mikirnya yang gampang tapi pasti saja. kalo udah beberapa kali ngelamar kerja kok tetep aja ditolak, yang pasti, itu belom rejeki saya. haahaa.. kalo udah gitu habis lah perkara. walopun nggak bisa merubah keadaan, minimal menghibur diri sendiri lah.

saya sendiri justru bersukur sejauh ini udah lumayan sering ngerasain yang namanya ditolak. sering ditolak kok bangga?! ;). beneran. saya sungguh bersukur pernah ngerasain ditolak. relatif sering lah. seumur hidup, sudah cukup banyak penolakan yang saya terima. entah kenapa, saya justru mensyukurinya. awalnya mungkin sebel, dongkol kalo habis ditolak. tapi habis itu, toh saya juga lupa. kok lupa? soalnya udah ditolak lagi di tempat laen. heehee.. penolakan hari kemaren dilupakan karena penolakan hari ini. haahaa... ya nggak separah itu juga sih. cuman sebagai gambaran betapa 'bangga' nya saya mengakui kalo saya sudah lumayan sering ditolak.

aneh nggak sih kalo saya justru seneng pernah ngerasain ditolak? tapi nggak berarti saya seneng ditolak loh ya. kalo bisa milih, semua orang juga pasti nggak mau ditolak. saya cuman seneng pernah ngerasain gimana rasanya ditolak di waktu waktu yang lalu.

justru bersedihlah anda kalo seumur hidup belum pernah ngerasain ditolak. kenapa harus sedih? karena anda melewatkan salah satu bagian yang mungkin bisa membuat cerita hidup anda berbeda. anda melewatkan sepenggal cerita yang mungkin bisa merubah jalan cerita hidup anda kelak.

anda tak kan pernah bisa ngerasain gimana senengnya diterima kalo nggak pernah ngerasain sebelnya ditolak. seperti anda nggak akan pernah menikmati gimana manisnya keberhasilan kalo anda nggak pernah merasakan pahitnya kegagalan.

ditolak bukanlah akhir dari segalanya. dunia nggak akan kiamat besok kalo kita ditolak hari ini. penolakan hari ini hanyalah penolakan yang tertunda esok hari. hahaahaa.. maksudnya penolakan hari ini harusnya bisa kita jadikan pengalaman sekaligus pelajaran yang sangat berharga, hingga jika suatu saat kita berhasil, diterima, kita bisa benar benar menikmati dan mensyukurinya.


cheers.

Jul 10, 2009

We Live, We Die

lagi lagi tulisan saya memakai kata die alias mati. tapi sekali lagi, ini bukan cerita horror ;)
ini hanya tulisan sebagai bahan renungan saya pribadi. 'peringatan' bagi diri saya sendiri. sebenernya juga nggak penting. dan nggak mutu. jadi kalo anda punya kegiatan lain yang lebih menyenangkan, saya sarankan untuk tidak usah membuang buang waktu membaca tulisan ini. hehee.

nggak tau kenapa belakangan ini kok rasanya lagi 'seneng' membahas yang berhubungan dengan mati. mungkin karena belakangan ini juga banyak yang mati di sekitar saya. mati secara kiasan maupun beneran mati. di samping matinya michael jackson tentu saja. walopun nggak kenal jacko, cuman liat di tipi, tapi berita tentang kematiannya sungguh menggemparkan dunia. dunia dalam berita!

saya nggak tau gimana pandangan orang lain, tapi menurut saya mati bukanlah sesuatu yang tabu untuk di bahas. ato mungkin sebagian yang lain beranggapan bahwa nggak baik ngomongin soal mati. gampangnya pamali mungkin. tanpa bermaksud 'menentang' anggapan itu, saya sendiri menganggap bahwa ngomongin mati, dalam hal ini ngomongin dengan diri saya sendiri, ato mungkin dengan orang lain jika ada yang mau, saya anggap hal yang wajar. biasa biasa saja. seperti ngobrolin hal hal yang lain. bahkan kalo bisa, bagi saya pribadi, ngorolin mati (terutama dengan diri saya sendiri) harusnya dapat porsi lebih. karena menurut saya mati adalah topik yang nggak bakalan pernah out of date. nggak bakalan pernah terdengar kuno. bukannya mati itu sudah pasti. maksudnya sudah pasti terjadi. dan dalam agama saya pun dianjurkan agar kita banyak banyak mengingat mati. karena dengan mengingat mati kita jadi merasa bahwa hidup ini bener bener berarti. anugerah dari Tuhan yang sudah seharusnya kita syukuri. ya nggak sih??

mati pasti terjadi pada setiap yang hidup. jadi siapa saja yang baca tulisan ini, suatu saat pasti mati. (tapi saya nggak tau juga sih kalo mungkin ada hantu yang baca tulisan ini. hiihii.)

dari cukup banyaknya kematian yang terjadi di sekitar saya belakangan ini, membuat saya bertanya tanya pada diri sendiri, bagaimana kalo suatu saat saya yang mati. ketika melihat jenazah dalam peti mati, saya juga sering ngeri membayangkan gimana kalo saya yang di peti itu. ketika melihat peti di kubur di liang lahat, makin membuncah lah rasa itu. ngeri nggak sih? hehee..

yang membuat 'ngeri' tentu bukan mati nya. apalagi orang matinya. bukan. sama sekali bukan itu. tapi yang membuat saya ngeri, ato mungkin juga membuat anda 'ngeri' juga, adalah bagaimana kalo kita udah mati tapi ternyata kita (ngerasa) belum punya cukup 'bekal' untuk mati. karena mati bukanlah akhir dari segalanya. mati hanyalah salah satu tahapan menuju tahap selanjutnya, gerbang untuk menuju kehidupan lain yang jauh lebih sangat kekal abadi sekali. begitulah yang saya yakini.

saya selalu meyakinkan pada diri sendiri, bahwa mati bukanlah sesuatu yang harus di takuti. apalagi dihindari. soalnya emang nggak bisa dihindari. hehee.. maka jika ditanya apakah saya takut mati, saya akan menjawab bahwa saya belom ingin mati. saat ini.

jawabannya nggak nyambung kan ya?! hee.. saya belom ingin mati saat ini, bukannya saya takut mati, tapi saya belum siap mati. sekali lagi, saya belum siap mati. saat ini. saya merasa masih terlalu banyak dosa. dan terlalu sedikit amal. itupun kalo ada amal baik saya yang di catet malaikat. kaya dosa miskin amal. mungkin begitulah saya saat ini. jadi kalo saya mati sekarang, saya sungguh sungguh, bener bener teramat sangat belum siap. saya ngerasa belum punya cukup 'modal' untuk menjalani kehidupan saya setelah mati nanti. makanya setiap hari saya berdo'a agar diberi umur yang berkah. saya nggak minta umur yang panjang, saya minta umur yang berkah. bagi saya yang penting bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya. setuju?!

saya jadi teringat akan suatu nasehat, yang menurut saya bagus sekali. saya sudah sering mendengarnya. bahkan dikatakan oleh orang yang sama. tapi entah kenapa saya nggak bosen mendengarnya. kurang lebih begini, kalo kita mau mengambil suatu perumpamaan, hidup itu ibarat es batu. (ato batu es?). ya pokoknya itu lah. anda pasti tau maksud saya. es batu, jika anda taruh ke dalam segelas teh manis, maka es batu itu akan habis menjadi segelas es teh yang segar untuk dinikmati. namun jika anda taruh es batu di sembarang tempat, es batu itu juga akan tetep habis, tapi hanya menjadi air yang berceceran begitu saja. begitu juga hidup, jika kita gunakan hidup untuk hal hal yang baik dan bermanfaat, hidup tetap akan berakhir. dan begitupun jika kita gunakan hidup untuk hal hal yang buruk dan nggak bermanfaat, hidup juga tetap akan berakhir.

nasehat yang singkat, namun begitu mengena. menurut saya.

jadi terserah bagaimana pilihan kita. hidup kita adalah milik kita. dan pilihanpun terserah kita. semoga saja kita dapat menggunakan hidup yang singkat ini dengan hal hal terbaik yang bisa kita lakukan dalam hidup. hal hal terbaik yang bisa kita berikan untuk kehidupan itu sendiri. amin.


jagalah sempat sebelum sempitmu, jagalah hidup sebelum matimu.

cheers.